Riana yang telah menjual semua yang tidak terpakai untuk dijadikan uang lalu menyimpannya untuk masa depannya dan anak-anak.
Riana yang telah berdamai dengan hatinya memutuskan untuk bertahan dan perlahan mengumpulkan aset.
Namun beberapa hari berlalu hingga dua minggu terakhir Riana menyadari bahwa ada perubahan pada suaminya.
"Kenapa Mas Kamal selalu telat pulang ke rumah dan Mas Kamal juga sekarang sangat sulit jika diminta untuk mengantar atau menjemputku?" gumam Riana dalam hati dengan ekspresi wajah yang sedih.
"Apakah Mbak Yonna memaksa Mas Kamal untuk terus bersamanya dan membuat Mas Kamal melupakanku dan anak-anaknya?" tanya Riana dalam hati dengan tangan terkepal erat.
"Aku tidak bisa diam saja. Aku harus berbuat sesuatu. Aku harus mengetahui yang terjadi pada Mas Kamal!" ucap Riana dalam hati.
Riana yang tidak memiliki jadwal mengajar lagi pun memutuskan untuk meminjam mobil salah satu temannya untuk memata-m 99atai Kamal.
"Yun, aku boleh pinjam mobilmu ngak? Aku mau jemput dan anak-anak. Nanti aku isiin bensinnya ya." ucap Riana dengan ekspresi wajah yang memelas.
"Ngak masalah. Ini kuncinya dan STNK-nya!" ucap Yuni dengan senyum yang lembut sambil menyerahkan semuanya kepada Riana.
Riana yang telah belajar menyetir mobil dan memiliki sim A dapat membawa mobil di rumah saat Kamal sedang tidak bisa mengantarnya pergi.
Riana yang pergi membawa tasnya pun memasuki mobil Yuni lalu pergi menuju kantor Kamal.
Namun saat dirinya tak terlalu jauh dari kantor Kamal, Riana melihat Yonna sedang berdiri di tengah jalan yang berjarak tak terlalu jauh dari kantor.
"Kenapa Mbak Yonna berdiri di sana sendirian? Apakah dia sedang menunggu suaminya? Hmmm, atau mungkin menunggu ojek online?" tanya Riana denga suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan tatapan mata yang curiga.
Riana yang membuat mobilnya berjalan sangat pelan akhirnya menepikan mobilnya sebentar hingga akhirnya Riana melihat mobil yang sangat dikenalinya menjemput Yonna.
"Mas Kamal? Mas Kamal datang menjemput Mbak Yonna?" gumam Riana dengan ekspresi wajah yang tidak percaya.
"Mau kemana mereka berdua?" tanya Riana dengan ekspresi wajah yang bingung dengan alis yang mengkerut.
Riana yang penasaran dengan arah tujuan keduanya pun terus mengikuti mobil Kamal dengan jarak yang aman agar tidak dicurigai.
Riana yang tiba-tiba meliha mobil Kamal berjalan perlahan lalu memberikan tanda akan menepi pun akhirnya mengetahui tujuan kepergian keduanya.
"Warung Makan? Apakah keduanya mau makan siang bersama? Tapi tempat ini terlalu jauh dari kantor mereka!" gumam Riana dengan suara yang rendah.
Riana yang melihat Kamal dan Yonna turun dari mobil dengan senyum yang lebar lalu memilih duduk di luar membuat Riana merasa sangat kesal.
"Hah, tidak disangka keduanya benar-benar melakukan ini!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang tidak percaya dengan tawa kecil.
Riana yang memilih memarkirkan mobilnya di sebuah kantor tak jauh dari tempat Kamal dan Yonna makan siang pun memutuskan untuk terus membuntuti keduanya.
Riana yang melihat Kamal dan Yonna makan bersama tanpa ada ekspresi wajah yang bersalah dengan tawa yang lepas membuat Riana menjadi sangat marah.
"Aku tidak bisa diam saja. Aku harus menghubungi Mas Kamal dan melakukan sesuatu untuk membuat Mas Kamal pergi dari sana daripada menambah banyak dosa dengan istri orang yang tidak punya akhlak!" sindir Riana dengan ekspresi wajah yang kesal.
Riana yang tidak ingin melampiaskan kemarahannya saat itu juga pun menarik nafas perlahan lalu memencet nomor Kamal dan menghubunginya.
Riana yang melihat gerakan kamal yang tiba-tiba berhenti tertawa saat melihat handphonenya berbunyi dari dalam kantong celananya.
Kamal yang mengubah ekspresi wajahnya menjadi tidak senang membuat Riana merasakan sakit di sudut hatinya.
"Mas! Kenapa kau memasang wajah seperti itu saat menerima teleponku?" tanya Riana dalam hati dengan tatapan mata yang sayu.
Riana yang menyadari bahwa Kamal mengabaikan teleponnya pun mencoba menghubungi Kamal lagi dan melihat sikap Yonna yang cuek.
"Hah! Mbak Yonna kau sungguh wanita tidak tau malu. Kau pasti tau jika itu aku yang menelpon dan kau berpura-pura tidak tau agar Mas Kamal mengabaikan teleponku! Kau benar-benar wanita ular!" ucap Riana dengan suara yang rendah saat mematikan teleponnya yang tidak terangkat kembali.
Riana yang tidak mendapatkan balasan dari Kamal pun mencoba mengirimkan pesan teks dan menjadi sangat terkejut dengan balasannya.
