Jiwa Yang Mati

Jiwa Yang Mati

Bab 1

"Saya trima nikah dan kawinnya Amalia Rizki Putri dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai"

"Bagaimana para saksi, sah?"

Saaah.

...----------------...

Air mata Amalia menetes membasahi pipi cabinya. Tangannya gemetar mencengkeram erat sebuah figura yang berisikan foto pernikahannya dengan sang suami. Delapan tahun sudah ia menyandang sebagai nyonya Angga Pratama tepatnya di hari ini adalah hari anniversary pernikahannya. Di karunia seorang putri cantik yang baru berusia tiga tahun dan sekarang ia sedang hamil anak ke dua dengan usia kandungan yang sudah memasuki minggu ke dua puluh delapan. Puji syukur selalu ia ucapkan kala melihat putri cantiknya tumbuh dengan sehat dan pintar.

Brak. Terdengar pintu rumah di banting dengan keras, segera Amalia yang akrab di panggil dengan sebutan Lia itu meletakkan foto pernikahan yang sedari tadi di pegangnya diatas nakas, Lia bangkit berjalan menuju pintu depan sambil mengusap air matanya.

"Sudah pulang mas?"

"Hmm" hanya deheman yang Angga berikan sebagai jawaban.

"Mau makan?"

"Tidak perlu aku akan makan di luar"

Jam enam belas lebih tiga puluh menit Angga sampai di rumah. Ia meletakkan tas kerjanya asal dan melempar sepatunya ke segala arah, lalu memasuki kamar. Lia mengambil sepatu suaminya dan meletakkan di atas rak sepatu, mengambil tas kerja suaminya di bawa masuk ke dalam kamar. Sampai di dalam kamar Lia tak melihat keberadaan suaminya. Lia mendengar gemericik air di dalam kamar mandi, Lia membuka lemari dan mengambil kaos serta celana pendek untuk suaminya. Diletakkannya pakaian ganti suaminya itu di atas ranjang. Lia lalu duduk di tepi kasur menunggu Angga keluar dari kamar mandi.

"Sudah kusiapkan baju gantinya mas"

Angga hanya melirik pakaian yang telah disiapkan oleh istrinya itu. Ia lalu membuka lemari baju mengambil celana jeans panjang dan sebuah sweater. Tanpa berkata apapun kepada Amalia.

"Mau pergi lagi mas?"

"Iya" jawab Angga cuek.

"Kemana mas?"

"Kerja, ada klien yang minta ketemu malam ini"

Lia hanya diam memandang prianya yang sudah rapi dan bersiap untuk berangkat. Setelah memastikan penampilannya rapi Angga keluar dari kamar dan tak lama berselang terdengar suara mobil Angga berjalan meninggalkan rumah. Kamelia menarik nafas dalam kemudian dihembuskan nya perlahan. Mengambil stok kesabaran dan memohon agar diberikan kelapangan hati oleh Tuhan. Amalia sudah lama memendam rasa penasaran atas perubahan sikap suaminya. Tapi saat Lia mencoba menanyakannya ia hanya akan mendapat cacian dari Angga. Selalu dan selalu Lia bersabar menghadapi suaminya.

Jam sebelas malam Rania putri kecilnya menangis sangat keras, badannya panas membuat Lia kuatir. Lia mengambil handphone genggamnya untuk menghubungi Angga. Satu kali, dua kali hingga tiga kali panggilan yang di lakukan Amalia tapi tidak di jawab oleh Angga. Amalia lalu mengirim pesan untuk suaminya.

"Mas bisakah kamu pulang? Rania rewel badannya panas" send

Suamiku: "Iya nanti aku pulang"

"Cepat sekali dia balas pesanku tapi kenapa di telepon nggak diangkat" gumam Amalia.

Susah payah Amalia menggendong putrinya yang rewel, dengan kondisi perut yang sudah membesar Lia pun merasa cepat lelah walau baru sebentar menggendong putrinya. Tapi sekuat tenaga Lia menahan lelah tubuhnya karena sang putri tidak mau di turunkan. Amalia berharap Angga cepat sampai rumah agar ada yang menggantikan ia menggendong putrinya. Lia merasa badannya sangat lelah. Dilihatnya jam yang berada di dinding kamar, jam dua dini hari. Amalia mendesah lalu mengambil handphone nya untuk menghubungi suaminya kembali.

