Perasaan Darrel menjadi tidak tenang, kalau orang yang menjadi dalang dibalik kematian ayahnya Qian dan juga dibalik penyerangan selama ini, penjahat tersebut sampai rela mengumpulkan seluruh pembunuh bayaran di Beijing ini, dia berarti orang yang sangat nekat dan ambisius.
Menghadapi penjahat ambisius seperti ini, Darrel tentu tidak boleh lengah sedikit pun.
Di mansion! Qian dan Austin terlihat sama-sama memasuki mobil, keduanya berniat untuk bersantai di Botanical garden.
Mobil meninggalkan halaman mansion megah itu, dan dalam perjalanan Qian sama sekali tidak menaruh curiga terhadap Austin padahal Darrel sudah mengingatkan untuk sementara ini jangan percaya terhadap siapapun dulu, karena kemungkinan siapa dalang dibalik ini semua tidak menutup kemungkinan penjahat itu mungkin adalah Austin.
Keduanya pergi tanpa didampingi oleh bodyguard satupun, yang Qian ketahui kemampuan bertarung Austin sangat hebat dan juga Austin adalah satu-satunya orang kepercayaan ayahnya selama ini, pria berusia 30 tahun itu adalah orang yang baik dan patuh.
Setibanya di taman Botanical garden berhubung hari ini bukan hari libur, suasana di Botanical garden cukup sepi tapi inilah yang diinginkan oleh Qian, jika ramai justru dia akan merasa terganggu.
Austin dan Qian turun dari dalam mobil lalu berjalan santai sambil menghirup udara segar karena taman ini ditumbuhi banyak jenis bunga dan tanaman.
"Ada danau didekat sini, kau mau ke sana?"
"Boleh,"
Austin dan Qian berjalan menuju taman, sembari berjalan-jalan keduanya mengobrol santai.
"Disini tidak ada orang lain, boleh aku memanggil mu Qian saja?"
"Aku kan sudah sejak dulu memintamu panggil aku Qian saja, kau saja yang terlalu formal terhadap ku,"
"Aku hanya tidak mau orang lain yang mendengar aku memanggil nama saja berpikiran kita ada sesuatu,"
"Hah? Sesuatu, maksudnya kita pacaran begitu?"
"Ya bisa jadi,"
Ckckckck...
"Mana mungkin, kau dan aku kan sudah seperti kakak dan adik! Ayah juga sangat menyayangi mu seperti anaknya sendiri Austin,"
"Iya memang tidak mungkin Qian, kau sendiri bagaimana perasaan mu terhadap Darrel? Apa kau mencintainya?"
Ckckckck..
Qian malah tertawa kencang mendengar pertanyaan Austin yang menurutnya itu konyol.
"Kau bertanya apa Austin? Tanpa aku menjawab pun kau sudah tau jawabannya, mana mungkin aku mencintai laki-laki menyebalkan seperti patung Liberti itu!"
"Ya, siapa tau cinta dalam perjodohan mungkin,"
"Tidak, dia bukan tipe ku dan dia orang yang paling membosankan yang pernah aku temui,"
"Tapi dia tampan Qi, seperti laki-laki keturunan konglomerat siapa yang sangka dia hanya seorang bodyguard biasa,"
"Biasa saja tuh tampan dilihat dari apanya, itu dia aku kadang aneh dan curiga pada Darrel dia itu laki-laki miskin tapi sombongnya selangit, apa mungkin dia dalang dibalik ini semua? Tapi kalau itu dia, mana mungkin di Itali dia menyelamatkan aku,"
Qian terlihat kembali berpikir keras memikirkan penjahat tersebut.
"Qi sudah jangan dipikirkan kita kan mau rilex disini,"
Keduanya tiba didepan danau dengan dikelilingi oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi, membuat area sekitar danau menjadi sangat asri dan sejuk.
"Waw, enak danau yang indah,"
"Benar, dulu saat kau masih duduk dibangku sekolah dasar, kita pernah kesini dan kau menyukai danau ini,"
"Iya benar, tapi sejak aku tumbuh dewasa aku malah suka mall, cafe, dan club malam lucu sekali ya!"
Saat sedang berbincang-bincang tiba-tiba Austin melihat empat orang memakai penutup wajah dan berpakaian hitam seluruhnya dari kejauhan, mereka berlari menuju kearah Austin dan Qian berada saat ini.
"Qian lari!" digandengnya tangan Qian oleh Austin, sambil satu tangannya merogoh pistol yang dia selipkan dipinggangnya.
Dor.
Dor.
Dor.
Empat orang bersenjata tajam itu langsung menembak dari kejauhan, membuat Qian dan Austin lari tunggang langgang.
"Austin kenapa mereka bisa tau aku ada disini?" sambil berlari kencang.
"Entahlah lari terus Qian,"
Austin dan Qian bersembunyi dibalik pohon besar sembari Austin menembak keempat penjahat tersebut.
Dor.
Dor.
Satu orang berhasil tertembak dan tak lagi mengejar Austin dan Qian, sementara Austin dan Qian tetap terus berlari menjauhi para musuh dengan posisi Austin berada di belakang Qian dan Qian berlari lebih dulu.
Dor.
Aaaa...
Punggung belakang Austin tertembak, membuat Qian berhenti berlari dan menghampiri Austin.
"Austin bangun, kita harus lari!"
"Aku tidak bisa Qian, kau lari terus jangan pernah berhenti,"
"Tapi kau bagaimana?"
"Jangan pedulikan aku, cepat lari!"
Qian akhirnya menuruti perintah Austin kemudian berlari disela-sela pepohonan besar agar tidak terbaca pergerakannya, ketiga penjahat yang tersisa pun sampai di lokasi dimana Austin tergeletak bersimbah darah akibat luka tembak dipunggungnya.
"Tembak?" tanya seorang penjahat.
"Tidak!" kata satu orang penjahat lainya.
Ketiga penjahat itu mengabaikan Austin dan kembali mengejar Qian. Tubuh Qian sudah berkeringat karena dia berlari sangat kencang, dengan perasaan panik dia tidak tau harus bagaimana sekarang.
"Mana mungkin aku mati sekarang sementara orang yang membunuh ayahku masih enak-enakan bebas diluar sana! Aku harus sembunyi,"
Qian pun bersembunyi dibalik pohon yang luamayan besar dengan nafas yang terengah-engah, rasanya Qian sudah tidak kuat lagi untuk berlari.
Tak ingin ketiga orang itu menemukannya, Qian kembali berlari hingga terdapat sebuah benteng tua, Qian pun berlari kearah sana namun satu tangan besar secara tiba-tiba membekap mulutnya.
"Emthhh," Qian berontak dan menggigit tangan besar tersebut hingga si empunya memekik.
"Aaa,"
Qian langsung memutar tubuhnya lalu menendang orang yang membekap mulutnya dengan tendangan diarea sekitar bawahnya yang merupakan aset paling berharga.
Bughh..
"Aaaa,"
Ternyata orang yang dia tendang barusan adalah Darrel, laki-laki itu meringis kesakitan sambil memegangi aset berharganya yang terkena tendangan cukup kencang dari istrinya sendiri.
"Darrel kau? Maaf aku kira kau musuh,"
"Suttt," Darrel meminta Qian untuk tetap diam dan tenang.
Qian pun mengangguk setidaknya Qian sangat merasa lega ternyata Darrel menyusulnya kesini, entah kenapa saya ada Darrel disisinya Qian tak lagi merasakan ketakutan seperti tadi dengan kedatangan para penjahat itu.
Untuk beberapa saat Darrel masih merasakan ngilu sambil mengusap aset berharganya dengan lembut, berharap didalam sana sang aset tidak mendapatkan permasalahan serius akibat tendangan Qian.
Darrel langsung mengangkat senjatanya kemudian melakukan serangan balik terhadap ketiga orang yang sudah berada disekitar benteng tua itu!
Dor.
Dor.
Satu orang berhasil terkena tembakan senjata Darrel, tersisa dua orang lagi.
"Sit mereka dibalik benteng, kejar!" teriak penjahat tersebut.
Darrel pun menggandeng Qian dan berlari kembali dari sana sambil sesekali menembakkan senjatanya kearah musuh, tak ingin lari lebih lama lagi, Darrel meraih pinggul Qian lalu memeluk pinggul Qian dengan satu tangannya hingga membuat tubuh Qian memeluk tubuh Darrel.
"Turunkan kepala mu,"
"Iya Der," Qian menurut dan menurunkan kepalanya sehingga kepalanya bersembunyi dibalik dada bidang Darrel.
Darrel langsung berbalik dan menghadap kearah penjahat, dengan menjatuhkan tubuhnya sendiri ke tanah Darrel menembakkan dua peluru kearah penjahat dan berhasil menumbangkan satu orang penjahat.
Bught..
Tubuh Darrel jatuh ke tanah dengan posisi memeluk tubuh Qian, dan kembali menembak pada penjahat yang sudah melakukan serangan balasan.
Dor.
Dor.
Tetapi peluru Darrel lebih dulu bersarang diperut penjahat yang tersisa, hingga penjahat tersebut tumbang terjatuh ke tanah.
Hai guys jangan lupa dong kasih like, votenya buat emaak biar semangat nulisnya☺️ hari ini crazy up ampun-ampunan nih jadi please like disetiap babnya ya😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Dewi Anggya
pengen curiga sm Austin tp blum ada bukti 🤭
2023-12-31
0
🎤🎶 Erick Erlangga 🎶🎧
menegangkan.. the best dah 👍👍
2023-01-31
0
💜💜 Mrs. Azalia Kim 💜💜
nihh wedokan ngeyelan....
ga nurut Suami blasss
2023-01-20
3