Volume 01, Chapter 05.

Minamo Giri  ( Tebasan Permukaan Air )

Darah menyembur dari kepala kobold yang terbelah mengenai orang yang jatuh terduduk, yang mana membuat wajah orang itu berlumuran darah monster.

Di sisi lain kobold yang baru saja diserang Tanjiro telah menghilang digantikan dengan jatuhnya batu sihir.

"maaf, apa kau tidak apa-apa?" tanya Tanjiro pada orang tersebut tetapi masih memasang kuda kuda dan memunggungi pria itu dalam posisi bertahan.

Tidak ada jawaban Tanjiro melanjutkan bertanya padanya "apa kamu sanggup berdiri?" dan pria itu menganggukkan kepalanya, dibantu oleh Tanjiro berdiri pria itu bersembunyi di belakang Tanjiro.

melihat kearah gerobak Tanjiro berkata, "masuklah ke dalam gerobak aku akan melindungimu"

"baik" jawabnya ketakutan.

untuk sampai ke depan gerobak dimana kelompok iring iringan berkumpul hanya tersisa jarak sekitar 6 meter tidak terlalu jauh tapi ada 4 goblin yang menghalangi dan Tanjiro cukup yakin bisa mengalahkan keempat goblin didepannya.

'monster itu adalah goblin, mereka memiliki tubuh yang kecil jadi serangan mereka akan sangat rendah' pikir Tanjiro

Berlari bersama pria yang ditolongnya Tanjiro mendekat kearah  keempat goblin tersebut dan goblin terdepan mencoba menyerang kaki Tanjiro

'sangat rendah, mereka menyerang di posisi yang sangat rendang jadi yang perlu aku lakukan adalah menyerang lebih rendah' pikir Tanjiro sambil mempersiapkan serangan berikutnya.

"tetap dibelakang ku" minta Tanjiro pada pria dibelakangnya, tanpa menunggu jawaban Tanjiro menyerang ke arah goblin menggunakan teknik pernafasan air.

Zen Shuchu, Mizu no Kokyu : Shi no Kata ( Konsentrasi Penuh, Pernafasan Air : Teknik ke Empat )

Menggunakan pedangnya Tanjiro menyerang ke pinggul goblin hingga terbelah menjadi dua, tidak sampai disitu Tanjiro melompat rendah den membalikkan tubuhnya sehingga bagian kaki diatas dan kepala dibawah.

Karena lompatan kedepan sebelumnya Tanjiro langsung melesat ke arah tiga goblin lainnya yang terlihat hampir sejajar dalam jarak serangnya, disini Tanjiro melakukan tiga tebasan lain dalam posisi tubuh terbalik.

Ketiga tebasan itu langsung mengarah ke leher tiga goblin malang itu dengan mudah.

Uchishio - Ran ( Gelombang Penyerang - Bergolak )

Tebasan yang baru saja dilakukan Tanjiro terlihat seperti aliran air yang mengalir hanya saja serangan barusan dilakukan dengan posisi tubuh terbalik di udara yang mana dari sudut pandang orang lain yang melihatnya aka terpana karena keindahan gaya berpedang Tanjiro yang luar biasa.

Setelah melakukan teknik pernafasan keempat nya Tanjiro membalikkan tubuhnya kembali diudara dan mendarat dengan sempurna di kedua kakinya.

"sudah tidak apa-apa, kemarilah", ujar Tanjiro pada pria berlumuran darah yang tercengang saat melihat gerakan yang dilakukan Tanjiro sebelumnya.

Wajahnya berlumuran darah tapi matanya melotot seperti mau keluar karena terkejut dengan seberapa hebat apa yang dilihat sebelumnya.

"anooo??, apa kau tidak apa-apa, apa kau terluka" tanya Tanjiro kembali pada pria yang terdiam itu.

"TIDAK.. aku datang" jawab pria itu sambil berlari kearah Tanjiro atau lebih tepatnya pada gerobak yang berada tepat dibelakang Tanjiro.

Setelah melihat orang itu menaiki gerobak dan bergabung dengan orang yang tidak bisa bertarung lainnya Tanjiro mendekat ke arah salah satu pejuang yang masih bertarung dengan kawanan goblin dan kobold yang tersisa.

Jumlah mereka masih cukup banyak dan tidak ada tanda-tanda mereka akan menyerah jadi Tanjiro memilih untuk tetap disini dan bertarung dengan mereka.

"aku akan ikut bertarung disini, mohon bantuannya "

"ya.. karena kau disini kami merasa lebih kuat"

"benar gerakan barusan sangat luar biasa"

"aku juga melihatnya sungguh luar biasa, apa kau seorang petualang"

'petualang, apa itu?' pikir Tanjiro.

