Naga api besar itu terbang sambil menyemburkan kobaran api ke sisa-sisa kastil yang masih ditutupi oleh lapisan es. Dalam sekejab mata lapisan es yang menutupi kastil telah lenyap tak bersisa. Pemandangan ini membuat takjub Darkie dan Buto. Lili mengangkat tangan kanannya, dan naga api besar yang terbang mengelilingi kastil kini berbalik terbang ke arah mereka bertiga. Ia terbang dan masuk kedalam telapak tangan kanan Lili dan menghilang. Lili menurunkan tangan kanannya. Disekitar telapak tangan kanannya muncul kobaran api yang mengelilingi tangannya dan perlahan menghilang.
"Nona, kau...darimana kau belajar sihir api?" tanya Darkie
"Dari kalian."
"Hah?!" jawab Darkie dan Buto secara bersamaan
Lili hanya tersenyum mendengar perkataan mereka. Ia merasa ada sesuatu yang mengalir dari dalam perutnya menuju tenggorakannya. Tak mampu menahannya, ia pun memuntahkannya ke tanah. Segumpal darah kotor keluar dari mulutnya. Melihat Lili muntah darah, Darkie dan Buto saling berpandangan.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" cemas Buto
"Aku baik-baik saja. Kalian tenang saja." jawab Lili sambil tersenyum kecil.
Lili merasa kepalanya sakit dan pandangan matanya semakin kabur. Ia melihat ke arah Darkie dan Buto. Keduanya terlihat samar-samar dalam pandangan matanya. Ia merasa tubuhnya badannya tidak enak. Ia pun membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan keduanya. Baru beberapa langkah, badannya terasa sempoyongan. Lili pun jatuh pingsan. Beruntungnya saat ia jatuh pingsan, ada seseorang yang menahan tubuhnya sehingga ia tidak jatuh ditanah. Melihat sosok pria yang menahan tubuh Lili dan menggendongnya, ekspresi wajah Darkie dan Buto berubah menjadi pucat. Perlahan Lili membuka kedua matanya. Ia melihat sosok pria yang menahan tubuhnya dan menggendongnya. Ternyata sosok pria itu tidak lain adalah Evil.
"Apa yang terjadi disini?" tanya Evil kepada Darkie dan Buto.
"Ya...Yang Mulia, jangan salahkan mereka. Ini...aku..."
Belum sempat melanjutkan perkataannya, Lili pun memejamkan matanya kembali. Raut wajahnya terlihat sangat pucat seperti bulan dimalam ini.
"Kalian berdua tunggu aku di ruang kegelapan!"
"Baik Yang Mulia." jawab Darkie dan Buto bersamaan
"Habislah kita." pikir Darkie dan Buto bersamaan.
Lotus Room
Evil meletakkan Lili dengan lembut diatas kasur. Tidak lupa ia menyelimuti tubuh gadis mungil itu. Evil pun duduk disamping Lili yang masih tidak sadarkan diri. Ia menggenggam tangan kanan Lili.
"Dingin sekali." kata Evil sambil meletakkan kembali tangan kanannya Lili. Ia memegang dahi Lili untuk memeriksa kondisi tubuhnya.
"Dasar gadis nakal. Tapi, dilihat-lihat dia cukup imut saat tertidur." puji Evil didalam hati.
Tiba-tiba Lili mengerutkan dahinya. Perlahan-lahan ia membuka kedua matanya. Dilihatnya, Evil duduk disampingnya.
"Yang Mulia, terima kasih."
"Kau bilang apa?!"
"Te...terima kasih Evil."
"Bukankah aku sudah bilang padamu untuk beristirahat. Kenapa malah keluar?!"
"Bagaimana aku bisa istirahat dengan tenang. Diluar aku mendengar suara bising dan cahaya merah menyala. Dan itu adalah kobaran api."
"Tidak seharusnya kau keluar dari kamarmu dan bermain-main dengan mereka. Itu sudah menjadi tugas mereka berdua!"
"Bermain-main katanya?! Yang benar saja. Jelas-jelas aku membantu mereka berdua." batin Lili.
"Sudahlah, jangan menjadi gadis berkepala batu."
"Hah?!"
"Istrihatlah dengan baik. Jika kondisi tubuhmu masih lemah. Maka aku akan menunda pembelajaranmu di sekolah sihir."
"Sekolah sihir? Maksudmu...aku akan belajar sihir di sekolah sihir?" kata Lili sambil berusaha bangkit dan duduk diatas tempat tidurnya.
