"Ha...hati manusia?" tanya Lili
"Iya. Tidak hanya hati manusia saja. Bahkan ada yang meminum darah gadis yang masih perawan." terang Darkie
"A...Apa?!" kaget Lili
"Ya Tuhan, tempat apa ini? Kenapa sangat mengerikan. Tuhan, tolong kembalikan aku ke duniaku yang tenang dan damai. Aku tidak mau tinggal disini. Tidak...tidak...aku pasti bermimpi. Aku bermimpi kan?!" batin Lili dengan wajah ketakutan.
"Nona Lili, kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat?" tanya Moonly sambil mendekat ke arah Lili. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Darkie. Dengan wajah masam, ia mulai memarahi Darkie yang menakutti Lili.
"Tuan Darkie, apa yang kau lakukan? Lihatlah, nona Lili sekarang ketakutan mendengar perkataanmu."
"Aku tidak menakutinya. Apa yang aku katakan memang benar. Bukankah kalian berdua juga mengetahuinya?!"
"Kau!"
"Sudah...sudah kalian berdua jangan bertengkar. Nona Lili, aku akan membuatkanmu salad buah. Aku akan mengajak Darkie untuk membeli buah-buahan." terang Sunny
"Aku tidak mau!"
"Oh ayolah!"
"Tidak!"
"Huh...kepala batu!
"Terus?!"
"Mati saja kau!"
"Kau yakin dengan kata-katamu, Sunny?!"
"Kenapa? Apa kau takut?!"
"Tidak. Hanya saja aku khawatir kalau aku mati, tidak ada yang menyayangimu lagi selain aku!"
"Puffftt...hahaha...kau sangat narsis!"
"Bukankah kau menyukainya?!"
"Heleh...pria sepertimu apa yang menarik?! nol besar?!"
"Sunny, aku peringatkan kau...jangan membangunkan naluri seorang pria. Kau takkan bisa melawan!" kata Darkie sambil menyentuh beberapa helai rambut Sunny.
"Persetan denganmu!" bentak Sunny sambil menepiskan tangan Darkie yang menyentuh rambutnya.
"Ayo Moonly, kau ikut denganku!" ajak Sunny sambil menarik tangan Moonly
"Eh...eh...Nona Lili, kami akan segera kembali. Tetap disana ya! Sunny, pelan-pelan!"
Keduanya pun berjalan keluar pintu dan terdengar suara pintu ditutup dengan keras. Seketika itu suasana di dalam kamar Lili hening seketika. Ada dua manusia yang tenggelam dalam keheningan. Tak ada sepatah kata yang keluar dari keduanya. Hanya terdengar suara kicauan sepasang burung merpati yang sedang memadu kasih diatas pohon. Lili merasakan atmosfir dingin mencengkam didalamnya. Ia melirik ke arah Darkie yang masih berdiri di sampingnya dengan mulut tertutup.
"Pria ini benar-benar sesuatu. Ia sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun. Dia ini makhluk apa sih?! Aku merasa ditemani patung berwujud manusia!" batin Lili
Merasa dirinya diperhatikan Lili, Darkie pun menoleh. Melihat Darkie menyadari bahwa ia diperhatikan olehnya, Lili pun kaget.
"Ada apa nona?"
"Tidak ada apa-apa."
"Lalu kenapa kau memandangku?!"
"Hanya memandang saja tidak boleh. Memangnya kau seorang artis papan atas gitu?!"
"Artis? Apa itu artis? Makanan kah?!"
"Ini orang kenapa yang ada di otaknya hanya makanan...makanan! Seekstrim itu kah selera makannya?!" batin Lili
"Artis adalah seorang publik figur yang dikagumi semua orang dan seluruh dunia mengakui kemampuan dan bakatnya. Seperti ia memerankan beberapa drama, film, menyanyi dsb." terang Lili
"Apa lebih tenar dari seorang raja?"
"Mm...bisa dibilang raja juga artis. Artis di zaman dulu. Bahkan sekalipun raja atau tokoh-tokoh penting yang saat itu meninggal, baik kisah kehidupannya, kemampuannya dan semua perjuangannya pasti dikenang oleh semua orang. Sekalipun mereka semua sudah meninggal dunia, orang akan selalu mengenal dan mencintai mereka. Bahkan membukukan kisah mereka. Hebat kan?!"
"Ya... itu hebat sekali."
"Oh ya Darkie, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?!"
"Katakan?"
