"Aku... Aku hanya lewat saja! Ya aku hanya berniat untuk melewati sekolahmu saja, tidak ada alasan khusus, aku tidak berniat untuk menjemputmu atau semacamnya! Aku tidak berbohong kok!" Ucap Daffa yang mencoba berbohong dengan sekuat tenaga.
"... Kamu pembohong yang sangat payah tahu..." Ucap Rissa sambil tersenyum tipis, Daffa yang mendengarnya hanya dapat berkeringat deras.
"Terimakasih... Terimakasih karena sudah mau datang, terimakasih karena berniat untuk menjemputku, terimakasih karena sudah mengantarku pulang." Ucap Rissa yang menundukkan kepalanya dan mengucapkan terimakasih berulang kali.
"Sama-sama..." Ucap Daffa yang tersenyum mendengar ucapan Rissa.
...
...
...
Daffa akhirnya sampai di rumah Rissa, sesampainya di rumah, Rissa segera turun dari motor Daffa, dirinya kemudian menatap ke arah Daffa.
"Terimakasih karena sudah menjemput dan mengantarku pulang, jaketmu akan kukembalikan setelah kucuci." Ucap Rissa sambil menatap Daffa.
"Tidak perlu, kamu dapat mengembalikannya sesuka hatimu, cepatlah masuk nanti kamu masuk angin!" Ucap Daffa yang menyuruh Rissa buru-buru masuk ke dalam rumah.
"Em... Hati-hati di jalan." Ucap Rissa yang melambai-lambaikan tangan kanannya.
Daffa kemudian pergi dari sana, dirinya pergi kembali ke tempat dirinya sebelumnya meninggalkan Bu Yunita.
"Bu!" Ucap Daffa yang memanggil Bu Yunita yang baru saja keluar dari sebuah gedung.
"Kau sudah menjemput Rissa?" Ucap Bu Yunita yang menatap ke arah Daffa.
"Ya, apakah Ibu mau pulang, ayo kuantar saja!" Ucap Daffa yang mengajak Bu Yunita untuk pulang dengannya saja.
"Baik, tolong antar Ibu sampai rumah." Ucap Bu Yunita yang kemudian naik ke motor Daffa.
"Bagaimana Bu? Apakah baik-baik saja?" Ucap Daffa yang bertanya dengan rasa ingin tahu.
"Ya, baik-baik saja, kenapa kau ingin tahu?" Ucap Bu Yunita yang bertanya dengan heran, biasanya Daffa akan bertindak acuh kepada semua hal, jika itu tidak berhubungan dengan hal-hal berbau kartun Jepang atau yang biasanya disebut Anime.
"Tidak, hehe... Hanya ingin tahu saja." Ucap Daffa sambil tertawa kecil.
"Huuff... Daffa... Menurutmu apakah ini semua akan baik-baik saja?" Ucap Bu Yunita yang menghela nafas lelah, sambil memeluk erat Daffa, dengan kedua tangan Bu Yunita melingkari perut Daffa.
"Tentu saja ini bukan hal yang baik, lagian kenapa tidak beritahu saja?" Ucap Daffa dengan nada heran.
"Ibu takut... Jika hal itu benar, apakah hubungan Ibu dan suami Ibu dapat bertahan." Ucap Bu Yunita sambil menaruh wajahnya di punggung Daffa.
"Jika Ibu tidak mau tinggal bersama suami Ibu, Bu Yunita dapat tinggal bersamaku di rumahku, lagipula rumahku tidak ada siapapun." Ucap Daffa yang memberikan saran.
"Tidak, hal itu pasti membuat orang-orang berburuk sangka nanti terhadap hubungan kita, lagipula bukankah kau sudah punya pacar?" Ucap Bu Yunita sambil tersenyum tipis.
"Uhm... Itu benar..." Gumam Daffa yang kemudian mengingat Rissa.
Daffa kemudian akhirnya membawa Bu Yunita sampai ke rumahnya, tepat ketika itu dua orang keluar dari dalam mobil.
"Yunita?" Ucap seorang perempuan yang keluar dari dalam mobil hitam.
"Ah! Raisa apakah kau baru saja pulang?" Ucap Bu Yunita yang menatap ke arah perempuan tersebut yang bernama Raisa.
"Siapa ini?" Ucap Raisa yang melihat bahwa Bu Yunita tidak diantar oleh suaminya.
"Ouh, Raisa, Rino, perkenalkan ini Daffa Abiyyu anak didikku di Sekolah Pena Merah, dan Daffa perkenalkan perempuan dan pria ini tetangga Ibu, yang perempuan bernama Raisa Ririana dan yang pria bernama Rino Raka, mereka suami istri yang tinggal tepat di sana." Ucap Bu Yunita yang menunjuk ke rumah Rissa, melihat itu seketika Daffa menjadi kaku, dirinya tidak menyangka akan bertemu dengan kedua orangtua Rissa dengan begitu cepat.
