Turun dari bukit hari sudah sangat gelap dan kedua kaki Qian pun sudah membengkak karena dia terlalu banyak berjalan kaki dan berlari menghindari musuh tadi.
Akhirnya keduanya sampai dimobil, Darrel langsung menyalakan mesin mobil dan mobil pun mulai melaju untuk kembali ke hotel.
"Kau lapar?"
"Iya, tapi aku takut makan di luar hotel kejadian tadi membuatku trauma, aku tidak bisa bayangkan saat mereka dengan tega meracuni ayahku, pasti ayahku merasa sangat kesakitan!"
Hiks..
Hiks..
Hiks..
Melihat Qian menangis tersedu-sedu, Darrel pun memilih membiarkannya menangis walaupun sesekali Darrel merasa tidak tega ternyata gadis bermulut pedas ini bisa juga menangis dihadapannya.
Flashback on!
Ayahnya Qian mendapatkan undangan dari tamu VVIP casino miliknya di sebuah vila, Beijing Seikei Garden Vocation.
"Tuan aku diminta oleh Paman Nick untuk menemani mu kemanapun kau pergi!" ujar Darrel.
"Aku tau Der, tapi sejauh ini aku hanya merasa ada yang mengincar nyawaku tapi itu belum tentu benar bukan?"
"Tapi Tuan,"
"Di sana aman karena itu acara dari tamu VVIP tempat casino milikku, di sana juga ramai aku akan pergi bersama Austin saja kau pergilah menemani Qian di acara pesta temannya,"
"Apa anda yakin Tuan, Austin bisa dipercaya?"
"Dia asisten pribadiku yang paling awet, aku percaya padanya dan kau juga harus percaya padanya!"
"Baik Tuan, tapi jika terjadi sesuatu harap hubungi aku!"
"Kau memang laki-laki yang baik Der, kalaupun ada yang benar-benar menginginkan kematian ku setidaknya aku lega karena sudah ada kau, dan Liu yang akan selalu melindungi putriku!"
Setelah pembicaraan didalam kamar Ayahnya Qian itu, saat itulah hari terakhir Darrel bisa melihat ayahnya Qian dalam kondisi hidup, karena beberapa saat kemudian Ayahnya Qian pergi bersama dengan Austin menuju Vila.
Setibanya di vila, rupanya cukup ramai juga karena ini adalah acara untuk bersenang-senang.
"Tuan Feng, wah ternyata kau mengundang banyak orang ke vila ini! Bisa aku tebak, bisnis mu pasti melambung tinggi kah?"
Hahahaha...
"Kau tepat sekali Tuan, maka dari itu sebagai raja casino di Beijing tentu saja kau harus ikut hadir untuk memberikan ku selamat bukan?"
Ayahnya Qian dan tamu VVIP casinonya itu terlihat mengobrol santai, sementara Austin tersadar jika hadiah hadiah untuk tamu VVIP itu tertinggal didalam mobil.
"Tuan, aku permisi mengambilkan hadiah untuk tuan Feng, hadiahnya tertinggal di mobil!"
"Ya sudah ambil lah!"
Tapi pada saat Austin kembali dengan membawa hadiah berupa bucket wiski paling mahal untuk tamu VVIP itu, semua orang terlihat beramai-ramai berteriak histeris dan berkumpul disatu tempat. Tempat yang diketahui oleh Austin itu adalah tempat Ayahnya Qian duduk.
Pikiran Austin langsung tidak karuan, dia bahkan menjatuhkan wiski ditangannya lalu berlari untuk melihat apa yang terjadi.
Dilihatnya oleh Austin mulut Ayahnya Qian sudah mengeluarkan busa dan tubuhnya kejang-kejang hebat, tentu saja tamu VVIP dan para petugas vila pun langsung berusaha menghubungi ambulance.
"Tuan! Tuan apa yang terjadi!"
Austin mencengkram tamu VVIP yang tadi terakhir mengobrol dengan ayahnya Qian.
"Aku tidak tau, dia hanya meminum apa yang dibawakan oleh pelayan tadi!"
Austin pun panik luar biasa dan berencana untuk membawa sendiri ayahnya Qian ke rumah sakit, tapi ambulance sudah tiba lebih cepat. Sayangnya saat tenaga medis memeriksa keadaan ayahnya Qian, ayahnya Qian telah meninggal dunia.
Rasanya seperti mimpi karena Austin langsung dilanda ras bersalah, kedua matanya sudah berkaca-kaca tidak tau apa yang harus dia jelaskan nanti pada Qian atas situasi ini.
