"Kau...kenapa kau masih hidup?!" teriak wanita itu sambil menunjuk ke arah Lili.
Betapa kagetnya Lili melihat dirinya diteriaki dan ditunjuk oleh seorang wanita yang tidak ia kenal. Melihat Lili dengan wajah penuh kebingungan, Darkie mengalihkan pandangannya ke arah Tuan Edward dan mulai membuka suara.
"Nona Alice, apa maksudmu berbicara seperti itu?!" tanya Darkie sambil menatap tajam ke arah Alice.
"Tuan Darkie, aku rasa seharusnya kau yang lebih tahu dariku. Bukankah dua ratus tahun yang lalu wanita ****** ini sudah lama mati. Kenapa dia masih hidup?!" jawab Alice dengan wajah sinis.
"Siapa yang kau maksud Nona Alice?!" tanya Darkie
"Alice, hentikan omong kosongmu! bentak Edward
"Apa?! Kau bilang aku omong kosong! Kau jelas-jelas juga tau wanita ****** ini mati dua ratus tahun yang lalu!"
"Tuan Edward, apa maksud dari kata-kata Nona Alice?!" tanya Darkie dengan nada tegas
"Maafkan atas ketidaksopanan kami Tuan Darkie. Alice minta maaflah kepada Tuan Darkie dan tamunya." pinta Edward
"Minta maaf katamu?! Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?! Jelas-jelas wanita ****** ini sudah mati, kenapa dia...."
"Cukup!" teriak Edward
"Kau!"
"Tuan Darkie sekali lagi maafkan tindakan kami". Sebagai tanda permintaan maaf kami, apakah tuan bersedia hadir pada jamuan makan malam nanti?" pinta Edward kepada Darkie
"Tidak perlu. Kedatanganku kemari hanya untuk mengantarkan tamu Yang Mulia untuk belajar sihir di sekolah ini. Sudahkah kau menerima titah dari Yang Mulia?"
"Sudah Tuan. Aku mengerti. Mari silahkan ikuti aku. Aku akan mengantarkanmu sesuai titah Yang Mulia."
"Bagus. Jangan buang waktu. Cepatlah antar kami!"
"Baik Tuan. Mari silahkan!"
Semuanya berjalan mengikuti Edward dibelakang. Bangunan itu sangat tinggi dan kokoh. Dengan gaya arsitektur yang klasik namun elegan. Sangat tenang namun menyimpan aura mistik yang misterius. Mereka berjalan menaiki anak tangga yang panjang. Melihat anak tangga yang panjang dan meliuk-liuk, Lili hanya bisa menghela nafas. Ia tidak bisa membayangkan bila setiap hari harus naik turun tangga yang panjang dan meliuk-liuk seperti tanaman rambat yang melingkari pohon besar. Siapa sangka hanya dalam beberapa langkah saja mereka telah sampai diatas. Lili merasa kebingungan, sejak kapan ia dan yang lainnya berada diatas.
"Sejak kapan kita sudah berada diatas? Bukankah kita masih berjalan menaikki anak tangga yang panjang dan berliuk-liuk?" tanya Lili
"Nona Lili, ini semacam sihir yang kami tanamkan di sekolah dan asrama ini. Sihir ini mencegah penyusup masuk ketempat ini. Bisa kau lihat tangga yang kita naikki panjang dan meliuk-liuk. Sebenarnya tangganya tidak panjang dan meliuk-liuk seperti yang barusan kau lihat." jawab Edward dengan senyuman.
"Oh begitu. Itu hanya bereaksi kepada orang luar,bukan kepada murid-murid disini?"
"Benar sekali."
"Sekolah ini terlihat tenang dan nyaman, tidak seperti kastil berdarah. Tapi siapa sangka, ada banyak jebakan dimana-mana. Yah, seperti kata pepatah "Jangan melihat buku dari sampulnya". batin Lili
"Kita sudah sampai." kata Edward
Mereka berhenti di depan pintu kamar berwarna putih dengan ukiran tanaman merambat disekitarx. Lili mengamati pintu kamar itu. Terlihat ukiran tanaman merambat itu sangat cantik seperti aslinya. Dalam hatinya ia berkata "Benar-benar mengagumkan orang yang mendesain pintu ini. Terlihat seperti aslinya. Pasti dia bukan orang sembarangan." Tiba-tiba matanya Lili membelak. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tanaman merambat itu tiba-tiba berubah menjadi hidup dan merambat disekitar pintu. Ia pun kaget dan berteriak hingga membuat kaget orang disekitarnya.
