Keesokan harinya....
Sinar mentari pagi dengan malu-malu nya melewati celah jendela kamar mewah yang terletak di lantai dua. Kamar mewah tersebut diyakini kamar pasangan pengantin baru.
Karena dilihat dari suasana kamar tersebut sudah dihias ala-ala kamar pengantin sedemikian rupa dengan kelopak bunga mawar masih bertebaran di atas ranjang dan dibawah lantai. Dan sang pemilik kamar tersebut tidak mempedulikannya yang masih terlelap di atas ranjang empuknya.
Sementara sosok gadis berhijab tampak segar dengan pakaian syar'i nya mengawali pagi ini. Gadis itu mulai melangkah pelan keluar dari ruang ganti yang sempat di tempati tidur semalam.
Ya dia hanya bisa tidur di ruang ganti, beralaskan selimut dan satu bantal. Sang pemilik kamar begitu tidak sudi melihatnya, apalagi harus seranjang bersama dengannya.
Dan gadis yang disapa Mai itu begitu bersabar menghadapinya dan tak masalah jika harus tidur di lantai atau dimanapun yang jelas dia bisa membaringkan tubuhnya lalu tidur. Mai sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti yang tak diinginkan dalam pernikahan tersebut.
Tlittt... tlittt....
Mai terhentak kaget menggenggam ponselnya dan lebih terkejutnya lagi mendengar ponselnya berbunyi riang digenggamnya. Hal yang ia takutkan membangunkan tuan mudanya.
Mai segera melihat ponselnya dan tertera nama orang yang sangat dirindukannya di layar ponselnya, seketika raut wajahnya berubah ceria.
"Ponsel siapa itu, cepat matikan! beraninya mengganggu tidurku." ketus pria yang masih meringkuk di atas ranjangnya.
Mai terkejut dan lekas berlari masuk ke ruang ganti untuk menjawab panggilan masuk dari ibunya sebelum sang tuan muda murka kepadanya.
"Halo, assalamualaikum ibu." ucap Mai tersenyum dengan mata berkaca-kaca saking senangnya bersandar di lemari pakaian.
"Waalaikumsalam. Bagaimana kabarmu disana nak? Mai, ibu sampai tidak bisa mengenali mu di foto...kamu sangat cantik nak, ibu bahagia sekali melihatmu menikah. Ibu doakan, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah, aamiin" ucap ibunya di ujung telepon.
"Aamiin, terima kasih doanya ibu. Mai sangat merindukan ibu." ucap Mai tersenyum bahkan sudut matanya berair yang begitu terharu mendengar suara ibunya.
Semalam dia tak jadi menghubungi ibunya, mengingat sudah larut malam karena takutnya menggangu tidur ibunya. Namun Mai tetap mengirimkan pesan kepada ibunya untuk menanyakan perihal kondisinya. Walaupun tubuhnya berada di negeri orang tapi pikirannya selalu tertuju kepada ibunya.
"Ibu juga sangat merindukanmu nak, sekali-kali datanglah berkunjung menemui ibu bersama suamimu." ucap ibunya terisak di ujung telepon.
Dada Mai begitu sesak mendengar isak tangis ibunya. Seumur-umur baru kali ini dia berpisah jauh dengan ibunya.
"Iya ibu, kapan-kapan Mai akan mengunjungi ibu. Semoga ibu sehat-sehat disana dan cepat sembuh." ucap Mai sambil mengusap air matanya.
"Jangan khawatirkan ibu, jaga dirimu baik-baik disana. Ingat pesan ibu nak, kamu harus berbakti kepada suamimu, turuti segala ucapannya...dan jangan sekali-kali membantahnya, karena sekarang suamimu yang bertanggung jawab atas dirimu," ucap ibunya menasihatinya.
"Insyaallah Ibu, Mai pasti akan selalu mengingat pesan ibu." balas Mai tersenyum. Dan terkejut mendengar suara teriakan seseorang dari luar.
"Ibu, sudah dulu ya, nanti Mai hubungi ibu kembali, assalamualaikum." Mai tampak khawatir dan buru-buru ingin mengakhiri panggilan teleponnya. Sang ibu membalas salamnya dengan cepat dan panggilan mereka pun berakhir.
Brukk...
"Apa yang sedang kamu lakukan disini, mengapa tidak menyiapkan air untukku!" ucap pria yang masih bermuka bantal menatap tajam ke arah Mai.
"Maaf tuan, saya pikir anda belum bangun. Kalau begitu saya akan menyiapkan air untuk anda." balas Mai menunduk sambil menyembunyikan ponselnya.
"Tak perlu, aku bisa sendiri." ketus Morgan sambil berdengus kesal lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Mai menghela nafas sambil memegangi jantungnya yang hampir copot dan begitu takut jika berhadapan langsung dengan tuan mudanya--suaminya.
Kini Morgan terlihat rapi dengan kemeja hitam dan celana panjang hitam yang tengah duduk bersantai di sofa sambil memainkan ponselnya. Sedang Mai hanya mampu berdiri di dekat jendela kamar dengan pandangan selalu saja tertunduk.
