Ethan dan Geya kini sudah satu mobil dalam perjalanan pulang. Pria itu sudah meminta montir langganan untuk menuju lokasi tempat mobil Geya di tinggal.
"Memangnya kau darimana tadi?" tanya Ethan mengawali pembicaraan setelah lama saling diam.
Geya menatap pria di sebelahnua tidak suka di kepoin untuk urusan pribadinya. Tapi alangkah lebih baiknya ia jujur untuk saat ini.
"Aku dari kafe Lambada, habis ketemuan sama Bara," jawabnya dengan nada menyombongkan diri.
"Oh .. Lalu kenapa tidak minta bantuan padanya saja saat mobilmu mogok?"
Mendengar pertanyaan Ethan membuat Geya sedikit tersinggung.
"Mungkin dia sedang fokus menyetir perjalanan pulang."
"Aku juga sedang dalam perjalanan tadi, tapi aku bisa jawab teleponmu," balas Ethan.
"Bisa jadi Bara silent hp nya, jadi dia tidak tahu aku telepon."
"Kau yakin Bara langsung pulang setelah bertemu denganmu?"
"Iya, tadi dia bilang mau langsung pulang."
Ethan menoleh Geya sekilas sebelum kemudian kembali memandang jalanan. Ia masih penasaran, sebenarnya pria itu mau apa ke hotel dan apa tujuan nya?
"Sudah telepon bibi Elin dan paman Adnan?"
"Sudah, hanya saja tidak di angkat. Terpaksa aku harus minta bantuanmu," cetus Geya.
"Memang hanya aku yang selalu ada di masa sulitmu, Geya."
Geya menoleh Ethan dan memandang wajah pria itu untuk beberapa saat, sebelum kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dalam hati ia akui, jika memang hanya Ethan yang selalu di saat ia sedang butuh seseorang.
Sementara di rumah, mama Elin dan suaminya tengah khawatir sekarang. Begitu mereka cek hp, ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Geya. Namun begitu mereka telepon balik, nomer Geya sudah tidak aktif.
"Pa, mama takut terjadi sesuatu pada Geya, pa. Mama khawatir pria itu berbuat yang macam-macam pada putri kita. Ayo, pa. Lakukan sesuatu!"
Perasaan mama Elin semakin tidak tenang. Ia betul-betul cemas sekarang.
"Tenang ya, ma. Papa mau coba telepon Ethan sekarang. Siapa tahu Ethan bisa bantu kita."
"Iya, pa. Cepat telepon Ethan!"
Adnan mendial nomer telepon Ethan di layar ponselnya. Tidak berapa lama, sambungan telepon terhubung.
"Halo, Than. Ethan, bisa ke rumah paman sekarang?! Paman butuh bantuanmu," seru Adnan.
"Iya, paman. Bantuan apa?" tanya Ethan dari sebrang telepon.
"Than, tadi Geya sempat telepon beberapa kali ke hp paman. Begitu di telepon balik, nomer Geya sudah tidak aktif. Paman dan bibi sangat khawatir."
"Paman dan bibi tenang saja. Sekarang Geya ada bersamaku. Jadi, tadi mobil Geya mogok dan dia telepon paman dan bibi untuk meminta bantuan. Karena paman dan bibi tidak juga menjawab telepon nya, jadi Geya minta aku buat datang ke tempat dimana mobilnya mogok," jelas Ethan.
Adnan dan mama Elin bernapas lega mendengar jika Geya sedang bersama Ethan sekarang.
"Syukurlah jika Geya bersamamu. Paman dan bibi akan merasa sangat aman."
"Iya, paman. Kalau begitu aku tutup saja teleponnya, ya. Ini sudah hampir sampai ke rumah paman."
"Iya, Ethan, iya."
Sambungan telepon pun berakhir.
"Mama dan papa?" tanya Geya.
Ethan mengangguk membenarkan. "Iya, mereka mencemaskanmu. Katanya nomermu tidak aktif saat mereka coba telepon balik."
Geya sontak memeriksa ponselnya. Dan ternyata hp nya habis baterai. Beruntung ia sudah bersama Ethan sekarang. Andai ia lebih memperdulikan gengsinya, mungkin ia akan bermalam di jalanan sepi tadi dengan setitik harapan ada kendaraan lain lewat.
_Bersambung_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
irfah albeghyttu
belum mw mengakui geya,..kalo hanya ethan yg slalu afa untuknya..
2023-01-19
1
Eva Karmita
Geya coba kamu lihat bagaimana tulusnya Ethan membantumu jadi tolong jangan kau selalu cetus sama Ethan
2023-01-16
2
Defi
Karena sudah dibutakan kebencian jadi apa pun Ethan lakukan tetap aja kamu abaikan Geya..
2023-01-16
2