Piazza della Repubblica Florence Italian.
Berhubung Darrel tidak tau tempat mana yang disukai oleh Qian, untuk bertanya pun Darrel tidak berniat maka dari itu Darrel langsung saja berhenti di Piazza della Repubblica.
Salah satu bangunan bersejarah di kota Florence Italia abad ke-19 Masehi, terdapat lapangan bersejarah berbentuk persegi dengan dibatasi semacam gerbang besar nan artistik membuat tempat ini meskipun masih pagi tapi sudah lumayan ramai karena ada banyak wisatawan yang datang ke tempat ini.
Selain Darrel melihat bangunan bersejarah di tempat ini, Darrel pun tertarik untuk mencicipi coffe karena di sini terdapat banyak cafe bersejarah yang menyediakan berbagai jenis coffe.
Dilihatnya oleh Darrel dengan gaya centil Qian masih mengambil foto bangunan bersejarah itu, sambil beselfie sendirian.
"Aku akan minum coffe," kata Darrel.
"Ya sudah sana minum saja!" ketus Qian.
"Ikutlah,"
"Tidak, aku masih mau mengambil foto!"
Akhirnya Darrel pun mengalah dan dia tetap berada disamping Qian, sadar jika Darrel tak kunjung pergi dari sisinya sehingga mengganggu hasil foto yang seharusnya sangat estetik malah harus terganggu karena wajah Darrel ikut terbawa.
"Kenapa kau tidak juga pergi? Sana mengganggu saja!"
Tapi Darrel hanya berdiam diri diam mematung.
"Kau ini, katanya mau minum coffe ya sudah sana!"
Karena kesal Darrel selalu mengacuhkannya, Qian pun memutar memegang kepala Darrel lalu memutarnya sehingga mau tidak mau Darrel menatap wajah Qian.
"Jawab pertanyaan ku yang satu ini!" kesal Qian sambil kedua tangannya masih memegangi tulang pipi Darrel.
"Aku tidak bisa terlalu jauh darimu," kata Darrel.
"Apa kau jatuh cinta padaku? Ckckckck, tapi maaf ya aku tidak mungkin membalas cintamu!"
"Bukan itu maksudku, aku tidak mungkin berjarak terlalu jauh darimu karena itu akan membahayakan keselamatan nyawamu!" diperjelas kembali oleh Darrel pasalnya Darrel pun tidak terima atas sikap Qian yang terlalu percaya diri.
Setelah mendengar jawaban dari Darrel, Qian melepaskan kedua tangannya dari tulang pipi Darrel, untuk melanjutkan foto-foto pun Qian sudah kehilangan mood baiknya.
"Baguslah, memang sepatutnya seperti itu tetaplah bodyguard dimataku, tugasmu adalah melindungi aku,,"
Qian pun pergi lebih dulu disusul oleh Darrel dibelakangnya menuju ke salah satu cafe disekitar Piazza della Repubblica.
Setelah minum coffe, keduanya meninggalkan tempat tersebut menuju ke tempat wisata lainnya, ada beberapa tempat yang keduanya kunjungi.
Pallazo Vecchio, situasi disini sangat ramai sehingga beberapa orang yang mengikuti Darrel dan Qian tidak bisa menghabisi Qian ditempat ini.
Lanjut lagi, Darrel dan Qian melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi beberapa museum, salah satunya Galery Akademia Firenze, museum Bargello dan lain-lainya.
Ketika hari sudah sore, Darrel memutuskan ingin melihat sunset di kota Florence ini, dan untuk melihat sunset yang indah Darrel pun membawa Qian ke sebuah alun-alun yang terletak diatas bukit.
"Kau mau melihat sunset?" tanya Darrel tanpa menoleh kearah Qian.
"Mau, kau tau tempatnya?" lagi-lagi Qian tidak mendapatkan jawaban dari Darrel dia malah langsung masuk kedalam mobil, mau tidak mau Qian pun mengikuti Darrel.
Piazzale Michelangelo!
Merupakan alun-alun yang dibangun diatas bukit. Tempat ini dirancang oleh arsitek Giuseppe Poggi dan dibangun pada tahun 1869. Dari atas bukit sini jugalah kita bisa melihat hamparan kita Florence secara leluasa.
Darrel membawa Qian mengikuti langkah kakinya karena memilih untuk memarkirkan mobil di bangunan bersejarah Porta Dan Miniato lalu selanjutnya akan berjalan kaki menuju bukit Piazzale Michelangelo.
"Aduh hei tunggu, kakimu itu ada baretnya atau ada mesinnya kenapa jalanmu cepat sekali!"
"Kalau kau lelet seperti itu bisa-bisa bukan sunset yang kita lihat tapi bintang!" sindir Darrel.
"Cih,"
Suasana yang lumayan sepi di rute ini membuat Darrel memasang sungguh-sungguh indera pendengarannya, Darrel mulai merasakan suasana yang tidak beres.
