Sudah larut malam, akan tetapi Geya belum juga pulang. Entah kemana perginya wanita itu, yang pasti kedua orang tuanya kini mencemaskan dirinya.
"Pa, sebaiknya kita telepon Ethan saja. Kita minta bantuan Ethan buat cari Geya," usul Elin.
"Iya, ma."
Adnan mengambil ponsel miliknya di kamar, setelah itu kembali ke ruang tamu dimana istrinya berada. Ia mendial nomer Ethan di sana dan menempelkan benda pipih tersebut ke daun telinga.
Tidak berapa lama, sambungan telepon pun terhubung.
"Halo, Than."
"Iya, paman. Ada apa?"
"Than, tolong carikan Geya sekarang. Geya pergi sejak tadi sore dan sekarang belum juga pulang."
Di sebrang telepon Ethan ikut cemas.
"Memangnya Geya tidak bilang mau kemana sebelumnya, paman? Sudah coba di telepon?"
"Itu dia, Than. Sepertinya Geya pergi karena dia marah soal permintaan paman tentang pernikahan kalian."
"Ah ya sudah kalau begitu aku bantu cari Geya ya, paman. Paman dan bibi tidak usah khawatir, aku pasti akan bawa Geya pulang."
"Iya, Than. Terima kasih, ya."
"Sama-sama, paman."
Sambungan telepon pun berakhir.
"Geya .. Geya! Kau pergi kemana, sih?" ucap Ethan di sertai dengan hembusan napas.
Pria itu bergegas turun dari ranjang tempat tidurnya, mengambil switer, lalu beranjak pergi guna mencari wanita itu.
"Bagaimana, pa? Ethan mau kan bantu carikan Geya?" seru Elin yang di selimuti perasaan cemas.
"Iya, ma. Ethan akan cari Geya. Semoga saja Ethan bisa membawa Geya pulang."
"Iya, pa. Semoga Geya baik-baik saja di luaran sana. Mama khawatir sekali."
Adnan mencoba untuk menenangkan sangat istri, meski ia juga sejujurnya sangat khawatir.
Di tempat lain, seorang pria tengah memboyong wanita yang tampak mabuk parah. Pria itu khawatir jika wanita itu kenapa-kenapa.
"Geya, aku antar kau pulang, ya?" tawar pria itu.
"Tidak usah, Bara. Terima kasih. Aku bisa pulang sendiri," tolak wanita itu.
"Kau terlalu banyak minum tadi, kau mabuk parah Geya. Aku khawatir akan terjadi sesuatu buruk jika kau menyetir sendiri."
"Tidak usah perdulikan aku, Bara. Aku bisa sendiri, kau tenang saja, ya. Aku bisa pulang sendiri. Okay?" ujar Geya dengan nada bicara layaknya orang mabuk.
Bara menghela napas. Geya kukuh ingin pulang sendiri. Padahal ia sangat khawatir dengan wanita itu.
"Ya sudah, hati-hati, ya."
"Ok. Terima kasih sudah temani aku dan dengar semua curhatan aku. See you."
"See you too."
Geya melambaikan tangannya dan berjalan menuju mobilnya. Melihat Geya yang jalan sempoyongan saja membuat Bara tidak yakin jika wanita itu bisa pulang sendiri.
Sedetik kemudian Geya nyaris terjatuh lantaran kehilangan keseimbangan tubuh.
"Geya!" seru Bara dan segera menangkap tubuh wanita itu.
"Aku sudah bilang kau sedang mabuk parah, Geya. Sekarang aku antar kau pulang, ya."
Geya malah tertawa tidak jelas. Maklum dia sedang dalam keadaan mabuk.
"Bara, tidak perlu, ya. Aku bisa pulang sendiri. Aku baik-baik saja." Geya tetap saja keras kepala.
"Gey-"
"Sshhtt .. " Geya menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Bara. "I'm okay. Aku bisa pulang sendiri." ucapnya.
Dari kejauhan, Ethan melihat sosok wanita yang saat ini sedang ia cari tengah berduaan dengan seorang pria di depan club. Mereka tampak sedang berpelukan.
"Geya?" Ethan memastikan jika apa yang saat ini ia lihat itu benar atau tidak, dan ternyata setelah jaraknya cukup dekat, itu beneran wanita yang saat ini sedang ia cari.
"Geya? Kenapa dia bisa ada di tempat seperti ini? Siapa pria yang sedang bersamanya?"
Ethan melihat jika Geya sepertinya sedang mabuk. Tidak ingin sesuatu buruk terjadi pada wanita itu, ia bergegas turun dari mobil.
"Geyaaa !!" penggilnya setengah berteriak.
Pemilik nama dan satu orang lainnya itu menoleh. Ethan bergegas menghampiri kedua orang tersebut.
_Bersambung_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
irfah albeghyttu
aduhhh....cewek kok suka mabuk
2023-01-19
1
Defi
Ethan syukurlah kamu datang tepat waktu
2023-01-15
2