Kembali Austin mencengkram leher tamu VVIP itu.
"Katakan yang mana pelayan yang membawakan minuman ini?"
"Aku masih ingat wajahnya jika satu-satu diperlihatkan wajah pelayan di cafe ini!"
Akhirnya jenazah ayahnya Qian langsung dibawa menggunakan ambulance, sementara Austin harus berada di vila terlebih dahulu untuk mengetahui pelayan yang sudah mencampurkan racun kedalam minuman tersebut.
Semua pelayan vila berjejer dihadapan Austin dan tamu VVIP tali satupun tidak ada yang mirip dengan pelayan tadi!
"Cepat katakan yang mana?" bentak Austin.
"Tidak ada satupun diantara mereka yang wajahnya sama seperti pelayan tadi,"
"Jangan bercanda!"
"Maaf Tuan jika saya memotong pembicaraan, tapi memang belum waktunya bagi kami untuk menghidangkan minuman pada para tamu, kami baru akan menghidangkan minuman tepat pukul 10.00, dan kejadian terjadi pukul 09.50 bukan?"
"Apa? Jadi maksud mu apa ada penyusup ke vila ini?"
Semuanya diam karena tidak berani berspekulasi, akhirnya Austin pergi ke bagian cctv untuk memeriksa siapa yang sudah membawakan minuman tersebut.
Ternyata setibanya di ruang cctv, petugas yang berjaga ditemukan pingsan dan rekaman cctv hari ini telah dihapuskan.
Flashback off!
Setibanya di hotel, Qian langsung membanting tubuhnya diatas ranjang karena ketika mengingat tentang ayahnya, maka Qian akan terpuruk seperti ini.
Melihat Qian seperti itu, Darrel pun merasa iba.
"Kau mau makan apa? Biar aku bawakan ke kamar?"
"Aku tidak lapar, dan aku tidak mau makan,"
"Baiklah kalau begitu,"
Darrel yang semula ingin makan di restoran bawah, merasa tak tega jika membiarkan Qian sendirian seperti ini didalam kamar. Meskipun gadis itu menyebalkan tetap saja Darrel merasa iba jika melihat wanita menangis.
Terpaksa Darrel memesan makanan hotel untuk dibawakan ke kamarnya! Hingga beberapa saat kemudian, seorang pelayan hotel menekan bel kamar.
Darrel pun segera membukakan pintu kamar.
"Pesanannya Tuan!"
"Bawa masuk!"
Pelayan membawakan masuk makanan tersebut menaruhnya diatas meja, setelah itu pelayan pun pamit meninggalkan kamar.
Harum makanan membuat Qian merasakan perutnya ternyata keroncongan, padahal Qian sudah berkata pada Darrel bahwa dia tidak lapar, ternyata kesedihan tidak menutupi rasa lapar diperutnya.
"Astaga seharusnya ketika sedang sedih tidak meras lapar, kenapa aku malah merasa sangat lapar!" Gumam Qian.
Sesekali Qian mengintip, saat Darrel hendak mencuci tangan ke wastafel kamar mandi, Qian diam-diam turun dari atas ranjang untuk diam-diam mengambil sedikit makanan tersebut.
Baru juga Qian menyentuh makanan tersebut, Darrel sudah muncul.
"Jangan dimakan!" teriak Darrel.
"Kau pelit sekali,"
Darrel menghampiri Qian lalu mengeluarkan alat untuk mendeteksi racun pada makanan. Satu persatu semua makanan dan minuman dicek oleh Darrel untuk memastikan makanan yang dimakan aman.
"Apa itu?"
"Makanlah!" kata Darrel.
"Jawab dulu itu apa?"
Tapi Darrel malah tak lagi menanggapi pertanyaan Qian, hingga Qian pun meraih tangan Darrel.
"Darrel,"
Merasakan tangannya dipegang oleh Qian dan mendengar pertama kali ya Qian memanggil namanya, Darrel pun menengok kearah Qian. Biasanya gadis bermulut pedas itu hanya memanggil eh, ataupun hei tidak pernah memanggil nama.
"Apa?"
"Itu apa?" lalu melepaskan tangannya yang semula memegang tangan Darrel.
"Alat pendeteksi racun!!" singkatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
🎤🎶 Erick Erlangga 🎶🎧
tato Qian bikin aku gagal fokus
2023-01-27
1
Yantisejati
makanya jangan galak2 di cuekin kan
2022-12-27
1
Zeni Safitri
aduh body mu qian pinggang ramping tp dada besar 😅 bikin insecure deh kaLau deket kamu 🤣
2022-12-20
0