"Jangan sekali-kali keluar dari kamar ini, sebelum aku memerintahkan mu." ucap Morgan dingin dan dengan santainya memainkan ponselnya.
"Baik tuan." ucap Mai mengangguk.
"Hemm." Morgan meliriknya sekilas sambil menopang dagu mencari cara untuk mengerjai pelayan rendahan itu.
"Aku tidak ingin lagi mempercayai yang namanya wanita, semuanya sama saja." gumam Morgan menatap sinis Mai.
Aku harus mengerjai pelayan bodoh itu dan membuatnya menyesal seumur hidupnya hingga tak ingin lagi menunjukkan wajahnya di hadapanku. Tapi, bagaimana caranya? pelayan bodoh itu sudah menjadi kesayangan Mama. Tidak mungkin juga jika dia tak melapor segala sesuatunya kepada Mama. Batin Morgan.
"Bagaimana jika aku membawanya tinggal bersama di apartemen, biar tak ada yang tau tentang rencanaku. Morgan...Morgan ide mu memang hebat." gumamnya menyeringai licik diwajahnya.
"Hei kamu, aku ingin membuat kesepakatan bersama diantara kita." ucap Morgan memutar bola matanya malas menatap kearah Mai dengan gaya angkuhnya yang sedang duduk di sofa.
Mai dengan bodohnya menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, kemarilah dan duduk di situ." ucapnya menunjuk sofa singel di sampingnya lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
Mai mengangguk dan lekas duduk di sofa sesuai yang diperintahkan nya.
"Aku tidak suka berbasa-basi, kesepakatan kita hanya satu jangan mencampuri urusan pribadi masing-masing. Kamu harus pandai-pandai menempatkan posisi mu, ketika didepan keluargaku kamu harus berperan sebagai seorang istri, namun dibelakang itu kamu harus melayani majikanmu ini dengan baik." peringat Morgan dengan sorot mata tajam, seolah dirinya lah yang berkuasa atas hidup Mai.
"Baik tuan, saya akan melakukan sesuai perintah anda." ucap Mai mengangguk tanpa membantah sekalipun. Dia tak punya pilihan selain mengikuti segala perintah suaminya.
"Bagus, jadilah gadis penurut jika kamu masih ingin menghirup udara segar." sinisnya sambil mengusap rambutnya ke belakang.
"Tolong tegur saya jika kedepannya saya membuat kesalahan tuan." ucap Mai merendah diri.
"Pasti, bahkan aku tidak segan-segan untuk menghukum mu." ancam Morgan tersenyum sinis.
Mai membulatkan matanya mendengar ucapan Morgan, wajahnya berubah pias dan nyalinya seketika menciut mendengar kata menghukum. Apakah ia akan dipukuli sampai babak belur jika membuat kesalahan? Mai menelan ludahnya dengan kasar, dia sungguh takut hanya memikirkan ucapan Morgan.
Ya Allah, tolong lindungi hambamu ini, jauhkan hamba dari segala marabahaya, dan kuatkan hati hamba dalam menjalani kehidupan yang penuh lika-liku ini. Batin Mai.
"Ayo, semua orang sudah menunggu kita, ingat jaga sikapmu." peringat Morgan tak main-main dan Mai menanggapinya dengan anggukan kepala.
Mereka keluar dari kamar tersebut dan berjalan menuruni anak tangga. Mai mengikuti langkah kaki Morgan dengan baik hingga tiba di ruang makan.
"Akhirnya kalian turun juga, dari tadi mama menunggu kalian untuk sarapan bersama. Silahkan duduk" ucap Nyonya Milan tersenyum melihat kedatangan mereka dan mempersilahkan mereka duduk.
Sementara anggota keluarga lainnya sudah menempati kursinya masing-masing dan sedang menikmati sarapannya. Si kembar tersenyum melihat kakak baiknya juga berada di ruang makan.
Morgan kemudian menarik kursi lalu duduk, sementara Mai masih berdiri tidak jauh darinya. Sadar akan ulahnya mengacuhkan Mai, kembali Morgan berdiri lalu menarik kursi untuk diduduki oleh Mai.
"Duduk!" bisik Morgan kepadanya, Mai menarik senyuman lalu duduk di kursi. Tak lupa Mai mengucapkan terima kasih kepada Morgan.
Pandai juga dia menempatkan posisinya di depan keluargaku. Batin Morgan sambil memutar bola matanya jengah, hingga tangannya terulur menggenggam tangan Mai guna mengikuti sandiwara Mai.
Mai begitu gugup plus malu, tangannya menjadi gemetaran digenggam oleh Morgan. Sementara Morgan tampak biasa-biasa saja.
Nyonya Milan dan Tuan Fino tersenyum melihat anak dan menantunya terlihat akur. Maklum pengantin baru dan sudah pasti mereka menghabiskan waktu sepanjang malam, pikirnya. Namun nyatanya semuanya tidaklah benar.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
tzyii
sangat suka
2024-05-10
0
Rodo 2710
lanjut kak
2023-09-19
0
Rico Andika Putra
silahkan kmu menghina,mencaci,merendahkan Mai suatu hari kau kan menyesal Morgan krn ketulusannya,Mai yg sabar ya menghadapi suami aroganmu....
2023-01-22
0