Ken sedang menikmati makan siangnya di sebuah angkringan. Meski sudah punya uang untuk bisa makan enak tapi Ken lebih memilih makan seperti biasa, yaitu : angkringan, warteg, warmindo adalah andalannya (Cung yang sealiran sana Ken si anak baik?🤣)
Setelah setengah hari berkeliling untuk mengantar paket, perutnya perlu diberi reward.
"Berapa pak?" Tanya Ken pada penjual.
"Makan apa aja ya mas?"
"Nasi sambal teri tiga, gorengan dua, tahu bacem satu, kerupuk rambak satu sama es teh pak." Ken menyebutkan apa saja yang sudah dia makan.
"Dua puluh satu ribu mas semuanya."
Ken memberi satu lembar uang seratus ribu.
"Tunggu ya mas." Penjual hendak memberi uang kembalian.
"Nggak pak, itu untuk bapak. Terima kasih pak, nasi terinya enak, besok saya kesini lagi." Ken memakai jaketnya.
"Alhamdulillah.. terima kasih ya mas, semoga rezeki mas ditambah jadi semakin banyak, pekerjaannya dilancarkan. Kalau belum punya pacar segera dipertemukan jodoh yang baik, amin." Setulus hati penjual mendoakan Ken.
"Amin.. terima kasih pak doanya. Memang kelihatan ya pak mukanya fakir cinta, haha." Ken bercanda.
"Eh.. Bukan gitu mas, nggak ada maksud apa-apa, saya cuman mendoakan. Maaf ya mas kalau but mas tersinggung." Penjual angkringan merasa tidak enak pada Ken.
"Santai pak, saya bercanda kok. Saya permisi dulu ya pak, mau lanjut kirim barang." Ken kembali menunaikan tugasnya.
Suasana hati Ken hari ini sangat baik, ditambah cuaca yang cerah. Pengiriman hari ini berjalan lancar tanpa hambatan.
Ken selesai shalat maghrib, tak lupa mengisi kotak infaq.
Masih ada sepuluh paket yang harus diantar hari ini, Ken melanjutkan perjalanan mengirim barang hingga pukul delapan malam.
Ken berhenti di sebuah minimarket untuk membeli es krim dan roti. Perutnya mulai minta diisi ulang.
"Hmm.. es krim memang nggak pernah salah." Ken adalah pecinta es krim yang di jual di minimarket, setelah menjalani keseharian yang melelahkan rasa manis dan lembut dari es eskrim membuatnya bahagia.
Ken duduk di teras minimarket, di kursi sebelahnya ada seorang anak laki-laki memakai seragam SMP duduk termenung sambil menggenggam. Wajahnya terlihat sedih dan murung.
Awalnya Ken tidak berniat menyapa atau sebagainya namun lama kelamaan dia merasa aneh karena duduk bersebelahan tanpa bicara.
"Ehm.. kenapa kok dari tadi diam aja? Wajahnya murung begitu? Nilai ulangannya jelak ya?" Dengan ragu-ragu Ken mencoba membuka pembicaraan.
"Ponsel aku rusak bang. Mau pulang takut kena marah bapak." Anak lelaki itu memperlihatkan ponsel dengan layar yang retak.
"Udah nggak bisa diaktifin lagi ponselnya?" Tanya Ken.
"Bisa bang, tapi begini." Layar ponselnya masih terlihat jelas namun diselimuti warna hijau.
"Ponsel kamu jatuh?"
Anak lelaki itu menggeleng.
Ken mengerutkan dahinya, "Lalu kenapa bisa rusak?
Anak lelaki itu mulai menangis, tangannya sibuk membasuh air mata. Ken panik, dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Eh.. kenapa dek? Jangan nangis dong, nanti abang dikira mau culik kamu." Ken semakin panik saat orang-orang yang masuk dan keluar dari minimarket mulai memperhatikan mereka.
"Ponsel a..ku.. huhuhu.. sengaja dibanting sama temanku bang. Mereka bilang aku anak pelac*r, huhuhu.. aku udah berkali-kali minta sama bapak buat pindah sekolah tapi bapak nggak mau dengar. Katanya aku huhuhu.. nggak bersyukur." Anak lelaki itu menangis tersedu-sedu.
Ken bisa merasakan bagaimana frustasinya anak lelaki itu. Dia pasti mungkin tidak punya teman untuk bercerita.
Ken melihat jam di ponselnya 08:16 PM.
"Yuk abang antar ke toko, kita beli ponsel yang sama buat kamu." Ken menarik anak lelaki itu, membawanya dengan motor pergi ke toko ponsel terdekat.
