Beberapa hari berlalu setiap hari Fiona membantu umat dalam mengerjakan semua pekerjaan rumah termasuk, pekerjaan utamanya sebagai pelukis.
Suatu pagi di rumah pagi-pagi sekali Mark bangun dari tidurnya dan ia masuk ke ruang kerjanya.
“Aneh sekali tidak biasanya tuan masuk ruang kerjanya sepagi ini.” gumam Fiona yang sedang membersihkan rumah dengan vakum cleaner di sekitar ruang kerja tuannnya.
Di dalam ruang kerjanya pria itu sedang serius menatap beberapa kanvas kosong yang ada di sana.
“Aku mulai satu dulu.” dengan terampil Mark mengambil kuas beserta cat kemudian mulai menyapukan nya pada bidang kosong di depannya.
Fiona yang penasaran menaruh vacuum cleanernya ke sudut dinding kemudian masuk ke ruang kerja tuannya.
“Tuan... kenapa sepagi ini sudah mulai melukis ?”
Mark menaruh kuasnya dengan hati-hati agar tidak mengenai kanvas nya dan kali ini
Ia sudah tidak terkejut lagi pada kedatangan Fiona sering mendadak.
“Lima hari ke depan akan ada pameran lukisan jadi aku harus membuat banyak lukisan sebelum acaranya dimulai.” terangnya singkat.
Fiona hanya mengangguk saja mendengar penjelasan dari tuannya.
“Tuan kenapa semua lukisan yang tuan buat merupakan seorang wanita ?” tanya Fiona menghentikan kerja tuannya yang baru mulai melukis.
“Ya, apa ada masalah dengan ini ?” tanya Mark merasa gadis itu tak menyukai lukisannya.
“Bukan jangan salah paham dulu. Wanita dalam lukisan itu cantik hanya saja kenapa tidak mencoba lukisan naturalist ?” balasnya karena sejujurnya dia tidak menyukai lukisan orang dan lebih menyukai lukisan pemandangan alam.
“Apa dia ingin aku membuatkan lukisan untuknya ?” batin Mark menduga. “Sebenarnya itu bukan aliran melukis ku tapi jika kau minta aku akan membuatnya.”
“Ya tuan, terima kasih aku hanya ingin melihat saja lukisan naturalisme mungkin saja itu akan sebaik lukisanmu sekarang.”
“Hiss...” Mark hanya menarik nafas kasar. Ia kemudian mencoba mengambil kanvas kosong dan mulai melukis.
Satu jam kemudian lukisan itu jadi. “Tuan lukisan mu tak kalah bagusnya dengan lukisan realisme yang biasa kau buat.”
Fiona memuji lukisan pemandangan alam sebuah gunung bersalju di atas sebuah lautan.
“Oh benarkah ?” Mark merasa tersanjung dengan pujian yang dilontarkan oleh gadis itu padanya.
“Tuan mungkin saja jika kamu membuat beberapa lukisan naturalis seperti ini itu akan menambah daya tarik karya mu.”
“hmm...” Mark hanya menarik nafas pendek menerima saran dari Fiona. Pria itu pun kembali melanjutkan melukis sesuai alirannya.
Lima hari kemudian tepat hari-H saat dilaksanakan pameran lukisan.
“Tuan Mark mau pergi ke mana sepagi ini, apa tidak sarapan dulu ?” Fiona baru selesai menyiapkan serapan pagi dan melihat tuannya sudah terlihat rapi dengan membawa kunci mobil.
“Hari ini acara pameran lukisannya.”
“Oh ya aku baru ingat itu.” Fiona menatap ada beberapa kanvas yang belum dimasukkan ke mobil. “Tuan aku bantu bawa kanvas ini sampai ke depan pintu.”
Tanpa menunggu jawaban dari tuannya, Fiona membawa lukisan yang sebenarnya hanyalah cadangan saja karena lukisan intinya sudah Mark bawa ke galeri pameran dua hari yang lalu.
“Tuan bolehkah aku ikut denganmu ke pameran ?” tanya Fiona dengan mata melebar Karena sejujurnya ia bosan berada di rumah selama ini. Terakhir kali dia keluar saat membeli baju di mall beberapa waktu yang lalu.
Mark diam sejenak dan berpikir sebelum memutuskan. Menurutnya memang gadis itu tak pernah keluar. “Apa dia ingin jalan-jalan ?”
“Bagaimana tuan ?” tanya Fiona kembali karena belum ada jawaban.
“Oke kamu boleh ikut aku sekarang.”
Fiona langsung berubah menjadi manekin setelah keluar dari pintu rumah karena ada beberapa orang yang lewat di sana.
“Oh...” Mark lagi-lagi hanya bisa menelan nafas panjang dan segera membawa masuk Fiona masuk ke mobilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments