Maaf pak kalau membuat bapak nggak enak hati, tapi sekarang jadwal saya dan Ken ikut meeting administrasi pengiriman secara nasional pak, kami harus cepat-cepat gabung zoom. Ini juga demi kebaikan cabang ini pak, kami datang meeting skala nasional tepat waktu.” Aira masih memegang tangan Ken. Yoga melirik tangan Aira, lalu tertawa miring, dia tidak percaya apa yang dia lihat.
“Jadi gimana pak? Boleh datang meeting atau tidak?” Tanya Aira.
Yoga membuat gestur tangan mengusir Ken dan Aira dari hadapannya.
Aira menarik tangan Ken, mengajaknya keluar dari ruang staf ke ruang istirahat kurir di lantai dasar. Aira mengaktifkan laptop untuk zoom.
“Terima kasih ya Ra udah bantu aku tadi.” Ken duduk di kursi, bersebelahan dengan Aira.
“Aku nggak bantu kamu ya, jangan geer dulu kamu.” Goda Aira.
Ken tersenyum, padahal dia tahu maksud Aira tadi.
“Tapi kamu jadi kena semprot pak Yoga gara-gara aku, padahal dia selalu baik sama kamu.”
“Mulai kemarin sore dia nggak akan baik lagi sama aku.” Aira selesai menyambungkan koneksi ke meeting skala nasional.
“Eh? Memang kenapa?”
“Dia bilang kalau suka sama aku, tapi aku bilang kalau aku suka orang lain.” Aira dengan santainya mengatakan hal yang membuat Ken syok.
“APA? Pak Yoga menyatakan perasaannya sama kamu? Terus kamu tolang semena-mena?” Terlalu syok Ken tidak bisa mengontrol suaranya.
“Ssst.. kita udah gabung zoom, ngomongnya pelan-pelan.” Aira berbisik sambil fokus ke layar laptop yang menampilkan manajer nasional administrasi pengiriman.
“Wah.. kalau Beno sama Ares tau mereka pasti lebih heboh daripada reaksiku Ra.” Ken ikut berbisik.
“Kamu nggak mau tau siapa nama yang aku sebut ke pak Yoga?”
“Nama apa? Nama orang yang kamu suka maksudnya?”
“Hmm..”
“Emm.. siapa memang?”
“KEN!”
Ken tepuk jidat, sekarang dia tahu kenapa Yoga iri padanya. “Aku kira kamu tadi menyelamatkan aku, ternyata kamu tadi membalas hutang karena membawa-bawa namaku buat alasan menolak pak Yoga ya? Dasar Aira!” Ken menepuk pelan kepala Aira.
“Sst.. dengar tuh meetingnya udah mulai.” Aira meminta Ken diam.
Aira tak sengaja menyenggol lengan Ken, dia melirik aneh saat melihat otot lengan Ken terlihat lebih besar.
"Lihat apa Ra? Lihat depan, layar laptopnya di depan kamu bukan di samping kamu." Bisik Ken.
Wajah Aira memerah karena malu. Diam-diam Ken suka setiap Aira salah tingkah padanya.
Selesai meeting Ken keluar dari ruang istirahat kurir, dia langsung menemui Beno dan Ares yang sedang merokok.
"Gimana Ken? Masih utuh kan badan kamu?" Sindir Ares.
"Nggak ditebas pakai parang sama pak Yoga kan?" Beno mengimbangi.
"Nggak, masih utuh."
"Nih lho Res yang aku bilang! Lihat tuh! Ken belakangan ini tumbuh dengan baik. Tuh celananya kependekan. Lengan bajunya sempit, bekas jerawatnya memudar, ckck.. heran aku tuh."
Ken menggaruk kepalanya.
"Pakai pupuk apa kamu Ken?" Tanya Ares.
"Urea." Jawab Ken asal.
Beno dan Area tertawa.
"Udah ah aku berangkat dulu, nanti aku dibilang kurir malas lagi kalau berangkat dari kantor siang-siangan." Ken pergi meninggalkan teman-temannya untuk mengirim paket.
Ken mengirim paket lebih cepat dari biasanya, dia berniat ke sekolah Fius sebelum sekolah usai.
Ken memutuskan untuk langsung menemui guru pembina.
Seorang guru wanita berkacamata menyambut Ken di ruang guru.
"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya.
Ken celingukan menengok ke kanan dan kiri, dia baru sadar yang dipanggil 'bapak' adalah dirinya karena tidak ada orang lagi selain dia.
