Sentuhan lembut nan hangat itu hanya bertahan beberapa detik, hingga akhirnya Juan mulai menjauh dari tubuh Maudy. Dari raut wajahnya terlihat bingung, seolah apa yang dia rasakan, semuanya di luar ekspektasi.
Melihat ekspresi wajah Juan, Maudy pun dilanda rasa penasaran. "Bagaimana, apa anda ingat sesuatu?"
"Hah?" Juan beralih menatap Maudy dengan raut wajah kebingungan. "Aku ... aku ... Maudy, sepertinya aku harus pergi sekarang. Kamu bisa turun sekarang."
Apa dia baru saja mengusirku, batin Maudy.
"Ba-baiklah, saya akan turun." Dengan raut wajah kesal, Maudy segera keluar dari dalam mobil dan menutup pintu dengan keras.
Sementara Juan segera tancap gas meninggalkan tempat empat itu seolah tak terjadi apa-apa.
Di sana Maudy masih berdiri, memandangi kepergian Juan dengan perasaan bingung. Bagaimana tidak, setelah menciumnya, Juan tak mengatakan apapun kecuali memintanya untuk segera turun.
"Hah, apa dia baru saja mempermainkan ku? Sudah aku duga, Amnesianya itu hanya alibi saja untuk menciumku lagi, bisa-bisanya tadi aku lengah hanya karena di tatap seperti itu!"
"Kakak ngapain disini?" tanya Raphael yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang.
Maudy segera berbalik, menatap sang adik seraya mencari alasan. "Ah ini, Kakak tadi habis beli obat."
"Beli obat, memangnya mobil mewah tadi itu penjual obat? Tadi aku lihat Kakak keluar dari dalam mobil itu, hayo ngapain?"
Deg.
Sial, ni bocah selalu muncul disaat tidak tepat, batin Maudy.
"Itu teman Kakak. Ehm." Maudy mengeluarkan uang pecahan seratus ribu dari saku jaketnya, tadinya dia memang berencana pergi berbelanja setelah bertemu Juan. "Nih, buat beli kuota."
"Aseek, siap deh. Tenang saja, aku tidak akan bilang Ibu." Raphael memasukkan uang itu ke saku celananya. "Kalau begitu aku pergi dulu ya Kak, lain kali ajak masuk tamunya siapa tau jodoh."
Pakk...
Satu pukulan mendarat tepat di bahu Raphael. "Jangan ngomong sembarangan, sana pergi, tapi jangan lama-lama, kamu harus belajar buat tes masuk universitas."
"Siap bos."
***
Setengah jam perjalanan, Juan Akhirnya sampai di rumah sakit. Seolah sudah seperti rumah sendiri, dia melangkah dengan santai masuk kedalam ruang praktek Rian. Padahal saat ini Jam konsultasi sedang berlangsung.
"Sus, kita istirahat dulu. Tamu satu ini, tidak bisa di ajak kompromi," ucap Rian saat melihat kedatangan Juan.
"Baik, Dok." Perawat itu melangkah keluar dari dalam ruangan.
Setelah kepergian perawat itu Juan segera mendekat dan langsung duduk di hadapan Rian. "Aku pasti sudah gila."
"Apa lagi yang kamu lakukan kali ini?" tanya Rian seraya membereskan meja kerjanya.
Juan menghela napas panjang jika mengingat apa yang telah terjadi tadi. "Tadi aku mencium wanita itu lagi."
"Apa!" Rian sampai mengebrak meja tanpa sadar. "Bagaimana mana bisa kamu melakukan itu, apa kamu memaksanya?"
"Tidak juga ... ya semua terjadi begitu saja," jawaban Juan lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Ahkk, apa dia akan berpikir, aku pria mesum."
"Semua sudah terjadi, apa yang harus kamu sesali." Rian menyondongkan tubuhnya kedepan dengan rasa penasaran yang teramat sangat. "Lalu bagaimana, apa kamu mengingat sesuatu?"
Juan kembali menatap Rian sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingat apapun. Yang terjadi malah tubuhku terasa sangat aneh. tubuhku terasa panas, jantungku berdegup kencang, dan hembusan napasnya menerpa kulitku, hingga darahku terasa berdesir. Apa ada diagnosa medis dengan gejala yang aku rasakan?"
Raut wajah Rian berubah datar, perlahan dia mundur dan menyadarkan tubuhnya. "Ya, hal itu adalah gejala yang sering terjadi."
"A-apa maksud kamu aku punya penyakit lain?"
Rian lagi-lagi menghela nafas panjang. "You know, itu gejala umum yang dirasakan seorang pria atau wanita yang sedang fall in love."
"Hah?" Juan terpaku seraya mengerjap bingung. "Ma-maksud kamu, aku jatuh cinta kepadanya?"
"Ya, of course. Aku yakin itu," jawab Rian dengan lugas.
"Bhahaha, kau becanda. Aku baru bertemu dia satu minggu yang lalu. Terus tadi kamu bilang apa, jatuh cinta? Itu tidak mungkin, dia menyebalkan dan banyak bicara, aku tidak mungkin menyukainya."
Rian kembali menatap Juan dengan serius. "Kamu tau apa tentang cinta? Proses itu terjadi dengan alamiah, melibatkan hati, mata dan sentuhan. Jika kamu menggunakannya logika, maka kamu tidak akan menemukan jawaban apapun."
Juan kembali tertegun. "Mustahil."
Bersambung 💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Nurlaela
itu jatuh cinta, dokter Juan belum sadar dia, eh amnesia
2023-02-27
0
Wulan Dary
keee....pooooo....kau Raphael....
2023-02-01
0
Septi Wijaya
buleh request Thor...
up nya dibanyakin dunk, seru tau ceritanya, sll nungguin lanjutannya 🤗 🤗
2023-02-01
0