"Mas, kenapa belum pulang" send

Suamiku: "Aku ini lagi kerja, lagi ngobrol sama klien membahas kerjaan"

"Ini jam dua dini hari mas, mana ada klien minta ketemu jam segini" send

Suamiku: "Aku kerja juga buat kamu, buat ngasih makan kamu"

"Aku tau mas, pulanglah dulu. Aku sudah tidak tahan mas, badanku capek sekali. Rania tidak mau turun dari gendongan" send

Suamiku: "Nanti aku pulang"

"Begini banget ya mas punya suami karyawan perusahaan swasta, jam segini masih sibuk kerja. Bagaimana ya kalau suamiku seorang anggota dewan atau presiden" send

Suamiku: "jaga mulutmu, kurang ajar. Aku juga bisa menjadi anggota dewan. Suruh keluargamu memberiku modal agar aku bisa menjadi anggota dewan seperti yang kau inginkan. Dasar wanita brengsek"

Amalia mengelus dada membaca balasan pesan dari suaminya. Berharap sang suami cepat pulang dan membantunya menenangkan putrinya yang rewel malah cekcok yang ia dapatkan. Lia meletakkan handphone nya di atas nakas, masih dengan gerakan berjalan mondar mandir menggendong putrinya agar bisa segera terlelap. Sudah hampir jam tiga pagi Rania baru bisa diam dan tertidur pulas, dengan pelan Lia membaringkan putrinya diatas tempat tidur. Lia melakukannya dengan sangat hati hati agar Rania tidak kembali bangun. Alhirnya Amalia bisa merasa lega, bahunya yang sampai kebas karena tekanan kain gendongan dipijat pijat nya dengan jari. Baru saja Amalia ingin merebahkan badannya terdengar pintu depan terbuka menandakan Angga telah pulang. Amalia berusaha bangun menyambut suaminya. Sampai di ruang depan Lia sudah melihat suaminya dengan wajah merah padam karena marah.

"Dasar wanita tak tau diri. Kamu pikir kamu siapa hah. Seandainya kamu tidak hamil sudah aku usir kamu dari sini. Nanti, lihat saja. Setelah kamu melahirkan akan aku buang dirimu" Angga berkata keras dengan cacian dan hinaan yang terus terlontar untuk istrinya.

Amalia yang mendengar itu hanya bisa diam. Entah rasa apa yang ada di dalam hati Amalia, dia sendiripun tidak mampu mendeskripsikan. Rasa panik memikirkan anaknya yang sakit, rasa lelah yang hampir semalaman menggendong anaknya yang rewel, rasa kecewa kepada suaminya yang selalu menyalahkannya. Lia hanya diam, bahkan dengan rasa hati yang sangat sedih air matanya tak mampu lagi menetes. Mungkin sudah terkuras habis. Sudah hampir satu tahun ini suaminya selalu mengeluarkan kata pedas untuknya. Tidak pernah pulang ke rumah. Apalagi untuk dirinya untuk Rania putri merekapun Angga tak pernah punya waktu. Seolah Angga lupa bahwa dia mempunyai putri kecil yang mengharap perhatian dan kasih sayangnya. Angga menginjakkan rumahnya hanya untuk mandi dan berganti baju saja. Kalaupun dia ada di rumah, dia tak pernah mau tidur seranjang dengan Lia. Amalia berjalan dengan lesu memasuki kamarnya, di baringkannya tubuh lelah itu. Tak di perdulikan lagi ocehan suaminya yang masih melontarkan cacian dan makian untuknya. Seolah dia sudah terbiasa dengan semua itu.

Jam lima pagi Lia sudah terbangun dan memulai aktifitas memasaknya. Dia bangun seperti biasa, memasak seperti biasa, dan menyeduh kopi untuk suaminya seperti biasanya. Sudah tak di hiraukan lagi apapun nanti respon suaminya. Dia menyerah. Tubuh hatinya sudah lelah untuk beradu dengan suaminya, "akan tetap aku lakukan kewajibanku, sedangkan apapun yang akan mas Angga lakukan aku sudah pasrahkan pada yang maha pencipta" gumam Amalia.

Terlihat Angga bangun dari tidurnya, setelah pertengkaran mereka tadi pagi Angga tidur di sofa ruang tengah depan TV. Angga masuk ke dalam kamar. Tak berselang lama Angga sudah keluar dengan pakaian kerja yang Amalia siapkan sebelum keluar menuju dapur tadi. Dengan diam Angga duduk di kursi meja makan menyeruput kopi yang Lia sediakan. Pagi ini Lia hanya diam, tak seperti biasanya yang menawari suaminya sarapan.

"Ambilkan aku sarapan" Angga berkata tanpa menatap Amelia.

Amelia pun segera mengambilkan sarapan untuk Angga tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lia mengambil sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauknya lalu meletakkan piring berisi makanan itu di depan Angga masih dengan mulut yang terkunci rapat.

Terpopuler

Comments

blecky

blecky

pasti selingkuh jka tiba2 suami berubah

2023-04-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!