Episode 16

Ailina segera melesat dan menghentikan apa yang dilakukan gadis itu.

"Pergi!" Bentak gadis itu.

Ailina sangat terkejut dan menghentikan gerakannya, membuang batu kecil berujung tajam yang di gunakan gadis di depannya untuk menya-yat lengannya sendiri.

Sebuah kalung berhiaskan tulisan yang jelas terbaca oleh Ailina tergantung di leher gadis yang di tolongnya tadi.

"Kania, jadi namamu Kania?" Ucap Ailina penuh penekanan.

Mendengar namanya di sebut, gadis itu mendongak, dengan sisa air mata yang masih tampak jelas di pipinya.

"Kau_, kenapa selalu menganggu ku" ucapnya tajam dengan menatap Ailina.

"Maaf, tapi apa yang kau lakukan ini tidak benar, kau bisa membahayakan nyawamu sendiri" ucap Ailina yang masih setia dengan kaca mata hitamnya.

"Itu urusanku, dan hanya itu yang bisa membuatku tenang!, Apa kau paham ha!" Teriak gadis itu lagi begitu murka dengan badan yang gemetar seolah menahan sakit dan cemas bersama.

Ailina sangat terkejut, rupanya beberapa berita yang sempat di bacanya waktu lalu tengah terjadi di depan matanya, seorang gadis melakukan self harm untuk mengatasi kecemasannya dengan melakukan Cutting atau menyayat tubuhnya sendiri.

"Aku tidak paham dengan apa yang sudah kau lakukan, tapi semua itu tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalahmu, asal kau tau itu, mengerti!" Ailina berbicara dengan menaikkan intonasinya.

"Omong kosong, tau apa kau soal rasa sakit ku ha!, Kekecewaan ku karena tidak pernah diterima oleh papaku sendiri, bahkan aku selalu salah dan dianggap hanya seonggok sampah!" Ucap Kania

"Maka sayangi dirimu sendiri, hanya itu yang nantinya membuatmu akan berharga di mata seseorang suatu saat nanti" sahut Ailina yang kini sudah membuka kacamata hitamnya.

Mata Kania tepat melihat Kilauan biru dua pasang mata aneh namun begitu indah dan kuat menembus relung hatinya.

"Mata itu_" ucapnya dalam hati, dan membuat tubuhnya seketika didatangi rasa nyaman dan tenang.

Ailina memakai kacamata itu kembali, hendak beranjak tanpa peduli, namun Kania segera menahannya, "Aku mohon, temani aku sejenak" kata terucap dari mulut Kania.

Ailina menghentikan langkah, dan membalikkan badan, menghela nafas dan tak mampu menolak, ada rasa kasihan luar biasa, hingga Ailina kini mendekat kembali.

Kania perlahan duduk di lantai, tubuhnya bersandar di tembok yang menghimpit gang sempit, Ailina pun menyusul dan berbuat yang sama tepat di samping Kania.

"Memangnya apa yang kau rasakan saat ini?" Tanya Ailina.

"Tenang" jawab Kania.

"Kenapa?" Tanya Ailina penasaran.

"Matamu"

"Apa?!" Sahut Ailina terkejut tak mengerti.

"Jangan tanya lagi, aku juga tidak mengerti, mata birumu bisa membuatku begitu tenang" jawab Kania.

"Ck, kau jangan bercanda" sahut Ailina dengan sedikit tawa karena menganggap Kania mengada-ada.

"Sudahlah, kau sendiri, apa yang kau rasakan?" Tanya Kania menoleh ke Ailina yang masih menggunakan kacamata hitamnya.

"LAPAR"

Kriuk

Terdengar suara perut keroncongan Ailina.

Seketika keduanya tertawa bersama.

"Aku antar mencari makanan, Ayo!" Seru Kania yang sudah berdiri.

"Balut tanganmu dulu dengan ini" ucap Ailina memberikan sebuah sapu tangan kecil miliknya.

"Hem, terimakasih" ucap Kania, lalu membalurkan di pergelangan tangan yang sudah terdapat beberapa luka saya-tan baru.

Makan di pinggiran kali lima, soto ayam Jawa yang hangat dan nikmat.

"Kenapa kau membantuku?" Tanya Kania heran.

"Saling tolong menolong itu wajib, lupa pelajaran dasar kamu waktu di SD?" Sahut Ailina dengan santai setelah menghabiskan satu porsi makanannya.

"Tapi aku tidak membutuhkan pertolongan" ucap Kania.

"Yakin?" Tanya Ailina.

