Riana yang melihat kotak perhiasannya masih penuh mengambil semuanya lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik dan meletakkannya di dalam lemari pakaian di tempat terdalam.
"Aku akan menjual semua perhiasan ini dan meletakkan uangnya di dalam rekening pribadiku yang baru!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang serius.
"Aku tidak akan memberitau Mas Kamal tentang uang penyimpananku ini! Aku pun akan mencairkan uang deposito lalu memindahkannya bersama uang tabungan ke dalam rekening yang baru aku buat!" ucap Riana dengan tekad yang kuat.
"Aku akan berubah menjadi istri yang pelit dan perhitungan. Aku pun akan selalu bergerak meminta uang kepada Mas Kamal! Aku tidak rela uang Mas Kamal diambil oleh Mbak Yonna!" ucap Riana dengan nada suara yang tegas.
Setelah menyimpan semuanya di tempat yang amam, Riana pun berbaring di tempat tidur dan berusaha untuk memejamkan matanya melupakan semua kejadian buruk yang baru saja dialaminya.
Namun kejadian buruk itu ternyata ikut menghantui Riana di dalam mimpinya. Riana yang terbangun dari mimpi buruknya pun berkeringat sangat banyak.
Riana yang tak bisa menahan rasa sakit atas penghianatan yang dilakukan Kamal pun tanpa sadar meneteskan air matanya.
Riana yang mendengar suara mobil Kamal sampai di rumah pun dengan cepat menghapus air matanya.
"Mas Kamal sudah pulang dan ini sudah pukul sepuluh malam. Ternyata lama juga Mas Kamal bercinta dengan Mbak Yonna!" gumam Riana dengan tawa getir di bibirnya.
Riana yang tak ingin terlihat lemah ataupun hancur di hadapan Kamal pun memperbaiki ekspresi wajahnya lalu keluar kamar dan membuka pintu.
"Mas, kamu baru pulang? Kok malam banget Mas pulangnya!" sindir Riana dengan nada suara yang terdengar sinis dengan tatapan mata yang dingin.
"Maafkan Mas. Mas ngak enak kalau pulang lebih awal sementara teman yang lain masih kumpul jadi Mas pulangnya agak telat. Maafin Mas ya." ucap Kamal dengan santainya lalu masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa menoleh ke arah Riana sedikitpun.
"Hah! Pandai sekali kamu Mas berbohong. Kamu bahkan tidak berkedip saat berbohong!" ucap Riana dalam hati dengan tatapan mata yang merendahkan.
Riana yang tidak ingin marah-marah dan membuat dirinya sendiri yang mengalami kerugian pun menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan lalu mengunci kembali semua pintu.
Riana yang melihat Kamal sedang mandi di kamar mandi pun dengan cepat mengambil handphone Kamal lalu mengambil nomor handphone Yonna.
"Sungguh hebat! Bahkan handphonenya pun bersih. Tidak ada sedikit pun bukti perselingkuhannya!" sindir Riana dengan nada suara yang sarkastik lalu meletakkan kembali handphone Kamal di tempatnya.
Beberapa waktu pun berlalu, Kamal yang baru saja selesai mandi pun mengganti pakaian yang telah disiapkan oleh Riana.
Riana yang melihat Kamal berbaring di sampingnya sambil memainkan handphonenya dengan melihat instastory orang-orang pun memulai rencananya.
"Mas, kita jual saja dua motor kita itu lagian ngak berguna juga daripada rusak karena tidak terpakai. Bagaimana?" tanya Riana yang telah bergerak ke arah Kamal dengan sikap yang manja dengan nada suara yang genit.
"Agh, motor itu masih bagus dan kita juga masih bisa memakainya kalau ingin pergi dekat-dekat sini!" ucap Kamal yang menolak keinginan Riana dengan ekspresi wajah yang cuek.
Riana yang telah berniat ingin menjual kedua motor tersebut lalu menyimpan uangnya sebagai modal saat perceraian nanti pun berpura-pura marah.
"Huuh, Mas Kamal kok gitu sih. Motornya kan juga jarang dipakai daripada tidak terpakai dan nganggur di rumah kan lebih baik dijual saja!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang pura-pura kesal sambil melepaskan rangkulannya pada lengan Kamal.
"Justru kalau dijual sekarang maka harganya tidak akan terlalu jatuh harganya dan uangnya bisa kita simpan untuk biaya masuk sekolah shesil yang mau masuk SMP!" sindir Riana dengan nada suara yang kesal.
"Hmmm, Mas Kamal sudah berubah. Mas Kamal ngak sayang sama Riana lagi! Apa jangan-jangan Mas Kamal ada wanita lain ya makanya ngak setuju dengan saran Riana?" tanya Riana dengan ekspresi wajah yang curiga dengan tatapan mata yang menyipit.
Kamal yang mendengar tuduhan dari Riana langsung bereaksi dan dengan cepat meletakkan handphonenya ke atas meja lampu.
"Apa yang kamu katakan dek? Jangan menuduh Mas seperti itu. Mas tidak punya wanita lain selain Adek!" jawab Kamal dengan suara yang tegas sambil menggenggam tangan Riana dan menatap Riana dengan tatapan mata yang sungguh-sungguh.
