Bab 08 : Bertemu Fius.

Ken sedang menikmati makan siangnya di sebuah angkringan. Meski sudah punya uang untuk bisa makan enak tapi Ken lebih memilih makan seperti biasa, yaitu : angkringan, warteg, warmindo adalah andalannya (Cung yang sealiran sana Ken si anak baik?🤣)

Setelah setengah hari berkeliling untuk mengantar paket, perutnya perlu diberi reward.

"Berapa pak?" Tanya Ken pada penjual.

"Makan apa aja ya mas?"

"Nasi sambal teri tiga, gorengan dua, tahu bacem satu, kerupuk rambak satu sama es teh pak." Ken menyebutkan apa saja yang sudah dia makan.

"Dua puluh satu ribu mas semuanya." 

Ken memberi satu lembar uang seratus ribu.

"Tunggu ya mas." Penjual hendak memberi uang kembalian.

"Nggak pak, itu untuk bapak. Terima kasih pak, nasi terinya enak, besok saya kesini lagi." Ken memakai jaketnya.

"Alhamdulillah.. terima kasih ya mas, semoga rezeki mas ditambah jadi semakin banyak, pekerjaannya dilancarkan. Kalau belum punya pacar segera dipertemukan jodoh yang baik, amin." Setulus hati penjual mendoakan Ken.

"Amin.. terima kasih pak doanya. Memang kelihatan ya pak mukanya fakir cinta, haha." Ken bercanda.

"Eh.. Bukan gitu mas, nggak ada maksud apa-apa, saya cuman mendoakan. Maaf ya mas kalau but mas tersinggung." Penjual angkringan merasa tidak enak pada Ken.

"Santai pak, saya bercanda kok. Saya permisi dulu ya pak, mau lanjut kirim barang." Ken kembali menunaikan tugasnya.

Suasana hati Ken hari ini sangat baik, ditambah cuaca yang cerah. Pengiriman hari ini berjalan lancar tanpa hambatan.

Ken selesai shalat maghrib, tak lupa mengisi kotak infaq.

Masih ada sepuluh paket yang harus diantar hari ini, Ken melanjutkan perjalanan mengirim barang hingga pukul delapan malam.

Ken berhenti di sebuah minimarket untuk membeli es krim dan roti. Perutnya mulai minta diisi ulang.

"Hmm.. es krim memang nggak pernah salah." Ken adalah pecinta es krim yang di jual di minimarket, setelah menjalani keseharian yang melelahkan rasa manis dan lembut dari es eskrim membuatnya bahagia.

Ken duduk di teras minimarket, di kursi sebelahnya ada seorang anak laki-laki memakai seragam SMP duduk termenung sambil menggenggam. Wajahnya terlihat sedih dan murung.

Awalnya Ken tidak berniat menyapa atau sebagainya namun lama kelamaan dia merasa aneh karena duduk bersebelahan tanpa bicara.

"Ehm.. kenapa kok dari tadi diam aja? Wajahnya murung begitu? Nilai ulangannya jelak ya?" Dengan ragu-ragu Ken mencoba membuka pembicaraan.

"Ponsel aku rusak bang. Mau pulang takut kena marah bapak." Anak lelaki itu memperlihatkan ponsel dengan layar yang retak.

"Udah nggak bisa diaktifin lagi ponselnya?" Tanya Ken.

"Bisa bang, tapi begini." Layar ponselnya masih terlihat jelas namun diselimuti warna hijau.

"Ponsel kamu jatuh?"

Anak lelaki itu menggeleng.

Ken mengerutkan dahinya, "Lalu kenapa bisa rusak?

Anak lelaki itu mulai menangis, tangannya sibuk membasuh air mata. Ken panik, dia tidak tahu harus berbuat apa.

"Eh.. kenapa dek? Jangan nangis dong, nanti abang dikira mau culik kamu." Ken semakin panik saat orang-orang yang masuk dan keluar dari minimarket mulai memperhatikan mereka.

"Ponsel a..ku.. huhuhu.. sengaja dibanting sama temanku bang. Mereka bilang aku anak pelac*r, huhuhu.. aku udah berkali-kali minta sama bapak buat pindah sekolah tapi bapak nggak mau dengar. Katanya aku huhuhu.. nggak bersyukur." Anak lelaki itu menangis tersedu-sedu.

Ken bisa merasakan bagaimana frustasinya anak lelaki itu. Dia pasti mungkin tidak punya teman untuk bercerita.

Ken melihat jam di ponselnya 08:16 PM.

"Yuk abang antar ke toko, kita beli ponsel yang sama buat kamu." Ken menarik anak lelaki itu, membawanya dengan motor pergi ke toko ponsel terdekat.

"Berapa bang?" Tanya Ken pada penjual ponsel.

"Satu juta lima ratus ribu bang."

"Bisa ditransfer kan bang?" Tanya Ken.

"Bisa bang, ini nomor rekeningnya." 

Ken mentransfer melalui ponselnya. "Udah ya bang, terima kasih." Ken membawa ponsel yang baru dibeli lalu diberikan pada anak lelaki itu.

"Nih buat kamu, sekarang aku antar kamu ke rumah. Nanti bapakmu khawatir." 

Anak lelaki itu menahan tangan Ken. "Kenapa abang beliin aku ponsel ini? Kita kan nggak kenal? Bahkan kita belum saling tahu nama satu sama lain bang."

"Anggap aja kamu masih beruntung, namun aku Ken. Nama kamu siapa?" Ken mengulurkan tangan.

"Fius bang."

"Yuk Us pulang abang antar." Ken mengantar Fius pulang.

Di depan rumah seorang wanita paruh baya memakai daster sudah memasang wajah sangar.

"Bang, itu ibu tiri aku." Bisik Fius, dia berlindung di belakang badan Ken.

"Malam bu, maaf saya mau mengantar Fius. Tadi saya tidak sengaja menyerempet Fius jadi saya bawa dia ke rumah sakit dulu makanya pulang sampai larut malam." Ken berbohong agar Fius tidak kena marah.

"Apa?!" Ibu tiri Fius menarik tangan Fius, lalu meneliti fisik Fius.

"Kamu nggak apa-apa? Ada yang masih sakit nggak?" Tanya ibu tiri Fius, namun pertanyaan itu bukan keluar dari mulutnya karena tulus mencemaskan Fius melainkan ada tujuan lain.

Fius menggelengkan kepala, "Bang terima kasih ya, abang pulang gih, hati-hati." Fius meminta Ken pulang karena tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak mengenakan.

"Iya, permi—" Belum selesai Ken pamit, ibu tiri Fius menahan tangannya.

"Enak aja kamu mau pergi begitu aja, ganti rugi dulu dong! Anak saya kalau cedera gimana?" Wanita itu mulai berakting seolah ibu yang baik untuk Fius.

"Bu aku nggak apa kok." Fius panik.

"Ada apa ini?" Ayah Fius keluar dari rumah.

"Pak, orang ini menabrak Fius dan mau pergi begitu aja." 

Ken merasa geli, wanita itu sudah menambah micin pada kata-katanya.

"Apa? Kamu harus tanggung jawab!" Ayah Fius langsung meminta tanggung jawab tapi tidak terlihat khawatir dengan kondisi anaknya.

"Baik pak."

"Saya minta tiga juga untuk ganti rugi! Sekarang juga! Kalau tidak saya akan bawa masalah ini ke kantor polisi!" Ayah Fius marah.

"Pak, bu.. aku nggak apa kok." Fius menarik tangan ayahnya.

"Diam kamu!"

"Baik pak, saya akan transfer uangnya karena tidak ada uang tunai." Ken tidak masalah dengan jumlah uang yang diminta.

Ibu tiri Fius segera mengeluarkan ponsel memperlihatkan nomor rekeningnya, Ken segera mentransfer uang melalui ponselnya.

"Silahkan dicek bu, pak." Kata Ken.

Ibu tiri Fius tidak bisa menahan senyumnya karena mendapat uang cuma-cuma. "Oke boleh pergi mas, lain kali hati-hati ya." Kata ibu tiri Fius dengan nada lembut.

"Baik bu, pak, maaf, saya permisi." Ken pergi dari rumah Fius.

"Hah.. ada-ada aja sifatnya makhluk di bumi ini." Ken menggumam sambil mengendarai motornya menuju kost.

***Bersambung...

Jangan lupa like dan komen, terima kasih!

Novel ini akan banyak mengangkat kisah sehari-hari saja, jika tidak cocok dengan ceritanya mohon tinggalkan saja, jangan memberi komen yang menjatuhkan author, karena hati author hati hello kiti, haha.. Terima kasih.

Semangat Ken si anak baik dan beruntung***!

Terpopuler

Comments

Max Dillon

Max Dillon

mc naif adalah org bodoh.. spoil mood nak terus baca mc bodoh

2024-06-12

0

dee

dee

baik boleh bego jangan, orang yang suka meras, sekali lancar, mereka bakal mengulangi hal yang sama ke orang lain. ya kalau duit lu banyak mah gapapa, gimana kalau yang diperas nggak punya apa-apa?

