"Yo ma Bro, ma big bos, akhirnya datang juga." Sambut Beno saat Ken dan Aira tiba di warung bakso tempat ketemuan.
Suasana warung bakso disini selalu ramai pengunjung karena menjadi salah satu ikon bakso kota ini. Selain rasanya yang enak tempat makannya pun bersih dan nyaman.
"Iya nih, lama, keburu lapar, bisa pingsan aku." Kata Ares yang terlihat lesu, kepalanya ditempelkan di meja.
"Maaf, tadi sempat gerimis kan, nona Aira yang nggak tahan air ini minta menepi dulu, takut melempem." Sindir Ken.
"Ya maaf aku kan belum bersertifikat IP67." Aira membuka jaketnya.
Beno dan Ares tertawa.
"Kalah dong sama ponsel bututnya Ares yang udah punya sertifikat tahan air, tahan debu, tahan banting, tahan semprot atasan, tahan nol kuota, terakhir tahan malu karena minta teartring mulu, hahaha." Beno memang suka sekali jahil, dia adalah tipe orang yang dibutuhkan kehadirannya untuk membangkitkan suasana. Meski kadnag bercandanya terdengar menjengkelkan taoi bagi Ken, Ares dan Aira hal itu sudah biasa.
"Biarin daripada kamu ponsel isi kuota penuh, main game terus tapi perut kosong kalau tanggal dua puluh keatas. Ujung-ujungnya pinjam duit aku, ya wajar jadinya kalau ponsel aku nol kuota, duit buat beli kuota dihutang sama Beno." Ares adalah pengimbang Beno, mereka adalah dumb and dumber.
Aira tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan jenaka Beno dan Ares.
"Hush.. cewek kok ketawa nya nyablak gitu sih Ra? Jaim sedikit kek jadi cewek agak anggun gitu." Komentar pedas dari Ares.
"Lhah.. barusan Aira Res yang ketawa? Aku kira mbak kunti, hahaha." Beno tertawa.
PLAK!
"Sialan!" Aira menabok tangan Beno.
Inilah yang membuat Ken betah bertahan di tempat kerjanya, mereka bertiga adalah alasan utamanya.
"Udah, udah, ayo pesan makan. Udah malam nih, nggak enak sama ayahnya Aira. Kalian makan sepuasnya, kalau perlu bawa pulang juga. Nanti titip buat ibu sama adik kamu juga ya Res. Sama buat ayah sama bunda kamu Ra." Kata Ken.
"Baru banyak duit Ken?" Tanya Beno.
"Udah nggak usah komentar, dari pada aku berubah pikiran."
"Eh.. jangan dong, ditraktir makan apalagi sepuasnya buat anak kost kayak aku anugerah banget." Kata Beno.
"Dasar fakir miskin." Hina Ares seraya bercanda.
"Makanya kamu manusia kaya raya yang bergelimang harta santuni anak kost miskin kayak aku dong, nanti banyak pahala." Beno sedang sibuk memilih menu.
"Banyak hutang yang ada kalau aku menyantuni kamu." Ares juga sedang memilih menu.
Ken merasa senang bisa memiliki teman yang selalu ada bersamanya dalam suka dan duka.
......................
Setelah mengantar pulang Aira, Ken kembali ke kostnya.
"Hah.. kenyang banget." Ken berbaring di tempat tidurnya sambil mengangkat kaos, membiarkan perut tanpa ototnya terbuka.
Ken mengambil kacamata super, dia ingin mengecek apakah misinya sudah terselesaikan dengan baik.
Hologram muncul.
...[ Selamat reward tambahan (10 juta) karena sudah berbuat baik tanpa pamrih telah berhasil masuk ke akun anda. Teruslah berbuat baik tanpa pamrih.]...
...[ Selamat misi 03 selesai. Reward berhasil di dapatkan! Teka-teki selanjutnya akan hadir kembali besok. Jangan lupa untuk selalu check-in setiap hari. Terima kasih Ken! ]...
Mata Ken terbelalak melihat kejutan yang sangat menguntungkan baginya. Dia tidak menyangka akan ada reward tambahan dengan nominal yang besar.
"Membantu tanpa pamrih? Apa ini karena aku membantu mengejar copet tadi ya? Wah.. keren, aku bisa pakai untuk ke bengkel motor. Terima kasih kacamata super. Aku berjanji akan banyak membantu orang tanpa pamrih." Ken bersemangat, dia merasa menemukan sebuah keajaiban besar yang dapat merubah hidupnya.
