Leo dan Yudhi yang telah melaksanakan tugasnya memberi penjelasan kepada Riana pun meminta izin untuk pergi.
"Mbak, Leo dan Yudhi pamit pulang dulu ya. Takut nanti Mama khawatir dan mencari karena tadi Leo bilang mau pulang cepat!" ucap Leo dengan tawa yang canggung.
Riana yang memahami kondisi keduanya pun menganggukkan kepalanya lalu memberikan uang sebesar lima puluh ribu kepada Leo.
"Sebelum pulang, anter Yudhi pulang dulu dan traktir dia makan dulu ya!" pesan Riana yang tidak ingin menjadi orang yang tidak tau balas budi pada orang lain.
"Siap, Mbak. Kami pulang dulu ya, Mbak!" ucap Leo yang dengan cepat menaiki motornya dan memakai helmnya.
"Kami duluan ya, Mbak Riana! Semoga sukses, Mbak!" ucap Yudhi dengan ekspresi wajah dan nada suara yang tulus.
"Oke. Hati-hati di jalan dan jangan ngebut-ngebut, ya!" ucap Riana yang memberikan peringatan kepada keduanya dengan ekspresi wajah sedikit khawatir.
Riana yang melihat waktu masih ada setengah jam lagi pun masuk ke dalam mobil dan menunggu di dalam.
Riana yang mengirimkan pesan kepada anak pertamanya pun akhirnya menunggu sambil menghapus riwayat pesan dan teleponnya dengan Leo.
Tak hanya itu saja, Riana juga mengirimkan foto, video dan pesan suara tentang perselingkuhan Kamal siang tadi kepada Hana dengan harapan Hana dapat menyimpannya dengan bail sebagai bukti di kemudian hari.
Waktu pun berlalu dengan sangat cepat, Shasa dan Shawn pun pulang dan masuk ke dalam mobil satu per satu.
"Mama, kami jadi pindah tempat les hari ini?" tanya Shawn dengan nada suara yang sedikit sedih dengan tatapan mata yang penuh harap.
"Iya, sayang. Maaf ya. Ini semua demi kebaikan kalian. Kalian tidak marah dengan Mama, kan?" tanya Riana dengan ekspresi wajah yang dibuat sedih dengan sedikit senyum di bibirnya.
Shasa dan Shawn yang tidak mengatakan apapun hanya menganggukkan kepalanya dan pasrah dengan keputusan yang dibuat oleh Riana.
"Maafkan Mama yang egois ya, Nak. Maaf Mama menggunakan kalian sebagai alasan untuk mengambil Aset untuk masa depan kita!" ucap Riana dalam hati dengan tatapan mata yang sedih dengan tekad yang kuat.
Riana yang ingat akan ATM Kamal yang ada padanya pun bergerak mencari Mesin ATM terdekat untuk mengambil uang.
"Mama mau ke ATM ambil uang sebentar. Kalian tunggu di dalam mobil, ya! Jika ada sesuatu teriak aja. Oke!" ucap Riana yang trauma dengan berita penculikan anak yang bisa terjadi dimanapun dan kapanpun.
Riana yang memasuki tempat pengambilan uang itu pun memasukkan ATM dan nomor sandinya dengan cepat.
Riana yang melihat jika uang di dalam rekening Kamal ada uang sebesar Tiga Juta Rupiah pun mengambil uang sebesar Satu Juta Rupiah.
"Hmmm, uang segini aku rasa cukup untuk mencukupi kebohonganku!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang serius.
Riana yang telah menyimpan uang yang diambilnya ke dalam tas pun bergerak dengan cepat melajukan mobilnya membawa Shasa dan Shawn ke tempat les yang baru tempat salah satu teman Riana bekerja.1
"Riana! Apa kabar? Lama ngak ketemu!" ucap seorang wanita yang menyapa Riana dengan senyum lembut dan nada suara yang ceria.
"Aku baik-baik saja, Put. Aku ingin mendaftarkan anak-anakku les disini." ucap Riana sambil mengalihkan pandangannya pada Shasa dan Shawn yang baru turun dari mobil.
Shasa dan Shawn yang meliha tempat les mereka yang baru sangat besar dan luas dengan penuh warna membuat rasa ingin tau keduanya muncul.
Riana yang menganggukkan kepalanya sebagai tanda memberi izin kepada Shasa dan Shawn untuk berkeliling pun bicara dengan temannya itu empat mata.
