"Kau baik-baik saja?" tanya Lili kepada anak berjubah hitam itu
"Kau...uhukkkk!"
Anak itu memuntahkan segumpulan darah kotor. Kepalanya terasa sakit dan pandangan matanya kabur melihat dua orang yang berdiri tepat dihadapannya. Ia pun jatuh pingsan diatas tanah. Jubah hitamnya menutup kepalanya. Lili dan Blackie saling berpandangan.
"Dia...pingsan." kata Lili
Blackie pun mendekati anak itu dan membuka jubah yang menutupi kepalanya. Wajahnya sangat cantik dengan kulit kuning langsat. Kedua mata Blackie menatap tajam wajah itu.
"Dia wanita. Apa kau mengenalnya?" tanya Lili kepada Blackie
"Tidak. Sepertinya dia murid disini. Dia sekarang terluka parah. Jika tidak segera diobati, aku takut dia..."
"Kalau begitu tunggu apa lagi. Ayo cepat tolong dia!"
"Iya!"
Blackie pun mengambil kertas origami putih berbentuk burung dari dalam saku jubahnya. Ia pun melempar ke udara. Dan Ajaibnya, kertas origami itu berubah menjadi kertas origami putih berbentuk burung dengan ukuran raksasa. Blackie pun menggendong anak itu di kedua tangannya dan meletakkannya di atas punggung burung kertas itu. Lili pun heran melihat tingkah Blackie.
"Apa tidak apa-apa diletakkan di atas burung kertas ini?"
"Tidak apa-apa. Kau bisa membuktikannya sendiri. Burung kertas ini bisa membawa beban dua orang."
"Hanya dua orang?"
"Iya."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku bisa terbang."
"Huh...sombong."
"Hehehe. Sudahlah cepat naik keatas. Kita tidak punya banyak waktu."
Lili pun naik keatas punggung burung kertas itu dan burung itu terbang ke atas kamar Lili diikuti Blackie dari belakang. Burung kertas itu berhenti didepan jendela kamar Lili. Lili pun turun terlebih dahulu dan mencoba mengangkat gadis yang tertidur diatas punggung burung kertas itu.
"Biar aku saja." kata Darkie sambil menggendong gadis itu di kedua tangannya.
Darkie pun menggendong gadis itu dan meletakkannya diatas kasur Lili dengan lembut.
"Dia cantik sekali." puji Moonly.
"Blackie, apa yang terjadi dengan gadis ini?" tanya Darkie dengan kedua alis yang mengkerut.
"Dia terkena jarum perak beracun." jawab Blackie sambil berjalan ke arah gadis itu dan menarik jarum perak yang masih tertancap di bahu kanan gadis itu.
"Jarum perak beracun. Aku pikir tidak ada orang yang menggunakannya lagi."
"Ya. Tapi nyatanya kau melihatnya sendiri bukan." kata Blackie sambil menunjukkan jarum perak itu kepada Darkie.
"Apa yang harus kita lakukan? Jika kita tidak kembali ke kastil sekarang juga, raja pasti..." cemas Darkie
"Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menangani ini dengan cepat."
"Hah? Sejak kapan kau bisa menetralisir racun?"
Seolah tidak menghiraukan perkataan Darkie, Blackie mulai mengerahkan kekuatannya. Tangan kanan berada di bawah sedangkan tangan kiri berada diatas seolah membuat sebuah lingkaran. Ditengah-tengahnya muncullah sebuah bola yang bercahaya. Ia pun menangkap bola itu dan menggenggamnya dengan tangan kanannya. Hanya dalam lima menit, ia membuka telapak tangannya. Diatasnya terdapat sebuah pil berwarna putih dengan bulir-bulir es melingkupi pil itu. Pelan-pelan ia membuka mulut gadis itu dan memasukkan pil itu kedalam mulutnya.
"Blackie, sejak kapan kau mempunyai kemampuan seperti itu?" tanya Darkie dengan penasaran
"Sudah waktunya kita untuk kembali ke kastil sekarang juga." ajak Blackie
"Hei... kau belum menjawab pertanyaanku?!"
"Nona Lili, kami akan kembali sekarang juga. Untuk anak itu, aku sudah memberikan penawarnya. Sebentar lagi dia akan sadar."
"Benarkah? Kau bisa membuat penawarnya?! Tadi aku sempat mendengar salah satu anak berkata, bahwa hanya dia yang bisa membuat penawarnya. Tapi siapa sangka ternyata kau bisa membuatnya."
