Volume 01, Chapter 09.

"Dewi Freya?" gumam Tanjiro sambil melihat ke arah puncak Babel, tanpa diketahui Tanjiro sangat beruntung karena saat ini Freya sedang tidak berada di puncak Babel,  jika saja dia berada disana mungkin saja dia akan merasa takjub dengan jiwa yang dimiliki Tanjiro.

"Tanjiro kami akan pergi ke Utara bagaimana denganmu"

"simon-san aku akan pergi mencari seorang dewa bernama takemikazuchi apakah anda tahu dimana beliau berada?" tanya Tanjiro pada Simon.

"hmm.. aku tidak tahu tapi mungkin kau bisa bertanya pada guild petualang di tempat itu banyak informasi tentang para dewa dan familianya.

"guild petualang"

"benar kau melihat bangunan besar di sana itu adalah guild kau bisa datang dan bertanya disana" jawab Simon menunjuk bangunan yang cukup besar dimana banyak sekali orang yang keluar masuk ke bangunan tersebut.

"terima kasih banyak simon-san"

"sepertinya sampai disini Tanjiro"

"benar, terima kasih atas tumpangannya saya sangat senang bertemu dengan kalian"

"aku juga senang bertemu denganmu Tanjiro, kalo begitu kita akan pergi dari sini.. Sampai jumpa"

"sampai jumpa Tanjiro"

"bye bye"

"jaga dirimu nak " banyak kalimat perpisahan dari kelompok caravan yang pergi bersama Tanjiro sebelumnya.

"uhmm.. sampai jumpa jagalah diri kalian!!" jawab Tanjiro sambil melambai pada kereta / gerobak yang perlahan menjauh.

"aku sudah sampai sejauh ini semoga saja akan ada petunjuk untukku pulang" gumam Tanjiro sambil berjalan kearah guild petualang yang bertuliskan pantheon.

Saat memasuki ruangan Tanjiro disambut dengan pemandangan bangunan yang sangat luas dengan loket dan lebar panjang dengan sosok yang terlihat seperti para petualang sedang mengantri pada sosok pelayan atau resepsionis.

"kupikir aku juga harus mengantri" gumam Tanjiro memasuki barisan paling belakang.

Sosok yang terlihat di balik meja sepertinya adalah penunggu atau pelayan tempat ini karena mereka menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh para petualang. para pelayan itu mengenakan satu set rompi dan celana hitam dengan kemeja lengan panjang berkerah putih dibawahnya, mereka juga terlihat memakai dasi di leher mereka yang berbentuk kupu - kupu dan sepatu bot hitam atau coklat.

Setelah menunggu beberapa lama akhirnya tiba giliran Tanjiro untuk berhadapan dengan resepsionis dari bangunan ini.

"selamat datang, namaku Eina Tulle apa ada yang bisa kubantu" tanyanya dengan senyum ramah.

Sosok di depannya sepertinya adalah seorang wanita bersosok langsing ras elf dengan rambut berwarna coklat sebahu dan mata berwarna zamrud juga sepasang kacamata menghiasi wajahnya.

Melihat wajahnya Tanjiro merasa tersipu karena kecantikan senyumannya tapi Tanjiro dengan cepat mengingat kembali alasan dia ke tempat ini dan bertanya pada wanita di balik meja.

"permisi Tulle-san namaku kamado Tanjiro alasan saya kesini karena saya ingin bertanya tentang seorang dewa bernama takemikazuchi apakah anda tahu dimana beliau tinggal" tanya Tanjiro dengan sopan.

".."

"anoo.." melihat orang di depannya sedikit terdiam Tanjiro sedikit bingung.

"maaf hanya saja anda terlihat sangat sopan jadi aku sedikit terkejut"

"eh"

"tempat ini jarang sekali ada yang berbicara sopan sepertimu, kau bertanya tentang dewa takemikazuchi benar"

"itu benar"

"hmmm.. ini pertama kalinya aku melihatmu apa kau baru pertama kali datang ke orario"

"iya .. ini pertama kalinya aku datang ketempat ini"

"jadi seperti itu apa kau ingin mendaftar sebagai petualang dan ingin bergabung dengan dewa takemikazuchi" jawab Eina menyimpulkan.

"ehm.. aku tidak tahu apakah aku akan bergabung dengan familia atau tidak hanya saja aku ingin bertemu dengannya untuk menanyakan sesuatu" balas Tanjiro tanpa menyembunyikan apapun.