"Mm...menurutmu ratu itu orang yang seperti apa?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Entah kenapa saat aku melihat ekspresi wanita itu, aku merasa dia sangat membencinya. Apakah dia mempunyai banyak musuh? Ataukah dia dibenci oleh semua orang?"
"Aku tidak tahu"
"Kenapa kau tidak tahu? Bukankah kau pernah melayaninya?"
"Aku hanya melayani Yang Mulia. Orang yang melayani permaisuri, bukanlah aku. Melainkan orang lain."
"Lalu siapa dia?"
"Orang kepercayaan permaisuri dan dia sudah mengikutinya sejak permaisuri masih muda."
"Siapa namanya?"
"Aku tidak tahu."
"Kenapa kau tidak tahu?! Bukankah barusan kau bilang, dia orang kepercayaan permaisuri dan sudah mengikuti permaisuri sejak ia masih muda. Berarti sudah sangat lama sekali, ia mengabdi kepada permaisuri kan? Sungguh aneh jika kau tidak mengetahui namanya? Jangan bilang kalau kau juga tidak tau wajahnya. Kau pasti mengarang kan?!"
"Aku tidak mengarang. Aku tau wajahnya dan seperti apa dia. Tapi aku memang tidak tahu namanya?!"
"Kenapa?"
"Karena dia tidak pernah memberitahukan namanya ke semua orang."
"Lalu bagaimana permaisuri memanggilnya? Tanpa nama?"
"Tidak juga. Aku pernah mendengar permaisuri memanggilnya. Hanya julukannya saja bukan namanya."
"Hahh??"
"Aku tahu kau pasti bertanya-tanya, kenapa permaisuri memanggil dia dengan julukannya, bukan namanya."
"Itu benar. Ceritalah."
" Itu karena..."
Belum sempat melanjutkan perkataannya, terdengar suara pintu dibuka. Sunny dan Moonly membawa lima mangkuk yang berisi salad buah yang telah selesai mereka buat. Satu mangkuk berukuran besar dibawa oleh Sunny, sementara empat mangkuk berukuran sedang dibawa oleh Moonly. Keduanya berjalan menuju sofa putih panjang yang didepannya terdapat meja putih panjang dengan ukiran bunga-bunga disisinya. Lili berjalan menuju sofa itu diikuti Darkie dibelakangnya. Lili pun duduk ditengah-tengah sofa putih panjang tersebut.
"Nona ini salad buah yang kau minta." kata Sunny sambil menyodorkan satu mangkuk besar yang didalamnya berisi bermacam-macam jenis buah segar dengan toping keju dan coklat dan meletakkannya diatas meja tepat di didepan Lili.
"Tunggu...apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Lili sambil memegang sendok ditangan kanannya.
"Tidak nona. Kami berdua tahu nona sangat menyukainya. Jadi kami sengaja membuatkan porsi yang besar untuk nona." jawab Sunny dengan senyuman.
Lalu Sunny mengambil satu per satu mangkuk yang ada di atas nampan Moonly dan meletakkannya di atas meja. Melihat Ketiganya berdiri di depannya, Lili pun mendehem.
"Ahem...kenapa kalian masih berdiri? Duduk dan makanlah denganku!" ajak Lili sambil memberi isyarat tangan agar mereka berdua duduk di sofa yang masih kosong. Ketiganya saling berpandangan satu sama lain.
"Hey kenapa kalian malah saling berpandangan? Ayo duduk dan cobalah!" kata Lili sambil menarik tangan mereka satu per satu dan memaksanya duduk di sofa yang kosong.
Melihat ketiganya duduk dengan wajah tegang, Lili pun berjalan mengambil satu per satu mangkuk dan memberikannya kepada mereka bertiga. Lalu ia pun duduk kembali ke tempatnya. Melihat ketiganya hanya memandangi mangkuk yang dipegangnya, Lili pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Haiyoo...kalian tidak mau mencobanya? Ini enak sekali loh?" kata Lili sambil menyuapkan beberapa sendok ke dalam mulutnya. Melihat Lili makan dengan lahapnya, ketiganya pun mencoba satu suapan ke dalam mulutnya.
"Bagaimana? Enak kan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
dita18
thorr mf mau nanya,,apa di dunia nya sang raja udh ada mayonaise thorr?😁🙏🙏
2022-07-23
2
@khoir_yayol
semngt thor next
2021-01-11
1
Ririn
mereka gak bisa
2021-01-10
1