"Jika aku adalah orang kedua yang melukaimu, lalu siapa yang menjadi pertama?"
Mendengar perkataan Lili, langkah Evil pun berhenti. Ia menoleh kearah Lili sambil tersenyum dingin kearahnya. Ia berjalan pergi meninggalkannya sendirian diruang makan itu. Lili melihat punggung belakang pria itu berlalu.
"Ada apa dengannya? Apa aku salah bicara?" batin Lili
"Ya sudahlah, pria bilang wanita sulit untuk dimengerti. Lalu mereka makhluk seperti apa?! Datang dan pergi begitu saja. Huh!"
"Semakin dipikirkan semakin menyebalkan. Lebih baik aku makan saja. Tampaknya makanan ini asli bukan tipuan." kata Lili sambil mengambil beberapa makanan yang dihidangkan diatas meja dan menaruhnya diatas piringnya.
"Hmmm....enak." puji Lili sambil memakan dengan lahap makanan diatas piringnya.
Lotus Room
Malam hari diluar jendela, cahaya bulan purnama terpantul masuk kedalam kamar Lili. Menerangi setiap sudut kamarnya yang gelap gulita menyisakan cahaya lilin samar-samar dan cahaya bulan. Bayangan sosok wanita berdiri menghadap cermin sambil menyisir rambutnya. Lili berjalan membuka jendela kamarnya. Angin malam masuk dan meniupkan lembut rambut hitamnya yang tergerai panjang. Badannya yang ramping sangat cocok dengan lingerie panjang tipis berwarna putih. Ia melihat langit yang dipenuhi sungai bintang-bintang dan cahaya bulan purnama yang benderang. Ini bukan kali pertama ia melihat hamparan sungai bintang dilangit. Saat ia masih kecil, ia pernah melihat sungai bintang tapi tidak seindah malam ini. Ia juga mendengar suara burung hantu yang bertengger dipohon yang berada sebelah kamarnya. Sepasang kunang-kunang berterbangan mengelilingi dirinya seolah mereka sedang bermain kejar-kejaran dan terbang kearah langit dan perlahan menghilang.
"Haishh...malam ini benar-benar indah sekali dan sangat romantis. Tapi, untuk jomblo sepertiku ini, mau seribu malam sekalipun tidak ada yang romantis." keluh Lili sambil menutupi wajahnya dengan tangan kanannya.
Tiba-tiba ia teringat perkataan Evil saat diruang makan. Ia melihat kedua telapak tangannya. Dalam hatinya, ia berkata "Apa benar aku bisa menggunakan sihir seperti yang dikatakannya? Apa dia hanya mencoba untuk menipuku?! Tapi...bagaimana kalau mencobanya."
Sambil tersenyum, Lili mengarahkan kedua tangannya kebawah jendela. Keluarlah es yang membeku membentuk seluncuran dibawah jendela kamarnya sampai menyentuh tanah. Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia membalikkan kedua telapak tangannya. Ia melihat butiran-butiran salju yang mengkristal mengelilingi kedua telapak tangannya.
"Ini..." kata Lili sambil melihat kedua telak tangannya.
Ia bergegas masuk membuka lemari pakaian besar dengan dua pintu yang berhiaskan emas dengan detail abstark dan mengambil jaket putih berbulunya. Tidak lupa ia menutup kembali pintu itu. Ia berjalan menuju jendela kamarnya yang terbuka sambil memakai jaket berbulunya. Ia melihat es yang membeku membentuk seluncuran mengalir ke bawah kastil dan menyentuh tanah.
"Kastil ini benar-benar tinggi. Ah, lupakan saja...waktunya bermain."
Lili pun memposisikan dirinya duduk dengan kedua kakinya kurus sejajar dan meluncur diatas seluncuran es yang membeku. Tubuhnya meluncur mengikuti bentuk seluncuran es itu. Ia berteriak kegirangan. Ia mengangkat tangan kanannya ke arah seluncuran es hingga seluncuran es itu berubah bentuk menjadi lengkungan yang ujungnya seperti bulan sabit. Ia terlempar dari seluncuran yang ujungnya seperti bulan sabit. Dengan sigap, ia mengarahkan kedua tangannya keatas langit. Dan keluarlah burung es raksasa yang terbang kearahnya dan menangkap tubuhnya yang hampir jatuh diatas ketinggian. Ia pun membalikkan badannya dan merayap keatas kepala burung es raksasa itu. Betapa takjubnya Lili melihat pemandangan dibawah dari atas langit. Ia terbang keatas langit dan melewati bulan purnama yang saat itu sangat terang benderang. Senyum diwajahnya terpancar tak kalah dengan pancaran sinar rembulan malam ini. Lili tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengawasi gerak-geriknya dari balik kastil itu.