"Nona, ada apa?" tanya Moonly sambil menepuk bahu kanan Lili.
"Itu...pintu itu...bukan...ta...tanamannya hidup." jawab Lili terbata-bata sambil menunjuk kearah pintu yang ada didepannya.
"Hidup?!" tanya Sunny
Sunny dan Moonly saling berpandangan satu sama lain. Keduanya menoleh kearah pintu itu. Dilihatnya pintu itu tidak terjadi apa-apa.
"Nona, kau mungkin sedang berhalusinasi. Pintu itu tidak terjadi apa-apa." hibur Moonly.
"Tidak! Aku tidak berhalusinasi. Jelas-jelas aku melihatnya. Ukiran itu benar-benar hidup!" teriak Lili
Darkie pun memperhatikan ukiran pintu itu. Ia mengernyitkan dahinya. Ia pun menoleh ke arah Edward.
"Tuan Edward, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Darkie dengan wajah serius
"Tentu, Tuan Darkie."
"Kenapa kau memilih kamar ini untuk nona kami? Apa kau mencoba melanggar perintah Tuan kami?!"
"Aku tidak berani Tuan Darkie. Aku menjalankan sesuai yang diperintahkan Tuan Anda."
"Baiklah, aku mempercayaimu."
"Terima kasih." jawab Edward
Edward mengeluarkan kunci dari dalam saku celananya. Ia berjalan memberikan kunci itu kepada Lili.
"Nona Lili, ini kunci kamarmu." kata Edward sambil menyerahkan kunci kamar tersebut kepada Lili. Lili memandang kunci ditangan kanan Edward dan beralih menatap Edward. Merasa dirinya ditatap Lili dengan tatapan seolah mengintimidasinya, Edward membalasnya dengan senyuman.
"Nona Lili, percayalah padaku. Kamar ini sama dengan kamar yang lainnya."
"Lalu kenapa aku harus tinggal disini? Kenapa aku tidak tinggal di asrama seperti murid-murid yang lain?!"
"Humph, kau seharusnya bersyukur ada seseorang yang meminta kami menyiapkan kamar terbaik disekolah ini!" cibir Alice kepada Lili dengan senyum mengejek
"Alice! Jaga cara bicaramu!" bentak Edward
"Huh!" sahut Alice
"Seseorang? Siapa dia?" tanya Lili dengan wajah penasaran
"Nona Lili, sebaiknya kau terima saja kunci ini dan segera membukanya. Apa kau ingin melihat kami semua berdiri seharian di depan pintu ini?!" kata Darkie sambil mengambil kunci ditangan Edward dan mengulurkan tangan kanan Lili sambil menyerahkan kunci itu kepadanya.
Lili dengan terpaksa menerima kunci yang diberikan Darkie ditangannya. Dengan enggan, ia berjalan maju menuju pintu. Ia memasukkan kunci yang ada ditanggannya ke arah lubang pintu. Terdengar suara kunci berhasil membuka pintu. Lili memegang gagang pintu itu dan perlahan-lahan membukanya. Saat pintu dibuka, hembusan angin dingin kencang meniup ke arah mereka dan mengibarkan rambut dan jubah mereka ke udara. Korden yang terbuat dari manik-manik berwarna biru berkilauan tertiup angin dan saling bertabrakan, menghasilkan suara gemerincing disekitarnya. Didalam korden manik-manik tersebut terdapat sebuah kasur besar dengan tirai kelambu berwarna putih dan biru muda yang terbuka, memperlihatkan bantal dan guling dan selimut yang tersusun rapi. Disebelah jendela kamar, terdapat korden kain tipis berwarna biru muda yang tertiup angin dan mengembang diudara dengan elegan. Suasana didalam kamar ini bernuansa biru langit yang tenang dan elegan. Lili berjalan masuk kedalam, menyentuh salah satu korden manik-manik berwarna biru. Ia memperhatikan setiap detail ukiran manik-manik itu. Kemudian ia menoleh kebelakang.
"Kamar ini, untukku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
🌷minako (❀◦◡◦)🌷
ayoo mammii lanjutt..hehehe..
maaf aku baru balik dari goaa.bz bertapa.hehehe
2022-01-17
1
noragami
Alice ku kedutan pertanda mau ketemu jodoh... 😅🤭
2021-01-10
1
ᴠᴀʟᴇɴᴀ🥀ᴅ α.ᴋ.α ʜ
apakah Alice dulu adalah saingan cintanya lili mam ketus sekali 🙄
2021-01-08
1