2023-11-14

2

pauzi aja

pauzi aja

lanjut bang

2023-08-05

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 01 : Ken si pemuda malang.
2 Bab 02 : Kemunculan sistem.
3 Bab 03 : Kost.
4 Bab 04 : Pindahan.
5 Bab 05 : Beradaptasi jadi anak kost.
6 Bab 06 : Banjir Bro!
7 Bab 07 : Lupa Check-in!
8 Bab 08 : Bertemu Fius.
9 Bab 09 : Ken si anak baik!
10 Bab 10 : Pendeteksi perasaan Aira.
11 Bab 11 : URGENT ALERT
12 Bab 12 : Flashback mode on!
13 Bab 13 : Mode baru ditemukan!
14 Bab 14 : Donatur panti asuhan.
15 Bab 15 : Disemprot atasan!
16 Bab 16 : Melapor ke guru Fius.
17 Bab 17 : Sarah.
18 Bab 18 : Mendaki gunung.
19 Bab 19 : Air mata gunung.
20 Bab 20 : Efek air mata gunung (1)
21 Bab 21 : Aira dan perasaannya.
22 Bab 22 : Aira VS Sarah.
23 Bab 23 : 2 diantara 3?
24 Bab 24 : Donor darah!
25 Bab 25 : Beno sudah tahu!
26 Bab 26 : Menuju panti jompo.
27 Bab 27 : Panti Jompo.
28 Bab 28 : Hasil tes laboratorium.
29 Bab 29 : Jawaban teka-teki salah!
30 Bab 30 : Sibot!
31 Bab 31 : Persiapan bisnis!
32 Bab 32 : Kemampuan membujuk!
33 Bab 33 : Makan-makan.
34 Bab 34 : Dipecat!
35 Bab 35 : Ken dan Sarah.
36 Bab 36 : Ken si bos muda!
37 Bab 37 : Bertemu Aira.
38 Bab 38 : Ken, Aira dan Sarah.
39 Bab 39 : Menolak tawaran!
40 Bab 40 : Bertemu Lembayung.
41 Pengumuman Novel baru
42 Bab 41 : Karin datang.
43 Bab 42 : Bad day!
44 Bab 43 : Sudah jatuh tertimpa tangga, masuk selokan pula!
45 Bab 44 : Tama datang ke kantor polisi.
46 Bab 45 : Godaan Lembayung!
47 Bab 46 : Pingsan di pelukan Aira.
48 Bab 47 : Pernyataan cinta Ken.
49 Bab 48 : Misi 1.000 pembelian!
50 Bab 49 : Kebodohan Ken!
51 Bab 50 : Kebodohan Ken! (2)
52 Bab 51 : Aksi Lembayung!
53 Bab 52 : Bebas dari penjara!
54 Bab 53 : Kembalinya Ken!
55 Bah 54 : Ken vs Tanu!
56 Bab 55 : Penyelamaan Aira!
57 Bab 56 : Ken dan sistem kacamata super!
58 Pengumuman novel Sistem Kacamata Super Season 2!
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 01 : Ken si pemuda malang.
2
Bab 02 : Kemunculan sistem.
3
Bab 03 : Kost.
4
Bab 04 : Pindahan.
5
Bab 05 : Beradaptasi jadi anak kost.
6
Bab 06 : Banjir Bro!
7
Bab 07 : Lupa Check-in!
8
Bab 08 : Bertemu Fius.
9
Bab 09 : Ken si anak baik!
10
Bab 10 : Pendeteksi perasaan Aira.
11
Bab 11 : URGENT ALERT
12
Bab 12 : Flashback mode on!
13
Bab 13 : Mode baru ditemukan!
14
Bab 14 : Donatur panti asuhan.
15
Bab 15 : Disemprot atasan!
16
Bab 16 : Melapor ke guru Fius.
17
Bab 17 : Sarah.
18
Bab 18 : Mendaki gunung.
19
Bab 19 : Air mata gunung.
20
Bab 20 : Efek air mata gunung (1)
21
Bab 21 : Aira dan perasaannya.
22
Bab 22 : Aira VS Sarah.
23
Bab 23 : 2 diantara 3?
24
Bab 24 : Donor darah!
25
Bab 25 : Beno sudah tahu!
26
Bab 26 : Menuju panti jompo.
27
Bab 27 : Panti Jompo.
28
Bab 28 : Hasil tes laboratorium.
29
Bab 29 : Jawaban teka-teki salah!
30
Bab 30 : Sibot!
31
Bab 31 : Persiapan bisnis!
32
Bab 32 : Kemampuan membujuk!
33
Bab 33 : Makan-makan.
34
Bab 34 : Dipecat!
35
Bab 35 : Ken dan Sarah.
36
Bab 36 : Ken si bos muda!
37
Bab 37 : Bertemu Aira.
38
Bab 38 : Ken, Aira dan Sarah.
39
Bab 39 : Menolak tawaran!
40
Bab 40 : Bertemu Lembayung.
41
Pengumuman Novel baru
42
Bab 41 : Karin datang.
43
Bab 42 : Bad day!
44
Bab 43 : Sudah jatuh tertimpa tangga, masuk selokan pula!
45
Bab 44 : Tama datang ke kantor polisi.
46
Bab 45 : Godaan Lembayung!
47
Bab 46 : Pingsan di pelukan Aira.
48
Bab 47 : Pernyataan cinta Ken.
49
Bab 48 : Misi 1.000 pembelian!
50
Bab 49 : Kebodohan Ken!
51
Bab 50 : Kebodohan Ken! (2)
52
Bab 51 : Aksi Lembayung!
53
Bab 52 : Bebas dari penjara!
54
Bab 53 : Kembalinya Ken!
55
Bah 54 : Ken vs Tanu!
56
Bab 55 : Penyelamaan Aira!
57
Bab 56 : Ken dan sistem kacamata super!
58
Pengumuman novel Sistem Kacamata Super Season 2!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!