Bab 15

Qian sangat takut Darrel salah paham atas ciuman tadi dia langsung menjelaskan panjang lebar, sementara Darrel hanya diam.

"Der sungguh aku tidak sengaja tolong lupakan kejadian tadi ya?"

Kedua mata Darrel berkedip kemudian mengangguk tanda setuju untuk melupakan kejadian barusan.

"Wanita satu ini membuatku harus extra sabar, setelah dia merenggut ciuman pertama ku, dia juga sudah menendang aset berharga dalam hidupku hingga masih terasa linu begini, aku bahkan belum melihat apa aset ini masih bisa berdiri tegak nantinya." Dalam hati Darrel.

"Aku mau tidur Der, kau temani aku ya aku takut,"

Seperti biasa Darrel tidak akan banyak bicara dia seperti malas mengobrol dengan Qian, tapi kali ini meskipun Darrel tidak menjawab tapi Darrel merangkul pinggul Qian lalu mengarahkannya untuk berjalan kearah ranjang.

Qian pun menurut kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang, sementara Darrel hanya duduk dan bersandar pada headboard untuk menemani Qian yang masih ketakutan.

Didekat Darrel akhirnya Qian bisa tertidur dengan nyenyak, barulah ketika jam makan malam sudah tiba Darrel membangunkan Qian untuk makan malam.

Sejak Qian tidur tak sedikitpun Darrel berjanjak dari sana, sesekali Darrel menatap wajah Qian yang sedang tertidur disampingnya.

Dirabanya pipi Qian oleh satu tangan Darrel, membuat Qian terbangun dari tidurnya. Beginilah cara Darrel membangunkan Qian ketika Qian tertidur.

"Der," lirih Qian.

Setelah Qian bangun barulah Darrel menurunkan tangannya dari pipi Qian.

"Sudah waktunya makan malam!"

"Astaga aku tertidur sore-sore, apa kau sejak tadi tidak meninggalkan aku?"

Tetapi seperti biasanya Darrel tidak suka basa-basi dan segera turun dari atas ranjang, membuat Qian terbiasa dengan sikap Darrel yang memang tidak banyak bicara seperti itu.

Tapi meskipun sikap Darrel sangat membosankan dan menyebalkan, tapi Darrel lah yang membuat Qian tetap hidup hingga saat ini, tak ingin ditinggalkan oleh Darrel yang sudah berjalan keluar kamar, Qian buru-buru menyusul.

Di meja makan sudah tertata rapih makanan yang telah disediakan oleh pelayan, ada Liu juga yang sudah menunggu.

"Kalian tiba baru mau aku panggilkan ke kamar,"

"Aku tadi tidur dan Darrel berjaga di kamarku Liu,"

"Der, kau tidak perlu berjaga di kamar di mansion kan sudah aman karena banyak bodyguard,"

"Tetap saja Liu, aku masih parno,"

"Ya sudah, kalua perlu kita taruh dua bodyguard tepat didepan pintu kamar mu ya Qi biar kau tenang?"

"Tidak usah, nanti Darrel akan tidur kembali di kamarku kok, iya kan Der?"

Darrel mengangguk tanda setuju dan Qian pun merasa lega akhirnya Darrel akan kembali tidur didalam kamarnya. Mereka bertiga makan malam bersama.

"Qi, besok kita harus datang untuk melihat persiapan peresmian hotel baru milik mu, hotel yang sudah dengan susah payah dibangun oleh mendiang ayahmu untuk dipersembahkan bagi putri tercintanya, dia berharap kau bisa mengelola hotel membesarkan hotel seperti ayahmu bisa membesarkan bisnis casinonya!"

"Iya Liu, ini sudah bukan saatnya aku bermain-main lagi aku janji akan fokus bekerja, aku sadar sekarang ini aku tidak memiliki siapapun lagi kecuali kau, aku janji tidak akan mengecewakan mu dan mendiang ayah,"

"Kau juga masih punya Darrel, dia kan suamimu masa tidak disebut,"

"Tidak Liu, Darrel akan pergi setelah kita menemukan penjahat itu! Kami sepakat akan bercerai nanti, iya kan Der?"

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Darrel pun hanya mengangguk pelan.

"Ya Tuhan apa kalian tidak bisa mencoba saling mencintai? Kenapa harus bercerai?"

"Itu sudah menjadi kesepakatan kami Liu, lagipula aku dan Darrel tidak saling mencintai jadi untuk apa kami memaksakan,"

Liu hanya geleng-geleng kepala mendengar apa yang dikatakan oleh Qian. Setelah makan malam selesai, Darrel langsung beranjak pergi meninggalkan meja makan.

"Der, kau mau kemana?" tanya Qian

"Tidurlah nanti aku menyusul!"

"Sudah biarkan saja mungkin Darrel akan mengintrogasi Austin," kata Liu.

Darrel pergi menuju tempat casino disana ada tempat untuk menyiksa para pengkhianat, di sanalah Austin dipasung dan dirantai.

Darrel masuk kedalam ruangan tersebut, Austin yang melihat kedatangan Darrel langsung memelas pada Darrel.

"Der, aku mohon bebaskan aku dari sini penjahat yang asli masih berkeliaran diluar sana Der, kita harus bekerjasama!"

