Sesampainya di tempat kerja, Ken menuju ke ruang HRD untuk lapor karena terlambat masuk kerja.
"Ckckck.. mau kena pecat ya kamu Ken?" Najwa satu-satunya staf HRD di kantor cabang ini langsung menyemprot Ken saat datang ke ruangan staf.
"Maaf, ada saudara yang meninggal."
"Kamu kan punya ponsel? Kenapa nggak menghubungi dulu? Kamu menganggap remeh saya dan pak Yoga ya?" Najwa sengaja mencari perhatian bosnya, manajer umum Yoga.
"Maaf, tadi karena panik dapat kabar mendadak jadi nggak sempat menghubungi." Jelas Ken.
"Gaji kamu dipotong karena terlambat."
Ken melirik jam dinding, dia terlambat lima belas menit.
"Iya." Jawab Ken pasrah.
Di sudut kantor ada Aira, staf administrasi yang diam-diam memperhatikan kejadian tidak mengenakan tersebut.
"Emm.. Ken, kalau udah selesai urusannya turun ya, ada hal yang mau aku tanyakan soal surat jalan." Aira keluar dari ruang staf, lalu turun ke bagian pengumpulan barang paket.
Setelah selesai membuat surat pernyataan Ken langsung turun menemui Aira.
"Hih.. kamu ini suka banget sih dimarahin sama si Najwa? Senang ya kalau dapat perhatian dari Najwa?" Sindir Aira.
"Nggak, aku udah nggak suka kok sama dia. Aku dulu memang tertarik sama dia tapi makin lama kelakuannya makin absurd." Kata Ken.
"Kena marah lagi sama Najwa?" Beno mendekat.
"Iya nih Ben, demen banget dia dimarahin sama Najwa." Sindir Aira.
"Udah aku mau kerja."
"Eh.. tunggu dulu, muka kamu kok bisa bersih banget gitu sih Ken? Pakai skincare ya?" Aira memperhatikan wajah Ken.
"Eh.. iya, jerawat kamu hilang kemana tuh?" Beno juga menyadarinya.
"Pakai skincare merk apa Ken? Mau coba juga." Kata Aira.
"Air wudhu aja inshaallah halal dan murah meriah." Ken langsung mendekat ke Ares yang sedang sibuk memindai barcode paket.
"Dih.. si paling alim." Kata Beno mencibir.
Aira hanya tersenyum melihat kelakuan teman-teman seperjuangannya.
......................
Ken mulai mengirim barang pukul sepuluh pagi. Namun sayangnya pekerjaannya harus terhenti karena hujan deras pukul satu siang.
Ken berteduh di sebuah minimarket. Dia membeli teh botol dan roti sobek untuk makan siang.
Ken mengeluarkan amplop coklat pemberian Lambang.
Perlahan Ken membuka amplop itu. Terdapat sebuah surat tulisan tangan dan sebuah amplop berlogo sebuah bank.
Ken membuka surat tulisan tangan.
'Hai Ken! Kalau kamu sudah baca surat ini artinya aku sudah tidak ada di dunia ini. Kamu pasti penasaran dengan kacamata itu kan? Aku hanya bisa bilang, manfaatkan sebaik mungkin. Buktikan pada dunia bahwa orang yang beruntung dan kaya adalah orang baik juga. Aku ingin kamu'
Ken menangis membaca surat yang bahkan belum selesai ditulis itu, tulisan tangannya tidak rapi, tulisan itu seolah menceritakan bahwa Lambang menulisnya dalam keadaan sekarat.
Ken menghapus air matanya lalu membuka amplop berlogo bank. Ada nama dirinya di bagian depan amplop lagi-lagi tulisannya tidak rapi.
Mata Ken melotot melihat isi amplop itu. Ternyata Lambang menghibahkan Ken emas batangan seberat 10 kg.
"Apa aku pantas mendapatkan ini?" Perasaan Ken campur aduk, jelas saja dia suka menerima harta hibahan dari Lambang. Tapi disisi lain dia sedih bahwa orang baik itu tidak akan bisa ditemui lagi selamanya.
Setelah hujan reda Ken pergi ke bank.
"Maaf.. saya mau mendapat surat hibah dari seseorang." Ken memberikan surat hibahnya ke teller bank.
"Oh.. dari bapak Lambang lagi ya?"
'Lagi?'
"Tunggu sebentar." Teller cantik itu masuk ke ruangan. Ken menunggu dengan sabar.
"Terima kasih bapak sudah menunggu. Ini emas batangan 10 kg milik almarhum bapak Lambang yang akan dihibahkan pada anda. Mohon tanda tangan disini." Teller itu meminta Ken tanda tangan di surat serah terima.
