Lotus Room
Seorang dokter kerajaan duduk dikursi yang berada disebelah kasur Lili. Ia memeriksa denyut nadi Lili yang sedang terbaring diatas kasur dengan kondisi tidak sadarkan diri. Setelah memeriksa denyut nadi Lili, dokter kerajaan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bagaimana keadaanya?"
"Mohon ampun Yang Mulia. Kondisi nona ini..."
"Katakan saja!"
"Kondisi nona ini sangat lemah. Ia menggunakan sihirnya dalam jumlah yang sangat besar. Dan itu menguras seluruh energinya."
"Lalu, apa yang terjadi dengannya jika ia menggunakan sihirnya dengan jumlah yang sangat besar?"
"Kemungkinan kecil nona ini hanya pingsan saja Yang Mulia. Tapi hamba belum bisa memastikan apa yang akan terjadi pada nona ini kedepannya."
"Baiklah, aku mengerti. Kau boleh pergi sekarang!"
"Terima kasih Yang Mulia. Hamba mohon undur diri." kata dokter kerajaan sambil menundukkan sedikit badannya ke arah Evil dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Evil berjalan dan duduk diatas kasur Lili. Ia mengamati tubuh gadis mungil yang terbaring ditutupi selimut tebal berwarna biru muda. Wajahnya benar-benar terlihat manis, imut dan tenang saat tidur.
"Bertemu denganmu, apa sebuah anugerah atau kemalangan untukku?" kata Evil sambil mengelus wajah Lili dengan lembut. Perlahan ia mencium kening Lili dan tersenyum dengan lembut. Evil pun bangkit dan pergi meninggalkan Lili sambil mengibaskan jubah merahnya diudara. Jubah itu mengembang diudara dengan sangat elegan. Terdengar suara pintu tertutup dan ruang kamar ini kembali menjadi sunyi. Dan Lili masih tertidur lelap dengan lampu tidur yang masih menyala.
Diluar Kastil
"Hah?! Yang benar saja?! Semua ini harus kita yang membersihkan?! keluh Buto sambil melihat sebagian kastil tertutup lapisan es yang sangat tebal.
Tiba-tiba sebuah kilatan cahaya panas menyala dan menyembur kearah lapisan es yang menutupi sebagaian kastil itu. Buto melirik kearah Darkie. Pria ini terlihat serius melelehkan lapisan es yang sangat tebal. Wajahnya terlihat sangat anggun ditengah-tengah kobaran api yang menyala dari kedua tangannya.
"Fiuh, aku benar-benar iri denganmu Darkie. Dilihat dari sudut pandang manapun kau terlihat tampan. Andai saja kau itu seorang gadis muda, aku akan...ahhhhhh....." teriak Buto sambil mengibaskan jubahnya yang terkena percikan api dari tangan kiri Darkie.
"Kau gila ya!!! Aku ini belum menikah dan kau ingin membakarku?!" bentak Buto
"Sekali lagi aku mendengar ocehanmu, aku tidak akan segan untuk menjadikanmu abu."
"Kau! hmph!"
Dengan kesal, Buto mengarahkan tangan kirinya kedepan dan keluarlah binatang harimau dari balik tangan kanannya. Harimau itu mengaum dengan keras. Melihat Buto mengeluarkan binatang peliharaannya, Darkie menarik kedua tangannya. Api perlahan mengecil dan menghilang dari balik kedua tangannya. Darkie menyilangkan kedua tangannya dan berjalan menghampiri Buto.
"Apa kau yakin harimau milikmu itu bisa melelehkan lapisan es ini?"
"Entahlah, aku akan mencobanya."
Harimau itu mengaum dan menoleh kebelakang. Ia menatap Buto dan Darkie. Seakan sedang menunggu perintah dari majikannya.
"Aku ingin kau membersihkan lapisan es yang menutupi sebagaian kastil ini. Jangan sampai menyakiti penghuni didalamnya." perintah Buto kepada harimau peliharaannya.
Harimau itu mengangguk dan mengaum. Ia pun berlari dan tiba-tiba keluarlah kedua sayap dari sisi punggungnya. Harimau itu terbang mengelilingi kastil yang tertutup sebagian lapisan es yang tebal sambil menyemburkan api dari dalam mulutnya. Kobaran api besar keluar dari dalam mulutnya melelehkan lapisan es yang sangat tebal. Lapisan es yang tebal itu mulai mencair sedikit demi sedikit.
"Aku rasa harimau peliharaanmu cukup berguna."
"Tentu saja."
