Mendengar pertanyaan Lili, ketiganya saling memandang satu sama lain. Melihat ketiganya saling berpandangan satu sama lain, Lili pun mendehem.
"Ahem...ahem...bagaimana rasanya? Enak tidak?"
"Ah iya...enak...enak...sekali...hahaha." kata Moonly sambil tertawa.
"Iya ini enak sekali. Rasanya segar. Bukan begitu, Darkie?" tanya Sunny sambil menyeringai.
"Masih enak hati manusia, apalagi darah wanita yang masih perawan." jawab Darkie dengan wajah tanpa dosa.
Betapa kagetnya Lili mendengar perkataan yang diucapkan oleh Darkie. Wajah Lili tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi. Melihat wajah Lili memucat, Sunny dengan kesalnya memukul kepala Darkie karena berbicara seenaknya. Lili pun kaget melihat Sunny memukul Darkie.
"Aduh! Kenapa kau memukulku?!" teriak Darkie sambil memegang kepalanya yang terasa sakit akibat dipukul oleh Sunny.
"Karena kau berbicara seenak udelmu!"
"Hah?!"
"Kenapa? Protes?! Mau aku pukul lagi?!"
"Hmph...wanita selalu benar dan pria selalu salah!"
"Apa kau bilang?!"
Kedua mata Sunny dan Darkie saling bertatapan satu sama lain. Ada gelombang kebencian yang terpancar dari kedua mata mereka. Seperti aliran listrik yang siap menyambar sekitarnya. Melihat keduanya hendak bertengkar, Moonly pun melerainya.
"Sudah...sudah...kalian jangan bertengkar." kata Moonly dengan nada lembut
"Bacot lu!" bentak Sunny dan Darkie ke arah Moonly.
"Kenapa kalian berdua membentakku? Huhuhu..." kata Moonly dengan mata berkaca-kaca.
"Astaga...kenapa malah jadi seperti ini?" batin Lili sambil memegang dahinya.
"Hei...jika kalian terus memanas seperti ini, aku akan melaporkan tindakan kalian kepada raja kalian!" ancam Lili dengan wajah serius.
Mendengar ancaman Lili, Sunny dan Moonly langsung bersujud memohon pengampunan Lili.
"Nona, kami bertiga hanya bercanda. Tolong jangan laporkan kami kepada Yang Mulia." pinta Sunny
"Iya nona...aku mohon. Darkie katakan sesuatu, jangan diam saja seperti patung!" teriak Moonly
"Cih...kalian berdua bawel sekali!"
"Darkie!" teriak Sunny dan Moonly secara bersamaan.
"Apa yang kau makan?" tanya Blackie tepat disebelah telinga kanan Blackie. Betapa kagetnya Darkie yang melihat Blackie tiba-tiba ada disampingnya.
"Eeh...sejak kapan kau ada disini?!" tanya Darkie
"Sejak kalian bertiga bertengkar." jawab Blackie
"Apa maksudmu dengan kami bertiga?! Pacarmu itu yang memulai duluan?!" teriak Sunny dengan nada kesal.
"Pacar?!" tanya Blackie kepada Sunny. Sesaat kemudian, ia tertawa terbahak-bahak mendengar kata "pacar" yang dilontarkan oleh Sunny kepadanya.
"Kau gila ya?!" ejek Sunny kepada Blackie.
"Iya aku gila. Gila karena melihat kau cemburu, hahahaha!"
"Kau!"
"Sudahlah Sunny untuk apa kau ladeni si Blackie. Eh, tapi ngomong-ngomong kau dan Tuan Edward sedang membicarakan apa?"
"Hanya urusan sesama pria."
"Huh!"
"Hahaha! Oh ya nona Lili, malam ini kau tinggal disini sendirian." terang Blackie.
"Kenapa? Bukannya Raja meminta aku dan Sunny untuk menemaninya?!"
"Menemaninya dalam artian apa? Sebentar atau seumur hidupmu?! Yang jelas, Raja meminta kita semua kembali ke kastil sekarang."
"Lalu bagaimana dengan nona Lili? Dia masih belum mengenal tempat ini." sahut Moonly
"Tidak perlu khawatir Moonly. Aku baik-baik saja."
"Tapi..."
Belum sempat melanjutkan kata-katanya, bahu Moonly ditepuk pelan oleh Blackie. Moonly menoleh kesamping dan dilihatnya Blackie menggelengkan kepala. Seolah mengerti maksud yang disampaikan, Moonly pun mengangguk pelan.
"Nona Lili, ini jadwal harianmu selama kau menjadi murid di sini." kata Blackie sambil menyerahkan sebuah kertas ditangannya kepada Lili. Lili pun menerimanya.
