"Heh?" Maudy segera menarik genggaman tangannya dari genggaman Juan. "Wahaha, anda benar-benar diluar nalar. Bulu kuduk saya sampai berdiri, anda mau menjadikan saya pacar? Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda pokoknya sekarang kita pacaran, titik tidak pakai tapi." Juan menepikan mobilnya didepan sebuah apotek besar yang terletak dipusat kota."
Seolah menghindar agar Maudy tidak terus membantahnya, Juan segera keluar dari mobil dan melangkah cepat masuk ke dalam bangunan apotek tersebut.
Maudy pun segera menyusul keluar. "Tuan, dengarkan saya dulu, woy! Jangan memutuskan apapun seenak jidat, saya bukan kekasih anda, astaga. Anda dengar saya tidak sih!?"
Juan tak bergeming dan terus melangkah masuk. sesampainya di dalam dia mengangkat tangannya menyapa seseorang teman sekaligus pemilik apotek tersebut.
Meski kehilangan ingatannya tetapi Juan masih mengingat dan akrab dengan teman-teman semasa sma-nya. Kedatangannya kali ini bukan sekedar menyapa, melainkan ada maksud lain.
"Selamat datang, Tuan muda. Aku sangat kaget saat menerima email darimu, haha," ucap pria bernama Luwis sambil menjabat tangan Juan.
"Aku perlu bantuanmu." Juan menoleh kebelakang dan melihat Maudy melangkah kearahnya. "Kali ini aku datang bersama pacarku. Hari ini adalah hari pertama kami." ucap Juan, tepat saat Maudy berdiri disebelahnya.
Maudy hanya bisa terdiam seraya mengumpat dalam hati. Dia benar-benar tidak bisa dicegah, bisa-bisanya dia menjadikan hari ini sebagai hari jadian kami, batin Maudy.
Luwis beralih melihat Maudy dan segera mengulurkan tangannya. "Selamat datang, Nona muda. Anda cantik dan sederhana, Juan memang menyukai tipe wanita seperti anda sejak dulu."
"Ahaha, Nona muda?" Maudy berusaha menahan diri, agar tidak terpancing emosi. Andai Luwis tahu statusnya hanyalah sebagai seorang pelayan. Ya, Luwis pasti berpikir jika Maudy berasal daro kalangan yang sama dengan Juan.
"Ehm , Luwis jangan menjabat tangannya terlalu sama, aku cukup posesif," sahut Juan yang sedang dalam mode posesif.
Luwis segera menarik tangannya. "Ah maaf. Kalian benar-benar cocok haha. Oh ya, kamu mau minta tolong apa?"
Mendengar pertanyaan itu, Juan segera menoleh kearah Maudy. ", Sayang, kamu tunggu disana sebentar ya."
"Ahaha, ya baiklah." Maudy yang lelah hanya bisa menuruti semua kelakuan aneh Juan. Dia berbalik melangkah menuju sebuah sofa yang berada di sudut apotik.
Sementara itu Juan mengikuti langkah Louis masuk ke dalam ruang kerjanya. Entah apa yang akan Juan bicarakan, hingga harus bicara empat mata dengan teman lamanya itu.
Di dalam ruangan itu Juan segera duduk dan tanpa basa-basi merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa butir obat. "Aku ingin kamu mencari tahu kandungan obat-obat ini."
Luwis mengerutkan keningnya, heran. Diraihnya bungkusan kecil itu dari tangan Juan. "Dari kemasannya ini adalah obat pereda nyeri biasa. Tapi kenapa kamu ingin tahu kandungannya?"
Juan yang tadi terlihat santai, mulai memasang wajah serius. Dia menyondongkan tubuhnya menatap Luwis dengan lekat. "Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Luwis, ingat ini adalah rahasia diantara kita."
Luwis yang nampak bingung hanya bisa mengangguk paham. "Ba-baiklah. Aku akan mengecek kandungan obat ini secepatnya, dam tentunya aku tidak akan menceritakan ini kepada siapapun."
Mendengar itu, Juan menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis. Dia kembali menyadarkan tubuhnya dengan santai. "Huftt, terima kasih. Aku akan membayar mahal untuk semua yang sudah kamu lakukan."
Bersambung 💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Nurlaela
bagus Juan, obat itu bukan bikin kamu sembuh malah semakin hilang ingatan, sekarang pura-pura saja klo dihadapan Rian jahat itu dokter bermuka dua.
2023-02-27
0
Rizky prasetyor862@gmail.com
syukur lah akhirnya Juan menyadari juga akan obat yang diberikan oleh Rian
2023-02-10
0
Nani Evan
ternyata si Rian Jahat juga ya
2023-02-09
1