BAB 8. Mengumpulkan Bukti

Riana yang telah menjual semua yang tidak terpakai untuk dijadikan uang lalu menyimpannya untuk masa depannya dan anak-anak.

Riana yang telah berdamai dengan hatinya memutuskan untuk bertahan dan perlahan mengumpulkan aset.

Namun beberapa hari berlalu hingga dua minggu terakhir Riana menyadari bahwa ada perubahan pada suaminya.

"Kenapa Mas Kamal selalu telat pulang ke rumah dan Mas Kamal juga sekarang sangat sulit jika diminta untuk mengantar atau menjemputku?" gumam Riana dalam hati dengan ekspresi wajah yang sedih.

"Apakah Mbak Yonna memaksa Mas Kamal untuk terus bersamanya dan membuat Mas Kamal melupakanku dan anak-anaknya?" tanya Riana dalam hati dengan tangan terkepal erat.

"Aku tidak bisa diam saja. Aku harus berbuat sesuatu. Aku harus mengetahui yang terjadi pada Mas Kamal!" ucap Riana dalam hati.

Riana yang tidak memiliki jadwal mengajar lagi pun memutuskan untuk meminjam mobil salah satu temannya untuk memata-m 99atai Kamal.

"Yun, aku boleh pinjam mobilmu ngak? Aku mau jemput dan anak-anak. Nanti aku isiin bensinnya ya." ucap Riana dengan ekspresi wajah yang memelas.

"Ngak masalah. Ini kuncinya dan STNK-nya!" ucap Yuni dengan senyum yang lembut sambil menyerahkan semuanya kepada Riana.

Riana yang telah belajar menyetir mobil dan memiliki sim A dapat membawa mobil di rumah saat Kamal sedang tidak bisa mengantarnya pergi.

Riana yang pergi membawa tasnya pun memasuki mobil Yuni lalu pergi menuju kantor Kamal.

Namun saat dirinya tak terlalu jauh dari kantor Kamal, Riana melihat Yonna sedang berdiri di tengah jalan yang berjarak tak terlalu jauh dari kantor.

"Kenapa Mbak Yonna berdiri di sana sendirian? Apakah dia sedang menunggu suaminya? Hmmm, atau mungkin menunggu ojek online?" tanya Riana denga suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan tatapan mata yang curiga.

Riana yang membuat mobilnya berjalan sangat pelan akhirnya menepikan mobilnya sebentar hingga akhirnya Riana melihat mobil yang sangat dikenalinya menjemput Yonna.

"Mas Kamal? Mas Kamal datang menjemput Mbak Yonna?" gumam Riana dengan ekspresi wajah yang tidak percaya.

"Mau kemana mereka berdua?" tanya Riana dengan ekspresi wajah yang bingung dengan alis yang mengkerut.

Riana yang penasaran dengan arah tujuan keduanya pun terus mengikuti mobil Kamal dengan jarak yang aman agar tidak dicurigai.

Riana yang tiba-tiba meliha mobil Kamal berjalan perlahan lalu memberikan tanda akan menepi pun akhirnya mengetahui tujuan kepergian keduanya.

"Warung Makan? Apakah keduanya mau makan siang bersama? Tapi tempat ini terlalu jauh dari kantor mereka!" gumam Riana dengan suara yang rendah.

Riana yang melihat Kamal dan Yonna turun dari mobil dengan senyum yang lebar lalu memilih duduk di luar membuat Riana merasa sangat kesal.

"Hah, tidak disangka keduanya benar-benar melakukan ini!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang tidak percaya dengan tawa kecil.

Riana yang memilih memarkirkan mobilnya di sebuah kantor tak jauh dari tempat Kamal dan Yonna makan siang pun memutuskan untuk terus membuntuti keduanya.

Riana yang melihat Kamal dan Yonna makan bersama tanpa ada ekspresi wajah yang bersalah dengan tawa yang lepas membuat Riana menjadi sangat marah.

"Aku tidak bisa diam saja. Aku harus menghubungi Mas Kamal dan melakukan sesuatu untuk membuat Mas Kamal pergi dari sana daripada menambah banyak dosa dengan istri orang yang tidak punya akhlak!" sindir Riana dengan ekspresi wajah yang kesal.

Riana yang tidak ingin melampiaskan kemarahannya saat itu juga pun menarik nafas perlahan lalu memencet nomor Kamal dan menghubunginya.

Riana yang melihat gerakan kamal yang tiba-tiba berhenti tertawa saat melihat handphonenya berbunyi dari dalam kantong celananya.

