Betapa terkejutnya Lili melihat pemandangan berdarah didepannya. Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia menggosok matanya dengan kedua tangannya. Lalu menepuk kedua pipinya, ia berharap untuk segera bangun dari mimpi buruknya. Tapi, ia baru menyadari kalau yang dilihatnya sekarang bukanlah mimpi. Ribuan monster dari segala macam bentuk dan rupanya yang sangat buruk, bahkan jauh lebih buruk dari yang pernah dia lihat difilm, semuanya bertekuk lutut dihadapan pria berjubah hitam yang berdiri memunggungnginya. Ia melihat monster berkepala serigala dengan setengah tubuh manusianya, mati berlumuran darah dengan pedang yang tertancap didadanya, tergeletak disampingnya. Pedang yang tertancap didada monster berkepala serigala itu adalah pedang yang sebelumnya digunakan monster itu untuk membunuhnya. "Tapi bagaimana bisa pedang itu malah membunuh pemiliknya sendiri? Tidak. Ini bukan mimpi. Ini sungguhan." batin Lili sambil melirik mayat monster serigala yang tergeletak disampingnya.
Pandangan matanya segera beralih kearah pria berjubah hitam yang sedang berdiri dihadapannya. Dia tidak bisa melihat wajah orang yang telah menyelamatkannya. Hanya terlihat jubah berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, kecuali kepalanya yang memperlihatkan rambutnya yang pendek berwarna hitam . Hanya dengan membawa sebilah pedang berwarna perak, pria berjubah hitam itu berjalan sendiri menuju sekumpulan ribuan monster yang masih berlutut dihadapannya. Dia menyarungkan kembali pedang itu dipinggangnya. Ia mengangkat tangan kanannya seolah memberi perintah kepada sekumpulan ribuan monster itu untuk memberi jalan kepada seseorang yang akan lewat. Hanya dalam hitungan detik saja, sekumpulan monster mengerikan itu langsung menepi secara rapi, membentuk dua barisan, sehingga menyisakan satu tempat yang kosong ditengah.
Dari kejauhan terlihat tiga orang berjubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya berjalan di jalan yang sengaja dikosongkan oleh ribuan monster itu. Melihat tiga orang misterius berjubah hitam itu berjalan, sekumpulan ribuan monster mengerikan dan pria berbaju hitam yang telah menolongnya, semuanya berlutut memberi hormat. Lili merasa heran dengan sikap mereka semua. Dibenaknya, orang seperti apa mereka sampai-sampai semuanya berlutut kepadanya. Ketiga orang misterius itu berhenti didepan pria berjubah hitam yang sedang berlutut kepadanya. Tak lama kemudian, pria hitam itu berdiri. Salah satu dari tiga pria berjubah hitam itu berjalan menghampiri Lili. Melihat orang berjubah hitam berjalan mendekatinya, ia mundur perlahan dengan posisi masih duduk diatas tanah. Karena tidak mempunyai tenaga, ia menggunakan kedua tangan dan kakinya untuk menyeret tubuhnya mundur kebelakang.
"Jangan...jangan mendekat!" teriak Lili sambil menyeret kedua kaki dan tangannya untuk mundur kebelakang. Tiba-tiba ia merasa tubuhnya tidak bisa bergerak. "Ada apa ini?! Kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan?!" batin Lili.
Orang berjubah misterius itu menuduk kebawah, tangan kanannya memegang dagu Lili dan mengangkatnya ke atas. Betapa kagetnya Lili, saat melihat wajah dibalik pemilik jubah hitam. Samar-samar ia melihat pria muda berparas rupawan sedang menatapnya dengan penuh tanya. Sorot matanya yang tajam, menatapnya tanpa berkedip seolah sedang melucutti dirinya. Ia melihat seutas senyum dingin terlintas diwajahnya.
"Sudah dua ratus tahun lamanya, aku mencari dan menunggumu. Tidak disangka akan bertemu denganmu disini, Permaisuriku?" kata pria itu sambil mengelus bibir Lili dengan ibu jari kanannya.
Jubah hitam yang dikenakan pria itu untuk menutupi seluruh tubuhnya, kini terbuka dibagian atas karena tiupan angin yang sangat kencang. Di bawah sinar bulan purnama, Lili bisa melihat dengan jelas wajah dari pemilik jubah hitam tersebut. Wajahnya sangat tampan dengan hidung mancung, bibir mungil berwarna peach, rambut hitam pendek dengan pandangan mata yang tajam, benar-benar sosok pria sempurna dimata Lili.