Diraihnya tangan Qian oleh Darrel.
"Lari!"
"Hah apa? Kenapa?"
Tapi tangan Darrel menarik tangan Qian hingga Qian pun terpaksa ikut berlari.
"Tembak! Tembak!" suara salah satu musuh.
Dor.
Dor.
Dor.
Darrel dan Qian pun bersembunyi disalah satu bangunan, lalu Darrel mulai mengeluarkan pistol yang sudah dia isi peluru sebelumnya.
"Hei apa itu tadi tembakan sungguhan? Itu tadi peluru sungguhan yang mereka tembakkan kearah kita?"
"Menurut mu?"
"Apa itu benar orang-orang yang dikirim oleh orang yang menargetkan aku untuk dihabisi selanjutnya setelah ayahku?"
Tapi Darrel tak lagi menjawab dia mulai mengambil posisi untuk membalas serangan.
Dor.
Dor.
Dor.
"Aku takut sekali, ya Tuhan bagaimana ini hei apa kau akan menang?"
Aaa...
Dua orang musuh tertembak oleh Darrel tapi sepertinya bangunan ini tak lagi akan karena musuh semakin membabi-buta menembak kearah bangunan yang menjadi tempat persembunyian Darrel dan Qian.
Darrel kembali menarik tangan Qian untuk berlari mengambil sisi kanan agar tak terlihat oleh musuh, wajah Darrel sangat terlihat serius terkadang Qian menatap wajah Darrel yang mulai berkeringat dan terlihat sangat waspada.
"Apa ayah tau ini semua akan terjadi, makanya aku dinikahkan dengannya? Jika bukan Darrel yang saat ini berada disisiku mungkin tadi aku sudah tewas terkena tembakan," dalam hati Qian.
Sampai ditempat yang lebih tinggi dari musuh, posisi ini jelas menguntungkan Darrel karena dia bisa lebih jelas melihat posisi para musuh.
"Menunduk, jangan pernah angkat kepalamu jika kau masih ingin hidup!"
"Iya," baru kali ini Qian tidak melayangkan protes atas apa yang diperintahkan oleh Darrel.
Dor.
Dor.
Dor.
Darrel kembali mengambil satu pistol lagi yang dia sembunyikan dibetisnya, sambil menggigit satu pistolnya Darrel pun buru-buru mengisi kembali peluru pada kedua pistolnya.
Hingga kembali Darrel menembakkan dua pistol sekaligus kearah musuh, kemudian kembali sembunyi menunduk.
Aaa..
Beberapa musuh sudah terkapar tak berdaya. Darrel mengajak Qian untuk pergi ketempat lebih tinggi lagi dengan posisi keduanya tetap menunduk dan bersembunyi dibalik bukit-bukit.
Kembali aksi saling tembak itu dilakukan oleh Darrel dan musuh yang tersisa hingga tembakan terakhir Darrel dia sengaja arahkan kebagian perut musuh terakhirnya dengan maksud untuk menggali informasi dari musuh yang masih hidup.
Dor..
Aaa...
Musuh terakhirnya terkapar tapi masih hidup, saat yakin sudah menghabisi seluruh musuh Darrel bermaksud untuk menghampiri musuh terakhir yang tertembak dibagian perutnya sehingga masih hidup.
Tapi saat Darrel dan Qian mendekati musuh tersebut, seseorang telah menembak hingga musuh yang masih hidup pun mati. Orang yang menembak pun langsung berlari kencang saat Darrel berusaha menembakkan pistolnya.
"Sit!!"
"Kenapa?"
"Dia menembak musuh yang sengaja aku biarkan hidup karena tidak mau sampai dia membuka mulut!"
"Oh my God, jadi bagaimana apa kita selamanya tidak akan tau siapa dalang dibalik ini semua?"
Darrel terlihat serius meraba-raba tubuh musuh-musuhnya yang terkapar, tapi tidak ada barang atau apapun dari tubuh musuh-musuhnya, hanya saja Darrel salah fokus dengan tato yang terdapat pada setiap punggung para musuh-musuhnya.
"Tato apa itu?"
"Terlihat seperti sebuah pohon dengan daun yang merambat!" kata Darrel.
Darrel pun memfoto tato dari para musuhnya, lumayan ini bisa menjadi salah satu langkah awal untuk Darrel semakin dekat dengan dalang dibalik ini semua.
"1, 2, 3, 4, 5 dan yang disana 1, 2 total 7 orang dan kau menang? Kau hebat sekali!" Qian menepuk-nepuk pundak Darrel.
Dan langsung Darrel hempas tangan Qian yang menyentuh pundaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Dewi Anggya
seruuu
2023-12-31
0
zona humor
pake nanya
2023-06-13
0
Gojong Rajagukguk
👍❤️❤️
2023-04-03
0