Mogok

"Sepertinya Bara memang pria yang baik. Bibi dan paman tenang saja, aku akan tetap awasi pria itu." ucap Ethan pada seseorang yang ia telepon.

"Iya, bi. Pasti, pasti. Aku tidak akan membiarkan Geya di sakiti oleh siapapun."

Sambungan telepon pun berakhir, Ethan memasukan kembali ponselnya pada saku celana hitam yang saat ini ia pakai. Kedua bola matanya membulat sempurna begitu melihat Geya dan Bara keluar dari kafe tersebut, ia buru-buru masuk ke dalam mobilnya.

"Next time, kita ketemuan lagi, ya."

"Iya, Bara. Terima kasih atas waktunya hari ini," ucap Geya.

"Iya, aku yang seharusnya berterima kasih karena aku yang mengajakmu ketemu."

"Iya."

"Lain kali kau jangan bawa mobil, ya. Biar aku jemput saja ke rumahmu."

"Hm?" Geya terkejut senang.

"Kenapa?"

Geya dengan cepat menggeleng. "Tidak, tidak apa-apa."

"Ya sudah, kalau begitu hati-hati ya pulangnya."

"Iya, kau juga." Geya lekas masuk ke dalam mobilnya.

Bara melambaikan tangan seiring mobil Geya berlalu.

Setelah Geya pergi, Ethan tidak langsung pergi. Pria itu berniat untuk mengawasi Bara. Jika pria itu sedang sendiri, ia bisa tahu seperti apa sifat aslinya.

Ethan melihat pria itu tampak sedang menerima telepon dari seseorang sekarang. Entah kenapa, ia merasa jika Bara tidak sebaik yang ia lihat saat sedang bersama Geya.

"Aku harus selidiki dia. Aku tidak mau Geya sampai terluka hanya karena pria itu."

Ethan menghidupkan mesin mobilnya ketika Bara sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan mulai pergi meninggalkan parkiran kafe tersebut. Ethan mencoba untuk mengikuti mobil Bara dan berjarak agar pria itu sampai tidak curiga.

Di tempat lain, Geya tengah berbahagia lantaran baru saja bertemu dengan Bara. Perlakuan dan sikap pria itu yang membuatnya kini merasakan sesuatu yang berdesir di hatinya.

"Bara itu tipekal pria aku sekali. Aku selalu memimpikan pria seperti dia. Apa Bara memang di kirim Tuhan untuk aku?"

Geya bersorak dalam hati. Mungkin saat ini ia sudah mulai jatuh hati pada Bara.

"Aku harus bisa bersama dengan Bara, agar mama dan papa tidak akan pernah lagi memaksa aku untuk menikah dengan siapapun termasuk anak pungut itu."

Kalimat terakhir nya seketika mengingatkan dia pada Bara tadi.

"Ah iya aku lupa, aku tidak boleh mengatakan dia anak pungut. Terpaksa, demi Bara aku harus mengakui jika dia saudara angkat ku."

Sebenarnya Geya enggan menganggap Ethan adalah saudaranya. Tapi karena Bara, ia terpaksa harus menganggap pria itu sebagai saudaranya. Ternyata kehadiran Bara berpengaruh besar pada dirinya. Bara benar-benar membawa pengaruh positif.

Saat tengah asik memikirkan Bara, tiba-tiba saja mobil Geya mendadak berhenti di jalan yang cukup sepi. Wanita itu langsung berubah panik. Ia mencoba untuk menghidupkan mesin mobilnya, akan tetapi tidak bisa.

"Mobilku .. Ini kenapa tiba-tiba berhenti, ya? Masa iya sih habis bensin?"

Geya berusaha untuk menghidupkan ulang, namun hasilnya tetap sama.

"Aduh .. Bagaimana ini?"

Geya menoleh ke kanan kiri dan juga belakang. Jalanan cukup sepi dan tidak ada kendaraan lain yang lewat. Seperti nya jauh juga dari pemukiman warga, lantaran ia tidak melihat satupun rumah di sana. Kanan kiri hanya ada pepohonan rindang yang membuat ia tambah panik sekarang.

Geya segera mencari ponsel di tas yang ia letakan di jok sebelah. Setelah ketemu, ia mendial nomer Bara. Berharap pria itu bisa membantunya.

Panggilan pertama tidak mendapat jawaban, panggilan kedua pun sama.

"Bara, ayolah angkat teleponku." ucap Geya penuh harap.

_Bersambung_

Terpopuler

Comments

irfah albeghyttu

irfah albeghyttu

napa geya..???

2023-01-19

1

Defi

Defi

semoga Geya tidak kenapa2.. Ethan cepat datang tolong Geya

2023-01-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!