Kamal yang sampai di kantor pukul sepuluh dengan buru-buru memasuki Ruang Rapat yang dikatakan Yonna akan dilaksanakan.
Kamal yang merasa tidak nyaman karena sudah terlambat bekerja hingga dua jam dari waktu biasa pun dengan cepat meminta maaf terlebih dahulu.
“Ma-maafkan keterlambatan saya, Pak. Saya sungguh minta maaf dan hal ini tidak akan terulang kembali!” ucap Kamal sambil menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang sangat menyesal.
“Baiklah. Aku mengerti. Semoga mobilmu tidak akan mengalami masalah lagi di masa depan!” ucap Pak Kuncoro yang terdengar sebagai doa tapi sebenarnya adalah sindiran melihat ekspresi Pak Kuncoro yang tidak bahagia.
Pak Kuncoro yang melihat Kamal telah duduk di tempatnya pun mengambil kertas yang dibagikan Yonna kepadanya tiba-tiba mengingat sesuatu lalu meminta Kamal menggangtikan Yonna melakukan Persentasi.
“Yonna, kau duduk! Kamal berdiri dan gantikan Yonna untuk presentasi di hadapan semua orang!” ucap Pak Kuncoro dengan suara yang datar dengan ekspresi wajah yang dingin.
“Sa-saya, Pak?” tanya Kamal dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan mata yang terbuka lebar sambil menunjuk ke arah dirinya.
“Benar, kamu. Kamu yang akan menggantikan Yonna melakukan persentasi. Bukankah kalian satu tim? Jadi tidak mungkin kau tidak tau apapun tentang persentasi ini!” sindir Pak Kuncoro dengan tatapan mata yang dingin dengan senyum kecil di sudut bibirnya.
“Ba-Baik Pak!” ucap Kamal dengan suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang sangat gugup dengan suhu tubuh yang seketika berubah menjadi dingin dan panas di saat bersamaan.
Kamal yang tidak mengetahui apapun tentang materi yang akan dipersentasikan Yonna hari ini menjadi sangat cemas.
“Semangat, Mas. Aku telah membuat slidenya di dalam flashdisk ini!” ucap Yonna dengan suara berbisik sambil menyerahkan flashdisk kepada Kamal.
“Terima kasih!” ucap Kamal dengan senyum lega sambil mengambil flashdisk tersebut dengan ekspresi wajah yang canggung dan kaku.
Pak Kuncoro yang dapat mendengar dan melihat yang dilakukan Kamal dan Yonna di belakangnya dengan pantulan cahaya ponselnya pun tersenyum sinis.
“Baiklah, Kamal. Sekarang kau bisa memulai persentasinya!” ucap Pak Kuncoro dengan suara yang terdengar ceria dengan senyum yang lembut dengan tatapan mata menghina.
Kamal yang merasa tertolong dengan slide persentasi yang dibuat oleh Yonna pun mengatakan semua yang ada di dalam slide lalu tiba-tiba terdiam setelah melihat Pak Kuncoro bertepuk tangan saat persentasi masih berlangsung.
“Kamal, berapa lama kau bekerja di sini? Apakah ini persentasi yang dilakukan oleh Karyawan Senior?” sindir Pak Kuncoro dengan tatapan mata yang dingin dengan ekspresi wajah yang sinis.
Kamal yang mendengar sindiran Pak Kuncoro hanya diam dan tidak mengatakan apapun karena Kamal menyadari bahwa persentasinya kali ini benar-benar seperti robot.
“Sepertinya Perusahaan ini harus melakukan Penilaian ulang tentang kemampuan setiap pekerja agar tidak ada perkerja yang memiliki kemampuan standar ada di sini!” sindir Pak Kuncoro dengan nada suara yang terdengar sangat serius.
Pak Kuncoro yang mengalihkan pandangannya kepada Yonna pun memberikan tatapan mata yang dingin hingga membuat Yonna tak berani mengangkat kepalanya.
“Yonna, apakah kau tidak mendiskusikan persentasi hari ini kepada Anggota Tim-mu yang lain?” tanya Pak Kuncoro secara langsung.
“Sa-saya melakukannya, Pak. Hanya saja mungkin Pak Kamal sedang merasa lelah terutama hari ini dirinya baru saja mendapatkan musibah!” ucap Yonna Mencoba menyelamatkan dirinya dan memberikan alasan untuk membantu Kamal.
“Hah! Benarkah itu? Hmmm, kenapa aku merasa sepertinya hal yang kau katakan itu hanya sekedar alasan Yonna? Apakah kau sedang mencoba membantu Kamal dan menyelamatkan dirimu dari masalah?” sindir Pak Kuncoro yang langsung membuat Yonna kaget karena tujuan sebenarnya telah diketahui.
Pak Kuncoro yang tidak ingin melihat Kamal dan Yonna pun berdiri dari ruangan tersebut dan kembali ke ruangannya.