"jadi begitu.. baiklah tunggu sebentar aku akan. melihat dokumen tentang tempat tinggal dewa takemikazuchi"

"terima kasih banyak Tulle-san"

Setelah diberitahu tentang tempat dewa takemikazuchi tinggal oleh Eina, Tanjiro berterima kasih dan mengucapkan salam perpisahan sambil melambai padanya.

"kalau begitu aku pergi Tulle-san, ittekimasu"

"itterasshai, kamado-kun" tanpa sadar Eina menjawabnya dan merasa seperti sudah dekat dengan sosok yang baru saja dikenalnya.

***

sebelumnya ..

"yosh.."

Eina Tulle selalu bangun pagi dan bekerja dengan giat sambil melihat ke arah kaca di depannya Eina mengenakan seragam guild yang harus dikenakan semua anggota ouranos familia.

"selamat pagi semuanya" tegur Eina pada staff lain sesama anggota dari ouranos familia.

Guild persekutuan adalah Familia yang dibuat oleh dewa ouranos dan guild Persekutuan adalah organisasi yang mengelola Familia di dalam orario serta guild juga memberikan layanan kepada para petualang berupa informasi dan hal apapun dibutuhkan oleh para petualang.

Eina bergabung dengan guild dan bekerja sebagai seorang resepsionis sekaligus sebagai penasehat Eina selalu melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh.

Terlebih Eina baru saja mendapatkan pekerjaan sebagai penasehat seorang manusia, menurut Eina anak yang ditugaskan padanya saat ini adalah pribadi yang manis sifatnya yang terus terang dan sungguh-sungguh membuat Eina nyaman menjadi penasehat petualang untuknya.

Meskipun dalam hatinya Eina masih mengalami trauma karena petualang yang ditugaskan sebelumnya telah meninggal.

"eina-saaaaaaaaaan"

"hm" saat Eina sedang membaca bukunya dia mendengar suara yang sudah dikenalnya beberapa minggu ini, suara seorang bocah laki laki yang sedikit membuatnya tertarik, bocah yang saat ini ditugaskan padanya

Menutup bukunya Eina memicingkan matanya yang berwarna zamrud ke arah sumber suara, rambut coklatnya yang sengaja dipotong pendek sebahu sedikit bergoyang lembut dan telinganya yang panjang sedikit berkedut, Eina bukanlah seorang elf melainkan dia adalah seorang high elf.

Diguild persekutuan Eina dikenal sebagai seorang nona yang ramah dan mudah berteman dengan siapapun, dia saat ini sedang beristirahat membaca buku karena saat pagi menjelang siang seperti ini biasanya para petualang masih berada di bawah tanah.

'sepertinya dia kembali dengan selamat' pikir Eina merasa tenang karena mendengar suara anak itu.

Sebenarnya Eina ingin menghentikannya bocah itu menjadi seorang petualang karena umurnya yang masih 14 tahun tetapi melihat kesungguhan di matanya yang berwarna merah cerah Eina hanya bisa membantunya sebaik mungkin, meskipun hatinya gelisah karena harus mengirim anak muda itu ke tempat yang berbahaya.

"EINAAA -SAAANNN" tiba-tiba sumber suara yang ditunggunya datang dalam sosok seseorang melompat ke arah guild dengan berlumuran darah hitam di seluruh tubuhnya

"EEKKKKKKKKK" Eina hanya bisa berteriak karena terkejut.

"tolong beritahu saya semua yang anda ketahui tentang Aiz Wallenstein-san!" lanjut sosok berlumuran darah di depannya.

"bell... jika kamu berlumuran darah seperti itu seharusnya kamu mandi dulu" tegur Eina pada sosok pria yang sebelumnya berlumuran darah.

"saya minta maaf" jawabnya sambil mengusap rambutnya yang basah sehabis mandi.

Eina meminjamkan kamar mandi guild untuk bell membersihkan diri, dan setelah selesai mandi saat ini mereka sedang di sebuah ruang kecil yang ada di lobby guild, mereka berdua duduk saling berhadapan dengan meja yang memisahkan mereka berdua.

Sosok pria muda di depannya bernama bell cranel dia adalah petualang muda yang baru saja ditugaskan dengan Eina.

Bell cranel adalah seorang pria dengan rambut berwarna putih yang terlihat acak acakan tetapi juga terlihat lembut dengan mata merah cerah yang terlihat riang bell jauh lebih manis ketimbang beberapa pria petualang yang terlihat kasar.

Bell juga sangat polos jadi Eina sangat berhati-hati untuk mengajarkannya apapun agar bell tidak menjadi petualang yang sembrono.

"jadi kau ingin mengetahui informasi tentang Aiz Wallenstein-san ya?? kalau boleh aku tahu mengapa bell?

"Anoo..jadi sebenarnya"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!