"Yang Mulia, ini?"
"Biarkan saja. Asalkan dia bahagia dan enggan pergi dari tempat ini lagi." sambil tersenyum melihat Lili terbang menaiki burung es raksasa.
"Tapi, Yang Mu..."
"Aahhhhh!!"
Belum selesai Buto mengatakan perkataannya, keduanya mendengar suara teriakan Lili. Evil melihat Lili terjatuh dari atas langit. Burung es raksasa yang dinaikkinya, menghilang. Secepat kilat, ia mengibaskan jubahnya yang berwarna merah dan menghilang dari hadapan Buto.
"Haiya, Yang Mulia tidak kusangka anda masih memiliki jiwa muda diusiamu yang sudah ribuan tahun. Apa karena aku terlalu lama jomblo?!" kata Buto sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa aku akan mati?" batin Lili sambil menutup kedua matanya.
Ia merasa tubuhnya jatuh kedalam pelukan tangan seseorang. Perlahan ia membuka kedua matanya. Ia melihat sosok pria tampan dengan postur tubuh tinggi tegap yang dikenalinya. Wajah tampan seputih giok terlihat jelas dalam pantulan cahaya rembulan.
"Yang Mu...." kata Lili sambil menutup kedua matanya.
"Apa dia pingsan?" batin Evil dengan wajah cemas.
Dengan cepat, Evil terbang kearah kastil. Tiba-tiba seekor burung elang hitam raksasa muncul dari belakang mereka. Mendengar suara burung itu, Evil pun menoleh. Segera ia mendaratkan kedua kakinya keatas punggung burung elang raksasa itu.
"Kau?!" tanya Evil kepada burung elang raksasa itu.
"Maafkan keterlambatan hamba Yang Mulia. Hamba pantas menerima hukuman." jawab burung elang raksasa itu.
"Lupakan saja. Kau sudah membantuku."
"Terima kasih Yang Mulia."
"Tumben Yang Mulia berbaik hati tidak menghukumku. Apa karena wanita yang digendongnya ini?" batin elang raksasa.
"Apa yang kau pikirkan?!"
"Tidak...tidak ada Yang Mulia."
"Aku rasa sudah waktunya kau untuk mencari elang betina untuk menemanimu."
"Eh, Yang Mulia anda pandai bercanda."
"Hahahaha!"
Burung elang hitam raksasa itu mendarat tepat dihalaman depan kamar peristirahatan Evil. Keduanya disambut Darkie dan Buto. Evil pun turun sambil menggendong Lili. Burung elang hitam raksasa itu mulai mengecilkan tubuhnya dan terbang mendarat kebahu Darkie.
"Yang Mulia." kata Darkie dan Buto secara bersamaan.
Keduanya melihat Lili yang digendong Evil. Wanita yang digendong oleh rajanya ini benar-benar sangat cantik. Wajah dan perawakan tubuhnya yang kecil, benar-benar memikat hati kaum pria.
"Apa yang kalian berdua lihat?!" tanya Evil dengan wajah seram.
"Tidak, tidak ada Yang Mulia." jawab Darkie dan Buto secara bersamaan.
"Bagaimana dengan kastilnya?!" tanya Evil
"Yang Mulia, sebagian kastil tertutup es. Kira-kira separuh kastil." jawab Buto
"Separuh ya?!"
"Iya." jawab Buto
"Baiklah. Tugas kalian berdua bersihkan separuh kastil malam ini juga!" perintah Evil kepada Darkie dan Buto.
"Eh?!" tanya Darkie dan Buto
"Ada komentar?!"
"Tidak ada Yang Mulia. Kami akan melaksanakan perintah Yang Mulia." jawab Darkie dan Buto secara bersamaan.
"Bagus." jawab Evil sambil pergi meninggalkan mereka berdua.
"Darkie, bisakah kamu yang...?"
"Jangan banyak bicara, ayo pergi!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
💐d@€ng🌸
baca pikiran aku juga ya evil
2020-11-07
2
noragami
itu si evil bisa baca pikiran,,, mantap kali...👍
2020-09-20
4
akira qairina
lanjut thorr
2020-09-20
2