Ethan menatap kedua orang yang ia panggil dengan sebutan paman dan bibi itu secara bergantian.
"Mm .. Tadi aku tidak sengaja dengar pembicaraan paman dan bibi dengan Geya."
Adnan dan Elin saling memandang untuk beberapa saat.
"Kenapa paman dan bibi meminta Geya untuk menikah dengan aku?"
Adnan dan Elin seketika bergeming. Mereka khawatir jika Ethan akan marah lantaran sudah lancang membuat keputusan tanpa meminta persetujuan Ethan sendiri.
Menggunakan bahasa matanya, Elin meminta suaminya yang harus menjelaskan pada Ethan.
"Ethan, jadi begini. Kau tahu kan jika Geya adalah anak kami satu-satunya. Dan tentunya kami ingin memberikan yang terbaik untuk Geya. Sekarang Geya sudah dewasa, kami tidak ingin jika anak satu-satunya kami sampai salah memilih pasangan. Oleh karena itu, kami putuskan bagaimana jika Geya menikah denganmu dan kau menikah dengan Geya?"
Ethan terdiam. Jujur, untuk itu dia sama sekali tidak keberatan. Sebab ia sudah sayang sekali terhadap wanita itu.
"Kami bisa berpikiran seperti itu karena kami merasa kau pantas, Ethan. Bibi merasa Geya aman jika bersamamu."
"Iya, Ethan. Kau sendiri bagaimana, apa kau mau menikah dengan Geya? Jika kau keberatan dan menganggap keputusan kami suatu kelancangan, maka kami akan batalkan semua ini."
Ethan masih diam. Ia masih mencoba untuk berpikir matang-matang.
"Bagaimana, Than?" tanya Elin mengharapkan jawaban sesuai keinginan.
Ethan pun mengangguk. "Aku sendiri tidak keberatan paman, bibi. Jika itu yang kalian inginkan, aku siap. Tapi semua kembali lagi pada Geya."
Adnan dan Elin menghela napas lega. Akhirnya Ethan setuju dengan keputusan mereka. Berharap nanti Geya pun bisa mengubah keputusan menjadi setuju.
"Iya, terima kasih, Than. Nanti bibi coba bujuk Geya, siapa tahu Geya juga setuju dengan hal ini."
"Tapi tidak dengan memaksanya paman, bibi. Aku tidak ingin Geya sampai tertekan akan hal ini."
"Baik. Tapi sebisa mungkin kami akan bujuk Geya."
"Iya."
Semburat kebahagiaan tampak jelas di wajah Adnan dan Elin.
***
Malamnya, Geya pergi ke sebuah club dimana orang menganggap tempat itu sebagai tempat melepas penat dan segala permasalahan.
Jujur, Geya sangat marah dengan keinginan kedua orang tuanya yang mengharapkan ia menikah dengan pria saudara angkatnya. Pria yang papa dan mamanya ambil dari panti asuhan yang tidak jelas asal-usul orang tuanya. Tentu saja ia tidak mau. Lagipula, selama pria itu menjadi saudara angkatnya, ia tidak pernah akur. Ia merasa kasih sayang mama dan papanya terbagi.
"Hai .. " sapa seseorang yang datang ke meja tempat dimana ia duduk.
Geya membalasnya dengan senyum kecil.
"Kau baru, ya?" tanya pria itu dan di angguki oleh Geya.
"Iya. Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Geya kemudian.
"Boleh aku ikut duduk?"
Geya mengangguk mempersilahkan pria asing itu duduk di sebelah nya.
"Aku sering datang kesini. Dan aku yakin kau pasti sedang mempunyai masalah."
"Memang ini tempat pelepas masalah kan?"
Pria itu menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
"Beberapa orang berpikir seperti itu, termasuk aku. Tapi sebagian orang lagi berpikir jika tempat ini sebagai hiburan."
Geya melihat ke sekeliling tempat itu. Memang beberapa pengunjung asik berjoged di bawah alunan musik dan lampu kerlap-kerlip khas disko.
"Ah ya, namamu siapa?" tanya pria itu kemudian.
"Geya."
Pria itu mengulurkan tangan nya.
"Aku Bara."
Geya menjabat tangan pria itu untuk cukup lama, sampai akhirnya Geya tersadar dan melepaskan tautan tangannya.
_Bersambung_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
irfah albeghyttu
masih menyimak y geya...
2023-01-19
1
Defi
ternyata Geya cemburu pada Ethan karena merasa kedua orang tuanya telah berbagi kasih sayang pada Ethan.. Jangan terlalu memandang rendah Ethan hanya karena dia dari panti asuhan
2023-01-15
2