"Aku tidak suka di kasihani" jawab Kania.

"Tidak, siapa yang mengasihani mu, aku hanya melihat wanita butuh support biar hatinya tidak membeku" ucap Ailina yang susah di terjemahkan oleh otak lawan bicaranya.

"Apa maksud mu?" Tanya Kania semakin tak mengerti.

"Kau yakin dengan Tuhan dan Ciptaan nya?" Tanya Ailina, dan bukannya menjawab.

"Ck, aku malas, jangan bicarakan Tuhan, aku bahkan tidak tau Dia itu ada apa tidak?" Ucap Kania menatap ke depan.

Ailina tentu saja sangat terkejut mendengar apa yang di utarakan oleh Kania, tampak sekali bahwa di hatinya sedang hancur akan kepercayaan apapun karena sesuatu.

"Baiklah, kita bicara yang lain saja" ucap Ailina akhirnya mengganti topik, karena tidak mungkin memaksakan kepercayaan disaat hati seseorang masih di tutup dengan rapat.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Kania.

"Apa yang terjadi di butik itu?" Ailina kembali bertanya.

"Oh, itu tidak penting" ucap Kania menoleh ke Ailina yang sudah memakai kacamata nya kembali.

"Lalu apa yang penting di hidupmu?, Kau itu membuatku pusing" sahut Ailina menghadapi gadis yang tak jelas di hadapannya.

"Tidak ada" jawab Kania.

Lagi-lagi Ailina di kejutkan dengan jawaban yang menurutnya sangat aneh.

Melihat Kania masih terdiam, Ailina beranjak begitu saja, lalu berniat melangkahkan kaki untuk pergi, sontak Kania terkejut dan berseru.

"Kau mau kemana?" Tanya Kania yang heran dengan apa yang di perbuat Ailina.

"Mencari sesuatu yang menganggap ku penting, dari pada disini" ucap Ailina membuat Kania terkejut mendengarnya.

"Hei, bukan begitu, kamu berbeda" ucap Kania yang kini mendekati Ailina.

"Dan itu membuatku menjadi penting bagimu?" Tanya Ailina.

"Jangan berkata-kata yang membuatku pusing, aku ke butik itu untuk membeli gaun yang ada di sana tadi, sekali saja ingin merasakan menjadi sosok perempuan di hadapan laki-laki yang aku sukai, dan hanya kamu yang tau semua ini" ucap Kania.

Ailina tersenyum, rupanya sedikit masih ada sisa sinar di hati gadis sepantaran yang ada di depannya, namun sebuah pesan masuk di handphonenya mengharuskan dirinya untuk segera pulang.

"Maaf, kita sambung lain kali, aku harus pulang!" Teriak Ailina yang kini sudah berlari kecil meninggalkan Kania.

Ada rasa yang tidak tega di hati Ailina, namun tidak mungkin saat ini mengabaikan pesan dari wanita cantik yang sudah membuatnya ada di dunia ini, hingga Ailina terus berlari kecil menyusuri jalanan lali berhenti untuk memesan Taksi online dalam aplikasi handphonenya.

Entah apa yang kini dirasakan, Kania merasakan hatinya yang tadi sempat menghangat, kini perlahan terasa dingin kembali, namun di bibirnya menyunggingkan senyuman.

"Kita akan bertemu lagi, aku akan mencari mu" batin Kania, lalu menyadari sesuatu.

"Oh sh-it!, Kenapa aku tidak tanya siapa namanya?" Kania berbicara dengan diri sendiri.

Di saat yang sama, sebuah panggilan dari handphonenya masuk dan langsung di terimanya.

"Ma, ada apa?" Tanya Kania kini berjalan cepat saat mendengar suara sang Mama sedang tidak baik-baik saja, bahkan sempat terdengar sang Mama memohon ampun dengan jeritan yang tertangkap telinga.

Kania semakin panik saat panggilan itu terputus begitu saja, hingga dirinya mencari kembali motor sportnya yang terparkir di sebrang jalan di tempat penitipan, dan melaju pulang dengan kecepatan di atas rata-rata.

Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

SOFIA & KANIA WANITA2, MALANG..

2024-07-07

1

Maria Ulfa

Maria Ulfa

Kania yang suka Evan ya dan Sarah selingkuhan papa nya Kania

2023-08-04

3

Sunarty Narty

Sunarty Narty

aduh ternyata Kania dan Sofia wanita yg ngejar2 Ethan dan Evan dan sm2 mengalami kekerasan dr papanya masing-masing,bearti mama Kania yg d tolong ailin.bu risa

2023-07-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!