Ken mencari pena dan kertas dia menulis soal teka-teki itu lalu menemukan sesuatu.
"Oh.. yes! Aku tahu. Huruf 'I'?" Jawab Ken.
...[Anda benar! Delapan juta rupiah sudah masuk ke akun anda. ]...
...[ Teka-teki hari ini telah selesai. Misi 04 : Menjadi donatur di sebuah panti asuhan.// Reward : Bertumbuh otot, berbadan kekar dan sehat tingkat 1.// Jika menerima misi angkat tangan kanan anda atau angkat tangan kiri anda untuk menarik dana ke rekening.]...
Ken mengangkat kedua tangannya.
...[Penarikan dana berhasil.]...
Hologram menghilang.
Satu..
Dua..
Tiga..
Empat..
Lima..
Enam..
Tujuh..
Delapan…
Sembilan..
Sepuluh..
Tidak ada notifikasi lain, notifikasi yang Ken harapkan tidak muncul.
"Eh? Kok nggak muncul sih? Jangan-jangan rusak?" Ken membuka kacamata super itu melihatnya bolak balik, lalu memakainya lagi.
Tapi memang tidak ada sesuatu terjadi.
"Kan aku udah menyumbang mushola? Masa nggak dapat reward tambahan? Hemm.. tau ah." Ken melepaskan kacamata menaruhnya di meja lalu mengantri mandi.
Kali ini Ken tidak betul-betul melakukan kebaikan dengan tulus dan ikhals, dia mengharap reward. Ken melupakan aturan mainnya, dia hanya akan mendapat reward tambahan jika melakukan kebaikan secara ikhlas.
......................
Ken turun dari motor lalu berlari menuju mesin absensi.
Ken menghembuskan nafas kasar, dia terlambat sepuluh menit.
"Gara-gara huruf I nih, hiss.." Ken berjalan lesu menuju ruang staf.
"Heh.. telat gara-gara antri kamar mandi ya?" Tanya Ares.
Ken mengangguk lesu, mukanya ditekuk, dia sudah membayangkan akan dimarahi Najwa.
"Makanya cari kost yang kamar mandi dalan kayak punyaku dong!" Beno ikut berkomentar.
"Mana ada waktu buat cari kost yang begitu? Aku diusir dari rumah dan cuman dikasih waktu singkat banget buat cari kost. Udah bagus aku dapat kost, kalau enggak teman kalian ini bakal jadi tunawisma yang menyedihkan." Ken melepaskan jaketnya.
"Ehem.. Ken Shankara, udah telat masih ngobrol?! Sadar diri dong! Aku bakal tambah poin pelanggaran!" Najwa dari depan ruang staf berteriak menegur Ken.
"Eh.. Ken sana minta maaf, nanti gaji kamu dipotong banyak lho sama tuh perawan galak." Kata Ares.
"Nggak ah! Malas." Ken segera membantu Beno menyortir paket.
"Emangnya Najwa masih perawan? Yakin? Haha.." Beno berbisik pada Ares.
"Hus.. ngawur kamu Ben." Ken menepuk tangan Beno.
"Ken!" Aira berlari dari ruang staf mendekat ke mereka bertiga.
"Suka banget sih dimarahi nenek lampir kamu Ken." Aira ikut berkomentar.
"Memang hobi dia itu Ra, jangan dikomentari lagi." Kata Beno.
"Eh.. Ken, kemarin ada anak berseragam SMP nyari kamu lho. Terus dia minta nomor ponsel kamu." Aira langsung menanyakan hal yang mengganggunya sejak kemarin.
"Iya Ken, aku kasih nomor ponsel kamu. Soalnya dia kelihatan putus asa gitu mukanya." Kata Beno.
"Eh.. siapa sih siapa?" Ares tidak tahu siapa yang sedang dibicarakan ketiga temannya.
"Oh.. iya namanya Fius." Jawab Ken.
"Iya FIUS!" Aira dan Beno berbarengan.
Fius? Siapa sih?" Ares semakin bingung.
"Eh.. Ken ngaku kamu! Apa hubungan kamu sama tuh anak? Jangan-jangan itu anak kamu yang kamu jual, makanya belakangan kamu kayak nggak peduli sama uang!" Beno benar-benar mengatakan apa yang terbesit di otaknya.
"Apa? Kamu punya anak Ken?! Gila! Siapa emaknya? Perempuan mana yang udah kamu hamili?" Ares memperkeruh suasana.
"Ken jawab deh!" Aira juga tidak sabar menanti jawaban Ken.
"Hah.. liar banget sih imajinasi kalian? Kebanyakan baca NOVELTOON sih! Dipikir dong! Umur aku 25 tahun, anak itu udah SMP. Memangnya aku bisa menghamili perempuan umur sepuluh tahun?!" Ken melotot, dia tidak terima nama baiknya sebagai anak baik-baik tercemar gosip dari Beno.
"Iya nih si Beno! Kebanyakan baca NOVELTOON yang 21+ dia!" Ares memukul kepala Beno hingga kesakitan.
"Ken Shankara, jadi tuh anak siapa?" Aira menanyai Ken kembali.
Ken menceritakan kejadian dirinya bertemu Fius.
"Tuh kan apa aku bilang, nggak mungkin Ken tuh berbuat aneh-aneh. Dia nggak kayak kalian!" Aira merasa lega dengan fakta yang baru saja Ken sampaikan.
"Dih.. padahal kemarin kan kamu yang bilang kalau merasa aneh sama anak itu dan Ken!" Protes Beno.
"Emm.. yaudah deh aku masuk ruangan lagi, banyak kerjaan." Aira masuk ke ruang staf.
"Eh.. bro, kalau kalian ada uang banyak. Kira-kira mau usaha apa?" Tanya Ken sambil menyortir barang.
"Kalau aku mau beli kamera yang bagus mau jadi youtuber unboxing mainan yang keren-keren." Jawab Beno yang notabene pecinta action figure.
"Oh.. kalau kamu Res?"
"Kalau aku mau buka warung makan Ken, kan mamak aku kalau masak enak nih."
"Masuk akal." Ken mencoba merenungkan apa yang harus diperbuat dengan uang hasil dari sistem.
......................
Setelah selesai menyortir Ken berangkat untuk mengirim barang.
Namun baru lima ratus meter berjalan, hologram muncul.
...[*URGENT ALERT!🚨**Maps menuju TKP*! ]...
"Lagi?" Ken mengikuti peta yang muncul, peta tersebut membawa Ken ke sebuah motel kecil.
"Kenapa aku di bawa kesini? Apa ada bahaya disini?" Ken menunggu di seberang jalan.
Tak lama dia melihat Abas keluar dari motel memeluk seorang wanita yang terlihat lebih tua darinya. Wanita itu menenteng tas dari merek terkenal, kalung dan gelang berlian.
Wanita itu mencium pipi Abas sambil memberikan sebuah amplop.
"Apa ini?"
...[BALAS DENDAM MODE ON!]...
...[Foto dan video tersimpan, file terkirim di kirim ke email user.]...
Ken merasa sengatan pada tubuhnya, lalu merasa jantungnya berdegup kencang. Tiba-tiba kebenciannya pada Abas memuncak.
Ken mengeluarkan ponselnya, sebuah email masuk, berisi foto dan video dengan resolusi tinggi.
"Akan aku balas kamu bang!" Sistem telah mengendalikan perasaan Ken. Memberikan kebencian seribu kali lipat di dada Ken.
Setelah wanita itu pergi dengan mobil mewahnya, Ken mendatangi Abas.
"Halo bang! Lama nggak ketemu ya?" Sindir Ken.
"Ka.. kamu! Kenapa kamu disini? Sejak kapan kamu disini?" Abas gelagapan melihat Ken seperti penjahat yang tertangkap polisi.
"Sejak abang keluar dari motel, terus cipika cipiki mesra, dan terima amplop." Ken yang sedang dikendalikan sistem memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan rasa takut dan segan yang rendah.
"Dasar b*j*ngan tengik! Kamu pasti sengaja mengikuti aku ya?" Abas marah, dia mengeraskan rahangnya.
"Calm down Bang! Nggak usah emosi kalau memang nggak ada apa-apa." Ken menyeringai, dan nada bicaranya juga menyulut emosi Abas.
"Hah.. memang kamu pikir apa? Dia rekan kerjaku! Kamu salah mengira!" Suara Abas semakin meninggi.
"Oh.." Ken melangkah maju mendekatkan wajahnya ke telinga Abas. "—rekan kerja di ranjang ya Bang? Dia kliennya abang gig*lonya." Ken tanpa rasa segan menyebut Abas dengan sebutan kotor itu, tentu saja Abas semakin naik pitam.
"Kurang ajar kamu!" Abas melayangkan bogemnya tapi di tangkis oleh Ken.
Ken menyeringai. "Lawan aku kalau abang berani."
Abas melihat sekitar, beberapa orang memperhatikan mereka. "Awas kamu Ken! Tunggu pembalasanku." Abas turun ke basement untuk mengambil motornya.
...[BALAS DENDAM MODE OFF!]...
Ken kembali bisa mengambil alih badannya.
"Hah.. apa-apaan ini? Keren sekali." Ken tersenyum puas.
Sistem telah membantunya mempermalukan kakak kiri yang telah mengusirnya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Hades Riyadi
Napa videonya gak dikirimkan ke isterinya, akan lebih berdampak bagus tuuhh 😛😀💪👍👍
2023-03-11
1
Jimmy Avolution
Ayo....ayo....
2023-03-03
0
Hiu Kali
dasar kenTut.. baru gitu ajah cepet berpuwas diri..
2023-01-30
4