Ia membaca setiap detail didalamnya. Tiba-terdengar suara gaduh dari luar. Kelimanya saling berpandangan satu sama lain dan mencari asal sumber suara gaduh. Kilatan cahaya aneh terlihat dari dalam kamar Lili. Lili pun menoleh ke arah jendela. Kilatan cahaya dan suara itu semakin terdengar jelas dari arah luar jendela. Lili pun berlari ke arah jendela diikuti Darkie, Blackie, Sunny dan Moonly dibelakangnya. Dilihatnya dibawah jendela ada Satu orang anak dibawah sedang bertarung dengan empat orang anak dengan ilmu sihir mereka. Salah satu diantara keempat anak itu mengeluarkan kilatan petir dari tongkatnya dan diarahkan tepat dihadapan satu orang anak yang memakai jubah berwarna hitam bermotif abstrak. Dengan gerakan cepatnya, anak itu menghindari setiap serangan yang dilancarkan kepadanya. Demi membantu temannya, salah satu dari keempat anak itu mengeluarkan satu jarum perak beracun dan mulai mengarahkan tepat ke arah lawan didepannya. Menyadari aksi anak tersebut, Lili pun berteriak.
"Awas dibelakangmu!" teriak Lili
Mendengar suara seseorang berteriak, anak berjubah hitam itu menoleh kebelakang. Dan dilihatnya sebuah jarum perak terbang melayang ke arahnya. Tak sempat menghindar, jarum perak itu menusuk tepat dibahu kanannya. Merasa bahunya kesakitan akibat terkena jarum perak beracun, anak itu pun terduduk diatas tanah sambil memegang bahunya yang masih tertusuk jarum. Darah mulai keluar mengalir membasahi jubah hitamnya. Melihat lawannya tak berdaya, keempat anak itu tertawa terbahak-bahak seolah mereka bangga karena telah menjatuhkan lawannya.
"Hahaha...inilah akibatnya kalau kau keras kepala!" teriak salah satu anak yang membawa tongkat.
"Benar Tuan. Dia pantas mendapatkannya. Lagian sampah seperti dia bagaimana bisa dibadingkan dengan Ratu Ilmu Hitam!"
"Hahaha...kau benar. Aku ingin tau ada berapa banyak nyawa yang dia milikki kali ini!"
"Tenang saja Tuan. Jarum perak racunku akan menyiksa dia pelan-pelan sampai mati. Entah sampai berapa lama dia mampu bertahan. Tidak ada yang bisa membuat penawarnya, selain aku."
"Hahaha...kau memang pantas untuk menjadi pasanganku. Ayo tinggalkan dia disini. Jika dia mati disini tidak ada yang menuntut kita!"
"Iya!"
"Hahaha!"
Mereka berempat tertawa sambil meninggalkan anak itu sendirian dengan bahu yang terluka.
"Mereka kejam sekali!" kesal Lili
"Kau kasihan pada anak itu? Nona Lili, aku sarankan kau untuk tidak terlibat dalam pertarungan gelap seperti ini." terang Blackie
"Pertarungan gelap?"
"Ya. Pertarungan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dan resikonya, kau bisa terbunuh oleh lawanmu tanpa ada orang lain yang tahu." tambah Blackie
"Lalu bagaimana dengan anak itu? Haruskah kita membiarkannya sendirian?!"
"Ya! Lagipula itu bukan urusan kita. Ditambah aku dan yang lain harus segera kembali ke kastil." kata Blackie dengan wajah tanpa dosa.
"Kau sama kejamnya dengan mereka!"
"Eh?!"
"Aku akan menyelamatkannya."
"Tunggu! Nona, kau mau kemana?!"
"Pergi menyelamatkannya."
"Huft... baiklah biar aku yang membawanya kesini."
"Aku ikut."
"Nona Lili, sebaiknya kau...."
"Sudahlah Blackie turutti saja. Apa kau mau dilaporkan kepada Yang Mulia atas tuduhan kalau kau mengabaikannya?!" bujuk Darkie
"Baiklah. Kau menang."
Senyum mengembang diwajah Lili. Blackie berjalan kearah Lili dan menggandeng tangannya. Tak lama kemudian, keduanya sampai tepat dihadapan anak itu. Melihat kehadiran seseorang didepannya, ia pun mendongak ke atas dan kaget.
"Kau?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
lily
masa udah ada kata " bacot" Thor, oiya menurut ku lebh baik kata "pacar" diganti " kekasih" lebh gimna gtu
2024-01-17
2
noragami
ya benar,,, perempuan selalu benar...😬
2021-01-17
1
noragami
ya benar,,, perempuan selalu benar...😬
2021-01-17
1