"Ouh... Tunggu! Bukankah kau penulis sekaligus komikus, dengan nama samaran Pena Langit?" Ucap Raisa yang seketika membuat Daffa menjadi sangat terkejut, tapi setelah dirinya memperhatikan Raisa dengan seksama, dirinya menjadi lebih terkejut.
"Senang bertemu dengan anda Bu Pemimpin!" Ucap Daffa yang menundukkan kepalanya, akhirnya dirinya sadar bahwa perempuan yang dihadapannya adalah pemilik perusahaan, dari tempat Novel dan Komiknya diterbitkan.
"Hem... Aku tidak menyangka anak didikmu seseorang yang sangat terkenal, kau seharusnya mengatakan hal itu." Ucap Raisa yang tersenyum kepada Bu Yunita.
"Papa, Mama kalian sudah pulang?" Rissa tiba-tiba saja membuka pintu pagar rumah, dan menemukan bahwa di sana terdapat Papa, Mamanya, serta Bu Yunita dan... Daffa.
"Sayang kau sudah pulang?" Ucap Rino yang melihat ke putrinya.
"Iya, tadi aku... Menggunakan motor makanya pulang cepat..." Ucap Rissa yang melirik ke arah Daffa, di mana Daffa terlihat berkeringat deras.
"Apakah kau diantar oleh Brian?" Ucap Rino dengan nada tidak senang.
"Tidak, aku putus dengannya semalam." Ucap Rissa yang seketika mengejutkan Rino dan Raisa.
"Itu bagus..." Ucap Rino dengan menghela nafas lega.
"Kalau begitu mengapa kau tidak berpacaran saja dengan pria ini sayang, namanya Daffa Abiyyu dia penulis sekaligus komikus dari Novel dan Komik terkenal, yang terbit di perusahaan Mama!" Ucap Raisa yang memperkenalkan Daffa, hal itu seketika membuat Rissa ternganga.
"Uhuk! Uhuk!" Sedangkan Daffa terbatuk-batuk, sementara itu Bu Yunita hanya tersenyum melihat tingkah laku Rissa dan Daffa.
"Apa yang Mama katakan, bukankah Mama tidak ingin aku berpacaran?" Ucap Rissa yang mencoba terlihat tenang.
"Kalau dengan Daffa Mama tidak masalah, bagaimana denganmu sayang?" Ucap Raisa yang melirik suaminya.
"Aku juga tidak masalah, karena aku tahu dia anak yang baik." Ucap Rino yang seketika membuat Rissa dan Raisa tercengang mendengarnya, mereka berdua sangat mengetahui tentang Rino, oleh karena itu ketika Rino mengatakan bahwa dirinya setuju maka akan selamanya setuju.
"Haha maaf mengganggu, saya harus segera pulang, sudah terlalu sore, Bu Yunita, Bu Pemimpin, dan Dokter Rino selamat tinggal!" Ucap Daffa yang buru-buru pergi dari sana, karena dirinya takut hubungannya dengan Rissa diketahui oleh kedua orangtuanya.
"Dokter?" Ucap Rissa dengan wajah bingung.
"Anak itu pernah Papa temui, sebelumnya dia telah beberapa kali membantu membawa orang-orang yang mengalami kecelakaan lalulintas, dirinya juga sering datang ke rumah sakit, hanya untuk menemani anak-anak yang sakit, karena hal itu para Perawat di Rumah Sakit sangat terbantu." Ucap Rino yang seketika membuat Rissa, Raisa, serta Bu Yunita menjadi sangat terkejut.
"Apa alasannya membantu mereka?" Ucap Rissa dengan rasa ingin yang sangat besar, sekarang semakin dirinya berpikir bahwa dirinya mengenal Daffa, semakin dirinya merasa Daffa semakin menjadi lebih misterius.
"Ketika aku bertanya alasan mengapa dirinya membantu orang-orang itu, dirinya mengatakan bahwa 'tidak membutuhkan sebuah alasan, untuk membantu orang lain yang sedang membutuhkan'!" Ucap Rino yang membuat mata Rissa melebar, seketika dirinya mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Daffa, di mana Daffa terlihat mencoba untuk membantunya, meski mereka tidak saling kenal sama sekali.
Jadi karena alasan itulah mengapa, Daffa mencoba untuk membantunya, Rissa sempat berpikir mungkin karena kecantikannya membuat Daffa akhirnya memutuskan untuk membantunya, tapi sepertinya hal itu tidaklah benar.
"Kalian dapat terus berbicara, aku akan masuk ke dalam lebih dulu." Ucap Bu Yunita yang akhirnya masuk ke dalam rumahnya, sementara mereka bertiga saling berbicara, Bu Yunita memikirkan kembali saat pertemuan pertamanya dengan Daffa.
"Aku ingin membantu Ibu Guru Cantik! Karena tidak membutuhkan sebuah alasan, untuk membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuan!"
"Kau benar-benar tidak berubah sama sekali Daffa..." Gumam Bu Yunita sambil menatap ke kaki kanannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments