Seumur hidup Darrel tidak pernah merasakan ada seorang wanita yang berani duduk diatas pangkuannya seperti apa yang dilakukan Qian saat ini, membuat Darrel tidak nyaman dengan posisi seperti sekarang.
"Menyingkir dariku,"
"Kenapa? Kau selalu tidak menjawab setiap kali aku bertanya, setiap kali aku mengajakmu bicara padahal kita bisa berteman sebelum akhirnya kita bercerai bukan?"
"Aku bilang turun,"
"Kalau begitu ajak aku bicara, kau itu kan bukan patung!" Qian kesal sendiri kemudian bangun dari pangkuan Darrel.
Rasanya bisa bernafas lega kembali setelah Qian turun dari atas pangkuannya, karena untuk beberapa saat tadi Darrel merasakan sesuatu yang sesak dibawah sana.
Setelah turun dari pangkuan Darrel, tak lama berselang Qian menangis tersedu-sedu.
"Biasanya aku bisa bercerita apapun di ruangan ini dengan ayahku, tapi sekarang dia tidak ada lagi dan tidak akan pernah lagi!"
Karena tangisan Qian sangat berisik sehingga menganggu konsentrasi kerjanya, Darrel pun menghampiri Qian.
"Kau tau, diluar sana banyak orang yang nasibnya jauh lebih buruk daripada dirimu, jadi berhentilah untuk cengeng!"
Diluar dugaan, Qian mengira Darrel akan membujuknya baik-baik agar tidak menangis dan mau bersikap tidak cuek lagi, nyatanya Darrel malah membandingkan dirinya dengan orang diluaran sana.
"Aku pikir setelah kejadian di Italia itu, pikiran ku selama ini tentangmu itu salah! Aku pikir aku yang keliru, aku pikir kau laki-laki yang baik untuk ku, tapi ternyata pikiranku tidak pernah salah kau memang tidak layak menjadi suamiku!"
Qian mendorong tubuh Darrel lalu pergi berlari meninggalkan ruangan tersebut.
Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap Qian, buru-buru Darrel mengejar gadis itu keluar ruangan.
"Qian!" panggil Darrel.
Tapi Qian malah langsung masuk kedalam lift, ketika pintu lift akan tertutup satu tangan Darrel berada ditengah-tengah pintu, sehingga pintu lift pun terbuka kembali.
Darrel masuk kedalam lift, sementara Qian masih enggan menatap kearah Darrel. Tidak pernah sekalipun Darrel bersikap ramah terhadapnya membuat Qian ingin cepat-cepat menemukan penjahat itu dan secepatnya bercerai dari Darrel.
Pintu lift terbuka, Qian dan Darrel keluar dari dalam lift, langkah kaki Qian berjalan menuju parkiran dan diikuti oleh Darrel.
"Kemarikan kunci mobilnya!" pinta Qian.
"Kau mau kemana?"
"Jalan-jalan, daripada aku harus menghabiskan setiap waktuku bersama orang seperti mu itu sungguh membuatku stres!"
"Aku akan antar, masuklah!"
"Tidak mau aku mau pergi sendiri, sini kunci mobilnya!" Qian berusaha mencari kunci mobilnya sendiri dengan meraba-raba saku jaket yang dikenakan oleh Darrel.
"Stop Qian!" membentak.
"Kau membentak ku? Siapa kau beraninya kau membentak aku? Dengar Darrel kau adalah pria yang paling aku benci di dunia ini!"
Kesal karena Qian susah sekali diatur padahal diluar sana ada orang yang sedang mengincar nyawanya, Darrel pun lepas control dan membentak Qian begitu kencang, membuat Qian pun hendak pergi meninggalkan parkiran sambil menekan nomor handphone Austin pada handphone miliknya.
Tapi Darrel pun menahan lengan Qian, lalu menariknya hingga tubuh Qian kembali berputar kebelakang dan jatuh kedalam pelukan Darrel.
Sementara panggilan telepon di handphone Qian pada Austin telah terhubung.
"Halo Qian," suara Austin ditelepon.
Direbutnya handphone milik Qian oleh Darrel, kemudian dilihatnya nama kontak di handphone Qian, dari situ Darrel tau Qian menghubungi Austin, tentu saja panggilan telepon itu langsung dimatikan oleh Darrel.
