Di meja makan, Geya dengan sengaja memanasi Ethan dengan cara menyuapi Bara. Sementara mama Elin ikut senang, papa Adnan kurang suka dengan sikap putri dan pria itu.
Setelah selesai makan, Bara berpamitan untuk pulang usai mendapat telepon dari seseorang. Geya sempat menahan, akan tetapi pria itu tetap harus pulang sekarang juga.
"Memangnya siapa yang telepon?" tanya Geya penasaran.
"Om ku. Dia minta aku untuk datang ke sana."
"Ada urusan apa?" tanya Geya lagi.
"Aku juga tidak tahu. Aku pulang, ya. Next time aku main lagi ke sini atau nanti kita bisa ketemuan di luar."
Geya mengangguk. "Iya, hati-hati."
Bara mengusap rambutnya Geya sebelum kemudian pria itu pergi bersama mobilnya.
Geya melambaikan tangan seiring mobil Bara berlalu, ia juga berdiri di sana sampai mobil tersebut benar-benar hilang dari jangkauan matanya.
"Sikapnya mencurigakan," ucap seseorang yang baru saja datang.
Geya menoleh dan muncul Ethan, pria itu kini berdiri di samping dirinya.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" seru Geya tidak terima.
"Aku merasa ada yang dia sembunyikan darimu."
Geya memicingkan matanya. "Kau menguping pembicaraan kami?"
"Aku tidak sengaja mendengarnya."
"Itu sama saja dengan menguping. Kenapa sih harus ikut campur dengan hidup aku?"
"Karena jika kau butuh bantuan seseorang, maka aku juga yang repot. Benarkan?"
Geya berdecih. "Jadi selama ini kau tidak pernah tulus membantuku?"
"Itu hanya pikiranmu sendiri."
"Kau yang bilang merasa di repotkan barusan!"
"Memang kau merepotkan, tapi aku senang selalu menjadi orang kau butuhkan. Tapi jika untuk urusan pria itu, aku tidak ingin kau repotkan."
"Oh ya sudah, kalau begitu tidak usah repot-repot mencampuri urusan kami!"
Geya menghentakan kakinya lalu melipir masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal pada Ethan.
Setelah Geya pergi, Ethan melihat ke arah perginya mobil Bara. Entah kenapa, ia merasa ada yang di tutupi oleh pria itu. Sepertinya ia memang harus terus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, seperti yang di minta papanya Geya. Dan ia tidak akan membiarkan Geya sampai terluka.
"Than .. " panggil seseorang dan Ethan pun menoleh, ia mendapati mamanya Geya kini tengah berdiri di ambang pintu.
"Mau nginap atau pulang?" tanya wanita paruh baya itu kemudian.
"Aku-"
"Nginap saja, ya. Sudah lama juga bukan kau tidak nginap di sini?" pinta mama Elin.
"Tapi bibi-"
"Papanya Geya menunggumu di dalam, ayo masuk! Sepertinya dia butuh teman ngobrol."
Ethan pun mengangguk patuh. "Iya, bibi."
Ethan pun masuk dan menemui pria yang sudah membesarkannya selama ini di ruang keluarga.
"Than, nginap di sini kan?" tanya papa Adnan.
Ethan menoleh ke arah mama Elin, wanita itu memberi kode berupa anggukan agar Ethan mengiyakan pertanyaan suaminya.
"I-iya, paman."
"Baguslah kalau begitu. Ma, tolong buatkan kopi untuk papa dan Ethan, ya." pinta Adnan kemudian pada mama Elin.
"Iya, pa."
Mama Elin pun melipir pergi dari sana. Usai memastikan istrinya benar-benar pergi, papa Adnan segera membicarakan tentang Bara.
"Jadi apa yang kau dengar tadi dari Bara?"
Ethan menoleh ke arah perginya mama Elin, sepertinya sudah aman.
"Dia kelihatan terburu-buru usai menerima telepon dari seseorang, paman. Dia bilang pada Geya jika om nya yang menelepon dan meminta dia untuk segera datang ke tempat pamannya. Tapi aku merasa ada yang aneh, aku merasa dia menutupi sesuatu."
"Dia terlihat mencurigakan?"
Ethan mengangguk. "Iya, paman."
"Kalau begitu, terus selidiki siapa dia sebenarnya sebelum Geya memiliki perasaan terlalu jauh padanya."
"Baik, paman."
_Bersambung_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Eva Karmita
masih penasaran dengan Bara 🤔
2023-01-22
1
Defi
Benar loh Ge, disaat kamu butuh cuma Ethan selalu ada waktu untuk kamu 😂
2023-01-19
1