"Put, aku mau anakku les disini tapi bisa ngak di kartu SPP-nya jangan ditulis biaya SPP per-bulannya. Kamu mungkin bisa beri cap lunas aja, gimana?" tanya Riana sambil memasang ekspresi wajah yang sedih.
"Sebenarnya sekarang aku ingin mulai berhemat dan mengambil uang suamiku sedikit demi sedikit karena suamiku sekarang sudah menjadi pria yang sedikit perhitungan!" ucap Riana denga wajah yang siap menangis kapanpun.
Putri yang sangat prihatin dan iba dengan nasib buruk yang dialami Riana pun menyetujui permintaan Riana dengan cepat.
Riana yang melakukan pembayaran dengan cepat pun akhirnya mengambil Kartu Bayaran SPP les Shasa dan Shawn.
"Put, jangan bilang pada siapapun tentang masalah ini ya terutama pada kedua anakku. Mereka ngak tau apapun masalah kedua orangtuanya." ucap Riana yang lagi-lagi memasang wajah sedih yang membuat orang yang menjadi targetnya iba.
Putri yang setuju pun menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Riana yang sedang menunggu anaknya selesai berkeliling.
Riana yang sedang memainkan handphonenya mencari informasi mengenai Suami Yonna tiba-tiba mendapatkan panggilan dari orang yang tidak dikenal.
“Siapa ini yang menghubungiku? Hmmm, aku angkat atau tidak ya?” gumam Riana dengan ekspresi wajah yang bingung dengan handphonenya yang masih berdering.
“Hah! Aku angkat sajalah!” ucap Riana dengan ekspresi wajah yang pasrah sambil meletakkan handphone itu di telinganya.
“Hallo, bisa bicara dengan Riana?” tanya seorang pria yang ada di balik telepon dengan nada suara yang terdengar sangat hati-hati.
“Hmmm, ya. Ini dengan saya sendiri. Ini siapa ya?” tanya Riana dengan ekspresi wajah yang bingung dengan alis yang mengkerut tidak memiliki petunjuk identitas orang yang menghubunginya.
“Agh, ini aku Putra, kakaknya Aris, Muridmu.” Ucap Putra dengan penuh semangat dengan ekspresi wajah bahagia.
Riana yang akhirnya mengingat orang yang menghubunginya itu pun mengubah nama bicaranya menjadi lebih ramah.
“Hmm, ada apa Put menelponku?” tanya Riana yang tidak punya petunjuk alasan Putra menghubunginya itu pun bertanya.
Putra yang sengaja menghubungi Riana karena merasa jika cintanya yang tidak terbalas waktu di Universitas bersemi kembali saat bertemu dengan Riana lagi pun menjadi kebingungan menjawab.
“Aduh! Aku harus jawab apa. Aku tidak mungkin bilang rindu pada Istri Orang. Aku bisa dipukuli suaminya nanti!” ucap Putra dalam hati dengan ekspresi wajah yang pucat.
Riana yang tidak mendapatkan jawaban dari panggilannya pun memanggil Putra beberapa kali dan mengecek layar teleponnya berpikir jika terjadi masalah pada jaringannya.
“Put! Put! Putra! Apa kau masih ada di sana?” tanya Riana dengan nada suara yang perlahan dan hati-hati dengan ekspresi wajah yang bingung.
“Hmmm, ya. Aku masih di sini. maaf sinyalnya sedikit jelek disini.” Ucap Putra yang mencari alasan agar tidak terdengar aneh di mata Riana.
“Agh, kamu bilang apa tadi Riana?” tanya Putra dengan kata-kata yang terdengar tidak dengar yang dikatakan Riana dengan tawa kecil sebagai tanda kecanggungannya.
“Aku tanya kenapa kamu hubungi aku? Apa ada sesuatu yang penting?” tanya Riana dengan ekspresi wajah yang polos.
“Hmmm, aku hanya ingin menyampaikan pesan Aris yang ingin mengajak Riana kumpul lagi seperti makan-makan. Aku yang akan traktir!” ucap Putra dengan ekspresi wajah yang penuh harap dengan hati yang berdegup kencang.
Riana yang mendengar pertanyaan Putra pun terdiam lalu tiba-tiba Riana melihat Shasa dan Shawn datang.
#Bersambung#
Apa jawaban Riana ya? Apakah Riana akan menyetujui ajakan Putra atau menolaknya? Tebak di kolom komentar ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments