Riana yang sangat kesal kepada Kamal yang menjadikannya sebagai tempat pelampiasan kemarahannya karena mendapatkan sedikit balasan atas perbuatannya yang selingkuh pun memutuskan untuk jalan-jalan.
"Hah! Daripada aku kesal sendirian lebih baik aku keluar untuk mendapatkan udara yang segar sambil memakan makanan yang lezat!" ucap Riana dengan senyum yang lebar sambil bergerak cepat merapikan meja kerjanya.
Namun saat Riana ingin keluar tiba-tiba mendapatkan telepon dari Putra dengan cepat mengangkat telepon tersebut.
"Hai, sedang apa Riana?" tanya Putra yang langsung bertanya secara terbuka kepada Riana yang padahal belum lama mengingatnya.
"Aku sedang dalam perjalanan keluar untuk makan siang." jawab Riana dengan suara yang datar dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Hmmm, apakah berencana pergi makan siang dengan teman-temanmu atau dengan suamu, Riana?" tanya Putra lagi dengan pertanyaan yang terdengar sangat hati-hati untuk diucapkan.
Riana yang mendengar yang dikatakan Putra pun berhenti merapikan barang lalu memfokuskan pendengarannya pada jawaban Putra atas pertanyaannya selanjutnya.
"Agh, ada apa Put? Apakah ada yang ingin kau katakan? Kau bisa mengatakannya sekarang." ucap Riana dengan perasaan yang tidak enak terutama setelah selintas pikiran tentang perselingkuhan Kamal dengan Yonna.
"Hmmm, aku memang punya sesuatu yang ingin dikatakan danal ditanyakan tapi saya rasa hal ini sulit untuk dikatakan saat ditelepon. Bisakah kita bertemu sebentar saja, Riana?" tanya Putra dengan ekspresi wajah yang penuh harap.
"Sepertinya ini adalah hal yang sangat penting jadi baiklah. Aku berencana makan di Restoran Sari Indah jadi kau bisa datang kesana untuk menemuiku dan aku tidak akan lama jadi segeralah pergi." ucap Riana dengan singkat lalu mematikan telepon.
Riana yang menatap lurus ke depan pun menjadi sangat takut dan cemas saat memikirkan ada orang lain yang tau tentang perselingkuhan Kamal.
Riana yang bergerak cepat menuju ke Restoran tersebut ternyata kehilangan selera makannya sehingga hanya memesan minuman dan juga salah sayuran.
"Hah! Sepertinya aku tidak punya nafsu makan hingga Putra datang dan mengatakan yang ingin dikatakannya!" gumam Riana dengan suara yang rendah sambil melihat ke arah jalanan yang penuh dengan mobil yang lewat.
Tak lama kemudian, Putra pun datang bersama Aris yang merupakan siswanya yang telah tamat dan bekerja sebagai Polisi.
"Apakah kau sudah lama datang? Maaf, kami datang terlambat." ucap Putra dengan senyum yang lebar.
Riana yang melihatnya pun tersenyum lebar dan mempersilahkan keduanya untuk duduk di kursi kosong yang ada di depannya.
Putra dan Aris yang baru sampai pun dengan cepat memanggil pelayan lalu memesan makanan untuk dirinya mereka sendiri.
Tak lama setelah pelayan pergi, Riana yang sudah tidak nafsu makan pun meletakkan sendok dan garpunya lalu meminum air dan menatap lurus ke depan ke arah Putra.
"Bisa kau katakan apa yang ingin kau katakan? Aku sungguh tidak punya kesabaran yang banyak untuk menunggu hingga kalian selesai makan siang!" ucap Riana secara langsung dengan tatapan mata yang tajam.
"Hmmm, baiklah. Sepertinya kau sungguh tidak bisa menunggu jadi aku akan mengatakannya." ucap Putra yang telah menyerah sambil menarik nafas panjang.
Putra yang tidak bisa mengatakan apapun secara langsung pun menunjukkan beberapa foto tentang Kamal dan Yonna yang sedang bermesraan.
Riana yang sudah menduga hal itu pun masih tidak bisa mempercayainya dan mengatakan yang sebenarnya sebelum Putra dan Aris mengatakan sesuatu.
"Aku sudah mengetahui tentang perselingkuhan keduanya sejak dan saat ini aku sedang mengumpulkan beberapa aset untuk masa depanku dan anak-ankku!" jawab Riana dengan suara yang terdengar tegar dengan tatapan mata yang sedih melihat foto perselingkuhan suaminya.
Putra dan Aris yang mendengar perkataan Riana pun saling berpandangan dan tersenyum mendengar perkataan Riana.
"Aku senang jika Ibu sudah mengetahuinya dan telah mempersiapkan diri." ucap Aris dengan senyum yang lega.
"Aku awalnya merasa bingung harus bagaimana caranya aku mengatakan masalah ini tapi setelah mendengar perkataanmu aku merasa sedikit lega!" ucap Putra dengan senyum yang lembut.
"Riana, maafkan aku yang ikut campur tapi apa rencanamu selanjutnya? Aku dan Aris bersedia membantumu!" ucap Putra dengan suara yang terdengar sangat tulus.
Riana yang mendengar perkataan Putra pun menatapnya dengan tatapan bingung tapi meskipun begitu ada perasaan bahagia yang dirasakannya setelah mendengar perkataan Putra.
"Kenapa? Kenapa kau ingin menolongku?" tanya Riana secara spontan dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Agh, maaf. Aku tidak seharusnya bertanya seperti itu. Aku seharusnya mengucapkan terima kasih karena kau telah mau menolongku! Maaf!" ucap Riana yang telah menyadari kesalahannya yang tidak seharusnya mempertanyakan kebaikan orang lain.
Putra yang mendengar perkataan Riana pun menundukkan kepalanya lalu mengangkatnya dan mengatakan yang ada di hati dan pikirannya.
"Aku tau ini salah tapi sebenarnya aku memiliki rasa padamu bahkan rasa itu telah ada sejak pertama kita bertemu di kampus dulu dan rasa itu tidak pernah pudar hingga sekarang!" jawab Putra dengan senyum miris.
"Aku tau ini salah karena kau telah menikah dan memiliki anak karenanya aku menyimpan semuanya dan memutuskan menjadi temanmu tapi saat aku mengetahui perselingkuhan suamimu aku marah." ucap Putra sambil menggenggam tangannya dengan erat.
"Aku tidak terima kau dihianati seperti itu. Aku tidak senang orang yang sangat baik dan pintar sepertimu diperlakukan tidak adil seperti ini makanya aku ingin menolongmu!" ucap Putra dengan nada suara yang menggebu-gebu sambil memukul dadanya beberapa kali.
"Aku sungguh tidak mengharapkan balasan untuk ini semua karena melihatmu mendapatkab kebahagiaan kembali itu sudah cukup. Oleh karena itu, jangan tolak pertolonganku dan Aris!" ucap Putra dengan suara yang sedikit meninggi dengan tatapan mata yang terlihat tulus.
Riana yang secara tiba-tiba mendengarkan pernyataan cinta dari orang yang tidak diduganya itu pun terkejut.
Namun kenyataan akan bantuan hukum dari Seorang Pengacara dan Seorang Polisi membuat Riana menyadari proses hukum akhir yang akan dilakukannya.
"Aku inginkan sebuah perceraian setelah ini dengan hak asuh anak ada padaku. Aku pun tak ingin membagi harta yang ada kepada Kamal. Aku tidak ingin dia mendapatkan apapun!" jawab Riana dengan ekspresi wajah yang serius.
"Apakah kau bisa melakukan itu untukku Putra?" tanya Riana dengan suara yang sedikit tinggi dengan tatapan mata yang tajam lurus ke depan.
Putra yang mendengarkan keinginan Riana pun menggelengkan kepalanya lalu mengatakan sesuatu.
"Jika kau menggunakan jalur hukum yang biasa ditempuh orang-orang maka keinginanmu itu tidak akan tercapai!"jawab Putra dengan suara yang tegas.
"Kau tidak akan mendapatkan semua harta itu untukmu dan anak-anakmu karena suamimu memiliki hak pada harta itu setengahnya jadi harta yang ada harus dibagi dua sebagai harta gono gini!" ucap Putra dengan tatapan mata yang tajam.
"Tapi jika Suamimu ingin memberikannya kepadamu dengan surat perjanjian di atas materai maka dia tidak berhak atas semua harta itu!" ucap Putra dengan ekspresi wajah yang serius.
"Bukankah hal itu sangat sulit? Kamal tidak akan mungkin melakukan itu untukku. Dia tidak akan memberikannya kepadaku dan anak-anak!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang kesal sambil menggenggam tangannya dengan erat karena menahan amarah.
Putra yang mendengar Riana menyerah sebelum melakukan apapun akhirnya menarik nafas panjang dan menatap Riana dengan dingin.
"Sebenarnya ada satu cara tapi ini mungkin akan menguras tenagamu sedikit dan mungkin akan menyebabkan perselingkuhan suamimu diketahui oleh banyak orang." ucap Putra dengan suara yang tegas yang membuat Riana terkejut dengan mata terbuka lebar.
#Bersambung#
Apa cara yang dimaksud Putra? Apakah Riana akan setuju dengan rencana Putra? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments