Episode 12

Ketiga saudara kembar itu pun segera pergi dari pintu khusus yang bisa diakses hanya oleh orang-orang tertentu, dan itu karena mereka adalah keluarga Nugraha tentunya.

"Kalian langsung pulang, mommy kalian sudah memberi ultimatum pada ku, awas kalau masih main kemana-mana, ingat ini sudah sore" ucap Ratu.

"Siap Ma, jangan khawatir!" Seru Ethan mewakili.

Ketiganya segera beranjak pergi, menaiki motor sport membelah angin di jalanan, sedikit aksi yang kadang saling mendahului membuat ketiganya tertawa, bagi mereka kebersamaan adalah sesuatu yang sangat indah dan membuatnya bahagia.

Hingga terhenti di lampu merah, ketiganya tengah tenang menunggu waktu, Ailina membuka helmnya, sedikit menarik nafas panjang untuk mengambil udara sepuasnya.

Tanpa di sadari mata birunya sontak menjadi pusat perhatian, apalagi padu padan langka dan sangat jelas tercetak cantik nan jelita, bisa di bayangkan apa yang terjadi?, Tak ada mata yang bisa berpaling menatapnya.

"Tutup helmnya kembali Ai" ucap Evan yang mulai menyadari.

Ethan langsung beraksi melihat sekitar, menarik nafas panjang lalu menoleh separuh ke belakang, rupanya Ailina masih asik menikmati udara tanpa memakai pengaman kepalanya.

Sreg

"Apa sih kak!" Teriak Ailina kaget saat Ethan merebut helm dan memakaikan dengan cepat di kepalanya.

"Pakai helm itu dan tutupi wajahmu!" Ucap Ethan yang masih lengkap dengan memakai pengaman kepalanya.

"Ck, memang kena_"

Ailina langsung terdiam, melongo melihat sekitar yang kini sudah berfokus melihat dirinya, helm dengan cepat di pasang hingga wajahnya kini tersembunyi kembali.

"Sudah sadar?" Tanya lirih Ethan.

"Sorry kak, aku hanya gerah saja" jawab Ailina yang kini sudah tidak nampak wajahnya Sam sekali.

Banyak pasang mata yang kecewa, terpaksa harus menghentikan menatap sosok cantik yang sangat langka, begitu juga dengan wanita yang berada di dalam mobil bersama dengan rombongannya.

"Wait, bukannya itu tadi wanita yang kamu cari, Sofia?," Tanya salah satu temannya.

" Iya benar, tapi tunggu, sepertinya aku mengenal laki-laki yang membonceng nya" sahut Sofia mencoba menajamkan penglihatannya.

Sayang sekali jalanan begitu ramai, hingga pandangan mereka untuk memastikan seseorang yang dilihat begitu sudah karena terhalang.

"Tunggu, sepertinya itu adalah_" ucapan Sofia terhenti, sepertinya mengingat sesuatu.

"Siapa?" Tanya kepo teman-temannya.

"Ethan, iya, sepertinya itu Ethan" ucap Sofia mendongakkan kepalanya keluar jendela mobil, bahkan berniat keluar dan mendatangi, tapi sayang, lampu sudah hijau kembali.

"Si-al!" Teriak Sofia yang terpaksa harus melajukan mobilnya, sedangkan motor sport yang membuatnya penasaran sudah meluncur cepat jauh berada di depan dan tak terlihat lagi.

Sofia merasa kecewa kembali, namun pikirannya juga mengembara kemana-mana. "kalau memang itu tadi Ethan, lalu wanita cantik itu, siapanya ya?" Ucap lirih Sofia.

"Wah, jangan-jangan dia pacarnya" celetuk salah satu temannya dan berakhir tatapan tajam dari Sofia.

"Eh, sorry-sorry, maaf Sofia" ucap temannya.

Mobil terus melaju, setelah menurunkan teman-temannya, kini Sofia sudah tiba di sebuah rumah mewah dengan jalan yang cukup luas, pintu gerbang terbuka dan mobil melaju pelan menuju garasi ruang belakang.

Berjalan menyusuri rerumputan yang sengaja tertata rapi di samping tempat untuk berpijak, Sofia akhirnya masuk melewati pintu belakang, terlihat disana papanya baru juga berada di rumah.

Seperti biasanya, Sofia tidak peduli sama sekali, berjalan begitu saja dengan bekas memar yang masih nampak di wajahnya.

"Tunggu!" Ucap papanya yang tak lain adalah seorang pengusaha terkenal dan pernah menjadi orang penting di jajaran pemerintahan yaitu Prasetyo Mahardika.

Sofia berhenti. "Ada apa?" Ucap Sofia tanpa menoleh ke papanya.

