"Tidak ingat apapun?" Rian menatap Juan dengan rasa penasaran yang tiba-tiba menghinggapi, dia bisa merasakan Juan agak berbeda malam ini. Ya, tatapan Juan seolah bisa menjelaskan, meski mulutnya bungkam.
"Ya, aku tidak ingat apapun." Juan segera berdiri dari posisi duduknya, melangkah menuju balkon kamar yang terbuka. "Rian, aku memutuskan tidak terlalu memaksakan diri untuk mengingat semuanya. Ternyata lelah juga."
Sudut bibir yang membentuk lengkungan senyum tipis. Dia memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas yang dia bawa, kemudian berdiri menghampiri Juan di balkon kamar."Ya,bagus kalau kamu berpikir begitu. Semakin kamu pikirkan maka kamu hanya akan semakin stress jadi biarkan saja mengalir sebagaimana mestinya, seraya terus mengkonsumsi obat aku yakin ingatanmu akan kembali pada waktunya."
Juan hanya mengangguk sambil menghela napas.
Entah apa yang dia pikirkan.
***
Lagi-lagi pagi ini, Maudy tidak membantu loly di toko bunga, karena mendengar Juan sakit. Sesampainya di halaman, dia segera memarkirkan motornya dan berlari masuk kedalam.
"Pak, Tuan Dokter benar sakit?" tanya Maudy panik.
"Benar, Nona." Kepala pelayan itu menunduk hormat. Sejak melihat Juan menggedong Maudy kemarin,dia menjadi segan seolah bisa memprediksi bahwa Maudy dan Juan mempunyai hiburan istimewa.
"Hah, Nona?" Maudy mengerjap bingung. Sejak kapan seorang pelayan biasa begitu dihormati oleh kepala pelayan yang posisinya lebih tinggi. "Ehm, kalau begitu saya permisi naik keatas dulu, Pak." Maudy menundukkan kepalanya lalu segera bergegas menaiki tangga.
"Aneh tu orang," gumamnya seraya terus melangkah.
Sesampainya di dalam kamar Maudy langsung bergegas melangkah menuju ranjang namun dia tidak mendapati Juan di sana. Dia kembali melangkah menuju toilet.
Tok..tok..tok
"Tuan, apa anda didalam sana!"
Maudy terlihat begitu khawatir hingga tanpa sadar terus menggedor-gedor pintu toilet dengan keras. Sejak pagi tadi ketika mendengar Juan sakit dia bahkan tidak sarapan pagi agar bisa menemui Juan lebih cepat.
Padahal baru kemarin dia berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan keluar batas lagi dan akan bekerja sebagaimana mestinya tanpa kekhawatiran yang berlebihan.
Namun pada kenyataannya pagi ini dia sudah berada di sana menggedor-gedor pintu toilet dengan kencang seolah yang sedang sakit adalah kekasihnya sendiri.
"Aku disini."
Maudy segera berbalik ketika mendengar suara tujuan di belakangnya. lihat Juan baru saja masuk kedalam kamar. "Anda dari mana?"
"Aku dari ruang Gym, sepertinya aku kurang olahraga, jadi gampang tumbang." Juan kembali memperhatikan Maudy yang terengah-engah seperti orang yang baru saja mengikuti lomba lari. "Kamu tumben pagi-pagi sudah disini, khawatir ya?"
Bug.
Merasa kesal, Maudy bahkan tidak perduli lagi Juan sedang sakit, dia memukul-mukul bahu kokoh pria itu beberapa kali. "Huuft, anda masih bisa bercanda setelah membuat saya khawatir? Saya takut efek aktivitas kita kemarin pagi membuat anda sekarat atau semacamnya."
"Ck, apa kamu berpikir aku akan end hanya karena kita kemarin berci*uman? Ayolah,aku bahkan menginginkannya lagi."
"A-apa?" Wajah Maudy bersemu merah, dia segera menundukkan wajahnya agar tidak dilihat oleh Juan. "Ehm, saya sudah bilang. Kemarin itu adalah yang terakhir kali, jangan berharap saya akan kem--"
Belum sempat Maudy melanjutkan ucapannya, Juan sudah menarik dan mendorong dia hingga terbaring di atas ranjang. Saat ini, Juan tepat berada diatas tubuh Maudy.
Mereka saling menatap dalam keheningan, sungguh mungkin saat ini jantung Maudy akan segera melompat dari rongga dada, saking gugupnya. "Tu-tuan, apa yang mau anda lakukan?"
Juan tersenyum tipis seraya menyibak rambut yang menutupi mata indah Maudy. "Entahlah,aku hanya ingin melihatmu seperti ini."
Bersambung 💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Nurlaela
kalau bisa obat yang diberi dokter Rian ngank usah diminum...karena obat sesungguhnya hanya Maudy😅
2023-02-27
0
juan 🍫
up thor
2023-02-07
0
Wulan Dary
gengsi di gedein....
2023-02-07
0