Beberapa hari berlalu, Riana yang mengetahui bahwa hari itu adalah hari dimana Kamal dan dirinya libur sementara kedua anak mereka tetap pergi ke sekolah karena ada jadwal ekskul pun mengingatkan Kamal kembali akan janjinya.
Riana yang telah selesai merapikan rumah dan memasak untuk hari itu pun dengan cepat menyeduhkan kopi susu dengan beberapa camilan di dalam piring di hadapan Kamal.
“Mas, ini kopi dan kuenya. Minumlah dulu, Mas!” uap Riana dengan nada suara yang ramah dengan senyum yang lembut.
Kamal yang sedang duduk memainkan handphonenya pun mengalihkan pandangannya pada minuman dan makanan yang dibawa Riana lalu mencoba semuanya.
Riana yang melihat Kamal sudah merasa santai dan perasaannya sangat bagus pun melancarkan tujuan utamanya.
“Mas, anak-anak sudah pergi ke sekolah dan siang nanti baru pulang. Gimana kalau kita pergi ke Showroom Motor untuk jual motor-motor kita?” tanya Riana dengan nada suara yang cuek dengan ekspresi wajah yang polos.
Kamal yang sedang memakan kue pun tanpa sadar tersedak dan membuat Riana dengan cepat mengambilkan air putih yang telah disediakannya sejak awal.
“Mas, kamu ngak apa-apa? Makannya yang pelan dong Mas!” ucap Riana yang cemas dengan ekspresi wajah yang sedih.
Kamal yang mendapatkan air putih dengan cepat meminumnya lalu menanyakan lagi pertanyaan Riana tersebut.
“Mau pergi ke Showroomnya sekarang? Ngak bisa besok aja, dek?” tanya Kamal dengan ekpsresi wajah yang terkejut.
Riana yang sudah menduga bahwa Kamal akan mengulur waktu lagi untuk menjual kedua motor tersebut pun meletakkan cangkir yang ada di tangannya lalu berdiri.
“Apakah sekarang Mas sedang mencoba untuk menipu Adek? Apakah Mas ingin melanggar janji Mas pada Adek?” tanya Riana dengan suara yang sedikit tinggi dengan ekspresi wajah yang berpura-pura marah.
“Bu-bukan begitu. Mas tidak bermaksud menipu Adek ataupun melanggar janji hanya saja Mas merasa jika akan sangat disayangkan jika kita menjual motor tersebut sekarang karena sepertinya kita pasti akan memerlukannya dalam waktu dekat!” ucap Kamal dengan ekspresi wajah yang gugup.
Riana yang mendengar alasan dari Kamal pun menyipitkan matanya dan menatap dingin ke arah Kamal.
“Kita akan memerlukannya? Kita yang kau maksud itu siapa Mas? Aku atau Mbak Yonna?” ucap Riana dalam hati dengan ekspresi wajah yang kesal dengan tangan terkepal erat.
“Aku tidak akan membiarkanmu menyimpan motor itu dan akan menjadi Aset Bersama di masa depan lalu membuatmu memiliki kesempatan untuk memberikannya kepada Mbak Yonna!” ucap Riana dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.
“Semua yang ada adalah milikku dan anak-anak. Aku tidak akan memberikan sepesepun untuk kalian berdua!” ucap Riana dalam hati dengan tekad yang kuat.
Kamal yang melihat Riana tidak akan bisa diajak berkompromi masalah ini pun menarik nafas panjang dan mengalah.
“Baiklah, aku mengerti. Aku akan mengambil kunci mobil dan dompet lalu kita pergi ke Showroom Motor!” ucap Kamal dengan ekspresi wajah yang pasrah dengan sorot mata yang sayup.
Riana yanh mendengar Kamal menyerah akan keinginannya dan bergerak mengambil kunci mobil dan dompet pun dengan cepat mengubah tampilannya.
Setelah beberapa saat akhirnya keduanya pun sampai di Showroom Motor, Riana yang tidak ingin membiarkan Kamal membatalkan rencananya pun memulai pembicaraan.
“Ada yang bisa bantu, Mbak Mas?” tanya salah seorang Pria dengan senyum dan nada suara yang ramah.
“Hmmm, kami ingin menjual dua motor kami yang tidak terpakai tapi kami tidak membawanya kemari karena tidak punya cara membawanya!” ucap Riana dengan nada suara yang sopan.
Tepat setelah Riana bicara seorang Wanita yang masih muda pun muncul dan memotong pembicaraan dengan senyum yang lembut.
“Maafkan saya tapi apakah Mbak mau menjual motor?” tanya wanita tersebut yang bernama Susan dengan ekspresi wajah yang bersahabat.