"Berapa bang?" Tanya Ken pada penjual ponsel.
"Satu juta lima ratus ribu bang."
"Bisa ditransfer kan bang?" Tanya Ken.
"Bisa bang, ini nomor rekeningnya."
Ken mentransfer melalui ponselnya. "Udah ya bang, terima kasih." Ken membawa ponsel yang baru dibeli lalu diberikan pada anak lelaki itu.
"Nih buat kamu, sekarang aku antar kamu ke rumah. Nanti bapakmu khawatir."
Anak lelaki itu menahan tangan Ken. "Kenapa abang beliin aku ponsel ini? Kita kan nggak kenal? Bahkan kita belum saling tahu nama satu sama lain bang."
"Anggap aja kamu masih beruntung, namun aku Ken. Nama kamu siapa?" Ken mengulurkan tangan.
"Fius bang."
"Yuk Us pulang abang antar." Ken mengantar Fius pulang.
Di depan rumah seorang wanita paruh baya memakai daster sudah memasang wajah sangar.
"Bang, itu ibu tiri aku." Bisik Fius, dia berlindung di belakang badan Ken.
"Malam bu, maaf saya mau mengantar Fius. Tadi saya tidak sengaja menyerempet Fius jadi saya bawa dia ke rumah sakit dulu makanya pulang sampai larut malam." Ken berbohong agar Fius tidak kena marah.
"Apa?!" Ibu tiri Fius menarik tangan Fius, lalu meneliti fisik Fius.
"Kamu nggak apa-apa? Ada yang masih sakit nggak?" Tanya ibu tiri Fius, namun pertanyaan itu bukan keluar dari mulutnya karena tulus mencemaskan Fius melainkan ada tujuan lain.
Fius menggelengkan kepala, "Bang terima kasih ya, abang pulang gih, hati-hati." Fius meminta Ken pulang karena tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak mengenakan.
"Iya, permi—" Belum selesai Ken pamit, ibu tiri Fius menahan tangannya.
"Enak aja kamu mau pergi begitu aja, ganti rugi dulu dong! Anak saya kalau cedera gimana?" Wanita itu mulai berakting seolah ibu yang baik untuk Fius.
"Bu aku nggak apa kok." Fius panik.
"Ada apa ini?" Ayah Fius keluar dari rumah.
"Pak, orang ini menabrak Fius dan mau pergi begitu aja."
Ken merasa geli, wanita itu sudah menambah micin pada kata-katanya.
"Apa? Kamu harus tanggung jawab!" Ayah Fius langsung meminta tanggung jawab tapi tidak terlihat khawatir dengan kondisi anaknya.
"Baik pak."
"Saya minta tiga juga untuk ganti rugi! Sekarang juga! Kalau tidak saya akan bawa masalah ini ke kantor polisi!" Ayah Fius marah.
"Pak, bu.. aku nggak apa kok." Fius menarik tangan ayahnya.
"Diam kamu!"
"Baik pak, saya akan transfer uangnya karena tidak ada uang tunai." Ken tidak masalah dengan jumlah uang yang diminta.
Ibu tiri Fius segera mengeluarkan ponsel memperlihatkan nomor rekeningnya, Ken segera mentransfer uang melalui ponselnya.
"Silahkan dicek bu, pak." Kata Ken.
Ibu tiri Fius tidak bisa menahan senyumnya karena mendapat uang cuma-cuma. "Oke boleh pergi mas, lain kali hati-hati ya." Kata ibu tiri Fius dengan nada lembut.
"Baik bu, pak, maaf, saya permisi." Ken pergi dari rumah Fius.
"Hah.. ada-ada aja sifatnya makhluk di bumi ini." Ken menggumam sambil mengendarai motornya menuju kost.
***Bersambung...
Jangan lupa like dan komen, terima kasih!
Novel ini akan banyak mengangkat kisah sehari-hari saja, jika tidak cocok dengan ceritanya mohon tinggalkan saja, jangan memberi komen yang menjatuhkan author, karena hati author hati hello kiti, haha.. Terima kasih.
Semangat Ken si anak baik dan beruntung***!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Max Dillon
mc naif adalah org bodoh.. spoil mood nak terus baca mc bodoh
2024-06-12
0
dee
baik boleh bego jangan, orang yang suka meras, sekali lancar, mereka bakal mengulangi hal yang sama ke orang lain. ya kalau duit lu banyak mah gapapa, gimana kalau yang diperas nggak punya apa-apa?
2023-11-14
2
pauzi aja
lanjut bang
2023-08-05
1