Acara kamera lukisan yang berlangsung sehari kali ini berjalan lancar. Semua lukisan Mark termasuk lukisan cadangan yang di bawanya laku semua tak ada yang bersisa.
“Ini semua mungkin karena Fiona.” gumam Mark setelah acara itu selesai di malam hari.
Ia pun mengamati peralatan dan juga barang yang dibawanya setelah galeri ditutup.
“Aku iri padamu hari ini kau mengalahkan aku.” ucap Brown pelukis lainnya sedang mengemasi lukisan yang dipamerkannya dengan membawa lima lukisan yang masih tersisa.
“Tapi meskipun punyaku laku semua tapi jika di kurskan masih banyak yang kau dapatkan.” puji Mark merendah tak mau menyombongkan diri.
Mark kemudian memasukkan semua barang bawaannya ke mobil. Ia masuk lagi ke galeri untuk mengambil Fiona.
“Aku benar-benar mengagumi manekin mu yang cantik ini. Dia seperti hidup saja.”ucap Brown menatap manekin Mark.
Mark terbelalak kaget apa mungkin pria itu melihat Fiona bergerak.
“Ya dia aku desain seperti lukisan yang kau buat.”
“Lain kali jika kau sedang senggang buatkan aku juga yang seperti ini.” timpal Brown menyentuh bahu manekin sebelum Mark membawanya pergi.
“Ya, tentu saja kawan.”
Mark kemudian keluar dari galeri sambil membawa Fiona dan segera masuk ke mobilnya lalu mengemudikannya menuju ke rumah.
“Fiona ternyata lukisan naturalis karyaku tidak jelek-jelek amat.”
“Ya, tuan. Jadi selanjutnya tuan buat saja lukisan naturalis untuk penyegaran.” gadis itu tersenyum tipis karena sarannya.
“Hari ini kau bagai dewi fortuna bagiku.”
“Maksud tuan ?” Fiona bertanya daripada salah paham pada penafsirannya sendiri.
“Mungkin ini karena kamu semua lukisanku terjual tak tersisa.” dan Fiona lagi-lagi hanya mengangguk tersenyum kecil saja karena menurutnya dia tak melakukan apapun selama di sana selain menjadi penghias saja.
Beberapa hari berlalu, setelah pameran galeri terakhir kali Mark setiap hari melukis keindahan alam meskipun hanya satu ataupun dua biji saja dan tetap melukis sosok keindahan manusia seperti biasanya.
“Tuan... apron mu kotor.” Fiona masuk dan bawakan Apron yang bersih setelah sebelumnya melihat apron yang di pakai tuannya penuh dengan noda cat.
“Oh... kau tak perlu menggantinya.”
Namun Fiona tak menghiraukan ucapan tuannya dan melepas apron milik Mark karena ia pecinta kebersihan.
Deg
Mark kembali merasakan jantungnya berdegup lebih kencang saat dari situ mengikat apron di pinggangnya.
“Sudah tuan.”
“Terimakasih.” jawab Mark canggung dan segera melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa minggu berlalu dan besok akan diadakan galeri pameran lukisan kembali yang rutin di adakan setiap sebulan sekali.
“Tuan... izinkan aku ikut denganmu ke galeri pameran lukisan.” ucap Fiona setelah selesai membantu tuannya berkemas.
“Ya baiklah kau boleh ikut sekarang.” pria itu mengizinkan karena Fiona mungkin saja akan membawa keberuntungan untuknya lagi.
Setelah berganti baju, Mark membawa masuk Fiona dalam wujud manekin ke mobil dan segera melajukan mobilnya menuju ke galeri seni.
Beberapa jam segalanya pameran galeri seni resmi dibuka dan pengunjung sudah terlihat berjubel memadati setiap galeri pelukis yang ada di sana.
“Aku penasaran dengan karya dari pelukis Elton.” seorang pengunjung yang merupakan pelanggan setia segera menuju ke galeri milik Mark.
Ternyata setelah pengunjung tadi membeli satu karyanya datang lagi pengunjung lain yang berebut membeli karyanya.
“Manekin itu milik siapa ?” ucap seorang pria yang merupakan pemilik sebuah butik yang tertarik melihat pameran lukisan.
Pria berkacamata coklat itu kemudian menghampiri manekin Fiona.
“Sepertinya manekin cantik ini bagus bila menjadi peraga model baju di butik ku.” gumamnya setelah mengamati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
si kuning
Gawat klau ada yg iri
2023-03-12
0