Riana yang melihat Kamal dengan mudahnya berbohong dan bersikap manis di hadapannya tiba-tiba merasa perutnya terasa dikocok dan rasa pahit menyelubungi seluruh tenggorakannya sehingga membuat Riana ingin sekali muntah.
Riana yang tidak tahan dengan sentuhan Kamal yang dengan mudahnya bersilat lidah di hadapannya pun menarik tangannya dengan segera.
"Hmmm, kalau begitu Mas harus setuju untuk menjual kedua motor itu karena aku tidak ingin melihat motor yang nganggur di rumah!" ucap Riana dengan nada suara yang tegas dengan kedua tangan terlipat di dadanya.
Kamal yang tidak ingin berdebat lagi dengan Riana di malam hari pun menyerah hingga akhirnya menyetujui permintaa Riana dengan satu anggukan kepala.
"Janji, Mas?" tanya Riana sambil menyodorkan kelingkingnya ke arah Kamal dan dengan cepat disematkan Kamal dengan kelingkingnya.
Riana yang senang karena keinginannya di setujui pun memeluk lengan Kamal lalu mencium pipinya secara spontan.
"Terima kasih, Mas!" ucap Riana dengan senyum yang lebar lalu melepaskan pelukannya dan berbalik arah menuju tempat tidur.
"Hoaammm! Aku mengantuk sekali. Aku tidur duluan ya Mas. Mas tidurlah juga, bukankah besok mau berangkat kerja?" sindir Riana dengan nada suara yang sedikit ceria sambil tersenyum lembut.
Riana yang telah berbalik arah membelakangi Kamal pun mengubah ekspresi wajahnya dengan wajah yang dingin dan tatapan mata yang tajam.
Keesokan paginya, Riana yang telah bangun pagi pun bersikap seperti biasanya dengan menyiapkan sarapan dan membantu anak-anak dalam persiapannya ke sekolah.
"Shesil! Shawn! Ayo sarapan!" panggil Riana dengan suara yang sedikit keras dengan senyum yang lembut.
Keempatnya pun sarapan pagi bersama dan Riana yang tidak ingin membuat Kamal melupakan janjinya pun mengingatkan kembali janjinya itu semalam.
"Mas, aku hari ngak kerja jadi aku akan pergi ke dealer dan jual motornya ya sama Leo!" ucap Riana dengan senyum yang lebar.
Kamal yang masih tidak rela menjual kedua motor dimilikinya itu pun mencoba meminta Riana memikirkannya ulang.
"Hmm, dek, kita jualnya nanti saja waktu Mas libur saja. Kita bisa pergi ke dealer berdua dan menjualnya bersama." ucap Kamal dengan ekspresi wajah yang sedikit canggung.
Riana yang sadar jika rencananya akan gagal jika dirinya setuju dengan saran kamal pun mencari alasan untuk membuat Kamal menyerah.
"Kok gitu sih, Mas. Mas mau langgar janji sama Adek, ya? Mas kan sudah janji untuk setuju kalau Adek jual motornya." ucap Riana dengan ekspresi wajah yang sedih.
"Mas bukan mau melanggar janji. Mas hanya bilang untuk menunda jualnya sampai Mas libur kerja jadi kita bisa jual motornya bersama-sama!" ucap Kamal yang mencoba untuk memberikan pengertian kepada Riana.
"Huh, menjual bersama apanya? Nanti kalau harganya tidak sesuai dengan keinginan Mas yang mau mahal karena motor itu kan juga sudah menjadi barang bekas!" ucap Riana yang mencoba menolak keinginan Kamal.
"Tidak! Mas janji kalau Mas tidak akan berbuat seperti itu. Motornya akan dijual dengan harga yang pas saat kita pergi ke Dealer Motot nanti!" ucap Kamal dengan ekspresi wajah yang serius.
Riana yang mendengar janji dari mulut Kamal pun mengancungkan kelingkingnya meminta Kamal melakukan janji kelingking.
Kamal yang tidak punya pilihan lain selain setuju dengan permintaan Riana pun menautkan jari kelingkingnya dan membuat janji kepada Riana.
"Oke, baiklah. Papa sudah janji jadi papa tidak akan melanggar janjinya, kan? Shesil dan Shawn yang akan menjadi saksinya. Oke." ucap Riana yang langsung mengalihkan perhatiannya kepada kedua anaknya.
Shesil dan Shawn yang mendengar perkataan Riana pun dengan cepat dan semangat setuju dan membela Riana.
Kamal yang telah kehilangan harapan untuk mempertahankan motornya pun menarik nafas panjang lalu tersenyum kecut.
#Bersambung#
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah motor tersebut akan benar-benar dapat terjual? Tunggu jawabannya di BAB seterusnya ya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
padan muka kau Kamal..
lanjut kak thor 👍👍
2023-08-25
1
Siti Lestari
aku suka ceritanya bagus
2023-04-16
3
Sulati Cus
g enak melepas yg ena2 maksudnya 😂
2023-03-01
2