Kamal yang mengubah ekspresi wajahnya menjadi tidak senang membuat Riana merasakan sakit di sudut hatinya.

"Mas! Kenapa kau memasang wajah seperti itu saat menerima teleponku?" tanya Riana dalam hati dengan tatapan mata yang sayu.

Riana yang menyadari bahwa Kamal mengabaikan teleponnya pun mencoba menghubungi Kamal lagi dan melihat sikap Yonna yang cuek.

"Hah! Mbak Yonna kau sungguh wanita tidak tau malu. Kau pasti tau jika itu aku yang menelpon dan kau berpura-pura tidak tau agar Mas Kamal mengabaikan teleponku! Kau benar-benar wanita ular!" ucap Riana dengan suara yang rendah saat mematikan teleponnya yang tidak terangkat kembali.

Riana yang tidak mendapatkan balasan dari Kamal pun mencoba mengirimkan pesan teks dan menjadi sangat terkejut dengan balasannya.

**Mas ada dimana? Mas bisa jemput aku ngak? (Riana)

Mas sedang di kantor. Maaf, Mas ngak bisa angkat teleponmu. Mas sedang sibuk lagi banyak kerjaan. Adek pulang naek ojek online atau ikut teman saja. (Kamal**)

Riana yang menerima balasan pesan teks dari Kamal pun merasa tangannya terasa sangat lemas dan air mata pun perlahan turun ke pipinya.

"Banyak kerjaan? Kerjaan apa Mas? Sibuk apa Mas? Sibuk dengan kerjaan makan siang dengan Mbak Yonna?" tanya Riana dengan suara yang rendah dengan air mata yang terus mengalir.

"Kamu berubah Mas. Kamu telah berubah sekarang Mas. Kamu biasanya akan selalu ada saat aku butuh kamu tapi sekarang kamu justru selalu ada untuk wanita lain, Mas!" ucap Riana dengan suara yang meninggi dengan ekspresi wajah yang sedih.

"Kamu kejam Mas. Kamu kejam sekali, Mas!" ucap Riana yang memukul-mukul stir mobil sedikit keras melampiaskan kemarahannya.

Riana yang telah menangis cukup lama pun akhirnya merasa lebih baik pun menghapus air matanya dan menguatkan tekadnya.

"Aku tidak akan hancur sendiri. Kalian berdua pun harus ikut hancur bersamaan dengan hatiku ini!" ucap Riana dengan tatapan mata yang tajam saat melihat Kamal dan Yonna terus tertawa dan tersenyum lepas layaknya orang yang sedang dimabuk asmara.

"Aku tidak bisa diam saja disini dan melihat keduanya sedang bermesraan. Aku harus mengambil gambar keduanya dengan jarak yang dekar!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang serius.

Riana yang melihat tiga orang anak muda berpakaian pelajar yang sedang berjalan pun memanggil keduanya untuk mendekat.

"Dek, mau uang ngak?" tanya Riana secara langsung dengan ekspresi wajah yang serius dengan senyum yang lembut.

"Ada apa mbak?" tanya salah satu anak dengan ekspresi wajah yang bingung dengan sikap yang berhati-hati.

"Mbak mau minta tolong kepada kalian. Bisakah kalian kesana? Kalian pergi ke tempat makan itu lalu memesan makanan dan mengambil foto kedua orang itu yang sedang berpakaian putih di dekat pagar." ucap Riana sambil menunjuk ke arah Kamal dan Yonna.

"Tolong ambil foto dan beberapa video keduanya yang sedang bermesraan dan kirimkan foto dan video tersebut padaku!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang serius.

"Mbak, mohon tolong Mbak. Pria yang ada disana adalah suami Mbak dan wanitanya adalah selingkuhannya. Mbak ingin mengambil bukti perselingkuhan mereka untuk dibawa kepengadilan agar Mbak bisa mendapatkan hak asuh anak-anak mbak!" ucap Riana yang mencoba meneteskan air matanya.

Ketiga anak tersebut pun merasa iba dan kasihan kepada Riana sehingga memutuskan untuk membantu Riana.

"Jangan khawatir, Mbak. Kami akan menolongmu jadi sekarang bagaimana cara kami menolong?" tanya salah satu anak dengan semangat yang membara.

Riana yang telah memikirkan caranya pun meminta dua dari tiga anak untuk datang ke tempat makan tersebut untuk memesan makanan sambil memainkan handphone saat makanan belum datang untuk mengambil bukti yang dibutuhkan Riana.

Sementara satu anak sisanya akan berdiri di samping Riana untuk mengambil upah dari pekerjaan mereka saat kedua temannya yang lain telah mengirimkan beberapa foto dan video ke wh**sh**p Riana.