**Mas ada dimana? Mas bisa jemput aku ngak? (Riana)
Mas sedang di kantor. Maaf, Mas ngak bisa angkat teleponmu. Mas sedang sibuk lagi banyak kerjaan. Adek pulang naek ojek online atau ikut teman saja. (Kamal**)
Riana yang menerima balasan pesan teks dari Kamal pun merasa tangannya terasa sangat lemas dan air mata pun perlahan turun ke pipinya.
"Banyak kerjaan? Kerjaan apa Mas? Sibuk apa Mas? Sibuk dengan kerjaan makan siang dengan Mbak Yonna?" tanya Riana dengan suara yang rendah dengan air mata yang terus mengalir.
"Kamu berubah Mas. Kamu telah berubah sekarang Mas. Kamu biasanya akan selalu ada saat aku butuh kamu tapi sekarang kamu justru selalu ada untuk wanita lain, Mas!" ucap Riana dengan suara yang meninggi dengan ekspresi wajah yang sedih.
"Kamu kejam Mas. Kamu kejam sekali, Mas!" ucap Riana yang memukul-mukul stir mobil sedikit keras melampiaskan kemarahannya.
Riana yang telah menangis cukup lama pun akhirnya merasa lebih baik pun menghapus air matanya dan menguatkan tekadnya.
"Aku tidak akan hancur sendiri. Kalian berdua pun harus ikut hancur bersamaan dengan hatiku ini!" ucap Riana dengan tatapan mata yang tajam saat melihat Kamal dan Yonna terus tertawa dan tersenyum lepas layaknya orang yang sedang dimabuk asmara.
"Aku tidak bisa diam saja disini dan melihat keduanya sedang bermesraan. Aku harus mengambil gambar keduanya dengan jarak yang dekar!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang serius.
Riana yang melihat tiga orang anak muda berpakaian pelajar yang sedang berjalan pun memanggil keduanya untuk mendekat.
"Dek, mau uang ngak?" tanya Riana secara langsung dengan ekspresi wajah yang serius dengan senyum yang lembut.
"Ada apa mbak?" tanya salah satu anak dengan ekspresi wajah yang bingung dengan sikap yang berhati-hati.
"Mbak mau minta tolong kepada kalian. Bisakah kalian kesana? Kalian pergi ke tempat makan itu lalu memesan makanan dan mengambil foto kedua orang itu yang sedang berpakaian putih di dekat pagar." ucap Riana sambil menunjuk ke arah Kamal dan Yonna.
"Tolong ambil foto dan beberapa video keduanya yang sedang bermesraan dan kirimkan foto dan video tersebut padaku!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang serius.
"Mbak, mohon tolong Mbak. Pria yang ada disana adalah suami Mbak dan wanitanya adalah selingkuhannya. Mbak ingin mengambil bukti perselingkuhan mereka untuk dibawa kepengadilan agar Mbak bisa mendapatkan hak asuh anak-anak mbak!" ucap Riana yang mencoba meneteskan air matanya.
Ketiga anak tersebut pun merasa iba dan kasihan kepada Riana sehingga memutuskan untuk membantu Riana.
"Jangan khawatir, Mbak. Kami akan menolongmu jadi sekarang bagaimana cara kami menolong?" tanya salah satu anak dengan semangat yang membara.
Riana yang telah memikirkan caranya pun meminta dua dari tiga anak untuk datang ke tempat makan tersebut untuk memesan makanan sambil memainkan handphone saat makanan belum datang untuk mengambil bukti yang dibutuhkan Riana.
Sementara satu anak sisanya akan berdiri di samping Riana untuk mengambil upah dari pekerjaan mereka saat kedua temannya yang lain telah mengirimkan beberapa foto dan video ke wh**sh**p Riana.
Kedua anak yang dimintai tolong Riana pun menjalankan tugas yang diberikan Riana dan dengan cepat mengambil foto saat Kamal dan Yonna sedang memegang tangan dan pipi.
Riana yang melihat Kamal telah selesai makan dan berniat membayar pun mulai bersiap untuk pergi.
Riana yang tak melepaskan satu detikpun padangannya dari Kamal pun melihat Kamal tanpa rasa canggung merangkul Yonna dengan senyum yang lembut menuju mobil.
Riana yang melihat kedua anak yang diberinya tugas telah mengirimkan semua foto dan video bahkan beberapa voice note pun memberikan uang sebesar dua ratus ribus.
"Ambillah ini! Terima kasih sudah menolong, Mbak! Tolong jangan sebarkan semua yang telah kalian rekam ya." ucap Riana dengan senyum pahit.
"Ini terlalu banyak Mbak. Kami hanya menolong sedikit. Mbak ambil lagi sisa uangnya." ucap anak tersebut dengan ekspresi wajah yang merasa tidak nyaman.
"Tidak apa. Mbak ikhlas. Terima kasih ya." ucap Riana denga nada suara yang ramah dan senyum yang lembut.
"Sama-sama Mbak. Semoga Mbak dan anak-anak mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya dan semoga suami dan selingkuhan Mbak mendapatkan hukuman dari yang di atas!" ucap anak tersebut dengan senyum yang penuh harap.
"Amin. Semoga!" gumam Riana yang mendengar doa anak tersebut sambil tersenyum kecut.
#Bersambung#
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Aqua_Chan
haduh haduhhh mal , kamal
2023-10-04
1
Yunerty Blessa
mantap Riana jangan mau mengalah
2023-08-25
1
Sulati Cus
aamiin w aamiin in sp 1000x
2023-03-01
4