"Der kembalikan handphone ku," Qian mulai berontak kembali.
Tetapi yang terjadi selanjutnya Darrel memeluknya dengan erat, membuat bola mata Qian memutar karena saat ini dia berada didalam pelukan Darrel.
"Aku antar, jika kau mau jalan-jalan,"
"A-aku, aku mau pulang saja sepertinya aku tidak enak badan,"
Darrel melepaskan pelukannya dari tubuh Qian, kemudian menaruh tangannya didahi Qian untuk mengetahui apakah Qian demam.
"Kau tidak demam, tapi detak jantungmu terdengar sampai ke telingaku," kata Darrel.
Buru-buru Qian menekan dadanya agar jantungnya itu berdetak biasa lagi dan tidak terdengar seperti sekarang ini.
Melihat wajah Qian yang seperti terkejut malu, membuat Darrel tersenyum tipis. Keduanya masuk kedalam mobil, mungkin setelah mengantar Qian pulang, Darrel akan kembali ke casino.
Setibanya di mansion sudah terlihat beberapa bodyguard tambahan, dan ada Austin juga rupanya. Qian langsung kegirangan begitu melihat ada Austin di rumah.
"Austin, Der cepat hentikan mobilnya!" pinta Qian.
Qian langsung menghampiri Austin, sementara Darrel kembali melajukan mobilnya pergi meninggalkan mansion begitu saja.
"Austin, kau ada di mansion rupanya,"
"Nona, kau kembali dengan siapa?"
"Aku diantar oleh Dar," Qian menengok untuk menunjuk Darrel tapi Darrel dan mobilnya sudah menghilang dari halaman mansion mewah tersebut.
"Tadi kau menghubungi ku? Ada apa?"
"Tidak aku hanya bosan saja, ini bodyguard baru lagi untuk mansion kita?"
"Iya nona, aku mencari dua orang lagi agar cukup untuk keamanan mansion ini, terutama keamanan mu harus terjamin!"
Austin sangat berbeda dengan Darrel yang seperti patung dan membosankan bagi Qian, sedangkan Austin dia selalu bisa menghibur Qian disaat suasana hatinya sedang kacau.
"Terimakasih Austin, mendiang ayahku pasti sangat berterimakasih karena putrinya selalu diperhatikan oleh mu,"
"Kau mau berjalan-jalan denganku? Tentunya ada beberapa bodyguard yang akan mendampingi kita,"
"Tidak perlu bodyguard, aku percaya kau bisa melindungi ku!"
"Oke, aku siapkan mobi dulu!"
Saat dalam perjalanan ke casino, handphone Darrel berdering panggilan masuk dari salah satu anggota group Limson.
"Halo Tuan,"
"Halo, bagaimana apa kau mengetahui sesuatu tentang foto atau tato yang aku kirim?"
"Foto-foto musuh yang tewas di Italia itu adalah pembunuh bayaran yang cukup mahal Tuan, mereka tidak tergabung dalam kelompok mafia manapun yang artinya mereka bekerja perorangan, tetapi yang terjadi di Italia mereka malah tergabung menjadi satu kesatuan dan memakai tato yang sama, dan tato itu tenyata tato pohon willow!"
"Pohon willow? Itu berarti semua pembunuh bayaran handal disatukan oleh orang yang ingin menghancurkan Qian, baiklah aku akan mencari tau lebih detail lagi terimakasih atas informasinya,"
"Sama-sama Tuan,"
Darrel sendiri merasa aneh kenapa tato mereka itu berbentuk pohon willow? Kenapa bukan naga? Atau ular atau apapun itu. Tapi ini adalah PR untuk Darrel mencari tau tentang pohon willow bisa jadi itu adalah petunjuk besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Dewi Ansyari
Bikin. tegang deh ini Qian.
ngaka tau apa kalo dy itu sedang terancam tapi malah hanya percaya San Austin. astaga 😱
2024-05-27
0
🎤🎶 Erick Erlangga 🎶🎧
masih penuh misteri 😱
2023-01-31
0
💜💜 Mrs. Azalia Kim 💜💜
ada yang on yaa mamass 😆
2023-01-20
3