Kedua anak yang dimintai tolong Riana pun menjalankan tugas yang diberikan Riana dan dengan cepat mengambil foto saat Kamal dan Yonna sedang memegang tangan dan pipi.

Riana yang melihat Kamal telah selesai makan dan berniat membayar pun mulai bersiap untuk pergi.

Riana yang tak melepaskan satu detikpun padangannya dari Kamal pun melihat Kamal tanpa rasa canggung merangkul Yonna dengan senyum yang lembut menuju mobil.

Riana yang melihat kedua anak yang diberinya tugas telah mengirimkan semua foto dan video bahkan beberapa voice note pun memberikan uang sebesar dua ratus ribus.

"Ambillah ini! Terima kasih sudah menolong, Mbak! Tolong jangan sebarkan semua yang telah kalian rekam ya." ucap Riana dengan senyum pahit.

"Ini terlalu banyak Mbak. Kami hanya menolong sedikit. Mbak ambil lagi sisa uangnya." ucap anak tersebut dengan ekspresi wajah yang merasa tidak nyaman.

"Tidak apa. Mbak ikhlas. Terima kasih ya." ucap Riana denga nada suara yang ramah dan senyum yang lembut.

"Sama-sama Mbak. Semoga Mbak dan anak-anak mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya dan semoga suami dan selingkuhan Mbak mendapatkan hukuman dari yang di atas!" ucap anak tersebut dengan senyum yang penuh harap.

"Amin. Semoga!" gumam Riana yang mendengar doa anak tersebut sambil tersenyum kecut.

#Bersambung#

Terpopuler

Comments

Aqua_Chan

Aqua_Chan

haduh haduhhh mal , kamal

2023-10-04

1

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

mantap Riana jangan mau mengalah

2023-08-25

1

Sulati Cus

Sulati Cus

aamiin w aamiin in sp 1000x

2023-03-01

4

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. Notifikasi Email
2 BAB 2. Perselingkuhan
3 BAB 3. Aset
4 BAB 4. Bujukan Menjual Motor
5 BAB 5. Tawaran Bantuan
6 BAB 6. Asal Usul Perselingkuhan
7 BAB 7. Tiga Puluh Juta
8 BAB 8. Mengumpulkan Bukti
9 BAB 9. Rencana Merusakkan Mobil
10 BAB 10. Mengambil Mobil dan ATM
11 BAB 11. Tempat Les Baru
12 BAB 12. Mobil Mogok
13 BAB 13. Ditinggal Sendiri
14 BAB 14. Pemalakan
15 BAB 15. Ditegur Atasan
16 BAB 16. Pernyataan Cinta yang Tak Terduga
17 BAB 17. Saran yang Tak Terduga
18 BAB 18. Air Mata Buaya
19 BAB 19. Kemungkinan HIV/AIDS
20 BAB 20. Mengganti Aki Mobil
21 BAB 21. Pergi Mendadak
22 BAB 22. Perdebatan
23 BAB 23. Mogok Lagi
24 BAB 24. Dorong Mobil
25 BAB 25. Dua Handphone
26 BAB 26. Pertimbangan
27 BAB 27. Niat Lain Yonna
28 BAB 28. Mensadap Handphone
29 BAB 29. Uangmu itu Hakku dan Anakku
30 BAB 30. Makan-makan
31 BAB 31. Transfer
32 BAB 32. Melipat Gandakan Uang
33 BAB 33. Bos Baru
34 BAB 34. Lolos Tes Pemberkasan
35 BAB 35. Pertengkaran
36 BAB 36. Bendera Damai
37 BAB 37. Aku atau Kamu yang bodoh?
38 BAB 38. Pinjaman Bank Diterima
39 BAB 39. Kesepakatan
40 BAB 40. Serong Sana, Serong Sini
41 BAB 41. Ketahuan Shawn
42 BAB 42. Kecelakaan.
43 BAB 43. Kenyataan yang Menyakitkan
44 BAB 44. Dukung Penuh
45 BAB 45. Batas Kesabaran Riana
46 BAB 46. Rencana Penggrebekan I
47 BAB 47. Rencana Penggrebekan II
48 BAB 48. Penggrebekan I
49 BAB 49. Penggrebekan II
50 BAB 50. Masuk Penjara
51 BAB 51. Hukum Masyarakat
52 BAB 52. Air Mata Kesedihan
53 BAB 53. Rencana Dion
54 BAB 54. Permintaa Lainnya
55 BAB 55. Pertemuan
56 BAB 56. Keputusan Mengakhiri Semua
57 BAB 57. Pengembalian Uang atau Tuntutan Perdata
58 BAB 58. Perjanjian Verbal
59 BAB 59. Permintaan Yonna
60 BAB 60. Sindiran Tetangga
61 BAB 61. Keputusan Akhir Dion
62 BAB 62. Menjual Tanah
63 BAB 63. Yonna Bebas dari Penjara
64 BAB 64. Kehamilan Yonna
65 BAB 65. Nada Anjani
66 BAB 66. Kehilangan Janin
67 Bb 67. Video Viral
68 BAB 68. Pelantikan
69 BAB 69. Pindah atau Berhenti
70 BAB 70. Pindah
71 BAB 71. Kamal Kecelakaan
72 BAB 72. Jodohku
73 BAB 73. Pengumuman Pernikahan
74 BAB 74. Menyakiti Hati dan Raga
75 BAB 75. Akhir Cerita
76 Pengumuman
77 Perhatian
Episodes

Updated 77 Episodes

1
BAB 1. Notifikasi Email
2
BAB 2. Perselingkuhan
3
BAB 3. Aset
4
BAB 4. Bujukan Menjual Motor
5
BAB 5. Tawaran Bantuan
6
BAB 6. Asal Usul Perselingkuhan
7
BAB 7. Tiga Puluh Juta
8
BAB 8. Mengumpulkan Bukti
9
BAB 9. Rencana Merusakkan Mobil
10
BAB 10. Mengambil Mobil dan ATM
11
BAB 11. Tempat Les Baru
12
BAB 12. Mobil Mogok
13
BAB 13. Ditinggal Sendiri
14
BAB 14. Pemalakan
15
BAB 15. Ditegur Atasan
16
BAB 16. Pernyataan Cinta yang Tak Terduga
17
BAB 17. Saran yang Tak Terduga
18
BAB 18. Air Mata Buaya
19
BAB 19. Kemungkinan HIV/AIDS
20
BAB 20. Mengganti Aki Mobil
21
BAB 21. Pergi Mendadak
22
BAB 22. Perdebatan
23
BAB 23. Mogok Lagi
24
BAB 24. Dorong Mobil
25
BAB 25. Dua Handphone
26
BAB 26. Pertimbangan
27
BAB 27. Niat Lain Yonna
28
BAB 28. Mensadap Handphone
29
BAB 29. Uangmu itu Hakku dan Anakku
30
BAB 30. Makan-makan
31
BAB 31. Transfer
32
BAB 32. Melipat Gandakan Uang
33
BAB 33. Bos Baru
34
BAB 34. Lolos Tes Pemberkasan
35
BAB 35. Pertengkaran
36
BAB 36. Bendera Damai
37
BAB 37. Aku atau Kamu yang bodoh?
38
BAB 38. Pinjaman Bank Diterima
39
BAB 39. Kesepakatan
40
BAB 40. Serong Sana, Serong Sini
41
BAB 41. Ketahuan Shawn
42
BAB 42. Kecelakaan.
43
BAB 43. Kenyataan yang Menyakitkan
44
BAB 44. Dukung Penuh
45
BAB 45. Batas Kesabaran Riana
46
BAB 46. Rencana Penggrebekan I
47
BAB 47. Rencana Penggrebekan II
48
BAB 48. Penggrebekan I
49
BAB 49. Penggrebekan II
50
BAB 50. Masuk Penjara
51
BAB 51. Hukum Masyarakat
52
BAB 52. Air Mata Kesedihan
53
BAB 53. Rencana Dion
54
BAB 54. Permintaa Lainnya
55
BAB 55. Pertemuan
56
BAB 56. Keputusan Mengakhiri Semua
57
BAB 57. Pengembalian Uang atau Tuntutan Perdata
58
BAB 58. Perjanjian Verbal
59
BAB 59. Permintaan Yonna
60
BAB 60. Sindiran Tetangga
61
BAB 61. Keputusan Akhir Dion
62
BAB 62. Menjual Tanah
63
BAB 63. Yonna Bebas dari Penjara
64
BAB 64. Kehamilan Yonna
65
BAB 65. Nada Anjani
66
BAB 66. Kehilangan Janin
67
Bb 67. Video Viral
68
BAB 68. Pelantikan
69
BAB 69. Pindah atau Berhenti
70
BAB 70. Pindah
71
BAB 71. Kamal Kecelakaan
72
BAB 72. Jodohku
73
BAB 73. Pengumuman Pernikahan
74
BAB 74. Menyakiti Hati dan Raga
75
BAB 75. Akhir Cerita
76
Pengumuman
77
Perhatian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!