Mendengar pertanyaan Lili, Evil hanya tersenyum sinis. Pandangannya beralih kearah tangan kanan Lili yang sedang gemetar. Tangannya terlihat putih pucat akibat sihir es yang dia gunakan. Merasa Evil memperhatikan tangan kanannya, Lili menyembunyikan tangan kanannya ke belakang punggungnya. Ia kaget melihat darah mengalir dipipi Evil yang seputih salju. Evil kembali menyimpan pedang ditangannya. Dengan kekuatannya, pedang itu mengeluarkan aura api berkobar disekitar tangannya dan menghilang secara misterius.
"Berdandanlah yang cantik malam ini. Tunggu aku diruang makan." kata Evil sambil membalikkan badan dan berjalan menjauh darinya.
"Tunggu!"
"Ada apa?" tanya Evil sambil menoleh ke belakang. Langkah kakinya berhenti ketika mendengar suara teriakan Lili.
Dilihatnya Lili berjalan menghampirinya. Dengan lembut, Lili mengusap darah yang mengalir dipipinya dengan jari jemari kanan yang lentik miliknya. Sentuhannya sangat lembut, nyaman dan terasa dingin. Melihat gadis didepannya, mengusap lembut darah yang mengalir dipipinya, Evil menangkap jari jemari Lili. Lili sangat kaget melihat Evil memegang jari jemarinya. Kedua mata mereka saling bertemu.
"Tak perlu khawatir, aku baik-baik saja." kata Evil sambil menyingkirkan tangan Lili.
"Tapi..."
"Aku tidak mau mengulangi perkataanku lagi."
Evil pergi meninggalkan Lili sendirian diruangan itu. Suasana diruangan itu kembali menjadi sepi. Lili berjalan menuju meja bundar dan mengambil gaun berwarna putih dan ungu. Setelah memakainya, ia berjalan menuju cermin besar yang lebih tinggi dan besar dari dirinya. Ia melihat sosok dirinya didepan cermin itu. Sungguh tak pernah ia sangka, bahwa sosok yang ada di dalam cermin itu seperti bukan dirinya. Gaun putih ungu dengan model press body ditambah bawahan yang megar menjuntai kebawah dengan model potongan yang memperlihatkan sebagaian dada dan bahunya, membuatnya terkesima. Dengan rambut lurus hitamnya tergerai sepinggang, membuatnya semakin tidak percaya bahwa yang ada didalam cermin adalah dirinya sendiri.
Saat Lili melihat dirinya didalam cermin, muncullah dua sosok perempuan yang berdiri tepat dibelakangnya. Mereka adalah Ceri dan Persik. Lili pun menoleh kebelakang dan dilihatnya keduanya tersenyum manis kepadanya.
"Kenapa kalian ada disini?" tanya Lili kepada Ceri dan Persik.
"Kedua wanita ini benar-benar hebat. Aku tidak menyadari keberadaan mereka berdua. Tampaknya mereka bukan wanita biasa." batin Lili.
"Yang Mulia meminta kami berdua untuk membantu nona berdandan." jawab Ceri
"Dasar rubah tua. Kurang kerjaan banget seh!" batin Lili sambil tersenyum sinis.
"Baiklah karena kalian berdua sudah ada disini, tolong bantu aku merapikan rambutku ini." pinta Lili
"Baik nona." sahut Ceri dan Persik secara bersamaan.
Setengah jam kemudian, Ceri dan Persik selesai mendandani Lili. Keduanya tampak puas dengan hasil karya mereka berdua.
"Nona, silahkan buka mata anda." kata Persik.
Lili membuka kedua matanya secara perlahan. Betapa terkejutnya ia melihat sosok dirinya didalam cermin yang berada didepannya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Kerja keras hasil make over Ceri dan Persik sangat memuaskan. Lili sampai tidak mengenal dirinya sendiri. Wajahnya yang putih bersih ditambah bibirnya yang berwarna pink, membuatnya tak berhenti menatap wajahnya dicermin. Rambut panjangnya diikat menyerupai konde dan diberi hiasan bunga beku disisi rambutnya. Tidak hanya itu mereka menyisakan beberapa helai rambut disebelah kanan dan kiri, ditambah poni depan yang telah dirapikan, membuat penampilan Lili seperti putri didalam dongeng seribu satu malam.
"Bagaimana nona? Apa kau menyukainya?" tanya Ceri sambil tersenyum kepada Lili yang masih menatap dirinya dicermin.