"Anda beruntung pak bisa mengenal pak Lambang. Beliau orang yang dermawan, harta seperti tidak ada artinya, banyak sekali orang yang dia beri harta hibah seperti bapak." Teller itu mengenang sosok Lambang yang dermawan.
"Kalau boleh tahu apa pekerjaan bapak Lambang?" Ken penasaran karena dia berpikir bahwa harta yang Lambang bagikan pada orang-orang adalah reward dari kacamata yang diberikan padanya.
"Tidak ada yang tahu. Dulunya beliau adalah seorang tukang sol sepatu. Lalu beliau cerita bahwa dirinya memenangkan lotre dari luar negeri. Lalu dia membuat sebuah yayasan sosial yang diberi nama 'Miracle Glasses'. Katanya nama itu adalah nama samaran bapak Lambang. Dia adalah sosok yang mengagumkan."
Ken akhirnya bisa tahu latar belakang Lambang berkat teller itu.
"Selamat bapak Ken telah resmi menerima barang hibah ini." Teller menyerahkan emas batangan 10 kg dan surat kepemilikan.
"Apa ada pajak atau biaya yang harus saya bayar?" Tanya Ken.
"Tidak bapak, semua akan diurus dna dibayar oleh yayasan Miracle Glasses. Ada yang belum jelas bapak?"
"Tidak terima kasih, permisi.” Ken keluar dari bank langsung meneruskan pekerjaannya mengirim barang karena masih banyak sekali yang harus dikirim.
“Harus selesai sebelum malam nih, aku harus dapat kos malam ini.”
Ken sudah menjalani pekerjaan ini selama hampir empat tahun, sampai saat ini jabatannya tidak ada kenaikan, gajinya hanya mepet dengan UMR, namun Ken masih enjoy dengan pekerjaannya ini karena teman-teman seperjuangannya yang membuatnya betah bertahan.
“Hahh.. akhirnya selesai juga.” Ken melirik jam di ponselnya.
10:20 PM.
Ken mulai berkeliling mencari kos. Awalnya dia mencari kost di dekat kantornya, sudah dua tempat kos yang dia datangi tapi tidak ada kamar yang kosong.
“Emm.. kos campur ya? Hmm.. ya sudahlah, dicoba tanya dulu.” Gumam Ken saat melihat banner yang terpasang di gerbang kos.
Ken menekan bel. Seorang wanita paruh baya keluar membuka gerbang. “Iya mas ada apa?” Tanyan wanita berdaster itu, wajah dan nada bicaranya jutek.
“Maaf bu, mau tanya soal kamar kos yang kosong.”
“Oh.. masuk mas, sini mas motornya dimasukin kesini.” Berubah seratus delapan puluh derajat ibu-ibu berdaster itu jadi ramah pada Ken.
“Perkenalkan mas, nama saya Vivin. Saya ibu kos, kamar saya dan suami di belakang.” Vivin mengajak Ken duduk di ruang tamu.
“Saya Ken bu, mau cari kamar kost secepatnya bu.”
“Secepatnya?”
“Iya bu, saya diusir dari rumah.”
“Waduh.. kasihan banget sih mas. Ya udah kalau gitu sekarang bayar langsung bisa ditempati mas.”
“Mau lihat dulu bu kamarnya.”
“Ayo.” Vivin mengajak Ken ke lantai dua. “Ada dua kamar kosong mas, yang satu kamar kecil untuk lajang, harga sewanya enam ratus ribu sebulan. Yang satu lagi kamar besar, sewa per bulannya satu juta.”
Ken menengok kamarnya, cukup bersih dan sudah ada sebuah tempat tidur lengkap dengan kasur dan sebuah rak kecil.
“Saya bayar sekarang bu, besok malam setelah pulang kerja saya pindahan.”
Senyum puas terlihat di wajah Vivin. “Siap mas, mau tunai atau transfer?”
“Transfer ya bu.”
Vivin mengeluarkan ponsel lalu meminta nomor Ken untuk mengirimkan nomor rekening. Ken langsung membayar lalu pamit untuk pulang ke rumahnya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
𝙍𝙮𝙪𝙪 𝘼𝙯𝙖𝙩𝙝𝙤𝙩𝙝
... Aku ingin kamu itu di maksudkan kaya, "Aku ingin kamu menjadi bukti salah satunya" (Kalau orang kaya baik gak sombong itu ada)
2023-04-09
2
Jimmy Avolution
Ayo....
2023-03-03
0
Äï
aku ingin kamu? dia ini gay kah
2023-02-23
2