Kafe Lambada

Beruntung saat itu Geya sempat bertukar nomer telepon dengan Bara, jadi ia bisa komunikasi dan bisa bertemu lagi dengan pria itu. Dan begitu sampai di kafe Lambada, ternyata Bara sudah datang lebih dulu. Pria itu bangun dari duduk nya begitu melihat ia datang.

"Hei .. " sapa Geya dan mendapat seulas senyum dari pria itu. "Sudah lama?"

"Baru lima menit," jawab Bara.

"Maaf ya aku telat."

"It's okay, tidak apa-apa. Silahkan duduk!"

Bara tidak hanya mempersilahkan, pria itu menarik satu kursi untuk Geya.

"Terima kasih," ucap Geya kemudian.

"Iya, sama-sama."

Bara pun duduk kembali, mereka saling berhadapan.

"Ah ya, aku boleh tanya sesuatu?" pinta Bara penuh harap.

"Iya, boleh. Mau tanya apa?" jawab Geya antusias.

"Btw, pria yang paksa kau pulang malam itu, siapa?"

Geya sedikit terkesiap dengan pertanyaan Bara. Ia jadi bingung sekarang, apa ia harus jujur jika pria yang Bara maksud itu Ethan, yang ia ceritakan jika ia di minta untuk menikahi dia. Tapi itu akan jadi sebuah keuntungan juga baginya, siapa tahu dengan ia memberi tahu yang sebenarnya pada Bara, Bara akan membuat Ethan tidak bisa dekat-dekat dengannya lagi.

"Jadi itu dia orangnya, yang aku ceritakan padamu jika papa dan mama meminta untuk menikahi anak angkat mereka," jawab Geya kemudian setelah lama terdiam.

Bara menganguk-anggukan kepalanya paham.

Dari kejauhan, seorang pria bertopi dengan kaca mata hitam serba masker guna menutupi bagian wajahnya berusaha untuk menguping pembicaraan keduanya.

"Ternyata Geya menceritakan semua itu pada pria itu." batinnya.

Ia kembali fokus mendengarkan apa saja yang akan mereka bicarakan. Selama itu wajar, maka ia akan diam saja.

"Mm, kau sendiri kalau boleh tahu kenapa sering datang ke club?" tanya Geya.

Bara tampak tersenyum getir. "Maaf, Geya. Untuk itu aku tidak bisa ceritakan pada siapapun, termasuk dirimu."

"Owh, begitu. Iya, tidak apa-apa."

"Tapi jika kau ingin menceritakan apapun yang saat ini kau alami, aku siap mendengarkan."

"Mm .. Cerita apa lagi, ya? Sepertinya tidak ada. Hanya itu yang menjadi permasalahan hidup aku sekarang. Tapi sekarang sudah sedikit membaik. Entah karena apa, papa dan mama sudah menarik ucapannya dan tidak akan pernah memaksaku lagi untuk menuruti permintaan mereka."

"Baguslah jika begitu."

"Iya, mungkin karena aku satu-satunya putri mereka. Dan begitu melihat reaksiku sampai mabuk malam itu akibat tidak terima dengan keputusan mereka, mereka takut kehilangan aku. Tapi ya baguslah, justru itu yang aku mau. Lagipula aku bisa cari pasangan sendiri yang menurut aku terbaik."

"Memang nya sudah ada?" tanya Bara penasaran.

Geya menggeleng. "Belum, tapi bukan berarti aku harus dengan anak pungut itu juga."

"Hei, jangan sebut dia sebagai anak pungut. Itu tidak baik. Kau bisa sebut dia sebagai saudara angkat saja. Itu lebih enak di dengar," tegur Bara.

"Iya," jawab Geya menurut.

Entah kenapa ia merasakan nyaman dekat dengan Bara. Pria itu sangat baik dan bisa mengerti dirinya meski baru saja kenal. Ia jadi berharap bisa kenal lebih jauh lagi dengan pria itu.

Pria bertopi dengan kaca hitam serta masker terpasang di wajah yang mendengarkan pembicaraan keduanya kini memutuskan untuk pergi saja dari sana. Dari obrolan mereka ia merasa jika pria itu sama sekali tidak ada niat buruk sekalipun pada Geya. Dari ucapannya saja terdengar jika pria itu memang orang baik.

_Bersambung_

Terpopuler

Comments

irfah albeghyttu

irfah albeghyttu

jgn langsung buat kesimpulan donk eth....

2023-01-19

1

Defi

Defi

Bara bekerja di club tersebut tapi kenapa rahasia segala dari Geya.. semoga Bara benar2 baik tidak ada maksud apa2 terhadap Geya

2023-01-16

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!