"Iya, aku menyukainya. Terima kasih banyak. Kalian sudah membantuku berdandan malam ini."
"Sudah menjadi tugas kami nona. Apalagi nona adalah tamu kehormatan Paduka Yang Mulia." Kata Persik
"Apa yang dikatakan Persik semuanya benar nona. Sebaiknya nona jangan menunda lagi untuk pergi ke jamuan makan malam sekarang. Jika terlambat, Yang Mulia pasti marah besar." tambah Ceri.
"Yang Mulia? Siapa dia? Apa dia seorang Raja?"
"Betul nona. Beliau adalah raja kami. Tidak hanya terkenal disini tapi diluar Zwart Land, beliau sangatlah terkenal. Dia mendapat julukan sebagai Raja Iblis." terang Persik
"Raja Iblis? Kenapa dia mendapatkan julukan seperti itu?"
"Itu...karena...."
Belum sempat Ceri melanjutkan perkataannya, terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk." teriak Lili
Terdengar suara pintu dibuka dan muncullah sosok pria yang sangat tampan dengan jubah berwarna merah dan terdapat bulu putih halus disekitar leher jubah itu.
"Blackie? Kau kah itu?" tanya Lili
"Iya nona, ini saya." jawab Blackie dengan senyum manis diwajahnya.
"Kau tampan sekali dengan jubah merah yang kau pakai itu."
"Terima kasih atas pujiannya nona."
"Oh ya, kenapa kamu kemari?"
"Sejak tadi aku menunggu nona yang sedang berdandan diluar pintu. Aku kemari karena panggilan Ceri. Nona, apa kau sudah siap?"
"Ceri memanggilmu? Kenapa aku tidak mendengar suara Ceri memanggilmu?" tanya Lili sambil melirik kearah Ceri. Merasa Lili melihat kearahnya, Ceri membalasnya dengan senyuman.
"Apa mereka berdua menggunakan telepati untuk berkomunikasi satu sama lain? Tidak aku sangka kalau aku terjebak diantara orang-orang yang kuat. Ditambah dengan raja mereka yang jauh lebih kuat dan menyeramkan." batin Lili
"Baiklah, aku sudah siap. Kemana kita akan pergi?"
"Ruang makan. Raja mengundangmu untuk makan malam bersamanya."
"Baiklah aku akan ikut denganmu. Kau bisa menungguku diluar."
"Baik nona."
Blackie membungkukkan badannya sedikit kearah Lili dan pergi keluar meninggalkan mereka bertiga. Lili mengalihkan pandangannya kearah Ceri dan Persik.
"Kalian berdua kenapa masih disini?Ayo temani aku bertemu dengan raja kalian. Aku penasaran seperti apa raja kalian?" tanya Lili dengan wajah penasaran.
"Maaf nona, kami berdua akan keluar." kata Ceri
"Siapa yang menyuruh kalian keluar? Aku hanya minta ditemani kalian berdua untuk menghadiri jamuan makan dari raja kalian."
"Maafkan kami berdua nona. Kami tidak bisa menemani nona menghadiri jamuan makan malam. Karena raja hanya meminta kami untuk membantu nona berdandan." terang Persik
"Baiklah aku tidak akan memaksa kalian berdua."
Mereka bertiga keluar dari kamar itu. Didepan pintu, ketiganya melihat Blackie yang masih
setia berdiri menunggu Lili. Ceri dan Persik berpamitan sambil membungkukkan sedikit badan mereka ke arah Lili. Lili membalasnya dengan menganggukkan kepalanya. Keduanya pergi meninggalkan Lili dan Blackie.
"Nona, ikuti saya."
"Baik."
Keduanya berjalan melewati dinding dan beberapa ruangan dengan pintu yang tertutup. Lima belas menit mereka berjalan, keduanya tiba didepan ruangan dengan pintu yang tertutup. Ruangan ini memiliki dua pintu berwarna emas dengan bermacam-macam ukiran abstrak dibadan pintu. Tiba-tiba kedua pintu ini terbuka dengan sendirinya. Lili sangat terkejut bahwa didalam ruangan itu ada seorang pria duduk sendirian didepan meja makan yang besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Reyhana
Thor,bisa diperliatin gak wajah Lili sama raja neraka itu kayak gimana?
Please,aku penasaran banget wajahnya kayak gimana
2020-11-06
6
Asmi Ana
semagght thoooor
2020-08-06
0
ᴠᴀʟᴇɴᴀ🥀ᴅ α.ᴋ.α ʜ
next mami, semangat
2020-08-06
1