Hologram kembali muncul.
...[Reward tambahan hanya akan diberikan saat user benar-benar ikhlas dan tanpa pamrih menolong orang lain, tanpa mengharap imbalan termasuk reward dari sistem.]...
...Cling!...
Hologram menghilang kembali.
"Ih.. sistemnya galak juga ya. Siap sistem, aku bakal jadi orang baik yang suka menolong. Bantu aku ya." Ken melepaskan kacamata super meletakan ke tempat semula.
Gluduk.. Braaaazzzt..
Klap!
"Astagfirullah.. mati listrik, hujan deras, huh.. Ya sudahlah, tidur aja." Ken menyalakan senter untuk menerangi kamarnya.
Di Luar kamar orang-orang sedang heboh karena listrik mati, Ken tidak terusik, tak lama dia tertidur pulas.
......................
Hujan sejak malam hingga pagi tanpa henti membuat sebagian kota ini tergenang banjir.
Ken duduk di teras kost sambil menunggu antrian kamar mandi.
Ddrrt.. drrrt..
Sejak semalam grup chat kantor sangat ramai, semua orang memberitahu kabar terkini di daerah rumah mereka. Hanya Ken yang tidak memberi kabar.
Drrt.. drrrt..
Panggilan masuk dari Beno.
"Ya Ben, kenapa?"
"Masih hidup kan? Nggak hanyut karena banjir kan?" Sapaan yang membagongkan.
"Alhamdulillah sehat wal afiat. Kenapa?"
"Ares sama Deki nggak masuk tuh. Rumahnya kebanjiran. Kalau Ares sih cuman alasan, aslinya rumahnya nggak kena banjir tapi dipakai buat posko banjir. Karena malas jelasin ke bos dia bilang aja kalo rumahnya kebanjiran. Dia kirim foto rumah tetangganya, haha."
Ken tertawa. "Dasar Ares. Terus kamu telepon kenapa nih? Bos pasti suruh aku ambil alih kirimannya Ares ya?"
"Iya."
"Ya udah nggak apa. Aku masih antri mandi nih, nanti aku berangkat lebih awal deh."
"Oke, Aira bahkan disuruh berangkat jam setengah tujuh pagi Ken buat mengurus alih rute."
"Wah.. kasihan dong."
"Ya udah aku mau mandi, bye!"
Ken menghela nafas.
"Mas Ken, udah tuh kamar mandinya." Teriak seorang penghuni kost.
"Iya bu." Ken buru-buru masuk ke kamar mandi, lalu bersiap berangkat kerja.
......................
Ken memakai jas hujan, siap menerjang hujan untuk berangkat kerja.
"Astaga." Baru saja Ken keluar gang, banjir sudah menyambutnya di depan mata.
Butuh dua kali lipat atau empat puluh menit untuk sampai ke kantor.
"Huft.. banjir dimana Ra." Ken mengibas-ibaskan rambutnya yang sedikit basah.
Aira menatap Ken tanpa berkedip untuk beberapa detik.
"Kamu berangkat jam berapa dari rumah?" Tanya Ken.
"Oh? Apa?" Aira baru sadar dari keterseponaannya pada Ken.
"Berangkat jam berapa tadi?" Ken mengulang pertanyaannya.
"Oh.. jam enam Ken." Aira melihat Ken dari ujung kepala ke ujung kaki. "Ken, celana mu kependekan tuh, aneh lihatnya. Kayak pengikut suatu anutan." Aira selalu memperhatikan detail-detail kecil pada diri Ken.
"Oh.. ini, hem.. ya." Dalam hati Ken merasa senang, dalam sekejap tingginya bertambah riga centimeter.
"Tolong pengiriman yang punya Ares masukin ke akun aku juga ya Ra." Ken meminta Aira memasukan tugas pengiriman barang milik Ares ke akun aplikasinya.
"Oke."
Ken langsung sibuk dengan barang-barang yang sudah siap dikirim.
"Semangat ya Ken."
"Iya, aku jalan dulu ya Ra." Ken langsung berangkat untuk menunaikan pekerjaannya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Jimmy Avolution
Ayo....ayo...
2023-03-03
1
Zafrullah Effendy
masih bagus ceritanya....
2023-01-25
3
Abdul Muntholib Suwarto
lanjutkan
2023-01-24
1