Tiba-tiba harimau itu terbang mendarat kearah Buto dan Darkie. Ia berjalan kearah Buto dengan wajah kelelahan. Melihat harimaunya terlihat lelah, Buto menghampirinya. Dengan lembut ia membelai kepala harimau peliharaanya.
"Apa kau lelah?" tanya Buto sambil membelainya. Harimau itu membalasnya dengan suara auman kecil. Melihat harimau milik Buto kelelahan, Darkie berjalan menghampiri mereka.
"Aku rasa dia kelelahan. Biarkan saja dia istirahat." kata Darkie menepuk bahu Buto
"Ya. " Buto pun mengangkat tangan kirinya kearah kepala harimau itu. Harimau itu pun tersedot kedalam tangan kirinya. Ia pun menurunkan tangan kirinya.
Buto mengangkat tangan kanannya, dan muncullah tongkat panjang berwarna hitam dengan ukiran meliuk-liuk seperti gelombang air dengan batu permata berwarna merah diatasnya. Ia mengayunkan tongkat itu ke udara dan keluarlah kobaran api yang besar. Ia mengarahkannya tepat dilapisan es yang masih tersisa disebagian kastil. Tidak mau kalah dengan Buto, Darkie pun mengerahkan semua kekuatannya. Ia pun terbang keatas sambil mengarahkan kedua tangannya. Dengan cepat kobaran api keluar dari kedua tangannya. Keduanya bekerja sama untuk membersihkan lapisan es itu.
Sudah tiga jam lamanya, mereka membersihkan lapisan es yang tersisa. Tapi, tak ada satupun dari mereka yang berhasil membersihkan sisa lapisan es itu. Dengan nafas terengah-engah, Buto menarik tongkatnya. Kobaran api yang besar tiba-tiba mengecil dan menghilang dari tongkatnya. Melihat Buto menarik tongkatnya, Darkie pun ikut menarik kedua tangannya. Kobaran api yang keluar dari kedua tangannya, perlahan menghilang. Ia terbang mendarat tepat dihadapan Buto.
"Darkie, menurutmu apa kita bisa membersihkan lapisan es ini. Bahkan harimauku saja sudah kelelahan." kata Buto sambil menyimpan kembali tongkat yang dipegangnya. Tongkat itu pun menghilang dari udara.
"..."
"Kalian berdua sedang apa?"
Mendengar ada suara seorang wanita memanggil mereka, keduanya menoleh kebelakang. Dilihatnya Lili berdiri dengan memakai lingerie panjang berwarna putih dengan jubah tebal berbulu putih. Melihat Buto dan Darkie memandangnya, Lili hanya membalasnya dengan senyuman.
"Nona...kenapa kau ada disini?" tanya Buto sambil berjalan menghampiri Lili.
"Kalian sendiri kenapa ada disini? Apa yang kalian lakukan?"
Mendengar pertanyaan Lili, keduanya saling bertukar pandang. Melihat kedua pria itu saling bertukar pandang dan tak ada jawaban dari keduanya, Lili pun menoleh dan mengamati sekitarnya. Dilihatnya sebagian kastil yang sebelumnya tertutup lapisan es akibat perbuatannya, sedikit demi sedikit berkurang. Ia berjalan mengamati dinding kastil yang masih menyisakan lapisan es yang sangat tebal. Ia merasakan ada genangan air dibawah kakinya.
"Apa kalian berdua yang melakukan ini?"
"Ahahaha...nona sebaiknya kau kembali kekamarmu untuk beristirahat. Jika paduka Raja tau kau berada disini, habislah kita berdua." bujuk Buto dengan wajah memelas.
"Bagaimana aku bisa beristirahat dengan tenang. Aku merasakan hawa yang begitu panas dari dalam kamarku. Ternyata itu perbuatan kalian. Aku minta maaf telah merepotkan kalian berdua."
"Tidak...tidak, ini sudah menjadi tugas kami berdua. Kami berdua ikhlas melakukan ini, hehe." bujuk Buto. Mendengar Buto membujuk Lili, Darkie menahan tawanya.
"Benarkah?"
"Tentu saja."
Lili pun mengangkat tangan kanannya kedepan dan keluarlah seekor naga api besar dari tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
ternyata lili emang luar biasa ya...bisa semua hanya blm terbiasa
2024-06-05
0
🌷minako (❀◦◡◦)🌷
wow
es dan apii..
cepet sie lili belajar sihir..
auto didak pula.
blm jg ke skola sihir neng lili
2022-01-17
1
ᴠᴀʟᴇɴᴀ🥀ᴅ α.ᴋ.α ʜ
wooww!! Lily 😍
2020-10-08
4