Ken sampai di restoran cepat saji tempat janjian.
Aira dan Beno menunggu di tempat parkir.
"Kelamaan bro, keburu lapar." Beno langsung menyambut Ken dengan rengekan kelaparan, dasar anak kost!
"Maaf.. maaf, yuk masuk." Ajak Ken.
"Pasti lama karena mandinya pakai antri ya?" Sindir Aira.
"Hehe.. nggak juga tadi pas mau berangkat aku ditahan sama cewek imut penghuni kost juga." Ucap Ken.
"Cewek imut? Penghuni kost? Siapa?" Aira melotot, dia kaget seorang Ken membicarakan wanita dengan kata-kata seperti itu, seperti bukan Ken saja.
"Hehe.. namanya Kenya, anak umur empat tahun. Pagi-pagi udah buat gaduh kost karena nggak mau mandi." Ken duduk di hadapan Aira.
"Oh.. balita." Aira langsung memperlihatkan wajah lega.
"Kenapa emang Ra? Udah syok ya tiba-tiba di kost baru Ken kenal sama cewek imut? Takut kesaing kan?" Beno sebenarnya tahu bahwa Aira menyukai Ken, makanya dia sering mengejek Aira.
"Ih.. apaan sih?" Wajah Aira memerah.
"Yuk pesan." Ajak Ken, secara bergantian Beno dan Aira memesan di meja pemesanan.
"Duduk aja Ra nanti aku yang bawa makanannya." Ken meminta Aira duduk namun ditolak.
"Ken aku mau tanya—" Aira terlihat ragu.
Ares baru saja datang langsung memesan beberapa makanan.
"Kalian duduk aja, aku yang tunggu makanannya." Ares menawarkan bantuan.
"Oke deh, yuk Ra duduk aja." Ken mengajak Aira duduk.
Mereka berjalan menuju. "Tadi kamu tanya apa Ra?"
"Eh.. nggak jadi Ken, lupa, hehe." Aira berpura lupa. Mereka duduk bergabung dengan Beno.
"Eh.. Ken, kok kamu belakangan menghambur-hamburkan uang buat traktir kita sih?" Beno mulai curiga dengan kebiasaan baru Ken.
"Oh.. emm.. ya karena mau bikin kalian bahagia aja sih. Sebagai tanda terima kasih udah mau terima orang kayak aku sebagai teman kalian." Terdengar berlebihan tapi kata-kata ini tulus keluar dari lubuk hati Ken.
"Weeks.." Beno berpura muntah, kata-kata Ken terdengar menjijikan baginya (hahaha.. kalau temen author gitu juga berasa aneh sih dengernya)
Aira tersenyum. "Eh.. mengaku aja deh, kamu habis dapat warisan kan? Kamu bukan di usir dari rumah tapi memang rumah itu udah dijual dan dibagi-bagi uangnya?"
Ken kesal mendengarnya. "Hih.. enggak! Aku benar-benar diusir tanpa ampun ya sama abangku. Lihat sana ke rumah dia pasti baru haha hihi sama istri dan anak-anaknya."
"Kalem Ken kalem, iya.. iya aku percaya soal kamu diusir. Terus apa dong alasannya?" Beno benar-benar penasaran.
"—tolong ya Ken jawab pakai jawaban yang logis jangan sok puitis kayak tadi." Beno mendesak Ken menjawabnya.
Ares datang membawa makanan. "Halah Ben kayak kamu nggak tau Ken aja. Paling juga karena mau pendekatan sama Aira."
Pipi Aira kembali memerah, dia memukul lengan Ares yang duduk di sebelahnya.
"Aww.. sakit Ra! Tapi kamu pasti suka kan kalau memang itu alasannya?" Sindir Ares pada Aira.
"Apaan sih?" Aira semakin salah tingkah.
Hologram tiba-tiba muncul. Ken kaget.
...[Pendeteksi perasaan aktif! Aira menyukaimu Ken!] ...
Wajah Ken langsung memerah. 'Eh.. apa nih?' Batin Ken.
"Eh.. Ken tumben pakai kacamata?" Tanya Ares.
"Emm.. eh, biar di jalan nggak kena debu aja sih." Ken menyeruput soda dinginnya.
"Ken jawab deh! Aku penasaran banget! Kenapa kamu jadi sering traktir kita?" Beno masih mengejar jawaban dari Ken.
Ken melihat wajah teman-temannya yang tertuju padanya.