Pak Kuncoro adalah pria yang berumur hampir lima puluh tahun. Pak Kuncoro telah lama bekerja di Perusahaan BUMN dan telah menjabat selama belasan tahun sebagai Pemimpin.
Pak Kuncoro yang pulang terlambat berpikir jika Perusahaan telah tidak memiliki penghuni lagi pun memutuskan untuk pulang.
Namun, Pak Kuncoro yang baru saja membaca berita buruk tentang kejadian di dalam lift membuatnya menjadi paranoit higga memutuskan pulang dengan menggunakan tangga darurat.
“Hah, tak seharusnya aku membaca berita itu dan hasilnya aku sekarang menjadi sangat ketakutan pulang dengan lift karena khawatir lift akan mati secara tiba-tiba dan membuatku tidak bisa keluar!” gumam Pak Kuncoro dengan ekspresi wajah yang menyesal.
“Hmmm, jika seperti ini maka hanya ada satu cara agar aku bisa pulang yaitu dengan menggunakan tangga dari lantai tiga menuju lantai satu. Untung saja aku menuruni tangga jika aku harus naik tangga hingga lantai tiga. Hah, itu pasti sangat melelahkan!” gumam Pak Kuncoro dengan ekspresi wajah yang pasrah sambil beberapa kali menarik nafas panjang.
Namun, di saat Pak Kuncoro berjalan menuju tangga lantai dua dengan suara yang pelan. Pak Kuncoro mendengar percakapan yang tak biasa.
“Mas, aku ingin sekali bersama denganmu selamanya tapi aku tidak bisa menceraikan suamiku yang tidak berguna itu!” ucap Yonna dengan suara yang sedikit kesal.
“Aku ingin menceraikannya tapi aku tidak memiliki alasan yang kuat untuk melakukannya karena aku tidak ingin ada orang yang menyalahkanku saat perceraian terjadi!” ucap Yonna lagi yang bersandar di pelukan Kamal sambil duduk di bawah tangga.
“Mas, mengerti. Mas akan menunggu sampai waktu itu tiba lagipula bukankah kita masih bisa bersama meskipun kita telah memiliki pasangan masing-masing!” ucap Kamal dengan ekspresi wajah penuh cinta dan tatapan mata yang lembut.
“Mas mencintaimu!” ucap Kamal yang kemudian memegang dagu Yonna dan mencium bibirnya hingga akhirnya keduanya berlanjut melakukan sesuatu hal yang terlarang di tempat itu.
Pak Kuncoro yang sebenarnya ingin segera pulang berhenti di tempatnya dan memutuskan kembali ke ruangannya.
Pak Kuncoro yang berdiri di depan jendela kaca ruangannya pun melihat Kamal yang keluar sendirian tanpa Yonna dengan wajah yang ramah saat memasuki mobilnya sungguh membuat Pak Kuncoro muak.
“Tidak disangka. Pria yang terlihat alim dan sayang keluarga ternyata pria yang sangat b****sek! Pria yang tega menghianati istri dan anaknya!” ucap Pak Kuncoro dengan tatapan mata yang menghina.
Pak Kuncoro yang masih berdiri di depan jendela akhirnya melihat Yonna keluar dari ruangan dan berjalan menuju halte.
Pak Kuncoro yang mengenali mobil yang terparkir di depan Halte itu pun melihat Yonna masuk ke dalam mobil dengan wajah yang ceria.
“Hmmm, ternyata mereka berdua sangat pandai menyimpan kebusukan! Tidak disangka ternyata keduanya pulang bersama setelah berpura-pura pulang sendiri-sendiri!” gumam Pak Kuncoro dengan tatapan mata yang dingin.
Pak Kuncoro yang merupakan Pria yang sangat mencintai istrinya tidak pernah sekalipun melirik wanita lain ataupun berselingkuh sehingga saat Pak Kuncoro mengetahui perselingkuhan Kamal dan Yonna membuat Pak Kuncoro menjadi membenci keduanya.
“Aku sangat ingin membongkar perselingkuhan mereka berdua tapi jika aku melakukan itu keduanya pasti akan bersikap terang-terang setelah rahasianya terbongkar. Hal yang terpenting adalah akan ada dua rumah tangga yang hancur nantinya!” gumam Pak Kuncoro yang kembali ke kursinya dengan ekspresi wajah yang pasrah.
#Bersambung#
Apa yang akan dilakukan Pak Kuncoro selanjutnya? Apakah Pak Kuncoro akan menolong Riana membalaskan dendamnya ataukah tidak? tunggu jawabannya di BAB-BAB selanjutnya ya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
lambat laun terbongkar juga
2023-08-26
1
Uthie
Bagus pak.. perselingkuhan jangan di biarkan gtu aja 👍😡
2023-03-30
2
Rahmawaty❣️
Oalahh jd bneran slingkuh.. Haduhh..udh punya istri tp bilang cinta sma wanita lain
2023-03-17
2