Bab 6

Keduanya saling menatap untuk pertama kalinya, jika biasanya berbicara tapi salah satunya tidak menatap kali ini malah pandangan keduanya bertemu.

"Pantas saja wanita gila tadi langsung luluh ketika Darrel menghampiri, kalau dilihat-lihat ini bodyguard satu memang tampan ternyata! Aduhh Qian, untuk apa kau memuji ketampanannya, setampan apapun Darrel tetap saja pekerjaan dia hanyalah bodyguard meskipun sekarang dia sudah resmi menjadi suamiku tetap saja bagiku dia hanya seorang bodyguard." Dalam hati Qian.

Tiba-tiba seorang pria menghampiri Darrel, dia adalah utusan Pamannya Darrel yang bernama Domanick Limson, pria tersebut datang untuk menyampaikan pesan terhadap Darrel.

"Malam Tuan," sapa seorang anggota group Limson.

Membuat Darrel akhirnya tak lagi memandang kearah Qian.

"Kau dikirim Paman Nick?"

"Iya Tuan, besok pagi akan ada mobil lengkap dengan bekal yang lain untuk berjaga-jaga,"

(Bekal yang lain disini adalah senjata)

"Oke,"

Obrolan yang hanya dimengerti oleh Darrel dan sang anggota group Limson sementara Qian hanya menyimak tapi otaknya tidak memahami percakapan diantara keduanya.

Setelah memberikan informasi anggota group Limson tersebut pamit meninggalkan Qian dan Darrel.

"Dia siapa?"

Tapi seperti biasa, Darrel tidak memiliki minat sedikitpun untuk akrab apalagi terlibat percakapan panjang lebar dengan Qian.

Qian pun menghela nafasnya sambil mengutuk Darrel dalam hatinya, pria itu sangat sombong Dimata Qian, setelah beberapa saat makanan pun dihidangkan dimeja Darrel dan Qian.

Keduanya makan tanpa mengobrol sama sekali, lagipula setelah Darrel tidak menjawab pertanyaannya Qian pun ogah bertanya lagi apapun pada Darrel.

Setelah menghabiskan makan malam, Darrel dan Qian menuju ke kamar mereka.

"Hei, bolehkah aku memesan kamar lain? Aku tidak mau tidur denganmu?"

"Bukankah semalam kau tidur denganku?"

"Iya tapi aku kapok, ya meskipun aku tau kau tidak mungkin berbuat aneh-aneh terhadap ku tapi kau mendengkur keras sekali,"

Perkataan Qian sebenarnya membuat Darrel malu, dia sendiri tidak mengetahui jika semalam tidur sambil mendengkur apalagi sangat keras dan ternyata mengganggu tidurnya Qian.

"Terserah kau saja!"

"Oke," Qian pun menelpon pihak hotel untuk memesan kamar satu lagi.

Tapi sayangnya semua kamar sudah full booked.

"Shittt penuh lagi,"

Mendengar Qian menggerutu karena tidak mendapatkan kamar.

"Kamarnya penuh, aku akan tidur di kamar ini!"

Darrel mendengar apa yang dikatakan oleh Qian tetapi tidak memberikan tanggapan apapun, hingga Darrel pun merebahkan tubuhnya diatas ranjang disusul oleh Qian

Suasana yang begitu sunyi membuat Darrel segera memejamkan kedua matanya, begitu juga Qian yang merasa perutnya sudah terisi banyak makanan. Keduanya tidur dengan nyenyak.

Hingga tanpa terasa Darrel melingkarkan tangannya ditubuh Qian, semakin malam semakin terasa dingin didalam kamar ini membuat Darrel merekatkan tubuhnya pada tubuh Qian, seolah Qian adalah bantal guling ternyaman di dunia.

Hingga keesokan harinya!"

Merasa tubuhnya sesak dan sulit bergerak, Qian terlebih dahulu membuka pelupuk kedua matanya.

Hal pertama yang Qian lihat adalah wajah terlelap Darrel dengan jarak yang sangat dekat, dilihatnya tangan Darrel pun memeluk tubuhnya dengan sangat erat.

"Oh my God, hei bangun minggir-minggir!"

Qian berusaha melepaskan pelukan tangan Darrel, tapi Darrel yang masih berada di alam mimpinya justru semakin mempererat pelukannya pada tubuh Qian.

"Laki-laki kurang ajar! Jangan berpura-pura tidur, bangun! Tolong! Tolong! Ini pelecehan namanya, tolong!!"

Barulah setelah Qian berteriak minta tolong, Darrel pun membuka kedua matanya perlahan.

Dilihatnya wajah Qian sudah terlihat kesal, Darrel pun melihat posisinya saat ini yang ternyata tidak disengaja memeluk tubuh Qian sepanjang malam, dengan santai Darrel pun melepaskan pelukannya.

"Cih, dasar laki-laki kurang ajar kau sudah melecehkan aku!"

Tapi Darrel pun masa bodo dengan umpatan Qian, baginya dia tidak merasa melecehkan siapapun pelukan itu murni sebuah ketidaksengajaan, lagipula Qian adalah istrinya jadi wajar saja jika tak sengaja memeluknya sepanjang malam, Darrel merasa reaksi Qian justru berlebihan jadi malas dia untuk menanggapinya.

Darrel turun dari atas ranjang lalu segera mandi, sementara Qian masih kesal karena tidak mau sampai tubuhnya dipeluk oleh Darrel yang notabenenya hanyalah seorang bodyguard biasa.

Begitu Darrel keluar dari dalam kamar mandi, Qian langsung menghampiri Darrel untuk kembali mengomel.

"Dengar ya, begitu kita menemukan siapa dalang dibalik meninggalnya ayahku kau akan aku ceraikan, kau paham?"

"Hmm," hanya berdehem.

"Jadi jangan coba-coba menyentuh tubuhku lagi! Kau dengar tidak?"

"Ya," Darrel lalu melengos meninggalkan Qian.

Memangnya siapa juga yang mau berlama-lama dengan pernikahan ini, justru semakin cepat Darrel menemukan siapa penjahat itu, maka akan semakin cepat juga Darrel pulang ke negara keluarganya.

Sudah terbayang dalam benak Darrel, dia akan segera menjadi ketua group Limson karena Paman Domanick memang akan segera pensiun dari group Limson. Sejak kecil Darrel selalu menghabiskan waktunya untuk melatih diri, karena bertarung adalah hobinya.

Meskipun itu membuat ayahnya sendiri mengusirnya dari rumah! Bright Limson adalah ayah dari Darrel, keduanya terlibat pertengkaran hebat setelah Darrel memutuskan untuk berhenti kuliah kedokteran.

Bagi Darrel ayahnya terlalu memaksakan kehendak menuntut dirinya menjadi seorang Dokter hebat dan menjadi laki-laki kutu buku seperti dirinya, sayangnya Darrel lebih tertarik dengan dunia mafia yang diam-diam dikenalkan oleh Ibunya sendiri sejak kecil.

Pernikahan ini tidak lebih hanyalah batu loncatan yang ketika Darrel berhasil mencapai puncak, maka batu loncatan ini tentu saja akan dia tinggalkan. Tidak ada artinya sama sekali bagi Darrel.

Setelah Qian selesai mandi keduanya bersama-sama turun ke loby hotel, sesuai apa yang disampaikan oleh salah seorang anggota group Limson bahwa sudah disediakan mobil diarea parkir untuk Darrel dan Qian pergi ke berbagai tempat di kota Florence ini.

Benar-benar sangat membosankan pergi bersama dengan Darrel, ingin rasanya Qian pergi bersama laki-laki yang sesuai dengan tipe idamannya tapi apalah daya dirinya seperti terkunci didalam lingkaran pernikahan ini.

"Aku masih tidak habis pikir kenapa ayahku kejam sekali terhadap ku!"

Qian menghembuskan nafas, sementara Darrel langsung menyalakan mesin mobil dan hanya mendengarkan keluhan Qian.

Mobil melaju meninggalkan hotal untuk mengunjungi berbagai destinasi di kota Florence, kota yang terkenal dengan seni dan budayanya.

Tanpa diketahui oleh Darrel seseorang telah mengamati Darrel dan Qian sejak keduanya masuk kedalam mobil.

Orang tersebut kemudian menelpon temannya yang lain.

"Target sudah keluar hotel, kita habisi dijalanan sepi saja!"

"Berapa orang didalam mobil itu?"

"Hanya bersama satu orang bodyguard saja!"

"Oke siap!"

Hadeuhh yang satu emosian yang satunya masa bodo alias terlalu cuek, bisa engga ya dua sejoli itu sama-sama jatuh cinta akhirnya??? Dua-duanya sangat kuat belom goyah sama yang namanya cinta sama sekali loh 🥱

Terpopuler

Comments

Kenzi Kenzi

Kenzi Kenzi

eneng,bisa kemakan omongan....jdi ga sabar pingin liat kebucinan eneng sama babang tamfan

2023-02-14

1

Suahi mi

Suahi mi

uuuhhh

2023-02-13

1

🎤🎶 Erick Erlangga 🎶🎧

🎤🎶 Erick Erlangga 🎶🎧

awas aj nanti malu tp mau

2023-01-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!