................

Raymond tinggal di sebuah desa bernama desa murmur, desa ini cukup makmur meskipun ada beberapa monster yang menyerang tapi jumlahnya sangat sedikit karena dekat dengan orario.

Karena hanya memakan waktu satu hari untuk ke kota orario Raymond sering pergi kesana bersama warga desa lain untuk menjual tanaman obat, karena desa tempat Raymond tinggal adalah desa pembudidaya tanaman obat. Oleh karena itu terkadang ada beberapa petualang yang datang ke desa untuk mengambil tanaman obat secara langsung.

Raymond sudah mengagumi petualang sejak dulu. dia pernah melihat mereka bertarung dan menganggap mereka sebagai idola. oleh karenanya Raymond bercita-cita untuk menjadi seorang petualang.

Setelah memberitahu orang tuanya tentang cita-citanya Raymond dimarahi oleh mereka, mereka menganggap seorang petualang adalah pekerjaan yang berbahaya, jadi mereka menyuruh Raymond untuk tetap tinggal didesa dan meneruskan ladang tanaman obat milik orang tuanya.

Raymond tentu saja menolaknya dan memilih untuk diam diam berlatih sendiri. sampai suatu hari ada seekor goblin datang ke ladang milik orang tuanya.

Saat itu Raymond sedang berjaga di ladang karena orang tuanya sedang pergi menjual tanaman obat ke kepala desa, sebenarnya Raymond bukanlah anak yang penurut karena dia selalu tidak mau bekerja diladang meskipun umurnya sudah 17 tahun, dia selalu pergi ke hutan dekat desa untuk berlatih menggunakan pedang kayunya.

Raymond hanya mau disuruh ketika dia sudah dipaksa dan dipukuli.oleh karena ada beberapa luka ringan di tubuhnya saat ini. Raymond adalah anak yang tidak menyukai rasa sakit jadi hanya dengan tiga pukulan dia sudah menyerah.

Saat dia melihat sekitar sambil berteduh dibawah pohon seekor goblin terluka mendekat ke arahnya. awalnya Raymond merasa takut tapi mengingat mimpinya menjadi seorang petualang Raymond memberanikan dirinya dan terjun langsung ke arah goblin yang terluka menggunakan parang yang ada di tangannya.

goblin malang yang sudah letih dan tanpa senjata itu hanya bisa melihat seorang manusia mendekat ke arahnya dengan mata haus darah mendekat ke arahnya sambil mengangkat tinggi senjata tajam di atas kepalanya...

gueekkk...

Karena kelelahan goblin tidak bisa bertahan apalagi menyerang baling dan berakhir dipukuli oleh Raymond 

Wueekkk

gieeekkk

gieekkkk.

croottt

Raymond terus membacok goblin yang terjatuh dengan brutal "MATI..MATI..MATILAH..MATILAH DAN JADILAH BATU LONCATAN UNTUKKU" teriak Raymond seperti orang gila.

Raymond terus membacok sang goblin malang hingga akhirnya goblin tersebut hilang menyisakan baru sihir di tempatnya mati.

"HAHAHAHHHAHA.. aku mengalahkannya, aku rasa tadi aku mengalahkannya dengan satu serangan HAHAHAHA",  gumam Raymond merasa percaya diri "AKU TAHU ITU AKU LUAR BIASA, AKU PUNYA BAKAT MENJADI SEORANG PETUALANG...."

"...."

"Tidak..mungkin saja .. tidak... aku pasti berbakat untuk menjadi seorang"

"PAHLAWAN"

Setelah membunuh goblin Raymond memberitahu kedua orang tuanya tentang pertarungan dengan goblin tadi dan meminta mereka memberikan perbekalan untuk pergi ke kota orario untuk menjadi petualang.

Tetapi lagi lagi orang tuanya tidak mengizinkannya dan menyuruh Raymond menyerah akan mimpinya. bahkan ayahnya mengatakan bahwa itu hanya seekor goblin dan mengatakan itu bukanlah hal yang luar biasa.

Karena hal itu Raymond memukul ayahnya dan pergi meninggalkan keluarga dengan teriakan dari orang tuanya di belakangnya.

Raymond pergi seorang diri hanya dengan sebuah pedang yang pernah dibelinya dengan tabungannya beberapa bulan lalu.

Karena sudah mengetahui jalan menuju orario dia pergi sendiri sampai dia bertemu dengan sebuah karavan yang akan menuju ke orario untuk menjual dagangan mereka, saat Raymond bergabung dia senang karena ada beberapa petualang dari sebuah familia, mereka menyebut diri mereka dari Bheara familia.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!