"Jangan bergerak dulu."
"Evil, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja kok. Terima kasih sudah berkali-kali menolongku."
"Sudah menjadi tugasku menolong yang lemah terutama seorang gadis muda sepertimu. Dengar-dengar, jika menikahi seorang gadis muda, menjadi awet muda."
"Hah?! Omong kosong macam apa itu?!"
"Hahahahahaha! Hanya bercanda."
"Itu tidak lucu."
"Sudahlah. Saatnya kau untuk beristirahat. Jika kau masih kelayapan, aku akan memaksamu untuk tidur denganku."
"Kau! Haish... baiklah aku akan tidur. Tapi, kau harus menjawab pertanyaanku dulu."
"Apa itu?"
"Barusan kau bilang jika kondisiku masih lemah, kau akan menunda pembelajaranku. Apa maksudmu?"
"Ya. Jika kondisi tubuhmu masih lemah. Aku tidak akan mengizinkanmu belajar sihir di sekolah sihir."
"Kenapa?"
"Karena jika tubuhmu masih lemah, pembelajaranmu hanya akan terbuang sia-sia."
"Evil, apa sebegitu keraskah sekolah sihir itu?"
"Kau akan mengetahuinya ketika kau sudah sehat. Sudah larut malam, jangan banyak bicara. Tidurlah dengan baik, jangan menjadi gadis berkepala batu, oke?!"
"Baiklah kalau begitu, aku akan istirahat. Tapi kau harus janji jika tubuhku besok sehat, kau akan mengizinkanku untuk bersekolah di sekolah sihir ya?"
"Iya."
Lili pun kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur dan menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut. Ia melihat kearah Evil.
"Evil, jika kau terus berada disini aku tidak akan bisa beristirahat dengan baik."
"Baiklah, aku akan pergi." kata Evil sambil beranjak dari tempat duduknya. Ia pun berjalan melangkah kearah pintu kamar Lili. Baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh ke arah Lili.
"Jika aku menemukanmu tidak berada di dalam kamar, kau harus menerima hukumanmu!"
Evil pun berjalan meninggalkan Lili sendirian di dalam kamar itu. Terdengar suara pintu ditutup. Lili pun bangkit dan duduk diatas tempat tidurnya. Ia mengamati seluruh isi kamarnya. Tiba-tiba pandangan matanya tertuju pada lampu tidur yang berdiri diatas meja tepat berada disamping tempat tidurnya. Tidak ada yang aneh dengan lampu tidur itu. Hanya saja, lampu tidur dengan desain unik dan ukiran abstrak itu mengeluarkan cahaya berwarna kuning dan disekitarnya dikelilingi lima kupu-kupu berwarna perak.
"Pria ini benar-benar sesuatu. Mengirim banyak kupu-kupu perak kedalam kamarku hanya untuk mengawasiku." batin Lili sambil tersenyum dingin.
Ia pun merebahkan kembali tubuhnya dan mulai tertidur. Kelima kupu-kupa perak masih terbang mengelilingi lampu tidur itu. Salah satu dari kelima kupu-kupu perak itu terbang keluar menuju celah jendela kamar Lili yang masih terbuka.
Ruang Kegelapan
Kupu-kupu perak itu terbang menuju salah satu jendela yang terbuka. Ia mendarat diatas jari telunjuk kiri Evil. Ia mengepakkan kedua sayapnya perlahan-lahan seolah memberitahu sesuatu kepada Evil.
"Jadi begitu. Dia sudah menyadari keberadaanmu. Sangat menarik." kata Evil sambil menyeringai.
"Kalian bertiga sudah mendengar itu?" tanya Evil kepada Darkie, Blackie, dan Buto.
"Kami sudah mendengarnya Yang Mulia." jawab ketiganya serentak
"Bagus. Aku mempunyai tugas untuk kalian bertiga." kata Evil sambil membalikkan badannya dan menatap kearah ketiga bawahan setianya.
"Darkie, Blackie...besok kalian berdua temani Lili mendaftar di sekolah sihir. Dan kau Buto, tugasmu melindungi Lili secara diam-diam."
"Baik Yang Mulia."
"Yang Mulia, anda..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
kereennn
2024-06-05
0
dita18
makin seru crta nya👍👍
2022-07-23
1
🌺Maryam🌺
next ya thor
2020-10-05
4