"Kenapa dengan wajahmu?" Ucap Prasetyo sambil memegang dagu Sofia sejenak untuk melihat dengan jelas.

"Tidak masalah" jawab Sofia cuek.

"Bisakah kamu mengatakan dengan jelas dan sopan saat papamu ini bertanya?" Sahut Prasetyo terlihat tidak suka dengan jawaban anaknya.

"Memangnya kalau aku jelaskan, papa bisa apa?" Sahut Sofia.

"Apa maksud mu, aku bisa melakukan segalanya, apa kau tidak lihat seberapa berkuasanya papamu ini ha!" Sahut Prasetyo yang terus terang mulai geram karena pertanyaan anaknya.

"Oh ya, aku tidak yakin sama sekali" ucap Sofia datar-datar saja

"Sofia!, Jangan kurang ajar ya!" bentak Prasetyo yang merasa di remehkan.

"Okey, kalau itu maunya papa, dengar baik-baik, anak papa yang bernama Sarah itu yang membuatku begini, lalu._, apa yang bisa papa lakukan sekarang ha!" Teriak Sofia melampiaskan kekesalan hatinya.

"Apa?, Sarah?" Tanya Prasetyo seolah tidak percaya.

"Iya, kak Sarah yang melakukan ini, apa perlu aku tunjukkan bukti videonya, kebetulan temanku ada yang mengabadikan momen tadi" ucap ketus Sofia.

Seperti yang telah di duga, sang papa bersikap seperti biasanya, menarik nafas panjang lalu melepas tatapannya.

"Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Sang papa.

"Jangan pura-pura tidak tau pa, sudah biasa aku selalu di pukuli oleh kakak sejak kecil, dan papa selalu membiarkan dan membenarkan hal itu" jawab Sofia.

"Itu salahmu sendiri, jadilah wanita uang kuat, jangan mudah tertindas, lihat kakakmu, dia bahkan bisa melakukan hal itu padamu, sabuk hitam juga dia sandang, menjadi model ternama di usia yang masih muda, belum lagi penghasilan tiap bulannya, bisa untuk menghidupi dirinya sendiri, bahkan sangat berlebih, lalu Kamu?" Ucap Prasetyo seolah tidak ada rasa kasihan sama sekali.

Entah itu dilakukan karena takut akan istri sambungnya yaitu mama kandung Sarah, atau memang sebenarnya dirinya tidak menyukai kehadiran Sofia sebagai anak kandungan dari wanita yang juga menikah sah dengannya.

Tidak menjawab apapun, Sofia hanya tersenyum sinis, lalu melanjutkan jalannya, hingga sampai di pintu kamar, membuka dengan kasar dan membanting dengan keras setelah berada di dalamnya.

Dilemparkannya sepatu dan tas yang melekat pada dirinya, lalu segera menuju ke kamar mandi dan melihat wajahnya di cermin.

"Kau sungguh mengenaskan Sofia" batinnya sambil tersenyum kecut.

Sesaat terlintas bayangan wanita tangguh yang tadi menolongnya.

"Seandainya aku punya kemampuan dan keberanian seperti mu" ucapnya lirih.

Masih terus menata pikirannya, Sofia bertahan di depan cermin, namun saat kenangan-kenangan penyiksaan yang dilakukan oleh kakak dan ibu tirinya, tubuh Sofia mulai terguncang, hingga menyebut lirih nama seseorang.

"Mama, seandainya kamu masih ada, pasti aku tidak akan se menderita ini" ucapnya lirih Sofia dengan tubuh yang kemudian terguncang karena tangisan.

Lama berada di kamar mandi, seperti yang biasa dia lakukan, berendam air hangat sambil sesekali mengusap luka memar yang masih terasa nyeri.

Berlalu dari tempat itu, lalu dengan tubuh polosnya meneliti beberapa luka yang juga ada di perutnya untuk segera di obati, sentuhan makeup yang Sofia gunakan sudah cukup untuk menutupi luka memar yang menganggu kesempurnaan wajahnya.

Dan kini saatnya Sofia harus bersiap, dimana kakaknya datang, jangan sampai menunjukkan rasa takut atau menderita, karena hal itu akan semakin membuat seorang Sarah semakin merajalela.

semakin penasaran?, yok saatnya memberi dukungan, jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

siti Hasanah

siti Hasanah

masa si.. si ethan mo d pasangin ma si sofia.. dgn hidup bebas nya g mustahil dia d jamah banyak laki" ... g adil dong thor

2024-12-23

1

Sunarty Narty

Sunarty Narty

klu gak salah mama ratu dl begitu jg ya kak,tapi bisa berubah LBH baik LG setelah ketemu Alena dan kaisar

2023-07-17

4

Kenzo

Kenzo

neng cantik pakai cadar thor

2023-07-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!