"Akui semua kejahatan mu pada polisi maka kau akan aku biarkan hidup!"

"Tidak akan! Aku tidak akan pernah mengakui apa yang tidak aku lakukan, dan asal kau tau Der aku tidak mungkin melakukan ini semua untuk apa aku bertindak gila seperti itu? Pikirkan itu baik-baik Der," teriak Austin.

Darrel mendekatkan wajahnya pada wajah Austin.

"Kau tau, aku bisa membuat kedua tangan mu dan kedua kaki mu terpisah dari anggota tubuhmu yang lain,"

"Jangan aku mohon jangan Der,"

"Kalau begitu mengaku pada polisi atas semua kejahatan mu!"

"Oke, oke Der aku akan mengakuinya walaupun bukan aku pelakunya! Tapi aku meminta padamu satu hari saja, agar kau memikirkan ulang tentang semua kejadian yang terjadi kau ingat-ingat apakah ada yang terlewat oleh mu, setelah itu aku akan mengakuinya walaupun itu artinya penjahat yang asli masih berkeliaran,"

"Aku beri kau waktu satu hari sampai aku mencari bukti tambahan," kata Darrel.

Setelah mengancam dan mencapai kesepakatan bersama, Darrel memutuskan akan menyelidiki ulang untuk memastikan bahwa memang Austin pelakunya.

Pukul 01.00 dini hari Darrel baru tiba didalam kamar Qian, dilihat olehnya Qian sudah tertidur pulas namun tidak memakai selimut, Darrel pun memakaikan selimut pada tubuh Qian agar dia tidak tidur kedinginan.

Hingga pukul 03.00 dini hari Darrel masih gusar diatas ranjang, kedua matanya masih memikirkan apa yang terlewat olehnya? Apakah Austin sengaja mengecohnya? Atau memang bukan Austin pelaku sebenarnya?

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Qian sudah berpakaian rapi sementara Darrel masih tertidur karena dia baru beberapa menit lalu ketiduran.

Hari ini Qian akan pergi bersama dengan Liu untuk melihat persiapan acara peresmian hotel baru milik Qian yang telah rampung dibangun.

"Der, Der bangun!"

Dalam mimpinya Darrel bermimpi sedang berada dibawah pohon tinggi besar dan lebat, pohon itu persis seperti tato yang ada dipunggung para pembunuh bayaran yang tewas di Italia.

"Eunghh," Darrel terbangun dari mimpinya.

"Der, kau kenapa?"

"Tidak apa-apa,"

"Aku harus pergi bersama dengan Liu, bersama beberapa bodyguard juga jadi kau istirahat saja di sini,"

"Aku akan ikut,"

"Tidak perlu toh Austin sudah kita tangkap Der, aku aman dengan Liu dan beberapa bodyguard yang lain,"

"Kau tau pohon willow?"

"Tau,"

"Makna dari pohon willow itu apa?"

"Emmtth banyak maknanya,"

Saat sedang mendengarkan Qian menjelaskan Liu memanggil Qian karena mereka sudah terlambat.

"Qian, kita sudah ditunggu nih!"

"Der, nanti aku send pesan saja makna pohon willow, aku pergi dulu dan kau mandi sana bau tau,"

Ckckckck...

Qian pergi meninggalkan kamar kemudian bersama dengan Liu dan beberapa bodyguard mereka pergi untuk menuju hotel baru.

Didalam perjalanan Qian menuliskan makna pohon willow yang ingin diketahui oleh Darrel.

Pohon willow menurut Timur kuno banyak kelompok etnis Timur mengaitkan pohon willow dengan kematian dan penguburan.

Orang Cina kuno menganggap willow terutama sebagai pohon musim semi yang berbunga di alam dan prinsip feminin (Yin), termasuk seksualitas.

(Dan kau tau Der, sapaan Liu dalam bahasa Cina memiliki makna pohon willow).

"Sit!!!"

Pesan dari Qian diterima oleh Darrel dan kalimat terakhir dari pesan yang dikirim oleh Qian, membuat Darrel langsung beringsut dari atas ranjang dan berlarian mengejar Qian.

"Nona Qian sudah pergi?"

"Baru saja mobil mereka pergi Tuan," kata pelayan.

Darrel langsung menghubungi anggota group Limson untuk melacak posisi handphone milik Qian, sembari Darrel langsung masuk kedalam mobil untuk mengejar Qian.

"Halo, coba lacak posisi nomor handphone yang akan aku kirim,"

"Baik Tuan,"

Darrel mematikan sambungan teleponnya lalu mengirimkan nomor handphone Qian pada anggota group Limson yang berada di Beijing, segera dilacaknya nomor telepon Qian dan lokasinya langsung dikirimkan pada Darrel.

Setelah menerima pesan lokasi keberadaan Qian saat ini, Darrel menginjak pedal dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.

Terpopuler

Comments

Dewi Ansyari

Dewi Ansyari

Benar kan Itu Liu pelakunya.
jangan 2 Dy punya dendam

2024-05-27

0

Dewi Anggya

Dewi Anggya

yg benar nihh si ibu tiri ....woooow

2023-12-31

1

Salbiah Usman

Salbiah Usman

aq lebih curiga pada Liu dr pada austin

2023-06-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!