Maudy bediri di tengah deretan bunga-bunga yang tertata dengan rapi di rak, meski dikelilingi keindahan, raut wajahnya nampak suram, pikirannya kini di penuhi dengan kejadian kemarin, tepatnya ciuman dan permintaan g*la Juan.
Segera dia menggelengkan kepala agar kejadian itu tidak terus terputar dalam pikirannya. "Aku tidak akan kembali kesana, tidak. Kenapa bisa ciuman pertamaku ... ah sial sekali."
"Maudy, kamu masih disini." Loly yang baru saja pulang mengantar buket bunga, terlihat heran melihat Maudy melamun sendirian. Ya, dia belum tahu tentang kejadian yang dialami sahabatnya itu kemarin.
"Ehm, itu aku ... aku sepertinya tidak cocok bekerja disana. Aku mau berhenti saja, haha. Lagi pula, minggu depan aku ada wawancara kerja di salah satu perusahaan."
Maudy memilih untuk berdalih, ketimbang menceritakan hal buruk yang ingin dia pendam sendiri. Namun dia lupa, Loly adalah teman, SD, SMP, dan masa SMAnya.
Mereka sudah melewati banyak hal bersama, dan dalam kurun waktu yang tidak singkat itu Loly sudah pasti bisa mengetahui apakah sahabatnya itu berkata jujur atau bohong.
Mata Loly memicing, dia terus memperhatikan gerak gerik dan keringat yang mulai membasahi dahi Maudy. "Ck, kamu bohong. Wawancara? Kamu baru dipecat beberapa hari lalu dan mulai bekerja ditempat baru kemarin, berhentilah, kamu tidak akan bisa membohongiku."
Hah sial, kenapa aku tidak pernah bisa lolos dari tatapan mata sipit Loly, batin Maudy.
"Ehm, sudahlah." Maudy mencengkram erat kedua sisi pundak sahabatnya. "Lol, aku sudah memikirkan hal ini, sepertinya aku ingin membantu kamu saja memajukan toko bunga ini, dengan visi misiku, aku yakin kejayaan toko ini, bisa kembali seperti dulu!"
Dari tatapan mata Loly, dia masih nampak tak percaya dengan apa yang dituturkan Maudy. Namun alih-alih kembali bertanya, dia hanya menganggukkan kepalanya, tak ingin memperpanjang perdebatan. "Huuft, ya baiklah. Tapi apapun itu, semoga ada jalan keluar ya."
Setelah menepuk pundak Maudy, Loly berbalik dan melangkah menuju halaman depan toko.
"Hey, kamu masih tidak percaya!" seru Maudy namun tak di tanggapi sang sahabat. "Huuft, aku hanya tidak mau kamu tahu hal yang telah terjadi kepadaku kemarin, itu terlalu memalukan untuk diceritakan."
Tak ingin terus bergelut dengan pikirannya sendiri, Maudy kembali melanjutkan pekerjaannya, namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat menuju kearahnya.
Maudy menyunggingkan senyum dia pikir itu pasti Loly. Dengan santai dia terus melanjutkan aktivitasnya merapikan rak bunga. "Loly, kenapa kamu balik lagi, aku pikir kamu sedang kesal kepadaku."
"Ya, aku memang kesal padamu."
Mata Maudy seketika membulat, kain lap yang ada ditangannya terjatuh begitu saja. Dengan tubuh yang mulai bergetar, dia mulai berbalik kebelakang, detik selanjutnya mulut Maudy terperangah. "An-anda kenapa bisa kesini?"
Ya, siapa lagi kalau bukan Juan Imanuel. Seolah tak patah arang untuk memastikan apa benar ciuman waktu itulah yang membuat ingatannya kembali meski tak sepenuhnya, dia datang dengan strategi baru yang tentu saja diyakini akan berhasil kali ini. "Hy, Maudy."
Maudy mulai terlihat panik, dia menoleh kanan kiri, depan belakang lalu menghela napas lega, karena sepertinya Loly sudah pergi mengantar pesanan bunga lagi.
Akhirnya dia kembali beralih menatap Juan dengan tajam. "Untuk apa anda menemui saya sampai kesini? Jika tujuan anda hanya untuk bicara hal tidak penting seperti kemarin, maaf saya tetap kekeh untuk berkata tidak."
Ketegasan Maudy langsung ditanggapi senyum tipis oleh Juan. "Tentu saja, kamu boleh berhenti dari pekerjaan kamu, andai saja kamu tidak menandatangani perjanjian ini."
Kedua bola mata Maudy kembali membulat, melihat surat perjanjian ditangan Juan. Sepertinya dia lupa jika kemarin, dihadapan kepala pelayan, dia telah menandatangani kontrak kerja selama enam bulan. "I-itu ... tapi saya--"
"Tapi apa?" Potong Juan, di raihnya pergelangan tangan Maudy. "Sekarang sudah sudah masuk jam kerja 'kan? Ikut aku, pelayan Maudy."
Juan menarik Maudy agar mengikuti langkahnya menuju halaman depan. Namun baru beberapa langkah gadis itu menarik tangannya secara paksa, sontak Juan kembali berbalik. "Kenapa lagi?"
"Apa yang akan anda lakukan kepada saya? Jangan macam-macam ya, meski saya ini perempuan, tapi pinggang saya sudah pernah mencicipi sabuk bela diri, tubuh kokoh anda pun bisa saya buat patah."
Dia benar-benar tidak mudah, sepertinya ucapan Rian tadi benar juga. Aku harus membujuknya secara halus, meyakinkan dia jika aku sungguh hanya ingin ingatanku kembali, bukan karena mesum, batin Juan.
"Maaf untuk permintaan gilaku waktu itu, aku tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang aku hanya ingin kamu bertanggung jawab atas kontrak kerja yang sudah kamu tandatangani. Kamu tahu, betapa bosannya aku selalu bergonta-ganti pelayan?"
Apa itu, apa dia benar-benar menyesal karena meminta hal yang tidak pantas kepadaku, ayolah Maudy semua pria itu buaya hanya kurang sisiknya saja. Tapi sialnya aku tidak bida menghindari kontrak kerja itu, batin Maudy.
"Ehm, saya akan bertanggung jawab untuk kontrak kerja yang sudah saya tanda tangani." Maudy menegapkan kepalanya, menatap Juan tanpa rasa takut, seperti kebanyakan pelayan. Ya, itulah yang membuat dia berbeda. "Apa saya bisa memegang janji anda?"
Perlahan saja Juan, buat dia mengerti kenapa kamu menginginkan ciuman itu lagi, batin Juan.
"Ya, aku janji. Ayo, kita harus pergi kesuatu tempat," ucap Juan, kembali meraih pergelangan tangan Maudy dan menariknya keluar hingga masuk kedalam mobil, toko bunga ditinggalkan begitu saja.
***
Sepanjang perjalanan, Maudy tak henti-hentinya melirik sang majikan. Karena kejadian kemarin, dia menjadi sedikit trauma, meski sampai saat ini Juan tidak memperlihatkan gelagat yang mencurigakan.
"Tuan, sebenarnya kita mau kemana?"
Juan melirik sebentar kemudian kembali fokus kejalanan. "Panggil aku Dokter Juan, mulai sekarang. Meski ingatanku tentang dunia medis telah hilang tapi setidaknya aku ingin dipanggil seperti itu."
Oh ternyata dia seolah dokter. Kasihan juga, bagaimana bisa seorang dokter mengalami amnesia, batin Maudy.
"Baik, Dok. Tapi andae belum menjawab pertanyaan saya, kita mau kemana?" tanya Maudy lagi.
"Kita akan segera sampai." Juan menekan pedal gas lebih dalam. Hari ini untuk pertama kalinya dia kembali memberanikan diri menyetir sendiri setelah sekian lama.
Hal itu adalah sebuah kemajuan besar, dan dia percaya keberanian dia menyetir hari ini karena Maudy, lebih tepatnya karena ciuman tanpa sengaja itu, bukan hanya ingatannya yang mulai memperlihatkan titik terang, namun traumanya juga perlahan hilang.
Setelah beberapa saat, Juan menepikan mobilnya di depan sebuah kelokan tajam yang nampak sepi siang ini. Dia menyadarkan tubuh di kursi mobil dan Pandangannya memandang lurus kearah depan.
"Dok, sebenarnya ini tempat apa?" Pikiran Maudy kembali dipenuhi hal negatif, saat melihat jalanan sepi dan pohon-pohon tinggi yang menjulang di pinggir jalanan itu.
Raut wajah Juan kian terlihat sendu, seiring dengan helaan nafas yang terdengar lirih. "Aku selalu datang ketempat ini, hampir setiap hari. Aku mencoba mengingat kembali setiap detik yang hilang dari ingatanku ketika kecelakaan itu."
Juan meyakini, jika kecelakaan waktu itu bukanlah kecelakaan tunggal. Dia juga yakin, jika dia mengingat semua yang terjadi dihari kecelakaan, maka ingatan lainnya pun akan kembali juga.
Maudy mulai mengerti arti ucapan Juan. "Jadi ditempat ini, anda me--"
"Ya, ditempat ini aku hampir meregang nyawa." Juan menoleh menatap Maudy yang nampak begitu penasaran dengan ceritanya. "Aku hanya ingin ingatanku kembali, apa menurutmu aku bisa? Ck, setidaknya aku tidak boleh putus harapan." Juan kembali beralih memandang kearah jalanan.
Sementara Maudy diam terpaku ditempat duduknya, terus menatap Juan penuh rasa penasaran.
Apa ini, wajahnya dipenuhi kesedihan, trauma dan keterpurukan. Dia seorang yang berada, bisa mendapatkan penawaran terbaik dimana pun yang dia inginkan. Tapi tatapannya tadi, seolah meminta pertolongan padaku, apa benar ciuman waktu itu ... *ah tidak mungkin, tidak ada hal seperti itu di dunia ini, batin Maudy.
Bersambung 💕*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Nurlaela
tolong Maudy bantu dokter Juan untuk memulihkan ingatan...lihat segi fositifnya.
2023-02-27
0
shebina putri
lanjuuuttttt
2023-01-30
0
Wulan Dary
pasang saja sisiknya.....kan bagus
2023-01-28
1