"Kenapa pada lihatin aku gitu sih? Makan gih, kita nggak ada banyak waktu, harus kerja woy." Ken mengalihkan pembicaraan.
SET!
Tangan Aira menahan tangan Ken saat akan memasukan kentang goreng ke mulutnya.
"Eh.. apa sih Ra?" Ken kaget.
"Jawab jujur Ken, ini duit halal atau haram??" Tatapan mata Aira menjadi sangat serius.
Aren dan Beno berhenti makan, mereka memandang Ken penuh tanda tanya.
"Huft.. halal teman-teman, tapi gimana ya jelasinnya, aku juga bingung. Aku janji deh kalau udah saatnya aku bakal jelasin ke kalian. Jadi kalian nggak usah suudzon sama aku deh!" Ken merasa seperti seorang penjahat yang di introgasi tiga polisi.
Aira melepaskan tangannya dari tangan Ken.
"Awas aja ya Ken kalau kamu melakukan hal-hal yang aneh!" Aira mengancam Ken.
"Aku sih nggak masalah kalau kamu mau berbuat maksiat Ken, tapi tolong jangan bawa-bawa kita. Makan uang haram juga ikut dosa lho." Beno masih saja tidak percaya.
"Tau ah Ben, kalau nggak percaya yaudah nggak udah dimakan." Ken merebut makanan Beno, namun direbut kembali.
"Eh.. eh.. siapa bilang nggak percaya, soal perut nomor satu sih kalau aku, haha.."
Mereka berempat selalu saja seperti ini, tidak akan ada yang merasa sakit hati jika teman lainnya bercanda, paling hanya menahan kesal sebentar.
......................
Siang hari Fius dengan ragu-ragu masuk ke kantor. Dia celingukan mencari orang, Beno yang sedang mengambil paket.
"Ada apa ya dek?" Tanya Beno.
Fius tampak kelelahan, wajahnya berkeringat.
"Eh.. sini masuk dek." Beno mengajak Fius masuk ke kantor.
"Ra! Minta tolong ambil air putih satu dong."
Aira segera membawa satu gas air mineral lalu memberikannya pada Fius.
Fius segera menghabiskan air mineral itu.
Aira berbisik pada Beno, menanyakan tentang Fius, tapi Beno juga tidak tahu.
"Mas kak, bang, apa disini ada karyawan yang bernama Ken?" Tanya Fius.
Beno dan Aira saling memandang satu sama lain dengan tatapan yang penuh tanda tanya dan kecurigaan.
"Ada dek, adek siapa ya?" Tanya Aira.
"Benar kak?" Wajah Fius berubah menjadi berseri-seri.
"Saya Fius kak."
Aira semakin menaruh curiga pada Ken. "Ben telepon Ken deh, ponselku di ruangan."
"Oke." Beno menghubungi Ken, tapi tidak diangkat.
"Kak boleh minta nomor telepon bang Ken?" Tanya Fius.
Aira memberi isyarat pada Beno untuk memberikan nomor ponsel Ken pada Fius.
"Terima kasih ya bang, kak. Saya pergi dulu." Fius langsung berlari, pergi begitu saja meninggalkan Beno dan Aira yang mulai berfantasi liar.
"Eh.. Ben, apa cuman aku aja nih yang berpikir aneh-aneh soal Ken dan anak itu?" Aira menyenggol bahu Beno.
"Nggak Ra, aku juga. Jangan-jangan itu anaknya Ken yang dia jual ke orang. Makanya dia punya uang banyak buat traktir kita?" Fantasi Beno membuat Aira merinding ngeri.
"Hush! Jangan ngawur kamu Ben!" Aira memukul bahu Beno.
"Memang kamu mikir apa soal Ken dan anak itu?"
"Emm.. nggak tau sih Ben, tapi ada yang aneh aja sama anak tadi. Siapa namanya Ben?"
"Eh.. lupa Ra. Tejo? Baim?" Beno hanya mengucap nama yang terlintas di otaknya.
"Bukan! Tau ah! Aku mau masuk ruangan, banyak kerjaan! Kamu buruan kirim barang sana." Aira meninggalkan Beno yang masih berusaha mengingat nama Fius.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Emil Djibran
kenapa gak bilang aja kalau duitnya dari warisan pak lembang
2023-12-06
0
Hades Riyadi
kacamata super dah dipakenya, napa ga memberikan bantuan solusi atas pertanyaan teman²nya... yaaakk..🤔🙄😩😛👍🙏
2023-03-11
0
Jimmy Avolution
Ayo....ayo....
2023-03-03
0