"Dia tampan sekali." kata Lili
"Apa katamu?!" tanya pria berjubah hitam itu dengan nada sedikit marah.
Kedua bola matanya yang sebelumnya berwarna hitam, tiba-tiba berubah menjadi merah menyala. Melihat warna mata pria itu berubah menjadi merah, Lili menghempaskan tangan kanan pria itu yang masih memegang dagunya. Merasa bibirnya disentuh oleh ibu jari pria itu, Lili pun marah kepadanya. Meski ia merasa bahwa dirinya sekarang sangat ketakutan, tapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya didepan orang lain. Ia berusaha menutupi rasa takut itu dengan sedikit amarah.
"Tuan, tidakkah kau tau bahwa menyentuh seorang gadis itu adalah tindakan yang tidak sopan!" kata Lili dengan wajah sedikit cemberut.
"Seperti inikah sikap permaisuri terhadap rajanya?!" cibir pria berjubah hitam itu sambil menyeringai.
"Permaisuri? Siapa yang kau maksud itu?! Aku sama sekali tidak mengenalmu!"
"Hahaha...tidak aku sangka, sudah bertahun-tahun lamanya...kau masih membenciku. Bahkan kau mengatakan tidak mengenalku. Permaisuriku tersayang, tidakkah kau tau betapa sulitnya hari-hari yang aku lewati tanpa dirimu?!" tanya pria itu sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.
Lili yang merasakan tubuh pria itu semakin dekat dengannya, ia mendorong tubuh pria itu kebelakang dengan kedua tangannya. Melihat pria itu terjatuh karena dorongannya, kedua pria berjubah hitam dibelakangnya langsung membantu memapahnya berdiri.
"Yang mulia, apa anda baik-baik saja?" tanya kedua pria berjubah hitam itu secara bersamaan sambil membantu menegakkan tubuhnya untuk berdiri. Lili yang masih duduk diatas tanah, melihat pria itu dibantu oleh dua orang pria berjubah hitam yang sama dengannya. Hanya yang membedakan, jubah yang dikenakan ketiga pria itu tidak mempunyai motif. Sementara yang dipakai pria itu mempunyai motif abstrak dengan jahitan benang emas.
"Aku baik-baik saja." jawabnya sambil memberi isyarat tangan agar mereka berdua mundur ke belakang.
"Apa?! Yang Mulia? Apa aku tidak salah dengar?! Pria ini...mungkinkah..." batin Lili
Kedua mata itu menatap tajam kepadanya. Lili bisa melihat kilatan api di kedua bola mata pria itu. Warna bolanya yang sebelumnya berwarna hitam, berubah menjadi semerah darah. Dan didalamnya terpancar amarah yang sangat besar. Yang siap meledak kapan saja. Senyumnya yang dingin,membuat bulu kuduk Lili berdiri. Bila dibandingkan dengan sekumpulan ribuan monster menyeramkan itu, pria berjubah hitam yang berdiri dihadapannya sekarang ini, jauh lebih mengerikan dari sekumpulan ribuan monster itu. Hanya dengan ditatapnya saja, sudah membuat orang mati dalam sekejap.
"Darkie...Blackie, siapkan kereta untukku. Dan kau, Rean...perintahkan ribuan monster ini untuk menjaga tempat ini. Aku tidak ingin ada seekor nyamuk yang masuk dan menggangguku malam ini!" perintah Pria berjubah hitam itu kepada ketiga pria berjubah hitam yang berada di belakangnya.
"Baik Yang Mulia!" jawab mereka bertiga secara bersamaan. Setelah mendapat perintah ketiganya langsung menghilang tanpa jejak. Pria berjubah hitam itu berjalan mendekati Lili. Ia menggendong Lili dengan kedua tangannya. Ia ingin memberontak, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak.
"Kau!"
"Permaisuriku, kau harus melayaniku malam ini!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
duh...baru jumpa udah minta di layani...gmn ni lili....apa emang bener kamu reankannasi permaisuri yg masih hilang ingatan..
2024-06-05
0
Frando Kanan
apakh....ada hubungan masa lalu?
2022-08-03
4
Malani Malolo
beda ya yang ini tak perlu mati lalu reinkarnasi langsung ketemu sama rajanya
aku suka... mungkin aku agak bosan baca yang reinkarnasi Mulu🙄🙄🙄
2021-06-24
3