Tiga hari berikutnya, sikap Geya kembali seperti semula. Wanita itu tidak lagi marah pada mama dan papanya. Sebab mereka sudah menegaskan jika tidak akan memaksa ia untuk menikah dengan Ethan.
"Ma, pa, aku mau keluar sebentar boleh, ya?" Geya berusaha meminta izin.
"Mau kemana?" tanya mama Elin dan Adnan pun meletakan cangkir kopi yang baru saja ia seruput.
"Aku mau ke cafe Lambada."
"Pergi sama siapa? Ethan?" timpal Adnan.
Geya menghembuskan napas kecil. Lagi-lagi mereka harus menyebutkan nama yang tidak ingin ia dengar.
"Aku pergi sama Bara, yang aku ceritakan ke mama beberapa hari lalu," jawab wanita itu mengerutkan kening Adnan sebab istrinya belum sempat cerita soal itu.
"Bara?"
"Iya. Memangnya mama belum cerita?"
Adnan menoleh ke arah mama Elin. Ia benar-benar tidak tahu soal itu.
"Nanti mama tolong ceritakan sama papa, ya. Tapi ingat, mama boleh cerita dari versi aku saja, bukan dari versi sudut pandang anak pungut itu."
Mama Elin mengangguk. "Iya, Geya. Tapi berhenti mengatakan Ethan itu anak pungut. Kalian sama-sama anak mama."
"Dia bukan," sergah Geya kemudian beranjak pergi dari sana.
Setelah putri mereka pergi, Adnan langsung menuntut sesuatu pada mama Elin untuk menjelaskan siapa itu Bara.
"Bara versi Geya dan Bara versi Ethan, itu maksudnya apa, ma?" tanya Adnan yang kebingungan.
"Iya, pa. Jadi begini. Malam saat Ethan berhasil membawa Geya pulang dalam keadaan mabuk itu, dia sempat cerita pada mama sebelum pulang, jika Geya saat itu sedang bersama pria yaitu Bara. Ethan berpikir jika pria itu akan berbuat yang macam-macam pada Geya karena saat itu keadaan Geya sedang mabuk. Sementara cerita versi dari Geya sendiri tentang Bara, Bara itu katanya baik. Dia tidak ada niat jahat sedikitpun, mungkin Ethan yang salah paham pada saat itu. Sebenarnya Bara hanya ingin mengantar Geya karena khawatir terjadi sesuatu buruk jika Geya pulang dalam keadaan mabuk. Begitu, pa. Tapi papa tenang saja, mama sudah minta Ethan untuk cari tahu siapa itu Bara." jelas mama Elin di angguki oleh Adnan, suaminya.
"Kalau begitu bagaimana jika sekarang mama telepon Ethan? Mama minta Ethan untuk ikuti Geya ke cafe itu. Takutnya Bara itu memang ada niat buruk pada Geya. Jika tidak, ya bagus. Ini hanya untuk jaga-jaga saja jika apa yang kita takutkan terjadi."
"Iya, pa. Mama harus minta Ethan. Semoga saja Ethan mau mengikuti Geya ke kafe itu."
Mama Elin mengambil ponselnya yang sebelumnya ia letakan di atas meja hadapannya. Mendial nomer Ethan lalu menempelkan benda pipih tersebut ke daun telinganya. Tidak berapa lama, sambungan telepon pun terhubung.
"Halo, Than. Dimana?"
"Halo, tante. Aku di rumah. Kenapa?"
"Mm, Than. Bibi boleh minta tolong sesuatu padamu?"
"Iya, bibi. Minta tolong apa? Jika aku bisa, aku akan bantu."
"Iya, Than. Barusan Geya pergi, dia bilang mau ke kafe ketemuan dengan Bara, pria yang bersama Geya saat malam itu di club. Bibi ingin kau mengikuti Geya ke kafe itu, bibi khawatir jika Bara memiliki niat buruk untuk Geya."
"Iya, bibi. Aku akan ikuti Geya. Dia pergi ke kafe mana?" tanya Ethan kemudian.
"Kafe Lambada."
"Ok, aku meluncur sekarang."
"Iya, terima kasih ya, Ethan."
"Sama-sama, bibi." balas pria itu sekaligus menjadi penutup akhir telepon.
"Bagaimana, ma? Ethan mau?" tanya Adnan setelah melihat istrinya selesai bicara.
Mama Elin mengangguk. "Iya, Ethan mau mengikuti Geya ke kafe itu, pa."
"Baguslah kalau begitu."
Adnan mengambil kembali cangkir kopi yang masih tersisa setengahnya dan menyeruputnya.
_Bersambung_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
irfah albeghyttu
emang ethan g kerja,...slalu ready bila diminta bantuan sm ortunya geya????
2023-01-19
1
Defi
Geya sebenarnya orang tuamu sangat menyayangi kamu sampai2 menyuruh Ethan untuk menjaga kamu..
2023-01-16
2