Tiba di Mansion tepat waktu, ketiga remaja kembar itu sudah bejalan menuju masing-masing kamarnya untuk membersihkan diri.
Brak
"Astagfirullah, apa sih kak!" Teriak Ailina begitu kesal saat Evan menerobos masuk begitu saja.
"Ck, pinjam shampo cantik"
"Minta?" Ailina mendelik horor.
"Of course" jawab Evan nyelonong begitu saja.
"Dasar kebiasaan, kenapa gak beli sendiri tadi?!" Ucap Ailina terlihat kesal dengan tingkah laku Evan.
"Lain kali beli kan dong, sekalian nitip" sahut Evan dengan senyum narsisnya.
"Manja" sahut Ailina.
"Masak sih"
CUP
"Kakak!!" Teriak Ailina murka dan langsung mengejar Evan hingga di depan kamar Ethan.
Gubrak
"Aw!, Kalian!" Teriak Ethan kesal dengan tingkah kedua adiknya, kepalanya sudah terbentur pintu lantaran Evan membuka tiba-tiba di saat dirinya akan keluar.
"Maaf kak, salahkan Ailin!" Teriak Evan yang sudah berlindung di belakang Ethan yang masih menggosok kepalanya.
Ailina murka dan berniat mengeluarkan kekuatan matanya yang sanggup menghentikan waktu.
"Jangan berani menggunakan kekuatan di dalam Mansion, Ailina!" Ucap Ethan seketika.
"Kak Evan menyebalkan, dia menci-um ku, aku tidak suka!" Teriak Ailina.
"Itu ciu-man sayang Ai, harusnya kamu bersyukur dong, lihat fans di luaran sana, tau wajahku dari jauh saja sudah histeris" sahut Evan.
"Huek, tidak bagi seorang Ailin"
"Sudah, bersiaplah kalian, sebentar lagi kita berjamaah, Dady dan Mommy sudah menunggu di bawah, dan kau Evan, kurangi kejahilan mu" titah sang kakak yang usianya hanya berbeda beberapa menit saja.
Keduanya segera masuk dan membersihkan diri di kamar masing-masing, sementara Ethan sudah turun dan duduk bersama dengan kedua orang tuanya di ruang tengah.
"Kenapa gaduh sekali?" Tanya sang Mommy.
"Biasa Mom, Evan dan Ailin, mereka paling seneng kalau saling serang" jawab Ethan.
Edward dan Alena langsung menoleh dengan tajam.
"Maksudnya dalam hal bercandaan Mom, Dad" sahut Ethan langsung menjelaskan.
"Oh, syukurlah, aku kira mereka saling serang dengan kekuatannya, awas saja,!" Ucap Alena memperingatkan.
"Jangan khawatir Mom, kami tidak akan melakukan hal itu" sahut Ethan dengan senyuman dingin namun penuh kharisma.
"Benar-benar Edward junior" batin Ailina diam-diam mengagumi putranya yang sudah beranjak dewasa.
Edward tersenyum menatap Istri cantiknya yang tengah memperhatikan putra pertamanya.
"Ehem, jangan membuatku cemburu, aku tau Ethan sangat rupawan dan berkharisma" bisik Edward masih sambil memeluk istrinya dan duduk di kursi sofa ruang tengah yang empuk dan hangat
"Dan dia anak mu, dasar!" Sahut Ailina membuat Edward tanpa sadar tergelak.
Ethan mengerutkan kening, merasa aneh dengan daddy-nya yang tiba-tiba tertawa, padahal acara televisi yang di lihat adalah adegan berbahaya.
"Daddy baik-baik saja?" Tanya Ethan.
Seketika Edward terdiam, dan berganti Alena tertawa melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat serius, namun juga lucu dimatanya.
"Hem, Daddy tidak apa-apa" sahut Edward dengan nada datar seperti biasanya.
Dan saat kedua saudara kembarnya itu datang, suasana makin ramai seperti biasanya.
"Kalian jangan malas berlatih, Ingat, sesuai keinginan, sekarang tidak ada pengawal yang menemani kalian" ucap Edward.
Ketiganya mengangguk dan terlihat lebih tenang menikmati kebersamaan, sementara Alena tiada henti melihat tingkah polah ketiga anak kembarnya, rasanya seolah tidak percaya bahwa putra putri nya sudah tumbuh menjadi sosok remaja.
Dan saat terdengar suara panggilan untuk beribadah, sontak ketiganya dengan sigap segera bersiap, begitu juga dengan kedua orang tuanya.
*
*
Beberapa menit kemudian, di sebuah keluarga yang lain, nampak makan malam sedang berlangsung dengan tenang.
Sofia terlihat baik-baik saja, bahkan beberapa kali Sarah melirik dengan senyuman meremehkan, bagaimana dengan istri dari papa mereka?, Tentu saja sehati dengan Sarah yang notabene anak kandungnya.
"Aku dengar karir mu di dunia Modelling semakin bagus Sarah?" Tanya sang Mama yang bernama Maria.
"Tentu saja Mom, bahkan penghargaan baru saja aku dapatkan kembali" sahut Sarah sambil melirik Sofia sekilas.
