Geya segera mencari ponsel di tas yang ia letakan di jok sebelah. Setelah ketemu, ia mendial nomer Bara. Berharap pria itu bisa membantunya.
Panggilan pertama tidak mendapat jawaban, panggilan kedua pun sama.
"Bara, ayolah angkat teleponku." ucap Geya penuh harap.
Sudah panggilan ke empat, Bara tidak juga menjawab teleponnya.
"Mungkin dia sedang menyetir perjalanan pulang." Geya mencoba untuk tetap berpikir positif.
"Aku coba telepon mama saja, deh. Pasti mama akan jawab teleponnya."
Geya menempelkan benda pipih tersebut ke daun telinga usai mendial nomer sang mama di layar hp. Namun naasnya, nomer mamanya tidak bisa di hubungi. Tidak biasanya nomer mamanya tidak aktif.
"Aku coba telepon papa. Please, semoga kali ini nyambung."
Geya kembali menempelkan benda pipih tersebut ke telinga, nomernya aktif.
"Ayo angkat, pa. Please .. "
Panggilan teleponnya tidak di jawab. Tapi Geya tidak berhenti sampai di sana, ia mencoba untuk mengulangi sampai beberapa kali.
"Aarrghh .." teriak wanita itu lantaran tidak ada satupun orang yang bisa ia hubungi dalam keadaan seperti ini.
"Kenapa semua orang tidak bisa di hubungi, sih? Please, aku sedang butuh bantuan kalian. Mama, papa juga, kenapa tidak bisa aku hubungi di saat keadaan darurat seperti ini? Apa gunanya HP kalian?"
Geya mengacak rambutnya frustasi. Hari sudah sore dan ia tidak mungkin terjebak di jalanan sepi tersebut sampai malam.
Geya terdiam sejenak. Ia tahu harus menghubungi siapa sekarang.
"Ethan." ucapnya.
"Iya, mau tidak mau aku harus minta bantuan dia. Siapa tahu dia bisa bantu aku."
Geya mencoba untuk menghubungi nomer Ethan, akan tetapi urung ketika tertutup gengsi.
"Tidak, tidak. Aku tidak mau minta bantuan pada dia. Nanti dia semakin merasa di butuhkan."
Geya berusaha menahan diri untuk tidak meminta bantuan pada Ethan. Tapi ia bingung harus minta bantuan siapa lagi.
"Tapi aku tidak mau terjebak di sini sampai nanti malam. Aku terpaksa minta bantuan dia saja deh."
Geya coba untuk menurunkan gengsinya dan mendial nomer Ethan di layar ponselnya. Perlahan ia tempelkan benda pipih itu ke daun telinga.
"Ini kan jalan menuju hotel Primdone. Mau apa Bara ke hotel?" pikir Ethan begitu mengikuti mobil Bara.
Perasaannya sudah tidak enak, ia harus tahu apa tujuan pria itu datang ke hotel.
Ethan menghentikan mobilnya dari kejauhan saat mobil Bara memasuki lingkungan hotel tersebut.
"Aku ikuti sampai ke sana tidak ya? Tapi aku harus tahu apa yang dia lakukan di sana."
Ethan memutuskan untuk mengikuti Bara sampai dalam. Baru mau melanjutkan kemudinya, perhatiannya teralih begitu ponselnya berdering. Dan begitu di lihat ternyata yang menelepon itu Geya.
"Geya? Tumben dia telepon, ada apa ya?"
Tanpa pikir panjang lagi Ethan segera menggeser ikon hijau dan menempelkan hp nya di daun telinga.
"Halo, Geya. Ada apa?"
"Kau dimana?" seru wanita itu.
"Aku di .. " Ethan hampir saja keceplosan, beruntung ia bisa menahan bicaranya.
"Dimana?"
"Ada apa memangnya?" Ethan balik bertanya.
"Aku butuh bantuanmu. Mobilku mogok, kau bisa datang ke sini."
"Mogok? Dimana?" tanya Ethan cemas.
"Bisa tidak?"
"Iya, aku akan segera ke sana. Share lokasinya sekarang, ya."
"Ok."
Geya mematikan sambungan teleponnya.
Lantaran ia harus segera pergi ke tempat dimana mobil Geya mogok, ia tidak bisa mengikuti Bara sampai ke hotel tersebut. Ethan memutar balik mobilnya dan bergegas pergi menuju lokasi yang baru saja di kirim oleh Geya.
_Bersambung_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
irfah albeghyttu
aduhhh.
bara lolos deh dr radar ethan..
2023-01-19
1
Eva Karmita
Geya" orang yang kamu benci ternyata selalu ada untuk mu 😏😤
2023-01-16
2
Defi
Tuh kan Geya, Ethan juga yang ada buat kamu.. Bara yang kamu harapkan malah ga angkat telfon dari kamu
2023-01-16
2