“Benar sekali tapi sayang motornya ada di rumah dan kami tidak membawanya kemari karena tak punya kendaraan yang bisa digunakan untuk membawanya!” ucap Riana dengan ekspresi wajah yang jujur dengan nada suara yang menyesal.
“Baiklah, kalau begitu bolehkah saya dan beberapa Tim Teknisi datang ke rumah Mbak untuk mengecek motornya?” tanya Susan dengan suara yang lembut.
“Tentu saja.” jawab Riana dengan cepat dengan ekspresi wajah yang bahagia sambil mempersilahkan Susan bersama dua orang karyawannya ikut bersama Riana masuk ke dalam mobil.
Keempatnya pun pergi menuju rumah Riana dengan sangat cepat. Kamal yang bertugas menunjukkan motor tersebut kepada kedua Teknisi membuat Riana memiliki waktu untuk mempersiapkan makanan ringan dan minuman sebagai sopan santun karena telah mau datang.
Riana yang tidak bisa membiarkan Kamal melakukan kesalahan dalam bicara hingga membuat harga motor yang akan dijual turun drastis pun dengan tegas terus berdiri di dekat Kamal.
“Bagaimana Mbak Susan? Apakah setuju membeli motor kami?” tanya Riana dengan nada suara yang ramah dengan senyum yang lembut.
“Tentu saja. Kedua motornya terlihat masih sangat bagus dan sepertinya selalu dirawat dengan baik. Mesinnya juga masih asli dan tidak ada pembongkaran sama sekali!” Jawab Susan dengan ekspresi wajah yang puas.
“Bagaimana kalau aku membayar dua puluh lima juta untuk kedua morot ini?” tanya Susan dengan senyum yang lebar.
“Hmmm, harganya terlalu rendah untuk motor yang masih terlihat sangat bagus dan juga memiliki mesin yang masih asli! Aku rasa tiga puluh lima juta untuk kedua motor ini!” ucap Riana yang membalas senyuman Susan dengan ekspresi wajah yang bersahabat.
“Agh, itu terlalu tinggi Mbak, bagaimana kalau kita mengambil jalan tengah dengan tiga puluh juta. Aku harap Mbak mengerti jika aku juga perlu menjual kembali motor ini.” Ucap Susan dengan mata yang berbinar meminta pengertian dari Laura.
“Hmmm, bagaimana ya? Mas, gimana pendapatmu? Apakah segitu cukup untuk kedua motor kita?” tanya Riana dengan ekspresi wajah yang bingung.
Kamal yang tidak ikut dalam negosiasi dan tawar-menawar harga sejak awal pun menjadi terkejut saat Riana menanyakan pendapatnya.
“Hmmm, bagaimana bagusnya saja menurut Adek dan Mas nurut aja?” ucap Kamal dengan senyum yang lembut.
Riana yang sudah bisa menebak bahwa Kamal akan mengatakan hal itu pun tersenyum puas dan mencapai kesepakatan dengan Susan.
Susan yang dengan cepat melakukan transfer ke rekening Riana pun meminta kedua Tim Teknisinya untuk membawa setiap motor yang telah dibeli kembali ke Showroom Motor.
“Terima kasih untuk kerjasamanya. Senang bertransaksi dengan Mbak. Ini adalah surat-surat dari kedua motor tersebut.” Ucap Riana dengan senyum yang sangat lebar dan ekspresi wajah yang bahagia.
Sementara itu, Kamal yang masih berdiri menatap tempat dirinya menyimpan kedua motornya yang telah dijual Riana tidak membuat Riana simpati.
Riana yang tidak peduli dengan perasaan Kamal yang sedih pun membereskan minuman dan piring sisa dari menjamu Pembeli Motor ke dapur.
“Maafkan aku Mas. Aku melakukan semua ini demi masa depan anak-anak sebelum dirimu benar-benar dikuasai oleh Mbak Yonna sehingga melupakan kewajibanmu kepadaku dan anak-anak.” Ucap Riana dalam hati dengan ekspresi wajah yang dingin.
#Bersambung#
Perhiasan sudah dijual, Tabungan dan Deposito sudah berpindah tempat dan Kedua Motor pun telah dijual, kira-kira apa lagi yang akan dilakukan Riana untuk mengamankan Asetnya?” Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
azzalea
keren mbak.....berfikir jernih walaupun terluka
2023-06-23
5
Maria Magdalena Indarti
saya sgt salut kpd istri yg berpikir jernihsaat tahu suami selingkuh.
Tanah & kuat.
2023-04-03
1