"Oh.. maaf bu, iya saya mau mencari guru pembina. Ada yang perlu saya sampaikan terkait dengan seorang siswa yang bersekolah di sini yang bernama Fius." Ken mendekat.
"Silahkan duduk bapak." Guru itu meminta Ken duduk di kursi ruang tamu.
"Perkenalkan saya Sari, saya guru pembina disini. Maaf sebelumnya dengan bapak siapa?" Sari duduk anggun di kursi, wajahnya teduh ciri khas guru pembina.
"Saya Ken Shankara bu."
"Maaf yang anda maksud tadi Fius Faisal anak kelas 8B?"
Ken berpikir sejenak, dia mengingat-ingat apakah Fius pernah memberitahunya soal informasi nama panjang dan kelasnya, emm.. ternyata tidak.
"Emm.. yang anaknya tinggi dan badannya berisi bu, rambutnya lurus." Ken memberitahu ciri fisik Fius.
"Maaf sebelumnya anda ada hubungan apa ya dengan Fius? Kenapa anda terlihat tidak tahu nama dan kelas Fius." Sari merasa curiga dengan Ken.
"Emm.. begini bu, saya adalah saudara jauh dari Fius. Saya mau melaporkan kalau dia adalah korban bully di kelasnya. Ponselnya dirusak temannya, tapi dia tidak berani melaporkan bu." Ken mengatakan apa yang dia tahu.
Sari sejenak sibuk dengan ponselnya. "Tapi kenapa anda yang melaporkan? Bukan orang tuanya?" Selidik Sari.
"Emm.. karena orang tuanya juga tidak begitu peduli dengan keadaan Fius."
Tok.. tok..
"Masuk." Kata Sari.
Fius masuk ke ruang guru, dia kaget melihat Ken ada di tempat ini.
"Abang Ken? Kok abang disini? Ada apa?" Fius tampak panik.
"Fius kamu benar mengenal orang ini?" Tanya Sari.
"Kenal bu Sari."
"Dia saudara jauhmu?" Selidik Sari lebih detail.
"Iya bu."
"Duduk sini Fius." Sari meminta Fius duduk di sebelah Ken.
"Apa benar kamu di bully teman-teman kamu?" Tanya Sari.
"Emm.. tidak bu." Fius menunduk tidak berani menatap Sari ataupun Ken.
"Fius kamu harus jujur sama guru kamu. Jangan takut." Ken memegang pundak Fius.
"Fius lihat ibu."
Fius lalu mendongak, "Ma.. maaf bu, ada salah paham antara saya dan bang Ken." Fius berdiri menarik tangan Ken.
"Eh.. kenapa Us?" Ken bingung.
"Permisi bu, maaf mengganggu." Fius menarik tangan Ken, memaksa Ken untuk keluar dari ruang guru.
"Maaf bu, permisi." Ken pamit pada Sari.
"Ada yang aneh memang, Fius seperti ketakutan dan tidak berani jujur. Mungkin dia memang ada masalah di sekolah, aku harus mencari tahunya." Sari sebagai guru pembina sudah dapat merasakan ada hal janggal pada Fius.
......................
Fius terus menarik tangan Ken hingga mereka berada di luar kawasan sekolah.
"Us lepas, kita mau kemana? Kamu harus berani cerita sama guru kamu! Hal ini harus diusut!" Ken pasrah Fius menariknya, dia tanpa melawan sama sekali.
Fius berhenti di trotoar.
"Memang kalau udah lapor aku bakal selamat bang? Enggak! Mereka tetap bakal membully aku! Mereka pasti bakal semakin membully aku bang!" Fius menangis, dia tidak bisa menahan kesedihan, kemarahan dan ketakutannya lagi.
"—abang nggak tau apa yang aku rasain! Aku seperti hidup di neraka! Di sekolah mereka membully ku! Di rumah aku selalu dimarahi! Aku memang nggak layak hidup!" Fius berlari ke tengah jalan.
"Fius!"
Hologram muncul.
...[Super hero mode on!]...
Ken berlari mendekati Fius, dari arah depan sebuah mobil mewah melaju kencang dan..
BAM!!
***Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan penilaiannya kak, terima kasih🙏***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Hades Riyadi
MC-nya Naif muluuu...
2023-03-11
1
Jimmy Avolution
Ada apa ini...😀
2023-03-03
0
hakim
kurang suka mc kayak gini, sepatutnya berhenti kerja buka perusahaan ,kan bagus
2023-02-22
0