Masih diam membisu, Sofia terus melanjutkan makannya, dalam hatinya sangat membenci situasi di rumahnya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan sang papa hanya tersenyum bangga mendengar cerita dari dia wanita yang sengaja mencari muka.
"Bagus, lanjutkan kesuksesan mu Sarah" ucap papanya, lalu menatap Sofia yang seolah tidak mendengar apapun.
"Lihatlah kakakmu Sarah, bahkan kakakmu kini semakin berjaya, apa kau tidak ingin seperti itu?" Ucap sang mama sambung yang sengaja terlontar untuk menjatuhkan Sofia di mata sang papa.
"Tidak" sahut Sofia dengan santai dan masih tetap menyantap makanannya.
"Tentu saja, karena kau tidak akan mampu melakukannya" sahut Sarah.
Sofia masih terdiam, mencari aman dengan tidak menambah masalah dengan kakaknya, sementara sang papa hanya menatapnya dengan tajam.
"Kalau ada yang ingin kau katakan, lakukan saat ini, mumpung kita berkumpul" ucap papanya.
Sofia menatap sejenak, seolah tidak percaya papanya kembali bertanya, padahal telah mendapat cerita yang sebenarnya dari dirinya sejak tadi.
"Tidak ada pa" Jawabnya singkat, dalam hati mengumpat apa yang dilakukan oleh papanya sendiri.
Namun tidak dengan kakaknya yang tidak akan puas begitu saja, apalagi mengingat kejadian tadi siang dan membuatnya sangat malu.
"Kau tidak ingin menceritakan apa yang sudah kamu lakukan tadi siang?" Ucap Sarah dengan senyum liciknya.
"Bukankah itu tidak perlu, kecuali kakak ingin semua orang disini tau, bagaimana kakak di permalukan"
"Kurang ajar!" Ucap Sarah menahan amarah.
"Tunggu, ada apa ini?" Tanya papanya.
Seperti biasanya, sarah memang paling jago dalam bersandiwara. Menampilkan wajah menderita di depan kedua orang tuanya.
Sofia yang tau akan sifat memu-akkan sang kakak, segera berdiri, bersiap untuk pergi.
"Mau kemana kamu, duduk!" Bentak sang papa.
Sofia semakin marah dengan sikap papanya yang selalu membela Sarah tentunya, dan tidak mengindahkan teriakan sang papa, dirinya terus berjalan masuk.
"Apa kau akan membiarkannya sayang?" Ucap sang istri.
Sontak Prasetyo semakin murka, rupanya bumbu kebencian dengan mudah di berikan untuk semakin menyulut amarah.
Berjalan masuk dengan cepat dan membuka pintu dengan kasar, Prasetyo sudah berada di kamar Sofia.
"Apa yang kamu lakukan dengan kakakmu, jelaskan!" Bentak Prasetyo.
Sofia segera berdiri dari duduknya, menatap tajam mata sang papa yang begitu di bencinya."Ingin sekali aku menghabisinya"
PLAK
Tamparan mendarat keras di pipinya, dan itu sudah bukan hal yang aneh lagi baginya.
"Berani kurang ajar kamu ha!" Bentak papanya.
Sudut bibir pecah dan mengeluarkan darah, bahkan disana mulai tampak membiru, menatap tajam sang ayah kembali.
"Masih ingin melakukannya lagi, aku persilahkan?" Ucap Sofia.
"Kau menantang papamu sendiri!" Bentak Prasetyo.
"Iya, aku bahkan akan senang hati kalau papa membunuh ku!" Teriak Sofia dengan mengeraskan rahang.
"Kau_, benar-benar anak tidak tau diuntung!" Ucap Prasetyo semakin marah saat melihat sorot mata kebencian dalam diri Sofia.
Setelah kepergian sang papa, bukannya ketenangan yang di dapat, justru tendangan pintu terdengar, dan saat ini, Sofia harus menghadapi kemarahan sosok wanita yang sudah seperti ib-lis baginya.
Tendangan langsung mendarat di perut Sofia, segera dirinya bangkit kembali untuk bertahan, namun kekuatan Sarah yang mempunyai ilmu bela diri tak mampu di hadang olehnya.
"Saatnya aku melampiaskan kekesalanku wanita lemah!"
BUG
DAG
PLAK
Pukulan dan tamparan bertubi-tubi berlabuh di tubuh Sofia, tangannya hanya mampu untuk melindungi wajahnya saja, hingga berakhir dengan setetes air mata menahan perih dimana raga dan batinnya begitu tersiksa.
"Hahaha, aku puas sekali Bre-ng-sek!" Ucap Sarah, lalu berlenggang pergi tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Aries suratman Suratman
Yang baca ceritanya jangan terbawa perasaan, takutnya entar kena penyakit Komplikasi (Marah -Sedih-Kecewa-Tertawa-Baper) kalo diliat orang lain kaya Orang lagiiii....
2025-02-24
0
Sulaiman Efendy
SOFIA YG BAHLUL, UDH TAU SERING DISIKSA. KNP GK IKUT BELADIRI, INI MLH BRPAKAIAN SPRTI JALANG..
2024-07-07
1
Sulaiman Efendy
ALENA JDI AILINA, HADEHHHH.. BIKIN PUSING DGN TYPO..
2024-07-07
1