"Itu hanya kata-kata anak bau kencur. Oh ya, kau harus segera beristrihat. Besok pagi kau akan memulai kelasmu."
"Iya. Terima kasih dan maaf merepotkan."
"Tidak perlu sungkan. Kami permisi dulu nona." kata Blackie sambil membungkukkan sedikit punggungnya ke depan dan diikuti Darkie, Sunny dan Moonly.
Setelah berpamitan, keempat orang ini langsung menghilang seperti sebuah bayangan. Tiba-tiba Lili mendengar suara desah kesakitan. Ia menoleh kearah tempat tidur dan dilihatnya gadis itu berusaha untuk duduk. Ia pun berlari dan membantu gadis itu untuk duduk.
"Hati-hati, kau masih terluka."
"Aku tidak apa-apa. Dimana ini?" tanya gadis itu sambil menoleh menatap sekelilingnya.
"Ini dikamarku. Aku dan temanku melihat kau terluka dan pingsan. Jadi aku dan temanku membawa kau kemari untuk diobati. Kau terkena racun."
"Apa kau yang mengobatiku?"
"Bukan. Itu temanku."
"Dimana dia? Aku harus mengucapkan terima kasih kepadanya."
"Dia sudah pergi barusan."
"Temanmu sepertinya bukan orang biasa?"
"Entahlah. Mungkin saja."
"Terima kasih sudah menolongku. Tolong sampaikan ucapan terima kasihku kepada temanmu."
"Tentu saja, kau tidak perlu khawatir. Eh kau mau kemana?"
"Aku harus pergi. Tidak baik jika aku terus berada disini. Atau kau akan terkena masalah." kata gadis itu sambil beranjak dari tempat tidurnya.
"Masalah? Kenapa kau berkata begitu?"
"Kau pasti murid baru disini. Aku sarankan kau untuk tidak bergaul denganku. Jika tidak, kau akan dicelakai mereka."
"Apa yang kau maksud itu keempat anak yang mengeroyokmu barusan."
"Aku pergi. Terima kasih atas bantuannya. Aku berutang budi padamu." kata gadis itu sambil berjalan menuju jendela.
"Oie tunggu!"
Mendengar Lili berteriak, gadis itu menoleh kebelakang dan tersenyum.
"Namaku Krisan. Sampai jumpa di kelas besok." kata gadis itu sambil tersenyum. Ia pun mengeluarkan burung kertas dari dalam jubahnya dan melemparkannya ke udara. Burung kertas itu berubah menjadi burung kertas raksasa.
Dan gadis itu berdiri diatas punggungnya dan terbang menghilang. Trik semacam ini bukan kali pertama dilihat Lili. Lili melihat Blackie juga mengeluarkan burung kertas dengan warna yang sama dan mengubahnya menjadi burung kertas berukuran raksasa. Melihat seisi kamarnya sepi, Lili pun menutup jendela kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Hari sudah sore, ia memutuskan untuk mandi dan beristirahat.
"Ahh...sepi. Waktunya mandi lalu memasak dan istirahat." kata Lili sambil berjalan menuju kamar mandi.
Ia melepas bajunya dan mulai menyalakan kran untuk mengisi penuh bathtubnya. Mendengar suara air, Buto yang sembunyi diatas atap kamar mandi segera terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke arah bawah. Dilihatnya bagian punggung Lili yang putih mulus masuk berendam ke dalam bathtub yang dipenuhi busa sabun. Melihat pemandangan itu, wajah Buto langsung memerah dan berkeringat. Dalam pikirannya, ia membayangkan wajah seram penuh amarah Yang Mulia saat menatapnya. Dengan tubuh transparannya ini, ia merasa aman karena Lili tidak bisa melihatnya sekaligus takut jika Yang Mulia tau kalau dia tidak sengaja mengintip gadis milik Yang Mulia.
"Aku tidak melihat...aku tidak melihat." kata Buto sambil menutup kedua matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Lauraveralice
Ayoo yang suka Novel Genre Vampire silahkan tap profilku
2021-01-18
1
aflanufi
lanjut thor
2021-01-18
2
noragami
aku tidak melihat... aku tidak melihat...
sambil nutup mata pake telapak tangan tapi direnggangkan ...😂
2021-01-18
5