"Alhamdulillaah ya, meeting nya berjalan dengan lancar. Klien tertarik bekerja sama dengan perusahaan tuan Adnan," ujar Michi pada Ethan.
"Iya, itu semua berkat kerja sama tim yang bagus."
"Iya, tuan Ethan. Mm .. Rencananya besok aku mau izin sehari, tuan. Ada acara keluarga suami yang tidak bisa ku tinggalkan," izin Michi.
"Iya, tidak apa-apa. Tapi lusa masuk lagi kan?"
"Lusa langsung balik kerja lagi."
"Okay."
"Kalau begitu saya pamit makan siang dulu, tuan. Sudah waktunya jam makan siang."
Ethan spontan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya, silahkan."
"Permisi, tuan Ethan."
Ethan membalas nya dengan mengangguk dan seulas senyum kecil. Michi pun keluar lebih dulu dari ruang meeting tersebut, meninggalkan Ethan sendiri di sana.
Ting ..
Suara notifikasi mengalihkan perhatian pria itu. Ia yang hendak bangun dari tempat duduknya mengurungkan niat dan meraih ponsel yang tergeletak di atas meja di hadapannya.
Sebuah notifikasi dari akun media sosial Geya yang baru saja membuat postingan baru. Lantaran penasaran, Ethan mengklik notifikasi barusan.
Geyaangelista_
Sudah tidak sabar menunggu malam tiba, dimana cahaya penerang hidupku akan datang menyinari.
Sebuah caption yang membuat Ethan berpikir sejenak.
"Apa yang dimaksud Geya itu Bara? Dia akan datang ke rumah nanti malam?" pikirnya.
Tidak mau mati penasaran, nanti malam ia putuskan untuk datang juga ke rumah Geya.
Ethan bangkit dari tempat duduknya bergegas pergi untuk makan siang.
Sementara di tempat lain, akhir-akhir ini mama Elin sering melihat bi Yayan melamun. Bahkan sekarang, wanita paruh baya itu pun tampak sedang melamun di depan papan penggorengan dengan api kompor yang menyala.
"Bi .. " Mama Elin menepuk pundak bi Yayan membuat pemilik nya terperanjat kaget.
"Astaghfirullahalazim .. " ucapnya.
Mama Elin tentunya merasa heran, kenapa bi Yayan sampai terkejut seperti itu padahal ia tidak mengejutkannya.
"Bi, bi Yayan kenapa melamun? Apa yang bi Yayan pikirkan?" tanya mama Elin kemudian.
Bi Yayan menggeleng kuat. "Ti-tidak, ti-tidak ada apa-apa, nyonya." jawab wanita paruh baya itu.
"Tidak apa? Itu bi Yayan melamun sampai lupa ini minyaknya sudah panas, kompornya menyala."
Sadar akan aktivitas nya, bi Yayan mengucap istighfar seraya mematikan kompornya.
Melihat itu, mama Elin semakin yakin jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran wanita paruh baya itu.
"Sini, bi. Duduk!" pinta mama Elin usai mengambil kursi yang biasa di pakai oleh bi Yayan kala sedang makan.
"I-iya, nyonya," jawab bi Yayan menurut.
"Sekarang bibi ceritakan, apa yang membuat bi Yayan melamun akhir-akhir ini? Ada masalah apa? Siapa tahu saya bisa bantu."
Bi Yayan menunduk seraya merremmas jemarinya yang sudah mengeluarkan keringat dingin. Jujur, ia tidak sanggup mengatakan semua ini pada majikannya.
"Bi, kita ini sudah seperti keluarga. Saya sudah menganggap bi Yayan seperti orang tua saya juga, ibu saya. Bibi sudah bekerja di rumah ini selama belasan tahun, jadi jangan sungkan untuk menceritakan apapun yang sekiranya bisa membuat bi Yayan merasa sedikit lega." bujuk mama Elin.
Bi Yayan masih saja diam. Mungkin masih bingung harus menceritakan nya gimana.
"Apa karena Clarin?" tebak mama Elin dan membuat wanita paruh baya itu mendongakan kepalanya.
Cairan putih bening yang kini memupuk pelupuk mata bi Yayan sudah cukup memberi jawaban bagi mama Elin. Sebelumnya Ethan sudah cerita tentang Clarin yang datang beberapa hari lalu.
Mama Elin memeluk tubuh bi Yayan, membiarkan wanita paruh baya itu menangis di pundaknya dengan memberi sedikit ketenangan berupa usapan lembut di punggung.
_Bersambung_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Defi
Geya lagi dimabuk asmara sama Bara Than 🤭
2023-01-17
1